Cerita Cinta YUCIA

Cerita Cinta YUCIA
19. Perjumpaan yang Tidak Direncanakan


__ADS_3

“Yudha, hari ini kamu tidak tugas dulu. Kamu, Dani dan beberapa lainnya jaga tempat ini. Jadwalnya sudah ditetapkan oleh ketua. Kami pergi dulu.” Salah satu anggota baru saja memberikan perintah saat Yudha baru keluar dari dapur membawa piring berisi telur ceplok. 


Yudha mengangguk, ia menoleh ke arah kamarnya. Mungkin Dani sudah mengetahui jadwal ini sehingga pria itu masih tidur dengan santai di kamarnya. 


“Oh ya, nanti sekalian kamu mencari penjual sayuran di sini untuk masak. Akan bosan jika dua minggu ke depan hanya makan telur saja,” pintanya lagi. 


“Siap, nanti saya akan membeli apa pun kebutuhan kita selama di sini,” jawabnya dengan tegas. 


Selang sepuluh menit kemudian, setengah dari anggota pergi, sementara yang lainnya masih berkumpul menyusun rencana yang sudah terbaca oleh Yudha sebelumnya. Pria itu menyimak dengan jelas hingga akhir. Setelah selesai, Yudha langsung menggunakan seragam sehari-hari lalu keluar untuk mencari pedagang di sekitar sini. 


Pria itu sengaja mencari pedagang sendirian, karena yang harus menjaga tempat tinggal mereka membutuhkan jumlah yang cukup banyak untuk antisipasi. Bagaimana pun keberadaan mereka di sini cukup tidak aman karena akan melakukan keamanan untuk membekukan para penjahat. 


Lama Yudha berjalan kaki mengikuti jalanan setapak kecil tanpa mengetahui betul arah yang ditujunya. Ia hanya menggunakan feeling-nya saja berharap menemui pedagang dengan cepat meski ia sendiri tak yakin jika akan berhasil menemuinya.


“Perbatasan desa?” Yudha mendesis saat melihat tugu pembatas antar desa di depan matanya. “Berarti aku sudah mencarinya hingga ujung perbatasan, tapi tak ada penjual sayur di sini. Rumah pun sepi, ke mana mereka membeli bahan makanan di sekitar sini?” Yudha menghentikan langkah tepat di depan tugu seraya memperhatikan area desa yang sangat sepi. Tak ada orang jalan kaki yang kebetulan lewat untuk ia tanyai, hanya ada beberapa pengendara bermotor yang tak bisa ia hentikan seenaknya. 


Saat Yudha hendak berbalik, pria itu tak sengaja menjatuhkan tatapannya pada seorang wanita yang baru saja keluar dari gang kecil. Wanita itu terlihat sangat familiar dengan tubuhnya yang cukup kurus serta gaya rambutnya yang sangat Yudha kenali. Ia mengenakan daster orange dan sandal jepit seraya membawa kresek berisi kacang panjang dan kubis.


Yudha melangkah mendekat untuk memastikan siapa wanita itu, tetapi sebelum Yudha benar-benar menggerakkan kedua kakinya, wanita itu berhenti dan seketika pandangan mereka berserobok satu sama lain. Yudha maupun wanita itu menganga tak percaya dengan apa yang dilihat di depan mata. 

__ADS_1


“Ciara,” desis Yudha. 


“Mas Yudha.” Perempuan itu terlihat kebingungan dan terkejut di saat yang bersamaan. 


Tanpa pikir panjang, Yudha langsung menggerakkan kedua kakinya mendekati perempuan itu dengan mata berbinar. “Ciara sejak kapan kamu di sini? Kamu tinggal di sekitar sini? Kenapa kamu bisa berada di tempat terpencil seperti—” Yudha tak melanjutkan pertanyaannya mendapati Ciara yang langsung menunduk. 


“Aku memang ke sini dan tinggal di sini setelah Ibu dan Ayah mengusirku. Katanya ini demi kebaikan kamu, Mas,” jawab Ciara. 


“Ciara, aku benar-benar minta maaf padamu karena aku tidak bisa berbuat baik sekalipun padamu. Telah ada kesalahpahaman di antara kita. Aku benar-benar tidak tahu jika kamu dan ibumu sebenarnya tidak memiliki ikatan darah. Kamu hanya anak angkat darinya. Aku tidak tahu kenapa kamu tidak mengatakannya atau menceritakannya sejak awal, tapi sekarang aku telah mengingat kamu dan masa kecil kita. Aku benar-benar merasa bersalah ketika mengetahui fakta bahwa akulah yang membuat kamu terusir dari rumah,” ujar Yudha dengan penuh penyesalan. 


Ciara menggelengkan kepalanya. “Tidak, Mas. Sebenarnya ini bukan salah kamu sepenuhnya. Hanya saja ibu memiliki tujuan sendiri kenapa ia harus mengusirku pergi dari rumah. Sebenarnya aku pun belum bisa memastikan tetapi karena sejak kecil aku bersamanya dan hidup dengannya, jadi aku sedikit tahu tentang perilakunya yang tidak baik dan menginginkan harta Ayah.”


Yudha tak terkejut sedikit pun oleh fakta yang diungkapkan Ciara padanya. Sejak awal pria itu memang tidak pernah menyukai ibu tirinya tersebut, jadi statement apa pun yang merujuk pada ibu tirinya, ia hanya perlu mempercayainya dan telah menduganya sejak awal.


Bukannya menajwab, Ciara hanya terdiam dan menatap Yudha seakan tak percaya. Pria yang telah berbuat jahat, memperkosanya, bahkan membuat hidupnya cukup menderita sekarang kembali di depan wajahnya dan meminta maaf dengan sebegitu mudah.


“Aku masih membutuhkan waktu yang cukup banyak untuk menerima semuanya. Mungkin menurutmu aku bisa langsung mudah memanfaatkan kamu tapi aku benar-benar membutuhkan jeda untuk terbebas dari luka-luka yang telah kamu buat,” tukas Ciara. 


Yudha merasa bersalah, ia benar-benar tak bisa memaksa Ciara untuk memaafkannya hari ini. 

__ADS_1


“Aku pergi dulu, senang bisa bertemu denganmu,” pamitnya seraya berbalik pergi dengan cepat. 


“Di mana rumahmu?” teriak Yudha. 


Ciara menoleh, ia menunjuk gang lain dengan dagunya singkat, sebelum akhirnya segera melangkah cepat ke arah perbelokan dan hilang di sana. Yudha memijat pelipisnya yang terasa sangat berat, tak menyangka bahwa pertemuan mereka terjadi di desa ini. Semesta memang terkadang cukup aneh dalam melakukan candaan dalam menjalani kehidupan. 


 --


Yudha telah mendapatkan satu plastik kacang, bayam, kangkung, kubis, tauge, tahu, daging dan beberapa sayuran lain lima belas menit setelah Ciara meninggalkannya. Namun sekarang pria itu telah kembali ke penginapan, dan anggota yang bertugas belum tiba hingga jam makan siang datang. 


“Yudha, ada telepon untuk kamu,” teriak Dani dari luar saat Yudha masih berada di dapur menata telur-telur di pintu kulkas bagian atas. 


Pria itu langsung meninggalkan pekerjaannya, segera melangkah cepat ke arah ruang tamu di mana ponsel umum terdapat di sana. Selama masa tugas, memang ada larangan untuk membawa gawai, sehingga pihak keluarga atau pun orang penting yang ingin menelponnya harus melalui nomor milik umum agar tetap bisa terhubung dengan sanak saudara. 


“Siapa?” tanya Yudha pada Dani yang menyodorkan ponsel di depannya.


“Entahlah, suaranya wanita dan terkesan masih muda. Angkat saja, karena dari suaranya sepertinya dia sangat membutuhkan kehadiran kamu,” jawab Dani.


Yudha langsung mengambil alih ponsel itu, lalu mulai mendekatkannya di telinga. Tak ada sapaan, Yudha mencoba berdeham. Kaku saat ia harus memulai percakapan dengan orang asing. 

__ADS_1


“Yudha?” Suara seorang wanita terdengar memastikan. 


Yudha membulatkan kedua matanya begitu menyadari suara yang sangat dikenalnya itu. Namun, kenapa tiba-tiba dia menelponnya? “Erina, ada apa?” 


__ADS_2