Cinta Lama Berujung K(UA)

Cinta Lama Berujung K(UA)
Salam Kenal, Kawan


__ADS_3

Oops!…I did it again


I played with your heart, got lost in the game


Oh baby, baby


Mulutku ikut berkicau di tengah ributnya suasana kelas yang sedang istirahat dari pelajaran melelahkan otak. Aku memang suka belajar, tapi kalau terus-menerus aku juga tak sanggup. Satu-satunya hiburanku di saat jam istirahat sekolah, menyanyi atau membaca buku. Membosankan memang, tapi aku menyukainya. Karena itulah aku jarang bergaul dengan teman-temanku yang lain.


Tapi jangan salah sangka, aku bukan tak pandai bergaul, hanya saja tak terlalu suka. Yah, mereka bilang aku ini pendiam dan agak aneh, but that's their problem. This is me, whatever you say. Itu sloganku, dan aku sangat amat menyukainya.


Oh ya, aku lupa perkenalkan diri, namaku Sheena Andira, Sulung dari empat bersaudara yang semuanya adalah perempuan. Orang-orang biasa memanggilku Sheena, bahkan ada yang dengan sesuka hati memanggilku si Singa. Yah, seperti yang kalian bayangkan, aku dapatkan julukan itu karena mereka berpendapat bahwa aku galak, terlebih lagi wajahku yang tercipta dengan kesan jutek. Tapi aku menyukainya, toh itu artinya mereka segan padaku, atau mungkin takut, entahlah.


Selain karena jarang bergaul, aku juga tak punya banyak teman karena mereka iri, setidaknya itu pikirku. Tapi ya sudahlah, toh mereka juga akan datang kalau butuh.

__ADS_1


By the way, hari ini kabarnya akan ada anak baru. Dua orang sekaligus. Katanya mereka adalah atlet bulutangkis. Sabar, hanya itu yang kutau. Tunggu saja perkenalan diri mereka nanti.


Bel tanda masuk berdering, yang artinya kita akan segera tau siapa si anak baru itu segera. Kebetulan sekali, atau mungkin memang sudah diatur, mereka berdua datang di saat jam pelajaran wali kelasku. Yap, bapak guru matematika itu orangnya, namanya Pak Murat. Dia adalah anak pemilik sekolahku ini. Eits, dia bukanlah seperti para netizen pikirkan. Jika di pikiran kalian membayangkan dia sebagai seorang guru yang semena-mena karena posisi bapaknya, itu salah besar. Sebaliknya, dia adalah sosok yang sangat berkharisma. Mungkin karena masih muda, orangnya sangat friendly, bahkan dengan para muridnya sekalipun. Bisa dikatakan, sebagian besar murid sekolah ini, menjadikannya guru terfavorit.


Kedua anak baru itu masuk kelas mengikuti Pak Murat. Satunya anak perempuan, berambut pendek dan agak berisi badannya, dan aku tak sangka dia seorang atlet. Satunya lagi anak lelaki, bertubuh jangkung dan bermata sayu. Tunggu, kenapa aku sampai memperhatikan matanya segala, sih? Ah ada-ada saja. Maaf karena aku salah fokus, lanjut.


Mereka bergantian memperkenalkan diri. Anak perempuan itu bernama Dira Anggraini. Menurutku namanya terlalu feminim untuk penampilannya yang agak macho bagi anak gadis, tapi ya maklum saja, toh dia seorang atlet, dan orangtuanya belum tentu tau anaknya akan berpenampilan seperti apa saat menamai bayi mereka kan. Lalu murid baru yang laki-laki menyebutkan namanya. Meskipun suaranya agak pelan, tapi aku mendengar jelas namanya. Rifat Pratama. Biar kuperjelas, dia berkulit agak gelap, bertubuh jangkung, terlihat pemalu, tapi bersorot mata tajam. Tunggu, bukankah aku tadi bilang dia bermata sayu? Atau aku yang salah lihat ya? Ah sudahlah, mungkin saat ini dia sedang percaya diri, makanya tatapan matanya berubah. Ya, kan? Bisa jadi, kan?


Setelah memberikan info tentang diri mereka masing-masing, keduanya mencari tempat duduk kosong secara terpisah. Sebagai info tambahan, tenyata mereka saling kenal dan berada di klub yang sama. Namun, aku merasa mereka tidak terlalu dekat sebagai teman. Aku sedikit lebih memperhatikan mereka berdua, setidaknya itu perasaanku, tapi ternyata aku malah lebih tertarik pada Rifat yang memilih duduk di belakangku.


"Hai, aku Sheena," sambil menjulurkan tangan untuk bersalaman.


"Hai, salam kenal."

__ADS_1


"Salam kenal, kawan. Kenapa tanganmu berkeringat begitu? Tenang, aku tidak akan memakanmu," cerocosku sok kenal sambil tertawa.


"Jangan dekat-dekat, dia galak," sahut Rizal, teman laki-laki yang cukup akrab denganku, teman sebangkunya saat ini.


"Diam kau, kau yang akan kumakan nanti," balasku sambil meledek.


"Hai, aku Rizal. Kakak Sheena," katanya sambil mengajak bersalaman.


"Kakak ketemu gede," jawabku.


"Kenapa kau tiba-tiba banyak bicara sekarang Sheena?" tanyanya heran.


"Perasaanmu saja."

__ADS_1


"Biasanya dia tidak seperti itu. Nanti kau akan tau betapa anehnya dia."


Dan kami memang mulai mencari tau satu sama lain, begitu pendapatku tentang dia yang ternyata banyak bertanya tentangku pada Rizal.


__ADS_2