Cinta Lama Berujung K(UA)

Cinta Lama Berujung K(UA)
Ajari Aku


__ADS_3

Setelah olahraga yang menyenangkan hari Selasa kemarin, sekarang waktunya belajar tata busana. Ini salah satu pelajaran yang kusukai juga di sekolah ini. Tidak semua sekolah ada mulok seperti ini kan?


Bu Rika masuk ke kelas dengan membawa materi baru untuk kelas kami. Kulihat dia memegang sebuah taplak meja polos yang mungkin akan menjadi objek pembelajaran. Setelah duduk dan menyapa kami, beliau mengabsen semua murid di kelasku. Lalu mulai membentuk sebuah kelompok belajar dari 5 orang murid.


Setelah semua dapat kelompok, kami diminta untuk duduk bersama para anggota. Di kelompokku ada Ina, Alisa, Aris, dan Karin. Jujur saja, aku tidak akrab dengan mereka, tapi aku harus mencoba agar komunikasi kelompok kami berjalan dengan baik.


Sementara itu, di sebelah sana ada kelompok Rifat. Dia bersama Rizal, Mita, Sasa, dan Jeka. Saat melihatnya, dia juga melihatku. Mata kami sempat bertatapan, hingga saling berbalik karena Rizal menyaksikan kami berdua. Aku yakin ada seringai nakal di bibirnya begitu melihat kami tadi. Tunggu saja dia meledek tiada habis untuk menggangguku.


"Sampai sini semua sudah mengerti?" tanya Bu Rika sambil menatap seluruh kelas.


"Sudah, Bu" hanya sebagian yang menjawab.


"Baiklah kalau begitu, minggu depan kita mulai praktek ya. Silahkan bawa alat dan bahan, dan juga pola yang akan kalian buat nantinya."


"Baik, bu."


"Ini memang tugas kelompok, tapi nilainya per individu, jadi tidak ada celah untuk kalian bermalas-malasan kecuali jika memang ingin mendapat nilai rendah," jelas Bu Rika yang menurutku seperti sedikit mengancam.


***


Setelah makan malam, aku mengambil buku pelajaran tata busanaku. Kembali mengamati pola-pola jahitan dan arah tusukan yang seharusnya. Tidak lama kemudian, handphoneku berdering tanda pesan masuk yang ternyata dari Rifat.


"Kau sibuk, tidak?" tanyanya membuka obrolan pesan singkat kami.


"Tidak, hanya sedang mengamati pola jahitan untuk praktek minggu depan."


"Nah, kebetulan. Aku masih agak bingung, bisa bantu aku?"


"Kau bingung bagian mana?"

__ADS_1


"Hampir semuanya, hehe"


"Terus, kenapa tadi tidak bilang sama Bu Rika?"


"Habis tidak ada yang angkat tangan, jadi aku juga tidak."


"Astaga," aku hanya bisa menggelengkan kepalaku membaca balasannya.


"Sudah, jangan ngomel. Kau mau tidak?"


"Mau apa?" aku pura-pura lupa permintaannya tadi, hihi.


"Ah, ya sudahlah, lupakan saja."


"Aih, begitu saja ngambek kau."


"Habis kau seperti tidak mau begitu, pura-pura lupa segala."


"Ya, sudah. Jadi kapan aku akan diajari?"


"Kapan kau bisa saja. Kalau aku yang menentukan, takut bentrok sama jadwal latihanmu. Kau kan sibuk."


"Kalo begitu ajarkan di sekolah saja."


"Kau yakin?"


"Yakin. Kenapa memangnya?"


"Tidak takut diledek Rizal nanti. Kau kan tahu sendiri dia bagaimana, tidak bisa lihat kita bersama, mulutnya akan berkicau yang bukan-bukan."

__ADS_1


"Iya juga sih, tapi ya biar saja."


"Ya terserah kau sih, cuma kalau bisa jangan sampai terlihat Rizal. Aku tidak suka mendengar dia bising mengejek kita berpacaran," ocehku mengomel sambil menambahkan emoticon kesal tiga kali.


"Memangnya kau tidak mau?"


"Tidak mau apa?"


"Tidak apa."


"Apa sih? Jangan ambigu begitu, aku tidak suka."


"Ya sudah, kalau begitu lupakan saja."


"Tidak, akan kutanyakan terus sampai kau mau menjawabnya."


"Tidak apa, bukan hal penting."


"Benarkah? Ayo jujur, atau aku tidak akan mengajarimu."


"Biar saja, aku bisa minta tolong pada yang lain."


"Oh, ya? Awas kau, ya. Jangan bicara padaku lagi."


"Eh, jangan begitu, kau ini."


"Kalau begitu beritahu."


"Nanti kuberitahu, kalau aku sudah ingat, karena aku sudah lupa makanya tidak jadi memberitahumu tadi."

__ADS_1


"Ya, ya, terserah."


Aku mengakhirinya, dan dia tidak membalas lagi. Aku yakin dia sedang tersenyum licik sekarang, sementara aku penasaran disini, huh!


__ADS_2