Cinta lima sepuluh langkah

Cinta lima sepuluh langkah
10 - Suntik Vaksin


__ADS_3

Aila berdebar gugup saat menunggu antrian vaksin. Di depan sana Wildan sudah selesai divaksin dan giliran Angel berikutnya, lalu setelah ini baru dirinya. Gadis itu bergegas maju saat nomornya disebutkan oleh petugas kesehatan. Kedua matanya melihat sekitar tak tentu arah. Apa pun kecuali, suntikan yang akan menancap kulitnya sebentar lagi.


Aila menghembuskan napas kasar ketika merasakan sensasi dingin di lengan bagian atasnya dan spontan memekik nyaring saat merasakan benda runcing itu menusuk kulitnya. Kedua matanya yang menangkap netra sang sahabat berkaca-kaca siap menumpahkan air matanya.


"Eh mbaknya ngejerit. Tiap malem ditusuk aja gak pernah ngejerit," canda salah satu bapak-bapak yang mendengar pekikan Aila tadi. Aila mengerti betul candaan jorok yang dimaksudkan bapak-bapak tersebut, namun karena ia lemas sekali dan malas membuat keributan, Aila memilih untuk lanjut mengantri demi mendapatkan sertifikat vaksin.


Angel yang menunggu Aila pun menanyakan kondisi gadis itu, "gimana? Gapapa, 'kan?" Ia tersenyum maklum saat melihat Aila hanya mengangguk pelan seraya mengusap ujung matanya, ia tahu betapa kuat usaha sahabatnya tersebut menahan rasa takut ketika bertemu dengan suntikan.


"Trus ini gimana lagi?"


"Tadi sih bapak-bapak sama mas Wildan pada ngantri gitu, gak tau sekarang pada kemana."


Aila memanjangkan lehernya untuk mencari tetangganya yang lain, yang juga sama-sama ikut vaksin bersama mereka. Begitu melihat sosok familiar yang pakaiannya begitu mencolok karena terlalu tertutup, Aila berlari kecil menghampiri sosok tersebut diikuti dengan Angel di belakang.


"Mas! Ini gimana lagi supaya dapet sertifikatnya? Tadi kayanya disuruh antri tapi kok antriannya sekarang gak ada?" tanya Aila yang masih menekan kapas kecil di lengan kirinya.


Alih-alih menjawab, Wildan justru bertanya pada gadis itu, "itu kenapa masih dipegangin aja? Emang darahnya masih keluar?" Angel sampe memutar untuk melihat kondisi lengan sahabatnya.


"Iya," ringis Aila.


"Lo terlalu tegang makanya keluar banyak. Gua aja garing tuh. Nih pegangin kertas gua sebentar." Angel menyerahkan kertas identitas dan hasil pemeriksaan kesehatannya pada Aila, lalu berlari kecil ke arah tenda yang berisi petugas kesehatan yang sudah menyuntikan vaksin pada mereka.


"Sini kertasnya, biar Mas kumpulin. Nanti kamu cari tempat yang teduh aja sampe nama kamu dipanggilin pake mic." Wildan memerintahkan Aila seraya merampas kertas milik gadis itu dan juga milik temannya tadi.


"Makasih ya, Mas," ujar Aila seraya menghampiri Angel yang sedang berjalan ke arah mereka berdua dengan kapas tambahan di tangannya.


"Loh, mas Wildan mau kemana itu?" tanya Angel saat melihat Wildan berlarian dengan kertas di tangannya.


"Ngumpulin kertas kita," terang Aila cuek.


"Shh pelan dong, Ngel!" amuk Aila saat Angel tak sengaja menekan bekas suntikan Aila terlalu kencang.


"Sial banget gua hari ini. Udah cosplay jadi imigran gelap bareng lo sama mas Wildan, terus disuruh lari karena tensi gua gak cukup, abis itu digodain bapak-bapak loreng pas disuntik tadi," keluh Aila membuat Angel lantas mengalihkan seluruh perhatiannya pada sang sahabat.


"Digodain gimana?" tanya Angel.


"Digodain ... kan tadi gua pas disuntik tuh ngejerit kek kucing kejepit, trus bapak-bapak loreng yang bantuin dokternya tuh ngeledek gini ... Eh mbaknya ngejerit. Tiap malem ditusuk gak pernah ngejerit!" jelas Aila seraya memeragakan bapak-bapak yang menggodanya tadi.


Angel yang mendengar itu sontak langsung mengkretekkan jari-jari tangannya, siap memukuli orang yang dimaksud Aila.


Aila yang melihat itu mengibaskan tangannya. "Ga usah macem-macem! Lagi emang tangan lo gak pegel apa abis divaksin? Gua aja masih ngerasa linu, trus rasanya tuh kek berat banget tangan gua yang sebelah kiri." Angel sendiri tidak mendengar keluhan Aila barusan, gadis itu justru membeku di tempatnya karena mendapati mantan gebetannya tengah divaksin di tenda yang berada tak jauh dari posisi mereka duduk sekarang.


"Ai, liat arah jam 11," perintah Angel yang tentu saja dituruti oleh Aila.

__ADS_1


"Anjmfh-" Angel langsung membekap mulut Aila seraya tersenyum canggung pada orang-orang di sekeliling mereka.


"Gak usah ngejerit kan bisa?!" omel Angel tak juga melepaskan bekapannya.


"Janji gak berisik?" Aila mengangguk setuju.


"Hah, tangan lo bau ikan asin!" protes Aila begitu tangan Angel terlepas dari mulutnya.


"Sialan lo!"


"Eh tapi, doi ganteng banget ya, Ai!" Aila yang mendengar pujian Angel terhadap mantan gebetan gadis itu hanya berdecak kesal tidak setuju.


"Ih ko gitu, liat tuh! Keren banget, 'kan?" tanya Angel masih berusaha mendapatkan pujian dari sahabatnya itu atas seleranya terhadap laki-laki.


Aila berdecak. "Iya-iya, di mata lo doang."


"Lo mah gitu!"


Drrt!


From, Mas Ifsan: belum selesai?


"Kalian ngapain duduk di sini? Panas. Mending sebelah sana, adem." Perkataan Wildan barusan tentu saja mengagetkan kedua gadis itu. Aila spontan menyembunyikan layar ponselnya dari pandangan pria itu.


Aila mengembangkan senyum kaku. "Mas duluan aja. Ai mau temenin Angel liatin gebetannya dari sini," ujarnya yang langsung mendapat pukulan di lengan kanannya. Sontak Aila menjerit kesakitan saat mendapat pukulan sayang dari sahabatnya itu.


"Bekasnya masih ngilu, Ngel! Gila lo ah!" keluh Aila sontak mendapat respon bingung dari keduanya.


"Gua mukul yang sebelah kanan, Ai! Yang disuntik pan sebelah kiri!" ujar Angel dengan sedikit logat Betawinya.


Wildan yang melihat reaksi Aila yang memerah malu pun tertawa pelan, merasa lucu dengan kelakuan keduanya. "Ya udah, nanti kalau ada apa-apa kalian ke sana aja ya," pesannya yang diangguki patuh oleh kedua gadis itu.


Aila memutuskan untuk membalas pesan Ifsan seperginya Wildan dari sisinya.


Aila to Mas Ifsan: Belum, lagi nunggu sertifikat vaksinnya.


Mas Ifsan to Aila: Pulang aja, nanti sertifikatnya biar mas Wildan yang bawa.


Aila kaget karena Ifsan langsung membaca dan membalas pesannya detik itu juga.


Aila to Mas Ifsan: Gak enak lah-_-


Mas Ifsan to Aila: Enakin. Atau mau mas yang print-in sertifikatnya?

__ADS_1


Aila to Ifsan: Gausahh.


Karena sibuk membalas chat Ifsan di ponselnya, Aila tidak sadar dengan mantan gebetan Angel yang menghampiri mereka berdua. Ketika laki-laki itu menyapanya, barulah Aila menyadari kehadiran laki-laki itu.


"Oh iya. Gua Aila. Eh tadi kayanya lo bareng temen-temen lo?" balas Aila dengan nada ramah namun tidak dengan ekspresinya. Angel yang berada di sebelah Aila pun meringis saat melihat ekspresi yang biasa ditunjukkan oleh temannya saat berjulit ria atau menghadapi orang yang tidak disukainya.


"Eh iya nih. Bareng temen."


"Oh gitu, kalau gitu jangan ditinggal terlalu lama atuh temennya, kasihan." Meski tersenyum ramah, Aila jelas-jelas mengusir laki-laki yang pernah membuat temannya menangis selama berjam-jam. Dan tentu saja karena kelakuannya, Aila mendapat sikutan yang cukup kencang di lengan kanannya setelah laki-laki itu pamit pergi.


"Lo tuh kebiasaan," keluh Angel yang tak dihiraukan oleh Aila sama sekali. Gadis itu justru malah sibuk memeriksa kuku-kuku di jari tangannya.


Angel yang menyadari dirinya dicueki pun berdecak kesal dan mengeluarkan ponselnya yang sejak tadi ia simpan di dalam sling bag-nya. "Hotspot!" pintanya yang mengundang kerutan di dahi Aila. Tidak ramah, bintang satu. Batin Aila atas sikap Angel yang tidak ramah dan tidak ada basa-basinya. Meski begitu Aila tetap menyalakan hotspot-nya seperti yang diminta sang teman.


"Hp elit, kuota sulit," sarkas Aila melihat ponsel Angel yang ternyata baru dari yang sebelumnya.


"Sialan Aila mulutnya lancip bener," balas Angel memaki mulut lancip Aila. Kalau saja ia tidak mengenal betul seperti apa Aila, ia pasti akan menjambak rambut gadis itu sekarang juga.


"Lagian gua minta hotspot juga buat ngabarin bokap, minta jemput. Males nunggu yang lain," terang Angel, jujur tidak ingin menunggu tetangga-tetangga Aila untuk pulang bersama.


"Halah, kek yang bakalan duluan aja! Kan kita ngumpulinnya tadi belakangan dibanding yang lain."


"Lu gak percaya? Kita duluan pasti." Dan betul saja, sesuai perkataan Angel, namanya dipanggil tak lama setelah ia berkata seperti itu.


Sementara Angel menemui panitia, Aila menghampiri Wildan yang sedang mengobrol dengan tetangganya yang lain. "Mas, temen Aila udah dipanggil. Dia mau pulang duluan katanya, bapaknya juga mau jemput ke sini."


"Oh ok gapapa. Kamu gimana, kan belum dipanggil?" tanya Wildan.


"Aila bareng sama rombongan sini aja," balas Aila yang diangguki pelan oleh Aila.


Aila mengirim nama lengkapnya pada Wildan via chat. "Itu nama lengkap Aila, nanti kalau dipanggil tolong ambilin ya, Mas. Aila mau anter si Angel dulu ke depan. Nanti Aila ke sini lagi kok."


"Eh tapi lumayan jauh Ai ke depan. Depan mana? Bapaknya suruh masuk aja bisa kok," ujar Wildan sedikit khawatir dengan kondisi Aila, mengingat gadis itu sempat disuruh berlarian memutari lapangan karena tensinya rendah.


"Nyusahin emang si Angel. Tolong ya, Mas!" Aila langsung berlarian menjauh dari Wildan untuk menghampiri Angel yang sudah menunggunya.


"Mau kemana dia, Wil?" tanya bapak-bapak yang merupakan salah satu tetangganya dan Aila juga.


"Katanya mau anter temennya dulu ke depan, Pak."


"Gapapa itu, Wil? Lumayan loh jaraknya," ujar salah satu pria sepantaran sang adik yang juga salah satu tetangganya yang ikut vaksin bersamanya.


"Gapapa katanya, Dit."

__ADS_1


__ADS_2