CINTA ANDARA

CINTA ANDARA
Menjadi seorang Ibu


__ADS_3

Setelah acara pemakaman Shinta,Dara dan keluarganya pun pulang kerumah,dan ini pertama kalinya Dara menginjakkan kaki di rumah sahabatnya sekaligus rumah suaminya.


Sesampainya di dalam rumah tersebut airmata Dara tak dapat di bendung lagi dia kala mengingat sahabatnya Shinta...


Ibu Ningsih mengelus punggung Dara dengan sangat lembut.


"Saat ini kamu jangan bersedih lagi,Shinta sudah tenang di sana dan tugas kamu adalah menjaga amanah yang dia tinggalkan. Hapus airmatamu dan lihatlah Jihan sekarang kamu adalah Ibunya."Ibu Ningsih pun mencoba membuat Dara mengikhlaskan semuanya.


Dara pun langsung menatap kearah Jihan bayi mungil yang ada di gendongannya.


"Maafkan Bunda ya sayang,Bunda hampir saja melupakan kamu."ucap Dara sembari mencium pipi mulus Jihan dengan lembut.


Rico pun menatapnya sekilas ada perasaan yang aneh di dalam hatinya melihat Dara dengan begitu tulus mencium buah hatinya.


"Sekarang bawa Jihan ke kamarnya dan kamu juga harus beristirahat."Ibu Ningsih pun menyuruh Rico untuk membawa Dara kedalam kamar mereka.


Rico pun tak menjawab dia hanya berjalan dan di ikuti oleh Dara...

__ADS_1


"Kamu boleh tidur dan tunggal di kamar Jihan,kita memang sudah menikah tapi aku harap kamu tahu bahwa pernikahan hanyalah sebuah pernikahan dan satu lagi jangan pernah berharap apapun dariku terutama berharap tentang perasaanku kamu paham maksud aku!"Rico pun langsung pergi meninggalkan Dara yang masih mematung di depan pintu kamar putri kecilnya itu.


Dara pun mengambil nafas panjang dan membuangnya secara belahan..


"Aku juga tak mengharapkan apapun dari pernikahan ini Mas aku juga tahu dan sangat mengerti bahwa kamu hanya mencintai Shinta."


Dara pun membuang semua pikirkannya dan kemudian memandikan Jihan dan mengajaknya beristirahat.


Dara pun tak mau memikirkan apapun terlebih lagi memikirkan tentang sikap Rico yang menurutnya tak perlu dia pikirkan.


Pada malam harinya Dara pun menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri dengan menyiapkan makan malam untuk Rico dan juga untuk dirinya.


"Untuk apa kamu memasak? Bukankah sudah ada Bibi yang bisa menyiapkan semuanya?"ucap Rico dengan sinis..


Dara pun hanya tersenyum..


"Aku istrimu Mas dan sudah menjadi sebuah kewajiban untukku menyiapkan makanan dan keperluanmu Mas."jawab Dara dengan santainya...

__ADS_1


Rico pun diam sesaat.


"Tapi aku gak membutuhkan itu semuanya."jawab Rico sembari pergi meninggalkan dapur.


Dara pun hanya tersenyum penuh arti dia tahu apa yang akan terjadi selanjutnya...


💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕


Dara sendiri tak pernah mau memikirkan sikap Rico terhadapnya,Dara tahu bahwa yang ada di dalam hati Rico hanya ada nama Shinta bukan nama wanita lain apalagi dirinya.


"Sudahlah Dara untuk apa lagi kamu memikirkannya,anggaplah saja bahwa kalian bukan suami dan istri,kalian hanyalah dua orang yang berbeda itulah kenyataannya."Dara pun mencoba meyakinkan dirinya sendiri.


Sedangkan Rico yang kini telah masuk kedalam kamarnya dengan membanting pintu pun langsung menjatuhkan dirinya keatas pembaringan dan menatap langit langit kamarnya hatinya kembali merasakan gundah dengan apa yang di lakukan oleh Dara,namun keegoisan Rico terlalu tinggi sehingga membuatnya selalu saja tak memikirkan apapun termasuk sikapnya yang selalu saja menyakiti hati Dara..


Dara pun langsung membuang semua pikirannya dan setelah menikmati makan malamnya sendirian Dara pun langsung pergi menuju kamarnya bersama Jihan..


"Sayang saatnya kita istirahat. Kamu harus menjadi anak yang baik dan Solehan ya kelak ingat kamu adalah kesayangan Bunda dan Bunda janji Bunda akan selalu ada disini untuk melindungi kamu dan juga Bunda janji sama kamu Bunda akan selalu bersama Jihan apapun yang terjadi."Dara pun tersenyum dan kemudian meletakkan Jihan di atas pembaringan dengan lembut.

__ADS_1


Pada pagi harinya seperti biasa Dara menyiapkan sarapan buat dirinya sendiri dan juga buat Rico suaminya.


Setelah itu Dara pun bersiap kerumah sakit untuk bekerja dengan membawa Jihan bersamanya.


__ADS_2