Cerita Cinta YUCIA

Cerita Cinta YUCIA
22. Keluarga yang Utuh


__ADS_3

Perasaannya terasa sangat berantakan saat ia berspekulasi bahwa Yudha telah mempermainkan perasaan Ciara. Pria itu telah meminta maaf dan menyesali perbuatannya pada Ciara, tetapi pada akhirnya ia tetap kembali pada mantan kekasihnya. Yudha bahkan tak tahu jika sekarang Ciara mengandung anaknya. 


“Bajingan, pria itu benar-benar bajingan. Aku hampir luluh oleh permintaan maafnya, aku kira dia benar-benar menyesali perbuatannya dan kembali menjadi dirinya yang kukenal, tetapi sialnya dia tak berubah sama sekali. Pria itu masih tetap menjadi sosok yang menyebalkan!” Saking kuat amarahnya, perempuan itu tak terlihat mengeluarkan air mata sedikit pun. 


Ciara menepikan piring di tepi, lantas ia membuka surat dari Yudha yang telah dibacanya. 


Dari Yudha


Ciara, aku tidak tahu apa kamu memaafkanku atau tidak, tapi aku benar-benar menyesali perbuatanku. Aku bajingan, ya? Aku minta maaf. Aku baru tahu jika kamu anak angkat Farah setelah kamu pergi, jadi aku terlambat jika pun ingin mencegahnya. Pada awalnya tepat setelah tahu bahwa kamu adalah seseorang di masa lalu, aku ingin segera mencaritahu keberadaan kamu, tapi takdir berkata lain. Aku mendapatkan surat tugas, dan akhirnya bisa bertemu kamu di sini. 


Aku bahagia karena telah menemukan kamu dan telah meminta maaf walau aku tidak yakin apakah kamu bersedia memaafkan aku, atau sebaliknya justru kamu makin membenciku. Tapi apa pun itu, aku ingin kita melanjutkan semuanya lagi, Ra. Masihkah aku memiliki kesempatan untuk kembali dekat dengan kamu? Masihkah aku memiliki harapan untuk melanjutkan kehidupan ini dengan seraya mengenalmu sebagai seseorang yang istimewa di hidupku? Aku ingin melakukan semua itu. 


Karena tak ingin membuang waktu, Ciara langsung bergegas mengemasi semua barang-barangnya untuk segera pergi dari sini. Dibantu oleh seseorang yang pertama kali membawanya kemari, Ciara menuju terminal yang cukup jauh karena ada di kota. Namun, ia tak peduli lagi seberapa jauh perjalanannya kali ini, ia hanya ingin kembali dan menghilang secepat yang ia bisa. 

__ADS_1


“Memangnya kenapa kamu begitu buru-buru untuk kembali pergi?” tanya wanita itu dengan nada khawatir. “Padahal kamu harus menjaga kandungan kamu, ‘kan? Aku melihat kandunganmu sudah mulai membesar meskipun mungkin jarang menyadari itu. Tetapi sebagai wanita yang pernah hamil, aku mengetahuinya dengan jelas,” kata wanita itu. 


“Tidak apa-apa, aku hanya ingin pergi dari sini karena aku harus kembali pada keluargaku. Aku pikir sekarang sudah waktunya,” jawab Ciara, lirih. 


Sekitar satu setengah jam berselang, mereka telah sampai di terminal. Ciara langsung berpamitan, lalu wanita itu langsung menaiki bus antarkota. Selama di perjalanan ia berpikir bahwa  mungkin saat kakinya turun di sini, itu semacam ilham yang agar jarak tempat tinggalnya tak begitu jauh dari rumah orang tuanya. 


Sejak diberitahu nama daerah ini, Ciara jelas terkejut karena ia dan orang tuanya berada di provinsi sama. Namun, sengaja ia tak kembali karena hanya akan membuat mereka kerepotan. Sepanjang jalan Ciara meneguhkan hatinya untuk tidak merasa ragu memutuskan kembali. Pikirnya itu adalah jalan satu-satunya untuk saat ini. 


Hingga sebelas jam kemudian, bus berhenti pada pemberhentian terakhir. Segera Ciara turun. Kedua matanya tidak asing dengan daerah ini, karena ia menghabiskan enam tahunnya di sini. Meski banyak memori yang hilang, tetapi jalan menuju rumahnya masih ia ingat dengan jelas. Ciara berharap agar mereka masih tetap berada di sana dan tidak pindah rumah. 


“Mbak, mau ke mana? Ayo saya antar,” kata salah satu tukang ojek seraya mengeluarkan motornya dari pangkalan. 


“Antarkan saya ke Desa D ya, Pak.” Ciara langsung naik dan duduk di jok belakang, sebelum akhirnya kendaraan itu mulai bergerak di atas jalan setapak menuju desa kecilnya yang sudah lama tak dikunjungi. 

__ADS_1


Tidak terpencil seperti desa sebelumnya, desa kelahiran Ciara cukup ramai meskipun kecil. Itulah yang dapat Ciara nilai saat dirinya masih menetap di sana. Sekitar satu jam kemudian, motor mulai masuk ke desa D. Pada sebuah gang kecil, Ciara meminta berhenti tepat di depannya. Setelahnya Ciara langsung turun usai memberikan tarif yang sesuai dengan jarak tempuh. 


Wanita itu kembali membawa tasnya, lalu berjalan memasuki gang kecil. Hanya melewati dua rumah saja, Ciara sudah bisa mendapati rumah semasa kecilnya. Bangunan itu sangat sederhana. Didominasi warna putih cerah, paling kecil di antara rumah lainnya. 


Ciara langsung berjalan cepat menuju bangunan itu, sebelum ia mengetuk pintu seseorang membukanya terlebih dahulu dari dalam. Tampak seorang wanita lima puluh tahunan berdaster batik, menatap ke arah Ciara dengan dalam. “Kamu, Ciara?” 


“Iya, Bu. Ini aku, Ciara!” 


Wanita itu langsung berhambur memeluk Ciara dan tak lama kemudian datang seorang pria lebih tua sekitar enam puluh tahunan yang terkejut. “Ciara? Dia Ciara?” Pria itu langsung memeluk putrinya dengan kencang, mereka bertiga terlihat penuh haru dan pertemuannya terlampau sangat emosional. 


“Nak, maafkan kami. Kami benar-benar merasa bersalah karena sudah memberikan kamu pada Bu Farah. Karena perekenomian kami, kamu yang menjadi tumbalnya. Kami benar-benar minta maaf, Nak.” Ibu Ciara menangis. 


Ciara melepaskan pelukan kedua orang tuanya. Ia tahu bahwa masa lalu tak dapat diubah lagi, pun dengan kenyataan bahwa orang tuanya memang sengaja memberikan Ciara kecil pada Farah, tetangganya ketika itu. Anak Farah meninggal hingga wanita itu sempat depresi, karena orang tua Ciara merasa bahwa mereka pun tak sanggup mengasuh Ciara, akhirnya ia berikan anak ke-tujuhnya itu pada Farah. 

__ADS_1


“Sudahlah, Bu, lupakan hal-hal yang telah berlalu. Tapi kali ini izinkan aku untuk tinggal sementara waktu karena aku benar-benar membutuhkan tempat untuk membesarkan bayi dalam kandunganku,” ujar Ciara. 


“Bayi? Kamu sudah menikah, Ra? Di mana suamimu?” tanya sang Ibu. 


__ADS_2