Cinta Lama Berujung K(UA)

Cinta Lama Berujung K(UA)
Mengenal Lebih Dekat (Sheena)


__ADS_3

Seperti yang kuceritakan sebelumnya, aku adalah sulung dari empat saudara, dan semua adikku adalah perempuan. Tau kan bagaimana kalau perempuan berkumpul? Yap, ribut gak ketulungan jawabannya. Tapi dari kecil sebenarnya aku lebih banyak bergaul dengan laki-laki. Bagaimana tidak, meski saudara kandungku perempuan semua, tetapi sepupuku kebanyakan adalah laki-laki, dan kami lumayan akrab, bahkan hingga saat ini.


Aku sendiri dari berasal dari latar belakang dua suku yang berbeda. Kedua orang tuaku bertemu ketika ayahku memutuskan untuk merantau ke kota lain. Tanpa sengaja dan tam disangka dia jatuh cinta pada ibuku yang sebenarnya adalah gebetan temannya sendiri. Tapi dia tidak menikung temannya, kok. Lagipula, toh memang jodohnya, ya kan?


Sejak kecil, aku terbiasa berpindah-pindah sekolah. Biasanya aku menetap di satu sekolah selama dua tahun. Selalu begitu sejak SD dulu. Ini karena kedua orangtuaku berpindah-pindah tempat tinggal di dua kota yang sama. Mungkin supaya adil pada orangtuanya masing-masing.

__ADS_1


Kali ini aku tinggal di kampung halaman ibuku setelah lulus dari SD. Yah, aku memang masih anak SMP. Memang kalian pikir aku umur berapa?? Hihi. Rencana awal, setelah lulus SD aku akan masuk pondok pesantren. Tapi usul itu ditolak mentah-mentah oleh ayahku. Bukan karena tak ingin aku menekuni ilmu agama dengan baik, tapi karena aku baru saja bertemu dengan mereka lagi setelah hampir tiga tahun lamanya terpisah.


Aku pindah-pindah sekolah, tak selalu karena ikut orangtuaku pindah kota. Tapi karena nenek dari ayahku ingin aku dan adikku temani. Mungkin sebagai perwakilan kehadiran ayah di sisinya. Karena ayah adalah satu-satunya anaknya yang berada sangat jauh darinya.


BTW, ayah adalah anak ketiga dari tujuh saudara yang sebagian besar adalah laki-laki. Saudara perempuannya hanya ada dua, yaitu kakak sulung dan adik bungsunya, sementara empat lainnya pria. Bisa dibilang, ayah adalah anak paling bebal, tapi paling dirindukan kehadirannya di tengah keluarganya. Dia sangat sayang pada adik bungsunya, meskipun tidak seberapa besar dengan sayangnya pada kami sekeluarga.

__ADS_1


Dari ceritaku di atas, sudah jelas bila aku berasal dari keluarga besar. Itu karena kakek tak mengijinkan ibu untuk pasang KB. Beliau percaya slogan, "banyak anak, banyak rezeki". Hingga jadilah anak-anak gadisnya, yang seharusnya menjadi tante untuk cucu-cucunya ini, sekaligus teman sepermainan kami karena seumuran.


Aku bahkan satu sekolah dan satu kelas dengan tanteku. Ada yang bilang kami mirip, bahkan banyak yang mengira kami saudara kembar. Padahal kami sendiri merasa berbeda luar dan dalam. Maksudku dari segi penampilan bahkan sifat.


Jika dalam pergaulan pertemanan aku terlihat sosok yang galak, dalam keluarga aku justru terbilang seorang anak yang penurut. Tapi pendiam tetap saja, kecuali topik pembicaraan mereka membuatku tertarik. Sayangnya, aku jarang sekali antusias untuk ikut berpendapat jika kumpul keluarga. Bukan karena tak peduli, tapi seringkali hambatanku adalah karena aku kurang mengerti. Maklum saja, lingkunganku selalu berubah. Di saat aku mengerti situasi saat ini, aku harus beradaptasi lagi dengan lingkungan baru.

__ADS_1


Ketika aku mulai memahami bahasa yang mereka gunakan, aku harus mulai belajar lagi untuk bahasa yang akan kudengar nanti. Meski lama-lama aku terbiasa juga, tetap saja bagiku bahasa yang selalu berbeda ini membuatku bingung. Tapi karena itulah aku jadi tertarik untuk mempelajari bahasa dan dialek orang lain, bahkan bahasa asing (luar negeri) sekalipun.


__ADS_2