
Kami berjalan beriringan menuju kantin. Aku memesan semangkuk soto dan es jeruk, sementara Rifat memilih nasi goreng dengan minuman yang sama denganku. Sambil menunggu pesanan datang, aku mengambil dua buah bakwan dan sebuah tempe goreng sebagai pengganjal perut. Rifat sendiri hanya memperhatikan aku makan gorengan yang lumayan banyak sebelum makanan utamaku datang.
"Kecil-kecil makanmu banyak juga ya, ck ck ck," kata Rifat sambil tetap memandangiku.
"Aku perlu banyak tenaga, kau pikir berpikir tidak pakai tenaga apa?" jawabku setelah menelan gorengan di mulutku.
"Iya, aku tau. Hanya saja rasanya terlalu berlebihan untuk orang yang ukuran badannya seperti kamu."
"Memang kenapa dengan ukuran badanku? Iya aku tau, kau mau bilang aku pendek kan?!"
"Tidak pendek, hanya mini saja. Seperti miniatur, kan lucu. Makanya aku jadi merasa bahwa kamu juga lucu kalau dipandang lama-lama. Eh tidak, imut maksudku."
"Terserah kau saja," sahutku sambil melambaikan tangan.
Tak lama setelahnya, makanan kami pun dihidangkan. Kami menyantapnya dengan lahap, maklum saja hehe, habis olahraga.
Saat sedang asyik makan, aku melihat Ina menuju kantin bersama Karin. Aku jadi tersedak karena panik. Rifat dengan sigap mengambilkan minumanku dan menyodorkannya padaku. Segera kuseruput es jeruk itu untuk melegakan tenggorokanku yang terasa agak pedas karena banyaknya sambal yang aku tuang dalam mangkuk sotoku.
"Kenapa makanmu buru-buru begitu sih? Jam istirahat masih lama, makan pelan-pelan saja."
"Kau tak liat itu disana?"
"Apa? Aku cuma liat Ina dan Karin," jawab Rifat polos yang menunjukkan betapa dia tidak mengerti apa maksud perkataanku.
"Iya, mereka."
"Kenapa dengan mereka?"
"Sana jauh-jauh," kataku sambil mendorong tubuh Rifat.
__ADS_1
"Kenapa sih?"
"Aku tidak mau diledek mereka."
"Diledek kenapa? Kita kan hanya sedang makan."
Belum sempat aku menjelaskan, Ina sudah menyerbuku dengan pelukan yang disertai pertanyaan.
"Aihh kok tidak ajak-ajak ke kantin sih Sheena?"
Aku hanya senyum menjawab pertanyaannya, tapi tiba-tiba Rifat mengambil alih perhatian.
"Tadi kami kebetulan ketemu di perpustakaan. Jadi sekalian saja kuajak ke kantin bersama," jawabnya santai sambil tersenyum pada Ina dan Karin.
"Oh begitu, pantas saja Sheena pergi tanpa aku. Biasanya kan dia selalu mengajakku kalau ke kantin."
"Iya, maaf. Soalnya tadi kurasa kalo kembali ke kelas aku sudah tidak sanggup, aku kelaparan sekali, jadi tidak bisa kembali ke kelas memanggilmu tadi Ina."
"Oke," ucapku sambil menghela napas lega, hehe.
Setelah Ina dan Karin pergi memesan makanan, Rifat yang sedari tadi heran melihatku panik segera bertanya.
"Kenapa panik sekali sih?"
"Karena pasti mereka akan heboh, apalagi Ina. Kau tahu kan dia paling suka kalau ada kejadian begini, huft."
"Kamu hanya terlalu cemas. Lagian kan kita cuman makan, kenapa mesti heboh?"
"Aduh, Rifat!"
__ADS_1
"Apa? Aku tidak tahu, makanya jelaskan."
"Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya."
"Ya, kalau begitu jangan salahkan aku kalau tidak bisa mengerti, kau saja tidak bisa menjelaskan padaku."
"Ya sudah, cepat makan dan kita kembali, atau salah satu dari kita kembali lebih dulu."
"Kok begitu?" tiba-tiba Ina sudah muncul lagi membawa sebotol teh kemasan dingin di tangannya.
"Apanya yang begitu?" tanyaku balik pura-pura tidak paham.
"Kenapa salah satu dari kalian harus kembali ke kelas lebih dulu?"
"Karena dia tidak mau kalian heboh liat kami makan berdua disini," jawab Rifat yang tidak melihat bagaimana aku gemas pada dia yang terlalu polos menjawab Ina ini.
"Kenapa?"
"Sudah, Ina. Duduk dan makanlah. Aku sudah selesai jadi aku kembali duluan, ya. Mau ganti baju," sergahku mencegah Ina bertanya lebih banyak lagi.
"Hei, tunggu," cegah Rifat sambil berlari ke kasir untuk membayar makanan kami.
"Rifat! Kalian berdua kenapa sih?" Karin juga ikut penasaran jadinya.
"Iya, kau kan belum selesai makan. Kalau Sheena memang jarang habis kalau makan."
"Aku mau menyusulnya," sambil memandangku yang masih berdiri di pintu kantin menunggu dia keluar.
"Iya, tapi kan nanti di kelas juga ketemu. Kenapa mau barengan terus sih?" Ina makin kepo karena kelakuan Rifat.
__ADS_1
"Karena dia pacarku, wajar kan?", pertanyaan yang dijawab dengan pertanyaan, dan kembali memunculkan pertanyaan, aduuuuuh!
Aku cuma bisa menatap Rifat geram karena dia malah mengatakan apa yang ingin aku sembunyikan. Tamat sudah, pasti jadi bahan gosip Ina nanti, hiks hiks.