
Tak lama dari itu pintu terbuka. Dilihatnya seorang pria tua berkaus partai serta bercelana pendek yang menatap Yudha dari atas hingga bawah. “Maaf, Pak, kami tidak menyembunyikan siapa pun. Kami sendiri ingin segera tidur, tapi cucu kami benar-benar tak bisa berhenti menangis. Kami minta maaf jika rumah gubuk kami menarik perhatian kelompok tertentu,” ujarnya dengan raut sedikit ketakutan.
Yudha tersenyum kecil. “Bapak, tak perlu takut. Saya teman Ciara. Saya hanya ingin bertamu ke sini, malam ini,” jawab Yudha.
Ayah Ciara terlihat tak langsung menjawab. Saat ia hendak membukakan pintu lebih lebar, Ciara keluar menatap Yudha dengan tatapan tak percaya. “Dari mana kamu tahu tempat tinggal ku?” tanyanya sinis.
“Itu bukannya tidak terlalu penting? Kedatanganku ke sini hanya untuk—”
“Masuklah, tidak baik bertamu di luar, Yudha.” Ayah Ciara menyebutkan namanya.
__ADS_1
Yudha mengangguk saja. Ia menganggap bahwa mungkin Ciara telah banyak menceritakan tentang dirinya. Ciara sendiri langsung berbalik ke dalam, kemudian disusul oleh langkah Yudha di belakangnya. Di ruang tamu yang kecil, Yudha duduk di atas kursi kayu cokelat. Di depannya duduk Ciara yang masih menggendong bayi, setelah itu disusul ayah Ciara dan tak lama dari itu Ibu Ciara pun datang, menatap Yudha dengan penuh tanya.
“Ada apa kamu datang ke sini?” tanya Ibu Ciara.
Bukannya menjawab, Yudha sebaliknya memperhatikan sekitar. Ia menatap wajah orang tua Ciara dan putrinya secara bergantian. Cukup terkejut menyadari bahwa dirinya telah berada di dalam rumah ini tanpa disadari. Mau tak mau Yudha langsung menyusun kalimat di kepalanya untuk diungkapkan pada keluarga Ciara.
Kedua orang tua Ciara menatap Yudha terkejut, begitupun dengan Ciara.
“Kamu mau menikahi anak saya? Apakah kamu benar-benar serius? Anak saya sudah memiliki anak. Apa kamu mau menjadi ayahnya dan bertanggungjawab padanya? Ciara sudah menderita selama ini, saya tidak mau jika dia jatuh pada suami yang salah,” tukas ayahnya langsung bertanya.
__ADS_1
Yudha langsung berdiri. “Saya bersungguh-sungguh ingin menikahi Ciara, Pak. Saya benar-benar tak akan membuatnya kecewa lagi. Maka dari itu izinkan saya menikahi anak Bapak dan Ibu. Saya berjanji, bukan hanya Ciara yang akan saya sayangi, tetapi saya juga akan menyayangi Nirmala seperti anak saya sendiri. Saya akan menjaganya, saya akan menjadikannya ratu dan menganggapnya sebagai anak saya sendiri!” tegas Yudha.
Kedua matanya memancarkan ketulusan yang bisa Ciara ketahui. Yudha kecil seakan telah kembali membawa janji-janjinya lagi. Ciara selalu tahu kapan Yudha berbohong dan kapan Yudha tulus, maka dari itu sekarang Ciara merasa resah atas perasaannya sendiri.
“Kami tidak bisa ikut campur urusan kalian, lebih baik tunggu saja apa yang akan Ciara jawab tentang ajakan nikah darimu. Kami tidak akan memaksanya untuk menikah dengan siapa, karena kami ingin ia menjalani hidup dengan baik selepas penderitaannya,” sinis sang ibu.
Yudha menoleh ke arah Ciara yang masih menatapnya dengan penuh arti. Ciara masih bimbang, tetapi di sisi lain ia juga masih sangat mencintai Yudha. Sejauh ini kedua orang tuanya memang masih menyembunyikan fakta bahwa Nirmala adalah anak Yudha sendiri. Pengakuannya yang ingin menjadikan Nirmala sebagai anak kesayangannya, membuat Ciara yakin bahwa Yudha memang sangat tulus mencintainya. Pria itu bukan hanya mencintai Ciara saja, tetapi Nirmala juga.
“Ciara, apakah kamu mau menikah denganku dan menjalani kehidupan ini bersama hingga kita tua nanti?” tanya Yudha sekali lagi menatap Ciara dengan mantap.
__ADS_1