
Aku sungguh lelah. Gara-gara Rifat, Ina jadi kepo sekali tentang kami. Yah, walaupun aku tau dia sudah kepo dari awal kedekatan Rifat denganku, namun masih belum berani mengganggu diriku karena belum punya bukti. Tentu saja, dia tau akan semarah apa aku padanya kalau sampai mengganggu aku karena Rifat hanya dengan mendengar gosip.
Oh, ya Tuhan, aku bingung harus senang atau kesal sekarang karena mereka berdua, hiks hiks.
Rizal dan Ina sama saja. Huh!
Sudahlah, aku tidak mau kekesalan hatiku berlanjut sampai ke rumah juga. Mari lupakan semua dan fokus terhadap hal lain!
ck ... ck ... ck ...
Hampir sepuluh menit aku membaca buku di depanku, tapi cuma kelihatannya saja. Aku bahkan seperti tidak bisa membaca kata apa yang tertulis di atas kertas putih ini, huft!
Ya sudah, tidur saja!
***
Hari ini pelajaran olahraga, dan sudah saatnya pengambilan nilai bulutangkis seperti yang dijanjikan minggu lalu. Aku merasa bersemangat, tapi juga merasa sedikit gugup. Sesekali aku menoleh pada Rifat, dan rasanya aku mendapat tambahan semangat.
Semoga nilaiku tidak mengecewakan nanti.
Aku menunggu giliran dengan perasaan yang campur aduk, seperti sedang ikut kontes saja pikirku, haha. Karena Rifat adalah murid baru, meski urutan alphabet namanya lebih dulu, tapi aku duluan dipanggil.
Aaaah, aku deg-degan!
Aku maju berpasangan dengan Aris. Tak usah tanya dia siapa, karena aku sendiri juga tak begitu kenal sebenarnya. Aku hanya tau dia paling sering di ganggu di kelas, bahkan sampai dimintai untuk membantu mereka yang suka curang dan nakal alias jongos. Tapi anehnya anak itu malah senang diperlakukan seperti itu, aneh kan? Entah juga kalau hanya kelihatannya seperti itu, karena dia terlalu sering tersenyum, meski kadang sesekali menangis jika sudah merasa kelewatan diganggu oleh teman-teman yang lain.
Saat sudah di tengah lapangan, sebelum mulai aku secara spontan melihat ke arah Rifat. Entah kenapa sepertinya dia menjadi sumber semangatku, karena diapun terlihat memberi semangat padaku melalui anggukan kepalanya.
Ternyata apa yang aku takutkan tidak terjadi. Aku bisa bermain dengan cukup baik, tidak seburuk seperti apa yang kupikirkan. Bahkan Dira mengacungi aku jempolnya sebagai tanda bagusnya permainanku. Lega rasanya. Ketika kembali ke tempatku, tak sengaja mataku bertemu mata Rifat. Dia terlihat tersenyum padaku seperti mengatakan bahwa aku telah berusaha dan hasilnya seperti yang dia harapkan, hihi.
Setelah itu giliran pengambilan nilai terus berlanjut, hingga saatnya Rifat untuk maju pun tiba. Dia mendapat lawan Karin, yang mungkin menjadi kesempatan bagus untuknya. Karena setauku, Karin tak terlalu pandai olahraga, belum lagi tubuhnya yang agak gempal akan membuatnya kesulitan bergerak dengan leluasa mengejar bola. Namun ternyata, dugaanku salah. Dia cukup lincah juga, bahkan sesekali bisa menangani servis dari Rifat. Wah, tidak disangka!
__ADS_1
Karena Rifat dan Karin adalah urutan terakhir, maka setelah mereka selesai bermain, selesai pula pengambilan nilai olahraga kami. Jam istirahat tinggal beberapa menit lagi, tapi guru olahraga kami memutuskan agar kami beristirahat lebih cepat dari seharusnya. Tentu saja kami semua senang, sehingga setelah pamit, satu per satu berlarian. Ada yang langsung ke kantin, ada yang menuju kelas juga. Aku sendiri memilih menuju perpustakaan untuk meminjam buku yang sudah kuincar dari kemarin.
Tanpa kusadari, ternyata ada yang mengikuti aku dari belakang. Aku baru tahu sejak mencari buku. Begitu aku menarik buku yang kucari, tiba-tiba ada mata di antara barisan buku. Aku yang kaget sampai lompat ke belakang dan menabrak rak buku di belakangku.
Untung saja rak bukunya kuat, kalau tidak habislah aku sampai raknya roboh! Lagian siapa sih yang kurang kerjaan begini?!
Aku berlari mengitari rak buku di depanku dan mendapati Rifat sedang berdiri menahan tawa di depan tempatku berdiri tadi.
"Sedang apa kau?" tanyaku sambil memukul lengannya dengan buku yang kupegang.
"Mengerjaimu, lah! Memang apalagi, hahaha," tawa renyahnya malah membuatku semakin kesal dan mencubitnya hingga dia kesakitan.
"Iya, iya, ampun, sakit," akhirnya dia dibatas rasa sakitnya, haha.
"Aku hanya mau beri selamat karena tadi lancar. Kau sudah berusaha keras," katanya sambil menjabat tanganku.
"Iya, terimakasih. Ini juga karena bantuan darimu, jadi sekali lagi terimakasih ya, jawabku sambil menyambut jabatan tangannya.
"Baiklah, sebagai tanda terimakasih, ayo aku traktir di kantin," tawarku sambil menarik tangannya.
Tapi dia cukup kuat hingga tidak bergerak sedikitpun dari tempatnya berdiri.
"Aku tidak mau," tolaknya.
"Kenapa?"
"Aku mau yang lain, boleh kan?"
"Hmm, oke. Tapi aku tidak janji bisa memenuhinya, ya."
"Benarkah?"
__ADS_1
"Katakan saja, biar kita tau apa aku bisa atau tidak."
"Aku mau kau jadi pacarku," katanya tanpa ragu sedikitpun.
"Aih, kau bisa bercanda dengan kalimat yang lain, jangan selalu pakai senjata itu," pukulku sekali lagi pada lengannya, tapi tanpa buku.
"Aku serius, bukan sedang mengerjaimu."
"Aku tidak mau!"
"Kenapa tidak?" tanyanya dengan perubahan ekspresi yang cukup terlihat.
"Karena aku tau kalau jawab mau kan akan tertawa dan mengejekku. Begitu kan?"
"Astaga, apakah aku kelihatan sedang bercanda sekarang?"
"Tidak sih, tapi bisa jadi kan, selain seorang atlet kau juga jago akting," jawabku dengan agak ketus.
"Aku bilang sekali lagi aku serius, aku janji tidak akan tertawa. Maukah?"
Sepertinya dia betul-betul serius, ya?
"Kita coba saja," jawabku mengangkat bahu.
"Oke, kalau gitu ayo ke kantin, aku yang traktir," katanya sambil tersenyum dan menarik bukuku yang otomatis menarik tubuhku juga.
"Tunggu, aku taruh bukunya dulu," ucapku sambil berjalan mengembalikan buku.
"Bukannya mau dipinjam?"
"Tidak jadi, aku masih ada bacaan yang belum selesai di rumah. Nah, ayo ke kantin sekarang."
__ADS_1
"Ayo."