
Sebelum pengambilan nilai olahraga, aku dan Rifat berlatih dahulu. Sebenarnya hanya aku yang latihan, hehe. Karena Rifat sedang memposisikan dirinya menjadi pelatihku saat ini. Berulang kali dia menjelaskan apa yang boleh dan tidak boleh kulakukan saat bermain bulutangkis.
Meski aku kadang lupa atau bahkan pura-pura lupa pada apa yang sudah dia jelaskan, dengan sabar dia mengulang kembali mengatakannya padaku. Meski kadang dia menatapku tak percaya bahwa sangat pelupanya aku, atau kadang dia sendiri curiga aku tengah mengerjainya, haha.
"Hei, kau sengaja ya?" tanyanya setelah mulai kesal karena ulahku.
"Apanya?" jawabku dengan pura-pura tak tahu apa maksud yang dia tanyakan barusan.
"Sudahlah, awas kau ulangi yang tadi."
"Yang mana?" aku masih bermain dengan kejahilanku, hihi.
"Kau!" dia seperti sedang geram karena sadar aku mempermainkan dirinya dengan kelakuanku.
"Kenapa denganku?" jawabku dengan bertanya kembali sambil menaikkan sebelah alisku.
"Ayo cepat selesaikan latihan ini, aku sudah tidak tahan melihatmu,"
"Kenapa kau jadi marah begini, sih?" aku mulai panik karena ternyata dia benar-benar kesal dan bahkan ingin selesai mengajariku segera.
"Tidak apa, aku lelah. Ayo rapikan ini," katanya sambil berjalan memungut bola.
"Tapi jam ekskul belum selesai, kan" aku masih mencoba mengganggunya.
"Aku tidak akan mengajarimu lagi. Entah kau sengaja atau tidak, tapi kau membuatku kesal karena terus melakukan kesalahan yang sama."
__ADS_1
"Hei, hei, kan wajar kalau salah, namanya juga belajar. Kalau aku sudah bisa aku takkan minta bantuan darimu," jawabku tak kalah sewot.
"Salah memang wajar, tapi kalau kau terus mengulangi dengan sengaja itu keterlaluan namanya!" suaranya mulai meninggi saking kesalnya dia padaku.
"Ya sudah kalau begitu, terima kasih telah meluangkan waktu untukku. Dasar galak!" aku mengambil raketku dan meninggalkan Rifat menuju kelas dengan perasaan tak kalah kesal dari yang ditunjukkan Rifat melalui ekspresi wajahnya padaku.
Huh, aku kan hanya bermain, kenapa harus serius begitu sih. Lagipula aku memang tak pandai olahraga, bukan seperti kau yang memang atlet, tahu! Kenapa susah diajak bercanda, sih?
Sementara itu, Rifat melongo melihatku pergi begitu saja meninggalkan dia di tengah lapangan. Dalam hatinya dia pasti bertanya, kenapa jadi dia yang salah di sini. Padahal dia yang dibuat kesal, tapi malah aku yang marah dan pergi. Begitulah aku memprediksi kata hati Rifat saat melihatnya begitu aku berbalik.
Sesampainya di kelas, dia bahkan tidak mengajakku bicara, begitu pula aku yang pura-pura tidak melihatnya lewat ataupun berada di dekatku. Sekilas aku melirik ke arahnya, sepertinya dia masih bingung dengan apa yang terjadi tadi, tapi memilih tidak membahasnya agar tidak jadi panjang masalahnya.
Aku menahan tawa saat melihatnya gelagapan bertemu mata denganku. Mungkin dia ingin mengajakku bicara dan berbaikan, tetapi masih bingung bagaimana memulainya. Tak lama kemudian, Rizal datang dari arah lapangan futsal.
"Kalian sudah selesai ekskulnya?"
"Belum" timpal Rifat di saat yang bersamaan.
"Ada apa sih dengan kalian berdua ini?" tanya Rizal yang bingung dengan jawaban kami berdua.
"Tidak apa-apa, kok." jawabku ketus tanpa melihat ke arah Rizal atau Rifat sekalipun.
Tak percaya, Rizal beralih meminta jawaban kepada Rifat.
"Dia marah karena kutegur, dan langsung pergi dari lapangan. Padahal harusnya aku yang marah karena dia sengaja mengulanginya."
__ADS_1
Rizal hanya tertawa terbahak mendengar penjelasan Rifat tadi. Sampai puas dia tertawa, sambil mengeringkan keringatnya sehabis bermain futsal, dia kembali menimpali,
"Sudah kubilang, dia itu aneh. Sekarang kau sudah lihat, kan."
"Yah, aku juga ga salah, sih. Mungkin dia kaget karena suaraku memang agak tinggi," jawabnya sambil mengangkat bahu.
"Nah, akhirnya kau sadar. Tidak ada perempuan yang suka dibentak, tahu!" ucapku sambil memberi penekanan khusus pada kata bentak.
"Iya, aku minta maaf. Habis kau menyebalkan sekali tadi," jawab Rifat sambil memasang wajah merasa bersalah, tapi tetap melakukan pembelaan.
Aku tidak menjawab, hanya membalikkan badan menghadap mejaku.
"Hei, sudah jangan marah lagi. Aku minta maaf, okey?" Rifat mencoba meminta maaf sambil mendesak aku memaafkan dia.
"Baiklah, aku juga minta maaf mengerjaimu tadi."
"Okey, jadi mau lanjut latihan? Atau lain hari?"
"Waktunya sudah hampir habis, lagipula sudah terik sekali, terlalu silau buat mataku sakit."
"Baik, kabari aku kalau kau mau latihan lagi, ya," ucapnya sambil menyentuh bahuku.
"Hmm."
"Ciee, sudah baikan ya? Baru pacaran kok sudah berantem sih," akhirnya suara Rizal terdengar lagi sejak kami berbicara tadi.
__ADS_1
"Sudah diam, jangan buat aku memukulmu dengan raketku!" kataku mengancamnya agar tidak banyak bicara yang bukan-bukan lagi.
Tapi sebenarnya aku senang juga mendengarnya, entah bagaimana dengan Rifat sendiri, karena dia tak memberikan reaksi apapun.