Cerita Cinta YUCIA

Cerita Cinta YUCIA
Tidak Menentu


__ADS_3

Ditanya perihal suami, bukannya menjawab Ciara malah mengeluarkan air matanya lalu terduduk di bawah seakan tubuhnya lemas. Sang ayah langsung membantu Ciara duduk di kursi, sebelum akhirnya Ciara mulai Bercerita secara pelan-pelan dan runtut tentang kejadian yang sudah menimpanya. Tak ada satu episode kehidupan yang ia tutupi dari orang tuanya, berharap mereka memiliki saran untuk Ciara. 


Namun yang dilihat, sang ayah dan ibu hanya menatap kaget. Mungkin pikirnya apa yang Ciara ceritakan sangat dramatis layaknya tontonan pada televisi. 


Sang ayah langsung memeluk anak perempuannya begitu Ciara telah menyelesaikan ceritanya itu. “Nak, maafkan Ayah. Jika kamu masih tinggal bersama kamu, mungkin kamu masih bersenang-senang. Bagaimanapun semuanya memang kesalahan kami. Oleh karena itu kamu tidak perlu merasa bersalah dan merasa merepotkan kami. Kami menerima kamu dengan baik di sini, dan kami akan berusaha untuk menjaga kamu sebaik mungkin. Kamu harus hidup dengan tenang hingga melahirkan anakmu Dan kami akan membantu mengasuhnya saat waktu itu tiba.” Pria tua itu menepuk-nepuk pundak Ciara pelan. 


Ciara merasa terharu dengan perlakuan ayahnya yang ternyata sangat baik. Memang Ciara dan orang tuanya jarang menjalin komunikasi selama Ciara tinggal di rumah Farah. Biasanya hanya dua kali dalam setahun atau tidak sama sekali karena Farah tak mengizinkan. 

__ADS_1


“Benar, Nak, kami senang jika kamu mau tinggal di sini. Kami berjanji akan membantu kamu untuk merawat kandungan dan anak kamu kelak. Kamu tidak perlu merasa takut dan terancam saat berada di sini karena kami berdua akan melindungimu.” Sang ibu menambahi. 


Ciara agaknya sedikit menyesal karena ia tak datang ke sini sejak awal. Andai ia langsung menemui orang tuanya begitu Farah mengusirnya dari rumah, mungkin ia tak akan bertemu dengan Yudha dan merasa sakit untuk yang kedua kalinya. 


--


Sementara di tempat lain, Erina selalu bersama Yudha. Bahkan wanita itu hampir tak pernah pulang dan selalu ingin di dekatnya. Bahkan ketika Yudha harus merawat ayahnya yang sakit, Erina ikut serta merawat calon mertuanya itu dengan lembut. 

__ADS_1


Yudha menoleh. “Nanti saja, sebentar lagi. Airnya masih disiapkan sama Bibi yang bekerja di sini,” jawab Yudha. 


Sudah sejak Yudha berada di ruangan khusus ini tetapi tak ia jumpai Farah masuk ke dalamnya untuk merawat Andri. Makin percaya saja pada apa yang pernah dikatakan Ciara bahwa Farah adalah seseorang yang licik.” 


Telah berlalu minggu-minggu yang terasa lambat. Yudha memandang ayahnya yang sedang menyantap nasi goreng di depannya. Setiap kali dipandangnya wajah Andri, Yudha selalu mengingat keberadaan Ciara. Andri dan istrinya lah yang membiarkan Ciara pergi dari rumah ini. Sialnya Yudha tak bisa lagi menghubungi Ciara sekadar untuk mengetahui keberadaannya saat ini. Terakhir kali Yudha tahu saat Ciara tinggal di desa terpencil, tapi di minggu-minggu selanjutnya Dani mengatakan bahwa wanita itu telah meninggalkan gubuknya. 


“Kamu benar-benar ingin melanjutkan hubungan kamu ke jenjang lebih serius dengan Erina yang bahkan pernah membuat kamu sangat depresi itu?” tanya Andri setelah menelan makanannya. 

__ADS_1


“Ini pertanyaan ke seratus yang aku pernah dengar dari mulut Ayah,” sambar Yudha. 


“Ayah hanya memastikan,” katanya.


__ADS_2