Cinta Lama Berujung K(UA)

Cinta Lama Berujung K(UA)
Rona Merah Muda


__ADS_3

"Tusuk ke sini, lalu tarik sampai ujung, setelah itu tusuk ke arah berlawanan biar membentuk tanda silang," jelasku sambil menunjuk titik-titik yang kutandai di kain.


"Begini?" tanya Rifat memperjelas.


"Ya begitu. Gampang kan?" tanyaku meyakinkan kalo dia sudah mengerti.


"Kalau kau ada aku mengerti."


"Baguslah kalau begitu," jawabku sambil tersenyum puas karena merasa dia sudah mengerti yang aku ajarkan padanya.


Eh, tunggu dulu. Sepertinya aku melewatkan sesuatu.


"Kau bilang apa tadi?" tanyaku pada Rifat.


"Aku bilang, aku mengerti kalau ada kau," jawab Rifat tanpa menoleh padaku.


"Apa maksudnya itu?" tanyaku sambil menaikkan sebelah alisku tanda kurang mengerti sekaligus penasaran.


"Ya, karena kau ada aku jadi mengerti. Kalau kau tidak ada aku jadi bingung."


"Kenapa begitu?"


"Karena kalau kau tidak ada, tidak ada yang menjelaskan padaku harus bagaimana dengan kain dan jarum serta benang ini."


"Oh, begitukah."


"Memang apalagi?" tanya Rifat, kali ini sambil menoleh ke arahku.


"Tidak apa, aku hanya memastikannya saja."

__ADS_1


Memang apa yang kau harapkan sih dari penjelasannya itu, dasar bodoh!


Entah kata apa yang kuharapkan keluar dari mulut Rifat sebagai penjelasan dari kalimatnya tadi. Kupikir aku sudah gila, haha.


"Baiklah, kalau kau sudah mengerti, sekarang aku mau pulang."


"Mau kuantar?"


"Dengan apa?" tanyaku, karena setahuku dia tidak berkendara sendiri ke sekolah.


"Naik taksi saja."


"Tidak usah, aku bisa sendiri, kok."


"Oke, kalau begitu."


"Iya, terima kasih sudah membantuku," timpal Rifat sambil membantuku mengambil buku yang kami jadikan panduan tadi.


"Anggap saja sebagai balasan karena kau menemaniku berlatih bulutangkis tempo hari," jawabku sambil tersenyum padanya.


Entah kenapa, aku melihat wajah Rifat merona saat aku senyum padanya. Menyadari aku memperhatikan, dia segera menunduk dan mulai berbicara lagi.


"Kalau begitu kutemani menunggu sampai kau dapat taksi," sambungnya mengalihkan perhatianku.


"Kau sendiri mau pulang jam berapa?"


"Sebentar lagi, mungkin aku langsung latihan."


"Langsung dari sini? Kau bahkan belum ganti baju. Belum makan siang lagi."

__ADS_1


"Aih, cerewetnya kau ini. Aku pulang dulu tentu saja."


"Tadi kau sendiri yang bilang langsung latihan, bagaimana sih."


"Masa sih?"


"Aih, kau ternyata pelupa ya. Untung kau tidak lupa siapa dirimu. Padahal belum satu menit kau bilang tadi, kau sudah lupa begitu saja."


Ckckck, dasar. Apa kau betul-betul lupa atau mau mengerjaiku, hah?


"Jangan-jangan, sampai rumah nanti kau sudah akan lupa apa yang aku ajarkan tadi? Sia-sia dong kalau begini," kataku sambil menunjukkan wajah protes pada Rifat.


"Haha, tenang saja, aku pasti ingat. Lagipula kalau lupa, aku tinggal minta kau ajarkan lagi, kan?"


"Dasar kau. Ya sudah, aku pulang duluan ya."


"Iya, hati-hati. Terima kasih sekali lagi."


"Iya, sama-sama. Aku juga terima kasih tentang kemarin," sekali lagi aku tersenyum padanya, sengaja ingin melihat reaksinya.


Benar saja, dia langsung menunduk. Setelah itu dia mengusap wajahnya, lalu melambai padaku.


Kenapa kau jadi malu-malu begitu, sih? Aneh.


Tapi nyatanya, aku tersenyum juga melihat reaksinya tadi.


Wuah, kenapa aku ini, seperti orang gila saja ingat senyum-senyum ingat tingkahnya yang malu-malu begitu.


Aku merasa wajahku jadi panas, meskipun sebenarnya taksi yang kutumpangi sejuk karena AC-nya sudah dinyalakan.

__ADS_1


__ADS_2