Cerita Cinta YUCIA

Cerita Cinta YUCIA
Semakin Ingin Bertemu


__ADS_3

“Ciara, lebih baik kamu berikan Nirmala asi terlebih dahulu. Dia tidak akan diam kalau kamu selalu di dapur. Ibu, ‘kan sudah bilang agar Ibu yang memasak, jadi kembalilah ke kamar dan tenangkan Nirmala. Kasihan, dia lapar,” ujar Ibu Ciara yang baru saja masuk ke dapur kecil rumahnya, melihat Ciara yang sedang merebus air untuk membuat sayur asam.


“Ini sebentar lagi, Bu,” kata Ciara. 


“Jangan begitu, Nirmala lapar, Nak. Ke kamar lah, kasihan dia.” 


Ciara mengangguk, dia membasuh tangannya lalu segera menuju ke kamar. Selama tinggal di sini sekitar satu tahun, Ciara merasa bahwa dirinya telah menjadi beban bagi keluarganya. Maka dari itu saat usia Nirmala telah menginjak sepuluh bulanan, Ciara sering meninggalkannya saat tidur untuk membantu ibunya memasak. Wanita itu tak bekerja dan tak melakukan apa-apa untuk memperbaiki perekonomian keluarganya. Ia dan anak bayinya hanya beban. Meski ia tahu bahwa orang tuanya sangat tulus, tetapi Ciara merasa tak enakan jika ia hanya terdiam di kamar menidurkan Nirmala saja. 


Karena itu Ciara mencoba melakukan apapun pekerjaan rumah yang bisa dia bantu kerjakan selagi Nirmala tidur. Berusaha membuat dirinya berguna meski hanya sedikit.


Ciara masuk ke dala kamar melihat bayinya menangis di atas kasur, suaranya tangisnya begitu kencang. Ciara tersenyum, dan langsung mengangkatnya untuk digendong. Segera Ciara memberi asi putri satu-satunya itu seraya mengusap-usap kepalanya dengan lembut. Sudah sepuluh bulan anak itu menemani Ciara dan hidup dalam pangkuannya. Hingga saking nyamannya, tak ada lagi suara tangis. Anak itu fokus menyusu pada ibunya. 

__ADS_1


“Sayang, jangan nangis lagi. Ibu di sini dan akan selalu di sini. Ibu tidak akan meninggalkan kamu, Nak. Sampai kapan pun Ibu akan di dekat kamu untuk membesarkan kamu dengan baik. Itu janji Ibu pada Nirmala,” kata Ciara seraya mencium dahi bayi yang memiliki harum minyak telon itu. 


"Dikemudian hari, harapan ibu, ibu hanya ingin melihat Ciara menangis karena bahagia, bukan tangis kesedihan. Untuk itu ibu akan berusaha agar kamu selalu bahagia," ucap Ciara lagi.


Ciara berjalan keluar masih tetap dengan menggendong anaknya. Hari sudah sore. Cahaya jingga menyorot sisi kiri rumahnya, sementara anak-anak kecil terlihat banyak yang bersepeda di depan rumahnya. Mereka berteriak-teriak memanggil satu sama lain, membuat gang itu ramai. Daerah Ciara tinggal memang tak pernah sepi. 


“Ciara, mau goreng tempe atau ikan asin, Nak?” tanya sang Ibu dari dalam. 


“Apa saja, Bu. Kalau tempe juga tak masalah. Sepertinya Ayah lebih suka tempe daripada ikan asin,” jawab Ciara seraya masuk ke dalam rumahnya. Nirmala masih dalam gendongan, dan sepertinya perlahan mulai tertidur hingga Ciara tak berani untuk bersuara lebih keras. 


"Siap, Bu?" tanya Ciara tertarik dengan topik pembicaraan ibunya.

__ADS_1


"Entahlah, yang jelas mereka terlihat mencurigakan. Lebih baik waspada daripada menyesal nantinya, karena ada banyak sekali motif kejahatan yang sering terjadi," ucap ibunya.


“Iya, Bu. Siap.” Ciara tersenyum.


Yudha menatap sungai di depannya. Hingga saat ini ia masih tak Percaya jika dirinya ditugaskan pada tempat masa kecilnya, saat ia dan sang ayah masih menetap di sini dan tempat ini pula yang menjadi saksi pertemanan Yudha dan Ciara kecil. 


Yudha menyapukan pandangannya ke sekitar, tetapi ia tidak benar-benar mengingat semuanya. Jalan-jalan di sini telah ia lupakan. Lagi pula Yudha tak pernah tahu di mana Ciara tinggal selama mereka berteman, karena Ciara kecil selalu melarangnya main ke rumah atas perintah Farah yang tak membolehkan Ciara membawa satu teman pun ke rumahnya. 


“Sial, tempat ini benar-benar membuat ingatanku akan Ciara makin kuat. Aku makin ingin bertemu dengannya,” lirih Yudha. Kakinya terasa lemas, padahal dirinya harus segera pergi dari sini untuk berjaga di ujung desa. 


Yudha benar-benar bingung dengan ingatannya. Terlalu banyak masalah dan memori masa kecilnya yang hilang, hingga ia pernah seutuhnya sadar mengenai kenangan masa kecilnya. 

__ADS_1


“Yudha, jangan melamun! Ayo segera pergi dari sini, kita harus sampai titik kumpul setengah jam lagi!” teriak salah satu anggota menyadari Yudha satu-satunya yang tertinggal di belakang. 


Yudha menoleh, sekali lagi ia memperhatikan aliran sungai sebelum melangkah mengikuti temannya. Namun, saat ia hendak berlari terdengar suara panggilan keras pada seseorang yang membuat langkahnya berhenti seketika. 


__ADS_2