
Sudah hampir sebulan aku dekat dengan Rifat belakangan ini. Tentu saja bukan hanya Rizal yang penasaran tentang sejauh apa hubungan kami berdua, tapi juga Ina. Maaf, aku lupa memperkenalkan sahabatku yang satu ini, hehe.
Inayah Putri, kupanggil dia Ina biar lebih gampang. Gadis berkulit agak gelap dengan senyum yang sebenarnya menawan, hanya saja tertutup oleh sifatnya yang jail dan kadang menjengkelkan, haha. Tak banyak yang suka padanya, mungkin karena sifatnya yang selalu ingin tahu mengganggu bagi orang-orang. Akupun sebenarnya begitu, tapi perasaan kesal itu kalah dengan rasa haru dan terimakasih karena perhatiannya padaku sebagai seorang sahabat.
Aku kadang tidak mengerti, kenapa teman-teman sekelasku yang lain tidak bisa melihat kebaikannya. Mungkin karena mereka sudah terlanjur kesal, ya? Dan bodohnya lagi, sudah tau tidak banyak yang suka padanya, dia malah makin suka mengganggu mereka yang suka nyinyir. Astaga! Tapi meski begitu, sebenarnya dia hanya ingin berteman, walau kadang agak hyper anaknya.
Aku ingat, dulu waktu aku masih awal dekat dengan Rizal dan mendapat masalah, dia menjadi tamengku. Dia melindungiku, walaupun sebenarnya tidak perlu sampai seperti itu, haha. Aku pernah disangka pelakor sama pacarnya Rizal yang tak lain adalah kakak kelasku sendiri. Kami sangat akrab padahal, tapi karena banyak yang mengompori, terjadilah salah paham.
For Your Information, aku dan Rizal dulu bahkan duduk sebangku dan sangat dekat. Banyak yang mengira kami pacaran dulu, karena dia terlihat begitu perhatian. Padahal itu semua karena kami sedang melakukan sebuah misi, haha. Misinya membuat Irga cemburu pada temannya sendiri. Dia kesal, karena Irga ternyata hanya PHP padaku, dan dia ingin membalasnya untukku. Berhasil memang, tapi tak berlangsung lama, dan malah berakhir masalah baru.
Pernah aku pingsan karena haid yang baru pertama kali kudapatkan, dan yang sangat terlihat panik adalah Rizal. Meski mulutnya comel begitu, tapi dia merasa bertanggungjawab sebagai kakakku. Dia bahkan menungguiku di ruang UKS, padahal bukan jadwal tugasnya. Hingga membuat pacarnya itu makin geram padaku, belum lagi bumbu-bumbu gosip yang sampai ke telinganya membuatnya makin panas. Huft!
Tapi bukannya menenangkan pacarnya yang cemburuan itu, dia malah tidak memperdulikan gadis itu. Yah, karena dia memang tidak mau ambil pusing dengan kelakuan pacarnya yang memang selalu seperti itu. Dia menyerah katanya, terlalu sering mereka ribut karena pacarnya selalu cemburu. Berulang kali dia curhat padaku semenjak mereka pacaran.
__ADS_1
Waktu aku dilabrak, dia hanya tertawa melihat kelakuan pacarnya itu. Bahkan setelah puas memakiku, dia balik memaki pacarnya dan memutuskan hubungan mereka berdua di depanku, jadilah aku makin dibenci, huh! Pacarnya dan gengnya itu adalah senior kami di organisasi sekolah, dari situlah mereka dekat. Semenjak kejadian itu, Rizal bahkan tidak pernah lagi ikut jadi panitia kegiatan, begitu pun dengan aku. Dia yang melarang, katanya agar tak terjadi sesuatu padaku, mengingat mereka selalu bergerombolan sementara aku yang tubuhnya kecil ini senang keluyuran sendirian.
Tapi semenjak dekat dengan Ina, yang bisa dibilang jago berantem, Rizal mulai mengendurkan sikap protektifnya itu. Meskipun dia tidak terlalu suka pada Ina, tapi dia meminta Ina menjagaku.
Memangnya aku anak kecil apa?!
Karena itulah banyak yang menyangka aku dan Rizal memang pacaran, bahkan Ina sekalipun. Sementara Irga, merasa dikhianati teman sendiri, karena dia memang bersahabat dengan Rizal. Sejak itu, Irga dan Rizal susah sekali terlihat bersama. Bahkan ketika bermain futsal pun, tim mereka berlawanan, padahal biasanya selalu berada di tim yang sama. Siapa yang tidak kesal, melihat sahabat sendiri begitu perhatian pada mantan kekasihnya, haha. Rizal bahkan dengan sengaja memberi perhatian secara terang-terangan padaku di depan Irga. Tapi sekarang aku tidak peduli, aku sudah punya target baru, haha.
"Masa sampai seperti itu sih, si Rizal itu?" tanya Rifat tak percaya saat aku ceritakan semua kejadian itu.
"Iya, memang begitu, tanya saja padanya."
"Tapi kenapa dia harus merasa bertanggungjawab padamu begitu?"
__ADS_1
"Karena aku dekat dengannya, dan aku sering cerita tentangnya pada Ibu. Ibu juga sudah pernah bertemu dan ngobrol dengan dia, katanya ibu menitipkan aku padanya. Kau tau, aku tak punya kakak laki-laki, dan aku sangat menginginkannya, tapi tak mungkinkan ibuku melahirkan kakak untukku, jadi ya dia minta begitu pada Rizal. Dan selama ini Rizal memang sungguhan berperan jadi kakakku, baik di dalam maupun di luar sekolah," jelasku panjang pada Rifat.
"Pantas saja sepertinya dia sangat tau kau bagaimana orangnya."
"Haha, iya. Semenjak Irga, dia selalu selektif ketika aku dekat dengan teman laki-laki. Liat saja bagaimana dia memperlakukan dirimu."
"Masa?"
"Tapi sepertinya dia tau kau, dan mungkin tidak masalah untuknya jika aku memang benar suka padamu."
Oops, apa yang baru kukatakan? Mati aku!
Sementara Rifat hanya diam, entah apa yng dipikirkannya tentang kata-kataku barusan.
__ADS_1