
"Aku tahu rasanya dikhianati, aku tahu rasanya ditinggalkan dan aku pun tahu bagaimana rasanya jika kita tak bisa bersama dengan orang yang dicintai. Tetapi belajarlah untuk menerima semua kenyataan itu walaupun pahit."
_ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _
"Hiks.... hiks.... hiks...." Ulfa masih terus menangis tersedu-sedu. Saat ini hatinya hancur menerima semua kenyataan pahit bahwa ia harus berpisah dengan orang yang dicintai nya. Memang sulit melepaskan orang yang sudah mengisi ruang hati kita. Namun apalah daya jika takdir tak mendukung mereka untuk bersama. Menyesal juga sudah terlambat jika semua telah terjadi.
Ulfa masih terduduk lemas di lantai kampusnya. Untungnya saat ini semua mahasiswa sudah pulang ke rumahnya masing-masing. Jika tidak, Ulfa pasti akan menjadi pusat perhatian para mahasiswa kampus.
Tak lama kemudian ada sebuah uluran tangan ke arah Ulfa. Ulfa sempat senang apakah Beni yang kembali lagi membantunya berdiri karena tak tega melihat Ulfa menangis. Ulfa mendongak ke arah tangan itu. Ternyata orang yang membantu nya adalah Arka. "Kamu ngapain duduk di lantai?" tanyanya heran.
"Hm aku tidak apa-apa," jawab Ulfa langsung menghapus air matanya dan menerima uluran tangan Arka lalu berdiri.
Arka menyadari bahwa Ulfa sedang menangis terlihat dari air mata yang ada di ujung mata nya dan juga hidung yang berwarna merah. "Kamu menangis? Ada apa, ada yang menyakitimu?" tanya Arka kembali.
"Ti..tidak mataku tadi kemasukan kotoran," jawab Ulfa mencari alasan.
"Kamu yakin?" tanya Arka kembali.
"Tumben nih si manusia es perhatian biasanya dingin, cuek sama aku," batin Ulfa.
"Iya aku yakin, yasudah ayo pulang," ajak Ulfa kepada Arka.
Arka tidak menghiraukan ucapan Ulfa, dia langsung pergi meninggalkan Ulfa.
"Pria ini aneh tadi perhatian sekarang cuek," gerutu Ulfa dalam hatinya dan langsung menyusul Arka.
Arka hanya heran mengapa Ulfa tiba-tiba menangis. "Kira-kira apa yang menyebabkan dia menangis, apa dia tidak bahagia dengan perjodohan ini." Batin Arka yang sudah masuk ke dalam mobil.
Tak lama kemudian datanglah Ulfa dengan mata yang masih sembab. Dia membuka pintu mobil Arka lalu menutup nya dengan kesal sampai berbunyi "Brakkk.."
"Woyy biasa aja kali," ucap Arka yang melihat Ulfa menutup pintu mobilnya dengan kasar.
Ulfa hanya menatap tajam ke Arka. Dan tidak memperdulikan ucapan Arka. Arka hanya menghela nafasnya "Hufftt.." Akhirnya Arka memilih diam dan mengemudikan mobilnya.
πππππππ
Sementara di Rumah Rivaldo..
__ADS_1
Rivaldo baru saja sampai di rumahnya. Dan langsung menekan bel rumah "Ting..Tongg.."
Tak lama pintu dibukakan oleh bi Ima. Rivaldo masuk dan mencari Delinda di kamarnya. "Mama," panggil Rivaldo.
"Iya pa," sahut Delinda yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Ma, Papa sudah menyiapkan tempat untuk acara resepsi pernikahan Arka dan Ulfa." Ucap Rivaldo memberitahu istrinya.
"Benarkah pa, Mama juga sudah menyiapkan gaun dan hadiah untuk Arka dan Ulfa," Delinda tersenyum senang.
"Iya ma, Papa dan Reno sudah menyiapkan semuanya. Hm Mama memberi hadiah apa untuk mereka?" tanya Rivaldo penasaran.
"Ada deh pa nanti Papa pasti tahu kok," Delinda merahasiakan hadiah untuk Arka dan Ulfa.
"Mama main rahasia-rahasia ya sekarang," Rivaldo mencubit gemas hidung istrinya. "Besok kita cek ke hotel ya ma, ajak juga Ulfa dan Arka. Besok kan hari Sabtu, Arka sudah pasti libur." Lanjut Rivaldo.
"Oke pa, nanti Mama kasih tahu Ulfa dan Arka." Delinda tersenyum.
"Ting..tong.." Bel rumah berbunyi. Bi Ima segera membukakan pintu ternyata Ulfa sudah pulang di antar oleh Arka. Ulfa langsung masuk dan menaiki tangga ke kamarnya tanpa memperdulikan keberadaan Arka. Rivaldo dan Delinda melihat Arka yang sudah ada di ruang tamu "Lo nak Arka kok sendiri?" tanya Rivaldo.
"Sama Ulfa tadi Om, tapi dia sudah naik ke atas. Kayaknya dia sedang ada masalah Om," jawab Arka.
"Tidak apa-apa Tante, mungkin Ulfa lagi ada masalah. Kalo begitu Arka pamit pulang ya Om, Tante," ucapnya. Saat Arka ingin pergi.
"Nak Arka tunggu dulu," Rivaldo mencegah Arka yang akan pergi.
"Ada apa Om?" tanyanya heran.
"Besok Om ingin mengajak kamu untuk mengecek hotel yang akan digunakan untuk resepsi pernikahan kamu dan Ulfa. Jadi bagaimana nak Arka, kamu mau kan menemani kami kesana? Oh iya sekalian kabari juga kedua orang tua mu ya," jawab Rivaldo yang mengutarakan keinginannya untuk mengajak Arka mengecek hotel.
Arka tersenyum "Baiklah Om, besok Arka akan menemani Ulfa bersama dengan Om dan Tante untuk mengecek hotel. Sekarang Arka pulang ya Om," Arka kembali pamit kepada Rivaldo dan Delinda.
"Iya nak Arka hati-hati," ucap mereka berdua lalu masuk ke dalam kamar.
Sementara di kamar Ulfa, terlihat Ulfa yang langsung berbaring di atas kasurnya dan melanjutkan tangisnya. "Hikss..Hikss.. Mengapa semua ini harus terjadi Hikss..Hikss kamu jahat Ben. Mengapa kamu tidak mendengarkan penjelasan aku dulu Ben. Hikss.. Aku benci semua ini aku benci!!!," Ulfa melempar bantal nya. Ia saat ini benar-benar kacau, hatinya hancur menerima kenyataan bahwa ia tidak bisa bersama dengan orang yang dicintainya. "Kenapa juga aku harus dijodohkan dengan makhluk es itu. Mengapa bukan dengan Beni saja. Aku pun baru tahu ternyata mereka bersahabat. Mengapa makhluk es itu tidak menolak saja untuk dijodohkan. Akhhh.. aku benar-benar kesal saat ini." Gerutu Ulfa yang masih meratapi nasib nya. Ia terus menangis melampiaskan semua rasa sakit, kecewa, kesal dan emosinya itu.
πππππππππ
__ADS_1
Sementara Arka sudah sampai di rumahnya dan langsung menyampaikan pesan Rivaldo kepada kedua orang tuanya. Mereka pun setuju akan ikut melihat hotelnya. Lalu Arka masuk ke kamarnya dan merebahkan tubuhnya di kasur king size nya itu.
"Drrtt.....Drrrtt..." Handphonenya bergetar. Arka langsung duduk dan mengambil handphonenya ternyata yang menelfon nya adalah Nadia sahabat sekaligus pacarnya sekarang.
"*Sayang kamu besok temani aku ke mall ya, aku mau beli tas soalnya udah lama gak shoping."
"Aduh kayaknya gak bisa sayang, aku ada kerjaan besok. Lain waktu aja ya."
"Aku gak mau tahu ya pokoknya besok kamu temani jam 2 siang oke."
"Iya-iya, Ya sudah aku mandi dulu ya. Abis pulang dari kantor ini,"
"Okee*."
"Tutt..tutt" percakapan mereka terputus.
Arka bingung "Aduhh bagaimana ini, mana besok mau ke hotel, kira-kira selesai nya jam berapa ya? Si Nadia lagi beli tas saja mau di temani. Tapi besok kan weekend jadi wajarlah Nadia minta ditemani. Tapi.." Arka menggaruk kepalanya. "Kok jadi pusing gini ya. Ahh aku bilang aja besok mau nemuin temen. Ya itu ide bagus," ucapnya mendapatkan cara agar bisa menemani Nadia.
Lalu Arka segera mandi karena tubuhnya terasa lengket.
ππππππ
Di Bandara, terlihat Beni yang sudah memasuki pesawat untuk berangkat ke Jerman. Ia rasa ini yang terbaik untuk dirinya, daripada harus melihat orang yang dicintai nya bersama orang lain. Jadi Beni memutuskan untuk menetap di Jerman dan melanjutkan bisnis papanya. Beni yakin disana ia pasti bisa menemukan wanita yang akan membuatnya bisa melupakan Ulfa. "Selamat tinggal Ulfa, semoga hidupmu bahagia. Ketahuilah satu hal sampa saat ini aku masih mencintaimu," batin Beni saat pesawat nya sudah lepas landas.
βββββββββββββ
Halo Readers..
Author minta maaf ya jika komentar Kalian belum sempat di balas satu-satu soalnya Author lagi banyak kerjaan. Tapi pasti nanti di balas ya.
Seperti biasa jangan lupa tinggalkan Like, Koment, Vote, Tambahkan favorit dan Rate Rate Rate βοΈ5 ya. Pleasee..
Follow Ig Author ya : inggitanjani_18
pasti di follback...
Terima kasihππ Salam sukses dari Authorπβ€οΈ
__ADS_1
πCinta Akibat Perjodohanπ