
"Aku tak tahu siapa dirimu, bagaimana rupamu tapi jika memang ini adalah sebuah takdir Tuhan yang mempertemukan kita maka aku akan berusaha membuka hatiku untukmu."
_ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _
Arka benar-benar tidak menyangka dan sama sekali tidak menduga jika papanya akan menjodohkannya. Arka kira itu mungkin syarat yang mudah seperti mengembangkan perusahaan atau memimpin rapat. Ternyata syarat yang diberikan papanya itu membuat dia benar-benar kaget.
"Apa tidak ada syarat lain pa?" tanya Arka kepada Reno yang tak mau di jodohkan.
Reno tersenyum lebar. "Nak Kamu tadi sudah sangat semangat ingin menerima syarat dari Papa. Kamu juga sudah berjanji untuk menerima nya. Sebagai kesatria yang sejati pasti kamu akan menepati janjimu Arka. Papa tidak memiliki syarat lain selain itu. Besok siapkan dirimu untuk menemui calon istrimu." Ucap Reno memberi nasihat kepada putranya.
Arka diam seribu kata saat Papa nya mengatakan itu. Dia bingung harus bagaimana. Tetapi benar ucapan papanya jika sudah berjanji harus ditepati. Dengan berat hati Arka pun berkata "Baiklah Pa, aku menerima perjodohan ini."
"Benarkah? Papa sangat senang mendengar nya. Yasudah persiapan dirimu besok ya nak," ucap Reno sangat senang mendengar jawaban Arka.
Arka hanya mengangguk pelan. "Iya pa Arka ke kamar ya," ucapnya.
Reno benar-benar bahagia bisa menjodohkan anaknya dengan anak Rivaldo. Karena Reno sudah sangat dekat dengan Rivaldo dan ini cara yang baik untuk menyatukan mereka sebagai keluarga.
Reno juga sudah membicarakan masalah ini dengan istrinya, Syena. Syena pun sangat setuju karena dia mengenal istri Rivaldo. Syena juga berlangganan di Butik Delinda milik istri Rivaldo.
Reno segera memberi tahu kabar ini kepada Rivaldo.
"Tutt..Tut.." Suara handphonenya menelfon Rivaldo.
~*Rivaldo~
"Halo Reno ada apa?"
~Reno~
"Ada kabar baik val, Arka menerima perjodohan antara anak kita dan kami setuju untuk datang besok ke acara makan malam yang di adakan oleh mu."
~Rivaldo~
"Itu berita bagus ren, Ulfa juga sudah mau dijodohkan. Semoga mereka bisa menjalani hubungan ini ya walaupun tanpa ikatan cinta."
~Reno~
"Iya semoga saja val. Yasudah aku tutup telfonnya ya."
~Rivaldo~
__ADS_1
"Oke Ren."
Reno mematikan telfonnya dan melanjutkan pekerjaannya.
*****
Esok harinya...
Terlihat Delinda dan Ulfa yang sibuk di dapur sedang memasak banyak makanan yang akan dihidangkan untuk keluarga Reno nanti malam.
"Mama kira-kira pria yang akan dijodohkan dengan aku itu masih muda atau sudah berumur?" tanya Ulfa penasaran.
Pertanyaan Ulfa membuat Delinda tertawa kecil dan menggelengkan kepalanya. "Kamu nih ada-ada saja pertanyaan nya. Nak Arka itu baru berusia 21 tahun. Dia sangat tampan dan berwibawa. Mama dengar dia akan menggantikan Papanya menjadi CEO di BrawijayaGroup," ucap Delinda sembari memotong sayuran.
Ulfa tertegun seketika. "BrawijayaGroup,setau aku perusahaan itu adalah perusahaan terbesar ketiga di Indonesia. Berarti aku akan menjadi istri dari CEO perusahaan terbesar ketiga itu. Keluarga mereka pasti sangat sombong bisa-bisa aku nanti tidak dianggap menantu oleh Mama Arka." Gerutu Ulfa dalam hati nya.
"Hem ma, Ulfa takut. Pasti mereka sombong dan angkuh kan mereka termasuk orang-orang kaya raya sedangkan kekayaan kita gak sebanding sama Keluarga mereka ma," ucapnya yang takut membayangkan jika dirinya akan dicaci maki bahkan tak dianggap sebagai menantu di keluarga Reno.
"Hahah sayang pemikiran kamu salah terhadap keluarga Arka. Keluarga mereka gak sombong kok. Mama kenal sama Mama Arka dia itu langganan di Butik Mama. Orangnya lembut,ramah dan sopan santun. Jadi kamu gak boleh berpikir seperti itu. Jika masih gak percaya nanti malam kan kita akan bertemu dengan mereka. Nah buktikan saja ucapan Mama nanti malam," ucap Delinda lembut.
Ulfa masih sedikit tidak percaya tetapi ucapan mamanya memang benar. "Iya Mama, maaf Ulfa sudah lancang," ucap Ulfa mengakui kesalahannya.
Delinda tersenyum "Tidak apa-apa sayang, ya sudah kita lanjutkan masak nya."
*******
Sedangkan Beni dia berencana untuk mengajak Ulfa ke Mall karena hari ini weekend. "Hm weekend gini Aku mau ngapain ya. Em apa aku ke rumah Ulfa aja, ngajak dia jalan ke Mall ya," ucap Beni yang masih berpikir. "Ya ide bagus," timpal Beni.
Beni pun bersiap untuk menjemput Ulfa. Beni menaiki motornya dan berangkat ke rumah Ulfa.
•
•
Setelah sampai di rumah Ulfa, Beni menekan bel. "Ting tong"
Ulfa yang mendengar bel berbunyi langsung ke depan membukakan pintu. Ulfa kaget ternyata yang datang adalah Beni. Untung saja papanya sedang tidak ada di rumah jika ada pasti dia tidak akan senang dengan kedatangan Beni.
"Eh Beni ayo masuk dulu," ucap Ulfa menyuruh Beni masuk ke dalam rumahnya.
Beni pun mengikuti Ulfa masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
"Duduk dulu Ben, aku buatin minum dulu ya," ucap Ulfa yang menyuruh Beni duduk. Ketika Ulfa akan pergi membuatkan minum, Beni menarik tangan Ulfa.
"Eh gak perlu repot-repot fa, aku kesini mau ngajak kamu jalan ke Mall dan nonton film kamu mau gak?" ucap Beni mengutarakan rencananya untuk mengajak Ulfa jalan.
Ulfa diam sesaat mendengar Beni yang ingin mengajaknya jalan. "Aduhh bagaimana ini jika aku menolak, Beni pasti curiga karena gak biasanya aku menolak ajakannya. Tetapi jika aku terima ajakannya, pasti pulang malam karena nonton bioskop dulu," batin Ulfa yang bingung.
"Hem gimana ya Ben, aku ada acara nanti malam jadi sepertinya aku gak bisa deh bukan gak mau ya Ben. Tapi lagi ada acara," ucap Ulfa hati-hati bicara agar Beni tidak kecewa.
Raut wajah Beni berubah "Hm maaf ya fa, aku gak tahu jika kamu ada acara nanti malam. Yaudah aku ngerti kok. Jika boleh tahu acara apa Fa?" tanya Beni sedikit penasaran.
"Em.. ini..itu aduh apa ya Ben aku lupa. Oh iya acara makan malam sama Teman Papa," ucap Ulfa gugup. "Aduh kok aku jadi gugup sih, nanti Beni curiga gimana." Gerutu Ulfa dalam hati.
"Hhh kamu tu ya ada-ada saja Fa, acara makan malam aja bisa lupa aneh kamu," ucap Beni tertawa.
Ulfa menggaruk kepalanya. "Huffttt...Biasa suka lemot Ben," ucap Ulfa lega karena Beni tidak curiga dengannya.
"Yaudah aku pulang ya kamu pasti sibuk, salam ke Mama ya," ucap Beni pamit ke Ulfa.
"Kamu gak marah kan Ben?" tanya Ulfa.
Beni menggelengkan kepalanya. "Dah aku pulang dulu," ucapnya berdiri.
"Iya Ben hati-hati." Ulfa sangat tidak enak hati dengan Beni karena menolak ajakannya tetapi Ulfa lega jika Beni tidak marah kepadanya.
********
"Siapa yang datang sayang?" tanya Delinda.
"Itu si Beni ma, dia mau ngajak Ulfa jalan tapi Ulfa tolak," ucap Ulfa yang sebenarnya sedih tidak bisa jalan dengan kekasihnya.
"Nak, pesan Mama kamu kan mau menikah jadi jauhi Beni. Jangan sampai dia sakit hati karena kamu ingin menikah. Beni bisa saja menyimpan dendam kepadamu serta Arka nak," ucap Delinda mencoba membujuk anaknya agar menjauhi Beni karena sebentar lagi Ulfa akan menikah dengan Arka.
"Ulfa akan pertimbangkan ma," ucap Ulfa sedih karena mamanya menyuruh Ulfa untuk menjauhi kekasihnya itu.
"Yaudah sayang kamu sekarang ke butik Mama ya, bilang sama mbak Ratih manajer Mama di butik, kalau kamu ingin memilih baju, nanti mbak Ratih yang akan menemani kamu." Ucap Delinda yang masih memasak.
"Iya Mama." Ulfa pun segera bersiap-siap untuk pergi ke butik mamanya.
____________
Halo..halo Readers.. Kira-kira bagaimana ya saat Ulfa bertemu Arka?????
__ADS_1
**Jika suka jangan lupa like koment vote tambahkan favorit dan rate ⭐️ 5 ya dukung terus karya ini....
***•°Cinta Akibat Perjodohan°**•***