
Tak terasa usia pernikahan Dara dan Rico sudah memasuki tahun ke empat namun sikap Rico masih saja seenaknya tehadap Dara hal itu membuat Dara merasa lelah menghadapi Rico yang kadang baik kadang enggak.
Dan kini usia Jihan juga sudah empat tahun,hanya Jihan lah yang membuat Dara bertahan dengan pernikahan yang menyakitkan itu..
"Bunda kenapa bersedih?"tanya Jihan dengan lembut...
Dara pun menatap wajah sang putri dan kemudian menyeka air matanya..
"Enggak apa apa sayang,kenapa kamu belum tidur?"tanya Dara sembari tersenyum..
"Apa Ayah menyakiti hati Bunda lagi? Kenapa Ayah selalu kasar sama Bunda?"tanya Jihan dengan sangat polosnya.
Mata Dara langsung terbuka lebar takkala mendengar ucapan sang putri..
"Jihan gak boleh berfikir begitu,Ayah adalah laki laki yang baik dan juga ini masalah orang dewasa Jihan belum waktunya tahu."Dara pun berusaha menjelaskan kepada Jihan untuk tak berfikir buruk tentang Rico.
Jihan hanya mengangguk saja dan kemudian memeluk sang Bunda...
"Jika Ayah tak bisa menyayangi Bunda maka aku yang akan sayang sama Bunda sampai kapanpun."Dara pun terharu mendengar ucapan sang Putri.
Dara pun tak kuasa menahan airmatanya dan kini keduanya pun berpelukan dengan eratnya.
"Bunda bersyukur memiliki kamu sayang walaupun Jihan juga tahu bahwa Bunda bukan Ibu kandung Jihan namun Jihan selalu menerima Bunda dengan sangat baik,terima kasih sayang tanpa kamu mungkin Bunda sudah menyerah dengan pernikahan ini."Dara pun tak kuasa menahan kesedihannya.
Pagi itu seperti biasa Rico yang mengantar Jihan kesekolah pagi pagi Jihan sudah bersiap dibantu oleh sang Bunda.
"Selamat pagi Sayang.."ucap Rico kepada putrinya Jihan.
Jihan pun hanya mengangguk sembari tersenyum dan buru buru menghabiskan sarapannya.
"Ayah semalam kenapa Ayah marahin Bunda,Bunda sampai menangis semalaman."ucapan Jihan membuat Rico yang sedang menikmati secangkir kopi menjadi tersedak..
__ADS_1
"Apa Bunda menangis?"tanya Rico mencoba memastikan ucapan putri kecilnya itu.
Jihan pun mengangguk dan mengatakan bahwa Bundanya bersedih semalaman dan pagi ini juga Dara telah pergi pagi pagi sekali karena ada panggilan darurat...
Rico pun terdiam dia baru menyadari bahwa selama ini dia telah begitu dalam menyakiti wanita yang menempati hatinya.
"Apa aku selama ini terlalu menyakitinya apakah aku selama ini terlalu membuatnya kecewa dan sakit hati?"Rico pun ingin memperbaiki hubungannya dengan Dara.
Rico terlihat diam saat itu jam menunjukan telah pukul tujuh pagi dan Jihan sudah harus kesekolah..
"Ayah ayo antar Jihan nanti Jihan terlambat."ucapan Jihan membayarkan lamunan Rico.
Pada saat yang sama Ibu Ningsih pun datang berkunjung karena Ibu Ningsih tinggal di kota yang berbeda jadi paling enggak satu atau dua bulan dia baru bisa datang untuk berkunjung.
"Pada kemana kenapa rumah kok sepi banget?"ucap Ibu Ningsih setelah sebelumnya mengucapkan salam..
"Nenek..."panggil Jihan girang. Jihan pun langsung berlari mengejar sang Nenek..
Rico juga langsung mendekat kearah sang Bunda lalu mencium punggung tangan Ibunya.
"Assalamualaikum Bun gimana kabarnya sehat?"tanya Rico sedikit basa basi..
Ibu Ningsih pun hanya mengangguk dan kemudian menanyakan dimana Dara berada,namun Rico justru diam saja hal itu membuat Ibu Ningsih merasa kesal..
"Bunda heran sama kamu Ric,Dara adalah wanita yang sangat baik dan juga sempurna menurut Bunda tapi kenapa kamu seolah sangat membencinya kenapa? Bunda masih ingin bicara sama kamu,kamu antar Jihan dulu nanti dia terlambat."Ibu Ningsih pun menyuruh putranya untuk mengantar Jihan ke sekolah.
Setalah keduanya pergi Ibu Ningsih juga langsung pergi menuju kamar tamu karena setiap Ibu Ningsih datang pasti selalu menginap..
Di tempat lain Dara sedang merawat pasiennya tiba tiba saja Dokter Alif datang menemuinya..
"Ra nanti siang kita makan siang bersama ya ada hal yang ingin aku katakan."Alif pun hanya mengucapkan kata itu lalu pergi meninggalkan Dara...
__ADS_1
Dara pun hanya mengangguk dan tersenyum..
Tiba saatnya makan siang bersama Dara pun pergi menuju kantin rumah sakit dan disana sudah ada Alif yang menunggunya..
"Maaf Mas lama aku baru selesai oh iya ada hal apa yang ingin di sampaikan?"tanya Dara sembari mencoba mencari tahu...
Alif pun tersenyum dan kemudian menggelengkan kepalanya.
"Duduk dulu Ra makan baru nanti kita bicara."ucap Alif sembari menikmati makanan yang telah dia pesan sebelumnya.
Dara pun hanya mengangguk dan kemudian mengikuti apa yang di ucapkan oleh Alif,Dara duduk dan kemudian menikmati makanannya..
Setalah mereka selesai makan keduanya pun sama sama saling diam.
"Ra aku mencintaimu.."
Satu ucapan yang berhasil membuat Dara tersedak karena ucapan Alif.
"uhhhukkkkkkk... apa yang Mas katakan?Jangan bercanda Mas nanti di dengar orang akhirnya menjadi fitnah."ucap Dara yang mengganggap ucapan Alif hanyalah sebuah lelucon.
"Aku serius Andara aku mencintaimu semenjak kita sama sama kuliah dulu. Aku hanya bisa memendam perasaan ini karena aku tahu di hatimu ada orang lain. Ra aku tahu ini tak masuk akal namun aku sudah mencoba untuk membuang perasaan ini namun aku gagal. Ra aku tak peduli apapun aku tak peduli bahwa kamu telah menikah aku tahu pernikahanmu seperti apa bahkan jika aku harus menunggu kamu sampai kamu bercerai dari suami kamu aku akan menunggumu."Alif pun semakin berani untuk mengungkapkan semua perasannya...
Dara hanya diam saja dia tak bisa berkata apa apa, Dara melihat ada ketulusan di mata Alif sedangkan pernikahannya dengan Rico laki laki yang sangat dia cinta tak lebih hanya seperti pernikahan palsu yang mengikatnya.
Rico yang tak penah menganggapnya ada dan juga Rico yang selalu saja berfikir negatif tentangnya membuat Dara kadang merasa lelah, Dara juga ingin di cintai dan juga ingin di perhatian oleh seseorang yang menganggapnya sepesial..
"Ra kamu tak perlu menjawabnya sekarang dan apapun jawaban kamu aku akan menghargai keputusan kamu. Perasaan ini tulus tanpa adanya tekanan dan juga paksaan dan aku sendiri sudah mencintaimu lebih dari 8 tahun. Ra aku hanya ingin melihatmu bahagia tapi jika kebahagiaan kamu bukan dengan aku,aku pun akan rela."Alif pun berbicara dengan penuh kelembutan.
Dara hanya bisa terdiam dan tanpa berkata apa apa lagi,dan dia hanya bisa tersenyum dan kemudian menatap laki laki yang telah begitu tulus mencintainya selama lebih dari 8 tahun yang lalu,Dara sendiri tahu bagaimana rasanya mencintai tanpa di cintai,Dara juga tahu bagaimana rasanya berkorban tapi tak terlihat hal itu membuatnya tak berani untuk memberikan harapan karena sejauh ini perasaannya masih milik suaminya.
"Berikan aku waktu untuk menjawabnya Mas,aku tahu dan aku berterima kasih karena Mas telah mencintaiku selama ini. Semoga jawaban aku tak akan membuat Mas merasa kecewa dan sakit hati."Dara pun menundukkan kepalanya dan merasa bahwa Dara harus tetap memilih satu diantara dua.
__ADS_1