Cerita Cinta YUCIA

Cerita Cinta YUCIA
Keluarga Bahagia


__ADS_3

Ciara masih menatap Yudha. Meski ucapan Yudha sudah sangat meyakinkan, tetapi Ciara masih mencoba memastikan semuanya. Rasa takut akan kecewa hadir dan memikirkan itu membuat Ciara sedikit ragu, meski tak dipungkiri hatinya bahagia mendengar pengakuan Yudha.


"Mas yakin ingin menikah denganku? Apa Mas sudah benar-benar yakin dengan perasaan yang Mas Yudha miliki? Jujur saja aku takut hal yang sama terulang," ucap Ciara gugup.


"Aku tahu aku banyak berbuat salah padamu, sangat wajar jika kau takut padaku. Namun kali ini aku berjanji tidak akan menyakitimu, aku serius dengan semuanya. Aku benar-benar mencintaimu, aku tidak ingin hidup sia-sia tanpa kehadiranmu, Ciara. Aku dengan sadar mengatakan jika aku sangat mencintaimu dan ingin hidup menua bersamamu," jawab Yudha dengan lantang dan penuh keseriusan.


Mendengar semua itu, perlahan Ciara tersenyum, mendekat ke arah Yudha dan menatap pria itu dengan sangat dalam. “Jika memang Mas Yudha memang mencintaiku, aku tak akan ragu untuk menikah denganmu. Asalkan kamu tahu, bahwa aku belum benar-benar melupakan kamu. Aku masih mencintai kamu, Mas. Selalu mencintaimu,” jawab Ciara dengan mata berkaca-kaca. 


Yudha merasa air matanya mulai turun menyaksikan dan mendengar ucapan lembut Ciara. Tanpa sadar, pria itu langsung memeluk Ciara. "Terima kasih, sayang. Aku sangat bahagia, terima kasih, Tuhan."


"Mas, kasihan Nirmala." Ciara mendorong pelan tubuh Yudha yang ingin memeluknya dengan erat. Yudha yang mendengar itu mengalihkan pandangannya pada bayi yang digendong oleh perempuannya itu. “Nirmala, mulai sekarang kamu harus memanggilku, ayah. Karena aku dan ibumu akan segera menikah, Nak. Kita akan menjadi keluarga yang lengkap dan bahagia," ucap Yudha mengusap lembut wajah mungil Nirmala.

__ADS_1


“Memang itu yang seharusnya, Mas. Memang hanya Nirmala yang bisa menyebutmu, Ayah. Dan sudah seharusnya dia memanggilmu ayah, tanpa kita menikah sekali pun.” Ciara tersenyum dengan mata yang semakin berkaca-kaca. 


“Maksudmu?” Yudha tak mengerti. 


“Karena dia adalah anakmu. Dia adalah darah daging kamu. Dia nak kita, Mas,” jawabnya dengan senyum cerah.


Yudha terkesiap. Pria itu menatap Nirmala sekali lagi, lalu menghadap Ciara. “Ciara aku minta—” Segala hal buruk di masa lalu langsung ia ingat, tentang hari di mana ia pernah mengambil keperawanan Ciara di kamarnya. 


Yudha mengangguk cepat. “Aku pasti akan menikahi mu secepatnya, Ra. Aku akan selalu membahagiakan kalian,” tegasnya penuh janji. 


Yudha mengambil Nirmala dari gendongan Ciara. Menatap haru pada putri kecilnya, putri yang sempat menjadi pemikiran buruk dibenaknya. "Maafkan ayah, sayang. Maafkan ayah terlambat mengetahui semuanya, ayah menyayangimu. Ayah menyayangi kalian," ucap Yudha mengecup sayang seluruh wajah Nirmala, lalu merangkul Ciara dengan sebelah tangannya. "Aku mencintaimu, sayang. Aku mencintai kalian."

__ADS_1


"Kami juga mencintaimu," balas Ciara.


Kebahagiaan yang disaksikan oleh ayah dan ibu Ciara jelas membuat mereka turut bahagia, keduanya merasa jika sekarang Ciara telah menemukan kebahagiaannya. Cucu mereka telah mendapatkan apa yang seharusnya dia dapatkan dan itu membuta keduanya tak henti mengucap syukur di dalam hati mereka.


Ciara yang baru teringat akan keberadaan Yah dan ibunya menatap keduanya. "Ayah–"


"Kami merestui hubungan kalian. Kami ikut bahagia dengan kebahagiaan kalian, Nak. Semoga kalian selalu bahagia," ucap sang ayah dengan begitu tulus dari hatinya.


"Terima kasih, Ayah, Ibu. Terima kasih untuk semuanya." Ciara mendekat pada kedua orang tuanya, memeluk keduanya dengan hati yang terasa begitu lega dan bahagia.


~TAMAT~

__ADS_1


__ADS_2