Cinta Lama Berujung K(UA)

Cinta Lama Berujung K(UA)
Dan, Lebih Dekat Lagi


__ADS_3

Aku selesai mengerjakan tugas-tugasku, saatnya leha-leha ria, hehe. Sepertinya aku akan mulai mengobrol dengan Rifat melalui SMS aja. Biar di sekolah tidak diganggu lagi sama Rizal. Aku meraih ponselku, mengetik pesan pembuka dan mengirimkannya pada Rifat. Kuakui aku sedikit bersemangat begitu kenal anak ini. Tidak lama kemudian dia membalas pesanku.


"Hai juga. Aku tidak menyangka kau akan mengirimkan pesan padaku secepat ini," balasnya agak panjang.


"Aku juga tidak menyangka akan jadi begitu. Kurasa aku terlalu bersemangat punya teman baru," ketikku asal menjawab.


"Begitukah? Kurasa kau bukan tipe orang yang tak punya teman sama sekali deh"


"Yah, memang tidak. Aku hanya mencoba mengajak berteman duluan, karena aku tau rasanya jadi anak baru sepertimu."


"Apa kau juga menghubungi D seperti ini?"


"Eh, tidak. Aku hanya menghubungimu."


"Kenapa?"


"Hmm, karena sepertinya kau tidak pandai bergaul seperti dia."


"Begitukah?"


"Yap!"


"Apa yang kau lakukan?"


"Tidak ada. Sedang bersantai saja."


"Kau tidak belajar?"


"Sudah selesai."


"Secepat itu? Ini baru jam 8 loh."


"Memangnya ada aturannya jam 8 masih harus belajar?"


"Tidak sih. Memangnya kau tidak punya jam belajar?"


"Tidak. Aku belajar sesukaku. Tapi tetap saja harus belajar."


"Oh begitu. Aku sendiri masih belajar."

__ADS_1


"Aku tidak bertanya, tuh."


"Aku cuma beri tau saja."


"Siapa yang mau tau?"


"Kali saja kau mau tau."


"Ya ya ya. Memang kau sedang belajar apa?"


"Mengulang pelajaran hari ini saja sih, karena aku tidak tau ada tugas apa saja untuk besok, atau apa yang harus kupelajari."


"Oh, benar juga. Kau sudah punya lembaran tugas, 'kan?"


"Ada semua. Ada tugas?"


"Kerjakan tugas Bahasa Inggris halaman 26. Besok dikumpulkan. Tapi aku tidak tau apa kau sudah belajar tentang itu di sekolah lamamu dulu."


"Oke, terima kasih. Jangan khawatir, aku bisa bertanya pada kakakku nanti."


"Oh, kau punya kakak. Siapa yang khawatir tentangmu, sih?"


"Aku sudah selesai sejak hari tugas itu diberikan."


"Wah, rajin sekali. Pantas kau santai begini."


"Sudah sana kerjakan, jangan sampai kau tidak mengumpulkan tugas itu besok."


"Iya, terima kasih sekali lagi."


"Santai saja. Sudah, jangan dibalas lagi, nanti tidak jadi kau kerjakan."


Berakhirlah komunikasi melalui pesan pertama kami. Kurasa dia tidak terlalu pendiam seperti biasanya, hanya perlu dipancing ngobrol sedikit. Itu berarti aku bisa berteman baik dengannya nanti. Hanya harus pelan-pelan. Semoga dia tidak terganggu, hehe.


Setelah berbincang dengan Rifat via SMS, aku membaca buku-buku yang kupinjam dari perpustakaan sekolah. Baru kuingat kalau ternyata batas waktu peminjaman bukunya hampir sampai. Jadi, aku membacanya secara marathon hingga tanpa sadar tertidur.


***


Beberapa hari setelah agenda SMS-an singkatku dengan Rifat beberapa hari yang lalu, belum ada lagi percakapan di antara kami. Itu karena ada beberapa tugas kelompok yang lumayan berdekatan waktu pengumpulannya, jadi aku putuskan menyelesaikan tugas lebih dulu tentunya.

__ADS_1


Sementara, jadwal pelajaran olahraga sangat kunantikan. Bukan karena aku senang olahraga sebenarnya, tapi karena kebetulan materi selanjutnya adalah tentang bulutangkis. Aku berharap bisa bermain dengan Rifat. Kapan lagi bisa melawan seorang atlet, kan? Yah, walau aku tau bahwa aku bukan tandingan untuknya.


Skip aja bagian materinya ya, hehe.


Setelah materi dijelaskan dan dicontohkan oleh pak guru, kami pun diminta untuk latihan dengan catatan minggu depan pengambilan nilai. Tentu saja ini yang kutunggu, hihi. Aku pun menghampiri Rifat yang masih terlihat bingung ingin mengajak siapa. Aku menawarkan diri dan dia menerima tanpa banyak bicara.


Sambil bermain, sesekali dia memberi tahu apa yang harus dan tidak boleh kulakukan saat sedang bermain. Kami pun bercakap-cakap dengan santai sambil memukul bola menggunakan raket.


"Lumayan juga kau," ucapnya sambil tersenyum.


Aih, kenapa harus senyum segala sih, bikin aku salah paham saja.


"Dulu aku sering ikut main bersama orangtua dan omku."


"Oh, begitu. Mereka atlet juga?"


"Tidak, hanya sekedar hobi. Tapi mereka rutin melakukannya satu atau dua kali seminggu."


"Sewa lapangan?"


"Hahaha, tidak. Di depan rumah kami ada tanah kosong, jadi mereka bermain di sana."


"Oh, begitu rupanya."


"Hmm, begitulah."


Tak lama kemudian, pak guru memberi isyarat untuk berkumpul karena jam mengajarnya sudah usai. Sebelum bubar, beliau kembali mengingatkan tentang pengambilan nilai minggu depan.


Sembari berjalan menuju kelas, aku kembali menghampiri Rifat untuk berterima kasih.


"Hai, Fat. Terima kasih sudah mengajarkan beberapa hal tadi."


"Iya, sama-sama."


"Baiklah, aku duluan ke kelas."


"Iya."


Dan, sejak saat itu, kami jadi lebih dekat. Ketika jam istirahat, tak jarang kami mengobrol. Tentu saja diiringi ledekan Rizal, bahkan teman-teman yang lain ikut-ikutan. Banyak hal yang kami bicarakan, mulai tentang bulutangkis, pengalaman masing-masing, dan masih banyak lagi. Sejak itu, Rifat tidak lagi terlalu kaku kalau bicara, dia sudah mulai bisa santai. Mungkin karena sudah mulai merasa nyaman, sehingga kami juga lebih mudah menjadi dekat.

__ADS_1


__ADS_2