Cerita Cinta YUCIA

Cerita Cinta YUCIA
Rumah Ciara


__ADS_3

Ciara belum memberikan jawaban apa pun pada pria itu. Ia ingin melihat seberapa serius Yudha kali ini. Perasaannya pada Yudha memang tak pernah bisa hilang. Ciara akui bahwa pria itu sangat memikatnya bahkan setelah melakukan banyak kejahatan pada Ciara, tetapi Ciara tak pernah membenci. Namun, ia tak mau terjebak untuk yang kedua kali. Ciara tak mau menikah dengan seseorang yang belum selesai dengan masa lalunya. 


“Sebaiknya kamu pergi dan jalani tugasmu dengan baik daripada ingin menikah denganku. Aku tidak mau merusak kehidupan kamu,” tutur Ciara. 


“Kamu tidak akan merusak kehidupanku, Ra. Aku ingin menikah denganmu, itu berarti aku ingin hidup denganmu. Menghabiskan masa tua kita bersama,” tegas Yudha. 


Meski sejujurnya Yudha masih berat mengatakan itu. Fakta bahwa Ciara memiliki anak benar-benar menyakiti hatinya. Pikirnya tega sekali wanita itu melakukan hal itu dengan seorang pria yang tidak ia cintai. Bahkan Yudha saja tak pernah melakukannya dengan Erina, tetapi rasa cinta yang besar membuat Yudha tak ingin menyerah untuk mendapatkan kembali Ciara. 


Tanpa menjawab, Ciara langsung pergi bersama ibunya meninggalkan sungai dan meninggalkan Yudha yang masih berdiri di sana dengan tatapan kosong. Penolakan Ciara menyakiti hatinya. Ia tak tahu harus berjalan ke titik kumpul atau mengejar Ciara yang mungkin menolaknya. Pikiran Yudha seketika buntu dan tak bisa mengambil keputusan dengan jernih. 


“Hei Yudha, kami menunggu kamu di sana!” Salah satu anggota berteriak. 


Yudha menoleh, tetapi ia tak menjawab. Pria itu berbalik dan mendekat ke arah pria itu dengan langkah lunglai seperti seseorang yang baru saja keluar dari klub malam. Wajahnya benar-benar kusut seperti bukan seorang tentara. 


“Sejak awal kamu seperti ini. Apakah kamu tidak sadar kalau kelakuan kamu bisa saja menjadi bumerang bagimu di masa depan nanti? Kamu bisa dikeluarkan dari tempat ini, Yudha!” tegas pria itu. 

__ADS_1


Yudha tak menjawab. Dalam pikirannya hanya ada Ciara dan rencananya untuk memenangkan hati Ciara. 


Saat pukul delapan malam, Yudha dan ketiga temannya diminta kembali untuk menunggu tempat tinggal mereka. Ada laporan bahwa beberapa kelompok akan menyerang tempat tinggal anggota, jadilah setengah dari mereka ditugaskan untuk kembali. 


Namun bukannya langsung pulang, Yudha yang sedang melintas di jalan setapak tepi danau menghentikan langkah seraya mengarahkan pandangannya pada jalan yang mengarah pada gang sebelah. Sesekali, ia melihat langkah teman-temannya yang sudah mulai menjauh tetapi ia masih tetap berada di sana. 


Seorang anak kecil perempuan berjalan kaki melewatinya. Wajahnya terlihat cemas. 


“Dik, kamu akan ke mana?” tanya Yudha. 


“Di mana Ibu kamu saat ini?” tanya Yudha. 


“Tidak jauh dari sini.”


“Saya boleh meminta waktumu sebentar untuk bertanya tentang rumah Ciara? Ibunya Nirmala?” tanya Yudha, ragu. 

__ADS_1


“Oh, rumahnya tak jauh dari sini. Bapak tinggal berjalan mengikuti jalan setapak, lalu sampai di gang sebelah. Nanti di sana ada rumah cat kuning lantai dua, tepat di sebelah rumah itu yang masih gubuk kecil adalah rumah orang tua Bu Ciara,” jawabnya. 


“Ah gitu, terima kasih. Ngomong-ngomong hati-hati dan segera masuk rumah jika kamu sudah menemui Ibu kamu,” kata Yudha. 


Anak itu mengangguk. Sementara Yudha langsung mengikuti arahan dari anak tadi. Kedua kakinya melangkah pasti menuju tempat yang telah diberitahu oleh gadis barusan. Desa ini benar-benar sepi, bahkan sepanjang rumah berderet, tak ada rumah yang masih terbuka pintunya. Seakan semua orang telah terlelap dimakan kegelapan. 


Hingga pada penghujung jalan, dilihatnya sebuah gubuk kecil tepat di samping rumah bercat kuning. Gubuk itu satu-satunya yang lampunya masih menyala. Yudha mendekat, makin masuk ke halaman, telinganya mulai mendengar suara tangis bayi yang cukup kencang. Dapat ditebak dengan mudah bahwa itu adalah suara tangis Nirmala di dalam rumah itu. 


Yudha mulai melangkahkan kakinya di teras. Terdengar suara Ciara yang sedang menenangkan anaknya. 


“Nirmala, berhenti nangis ya, Sayang. Ini sudah malam, Mala harus bobo,” ujarnya. “Cup... cup, Mala, Mama di sini sama Mala. Mama tidak akan ke mana-mana, Sayang. Jadi jangan menangis lagi, ya,” lanjutnya. 


Mendengar suara itu hati Yudha terasa teriris-iris. Suara Ciara benar-benar membuatnya candu dan membuat Yudha merasa sakit di saat bersamaan. Pria itu dengan begitu berani mulai mengangkat tangan dan mengetuk pintu dengan pelan. Walaupun ia tahu bahwa tak sopan untuk bertamu di malam hari, tetapi Yudha tetap nekat berpikir bahwa dirinya tak memiliki banyak waktu lagi. 


“Ciara,” panggil Yudha. 

__ADS_1


__ADS_2