
“Ini pertanyaan ke seratus yang aku pernah dengar dari mulut Ayah,” sambar Yudha.
“Ayah hanya memastikan,” katanya.
Sesungguhnya belakangan ini Yudha pun selalu memikirkan Ciara. Ia seperti tak bisa melupakan perempuan itu meski telah menjalin hubungan dengan Erina setahunan ini.
“Ayah hanya berharap padamu untuk jangan sampai salah memilih istri seperti yang dulu Ayah lakukan. Ayah menikahi Farah, tapi ternyata dia hanya menginginkan harta Ayah. Sebaiknya kamu harus hati-hati dan jangan gegabah hanya karena rupa. Erina memang cantik, tapi apakah dia benar-benar bisa memperlakukan kamu dengan baik? Dan apakah hati kamu memang tertuju pada Erina?” Sang Ayah menatap Yudha dalam setelah menghabiskan makanannya.
Yudha menggeleng samar, “Aku sendiri pun tidak tahu,” lirihnya.
“Paket!” Pintu terketuk dari luar.
Yudha segera bangkit meninggalkan ruang makan, berjalan ke depan dan mendapati seorang kurir khusus yang sudah berdiri di teras rumah. “Surat dari asrama, Mas,” ujarnya seraya mengulurkan surat ke depan Yudha.
Pria itu langsung mengambilnya. “Terima kasih.”
__ADS_1
“Surat dari asrama? Tugas lagi?” tebak sang Ayah.
Tanpa menjawab, Yudha langsung menyobek amplop dan membaca isinya. Ternyata sama seperti sebelumnya, bahwa kali ini Yudha mendapat tugas lagi untuk penjagaan di desa yang lebih jauh dari sebelumnya. “Aku mendapatkan tugas lagi, Yah. Apa tidak apa-apa kalau aku tinggal?” tanyanya.
Andri mengangguk mantap. “Tidak apa-apa, lagi pula Ayah tidak mau menjadi beban bagimu yang harus dijaga 24 jam. Kepergian Farah jangan dijadikan alasan olehmu untuk selalu menjaga Ayah. Doakan saja semoga wanita itu tidak akan kembali datang kemari, dan pergilah demi mengabdikan dirimu untuk negara,” tegas Andri.
Yudha menganggukkan kepalanya, lalu segera pergi ke kamar mengambil gawai yang berada di atas meja dan menghubungi kontak Erina.
“Halo, Yudha,” sapa Erina.
“Halo, Erina. Apa hari ini kamu kosong? Kalau bisa, aku ingin ketemu kamu hari ini,” kata Yudha, pelan.
“Jam berapa ke puskesmas?”
“Dua jam lagi.”
__ADS_1
“Dua jam ke depan berarti kosong?”
“Iya, ada apa? Apa ada sesuatu yang mau kamu tanyakan kepadaku?” tanya Erina.
“Ada sesuatu yang ingin aku katakan. Erina, aku akan kembali pergi dan bertugas. Ayah sudah baik-baik saja, jadi mungkin aku akan fokus dengan tugas ini sampai benar-benar selesai. Aku tidak mau membuang waktuku dengan sia-sia. Karena jika sekali lagi aku mengajukan alasan, mungkin aku akan dikeluarkan saat ini juga. Nah, oleh sebab itu aku tidak tahu kapan aku akan kembali. Aku harap kamu akan baik-baik saja di sini,” ujar Yudha.
Saat mengatakan kalimat itu, seakan sebagian hatinya telah berpaling dari sosok Erina sehingga Yudha tak merasa keberatan sedikit pun jika ia harus mengucapkan selamat tinggal saat ini juga. Perasaannya pada Ciara ternyata jauh lebih kuat daripada keinginan untuk menikahi Erina, tetapi ingin mengatakan yang sejujurnya pun Yudha tak sanggup. Pria itu benar-benar bimbang dengan apa yang dirasakannya.
“Ah gitu, ya sudah tak apa. Hati-hati. Aku akan menunggu kamu jika memungkinkan. Aku akan memastikan jika kejadian buruk sebelumnya tidak akan terulang lagi, Yudha.”
Yudha tersenyum kecut. “Sayangnya bukan itu poinnya. Aku tidak ingin kamu menungguku, Erina. Bukannya menunggu sesuatu yang tidak pasti itu tidak akan membuat kamu tenang? Aku minta maaf, tapi aku ingin mengakhiri hubungan ini. Aku merasa bahwa kita tidak cocok dan aku berharap kamu bisa menemukan seseorang yang jauh lebih baik daripada aku,” tegasnya setelah menguatkan dirinya sendiri.
“Yudha—” Suara Erina berubah bergetar.
“Terima kasih sudah pernah mencintaiku dan pernah kembali. Tapi aku minta maaf karena aku tak bisa melanjutkannya. Aku harap kita berdua segera menemukan kebahagiaan kita masing-masing.”
__ADS_1
Setelah itu sambungan terputus. Yudha menatap layar gawainya yang gelap, lantas langsung membereskan barang-barangnya ke dalam tas untuk berangkat sore nanti dan titik kumpul di pelabuhan seperti biasanya. Ia harap, ia telah memutuskan hal tepat meski sedikit perih.
--