Cinta Lama Berujung K(UA)

Cinta Lama Berujung K(UA)
Jadilah Pacarku


__ADS_3

"Kalau begitu jadilah pacarku!" ucap Rifat setelah lama diam.


Aku hanya bisa terbelalak menatap wajahnya, berusaha melihat dari balik tatapan matanya, dan mencari maksud ucapannya barusan.


Sambil menatapku, dia menjawab pertanyaan yang belum kulontarkan.


"Iya, jadi pacarku, biar kita tau apa reaksi Rizal saat tau tentang kita nanti," mendengar kata-kata itu membuatku tak kuasa untuk tidak menggelengkan kepala.


"Lalu maksudmu aku jadi bahan percobaan untuk tau bagaimana reaksi Rizal begitu? Jahat sekali kau, ya!" kataku sambil mengangkat tangan hendak memukulnya (tenang, tidak jadi kok, hanya menggertak).


Rifat pun refleks menghindar sambil tergelak. Aku menghela nafas, sambil berpikir apakah dia merasa aku berharap bahwa apa yang diucapkannya tadi benar-benar serius. Oh, tidak! Jangan mulai lagi Sheena!


"Bagaimana? Kau setuju tidak?" tanyanya lagi setelah aku berhasil menguasai tanganku yang hendak memukulnya tadi.


"Jangan bicara macam-macam, Fat. Kau seperti tidak tau mulut-mulut mereka yang akan berkicau seperti burung Pipit saja nanti," jawabku sambil memutar bola mata yang dari tadi sudah mau keluar karena mendengar dia bicara yang tidak-tidak.


"Oke, aku serius. Mau tidak jadi pacarku?" Okay, mukamu memang serius sekarang, tidak tau nanti bagaimana kalau aku sudah menjawab, akan seperti apa ekspresi wajahmu itu.


"Tidak, jika kau hanya ingin tau apa yang akan dilakukan Rizal."

__ADS_1


"Tidak juga, Rizal hanya alasan," dengan santainya dia bicara begitu, tidak tau bagaimana aku yang mendengarnya.


"Hahaha, pintar sekali kau mengerjai orang ternyata ya." jawabku dengan nada yang aku buat sengaja terdengar sangat kesal.


"Hei, kan aku sudah bilang serius tadi," jawabnya tidak terima.


"Seserius apa sih anak SMP bicara tentang cinta pada teman yang baru dia kenal?" balik aku bertanya padanya dengan alis terangkat sebelah.


"Ya, seserius aku sekarang ini," jawabnya sambil memperbaiki duduk dan menghadap sempurna di depanku.


"Lalu, kau mengharapkan jawaban dariku?"


"Tentu saja, Singa besar." jawabnya sambil mengacak rambutku gemas.


"Tak apa, kau bisa jadi Singa manis dengan rambut berantakan begitu," ucap Rifat sambil tersenyum.


"Ah, manisnya kalian berdua ini, sudah seperti orang dewasa saja," tiba-tiba Ina datang dari belakang dan memukul bahuku.


Aku kaget sekali, sekaligus harap-harap cemas. Karena aku tau bagaimana lancarnya mulut Ina menyebarkan berita kesana-kemari.

__ADS_1


"Apanya yang manis, sih?! Kau pikir disini ada gula," kataku sambil mengatur ekspresi wajahku agar tidak terlihat terlalu kaget, kalau tidak dia pasti akan makin penasaran.


"Hei, sudahlah. Aku kan sudah dengar tadi, dengan telingaku sendiri," dengan santainya Ina mengedipkan mata ke arahku, dia sedang mengolok-olok aktingku rupanya.


"Apa yang kau dengar?" akhirnya Rifat buka suara juga.


"Aku dengar bahwa kau mengatai Sheena adalah singa yang manis tentunya. Aku kan tidak tuli, kau ini." dia benar-benar memukul lengan Rifat, padahal aku sudah menahan diri untuk tidak melakukan hal itu tadi.


Aduh, kenapa harus ada Ina, sih?!


"Benar kan apa yang kubilang tadi?" tanya Rifat yang tidak aku sangka malah membenarkan pernyataan Ina barusan.


Lihat kan, Ina jadi makin bersemangat, matanya sampai melotot senang begitu.


"Iya, benar sekali. Kau tau tidak, kadang Sheena itu bisa manja sekali. Kalau tidak ada yang liat, dia suka bersandar padaku, atau sekedar menjahili aku lalu tertawa begitu aku menegurnya."


"Hei, hei, itu tidak masuk kategori kelakuan manja, tau!" ucapku tidak terima.


"Nah, liat saja. Manis kan dia kalau begitu, hahaha," tunjuk Ina padaku.

__ADS_1


Oh, Inaaaaaa! Aku ingin sekali mencekik lehermu sekarang.


Sementara itu, Rifat cuma senyum-senyum melihatku yang geram pada Ina.


__ADS_2