Cinta Lama Berujung K(UA)

Cinta Lama Berujung K(UA)
Mencoba Lebih Akrab


__ADS_3

"Psst! kau sudah tau jadwal pelajaran hari ini?" tanya Rizal sambil berbisik kepada Rifat.


"Belum, aku hanya membawa buku tulis kosong hari ini", jawab Rifat apa adanya.


"Setelah ini kita akan solat Dhuhur berjamaah di musholla belakang".


"Oh oke! Habis itu belajar apalagi?"


"Tata busana", jawab Rizal sambil memutar matanya ke atas dan melenguh.


"Aku tau kau sangat tidak suka menjahit, tapi itu akan jadi nilai plus buatmu, kan?" sahutku dengan nada agak sinis.

__ADS_1


"Hei, Sheena! Apa kau tau kalau kau sedikit cerewet hari ini? Tidak biasanya kau secerewet ini bahkan jika hanya berdua dengan kakakmu ini," tanya Rizal dengan nada setengah heran dan setengahnya lagi kesal karena aku terus membantah omongannya.


"Dan aku baru kali ini melihatmu dengan bangga memperkenalkan diri sebagai kakakku walaupun sebenarnya kita tidak ada hubungan darah," seraya menaikkan satu alisku sebagai tanda bahwa aku sanksi atas kelakuannya hari ini.


"Dan ini kali pertama untukku melihat kalian berdebat sepanjang aku masuk di kelas ini teman-teman," pandangannya beredar antara aku dan Rizal.


"Itu karena dia aneh hari ini, Fat."


"Kau liat itu? Berbicara denganmu dia jadi sangat manis, sementara beralih padaku langsung berubah mode singa," ucap Rizal sambil menirukan gaya singa yang mau menerkam dengan kedua tangannya.


"Hei, berikan nomormu padaku. Biar kita lebih enak ngobrolnya tanpa harus diganggu dia," akhirnya aku yang memulai.

__ADS_1


"Baik, kucatat dimana?" Jawabnya tanpa ragu.


"Disini saja, biar tak hilang," aku memberikan buku catatan matematikaku dengan membuka halaman paling belakang untuk dia catat nomornya.


"Wah, gesit juga rupanya si singa ini liat mangsa. Hati-hati Rifat, kau takkan bisa lepas dari jeratnya," ledek Rizal.


Aku menjulurkan lidahku mengejek Rizal dan langsung mengambil bukuku begitu Rifat selesai. Sudah waktunya Pak Murat mengakhiri pelajaran karena menjelang solat berjamaah.


Setelah solat hingga pelajaran terakhir usai aku tidak lagi banyak bertanya pada Rifat. Selain karena tidak ingin diledek Rizal, aku juga sedang berpikir. Kira-kira, kenapa aku jadi tertarik sekali padanya? Padahal dia bisa saja, sama seperti teman-teman yang lain. Tapi kok aku jadi merasa nyaman ngobrol sama dia, padahal kami baru bertemu? Semua pertanyaan itu berputar-putar di kepalaku hingga aku sendiri jadi pusing.


Begitu keluar dari kelas, ayah sudah ada di depan gerbang menungguku. Aku memang selalu diantar jemput ketika sekolah, sebenarnya kemanapun, hehe. Aku bergegas menghampiri ayahku, sebelum dia menunggu terlalu lama. Asal kalian tau, tidak selalu ayah yang melakukan tugas antar-jemput untukku. Kadang-kadang ibuku juga melakukannya, ketika ayah sedang tidak di rumah alias bekerja. Rumahku tidak jauh dari sekolah, dan aku bahkan sudah hapal rutenya. Tapi karena belum lama tinggal di sini, ibu merasa akan lebih aman jika aku di antar-jemput setiap hari.

__ADS_1


Tak terasa sampai juga aku di rumah, hari ini sangat panas. Rasanya aku seperti terbakar sinar matahari yang sangat menyengat kulit. Tapi meski hampir setiap hari aku panas-panasan di jalan ketika pulang sekolah, kulitku tidak berubah menjadi gelap. Ini karena kulitku lumayan cerah, keturunan ayah dan ibu. Beruntunglah aku menjadi anak pertama karena bisa mewarisi lebih banyak gen orangtuaku daripada adik-adikku yang rata-rata berkulit agak gelap, hihi.


__ADS_2