
Setelah Aila selesai makan dan meminum obat yang dibelikan teman-temannya, mereka bertiga tidak ada satu pun yang berbicara. Ketiganya tampak sibuk dengan ponselnya masing-masing.
To, RiskaKuyang: Be, katanya mau ke sini? Ga jadi kah? Temenin, pleasee :((
Aila menarik selimutnya sampai menutupi dagunya, ia melirik ke arah Ifsan sekilas, lalu menunduk menyembunyikan wajahnya yang memanas. Ia terperanjat saat merasakan sentuhan di kepalanya. "Kenapa, Ai? Pusing lagi? Apa mau Mas anter ke klinik?" tanya Ifsan beruntun.
"Ayo kalau mau ke klinik," ujar Wildan dari depan pintu kamar.
Aila menggelengkan kepalanya cepat. "Enggak-enggak. Gak usah. Gapapa kok."
"Bener?" tanya Wildan lagi, memastikan. Aila menganggukkan kepalanya mantap.
"Tapi kalau mau ke klinik bilang, ya?"
"Iya, Mas ...," cicit Aila semakin menyembunyikan wajahnya.
Aila menyibak selimutnya dan menapakkan kakinya di lantai. Ia menggigit bibir bawahnya saat merasakan hawa dingin lantai menyetrum telapak kakinya. "Kamu mau ngapain, Ai?" tanya Ifsan dengan dahi mengerut dalam.
"Ganti baju, sama mau pipis," lirih Aila menunduk malu.
"MAS!" jerit Aila saat tiba-tiba Ifsan mengangkat tubuhnya dalam bopongan pria itu.
Wildan yang berada di ruang tengah sampai langsung terbirit menghampiri keduanya. "Ya ampun, La! Mas kira kamu kenapa. Kalian berdua ngapain sih?!" omelnya.
"Maaf. Aila juga kaget karena tiba-tiba diangkat gini," keluh Aila membela diri.
"Loh, 'kan kamu katanya mau pipis. Ini mau Mas bantuin ke kamar mandi. Lagian emangnya kamu udah kuat berdiri?" jelas Ifsan seraya menunduk untuk melihat wajah Aila.
"Bisa kok. Aila mau jalan aja."
Aila menatap Wildan dengan tatapan memohon karena Ifsan tak juga menuruninya. "San ...," panggil pria itu dengan nada memperingatkan.
Ifsan memutar bola matanya kesal, namun ia tetap menuruni Aila dari bopongannya dengan perlahan, memastikan gadis itu beradaptasi dulu dengan lantai. Ia bahkan terus memegang pinggang Aila sampai gadis itu benar-benar berdiri tegak, tak lagi oleng.
"Kalau gitu Mas tunggu di luar. Nanti kalau ada apa-apa teriak aja," ujar Wildan seraya menggiring sang adik keluar dari sana dan Ifsan menutup pintu kamar Aila karena sebelumnya gadis itu bilang ingin mengganti pakaiannya juga.
Wildan terkekeh mengingat kelakuan adiknya barusan. "Gua tau lo impulsif, tapi- yang bener aja lah. Anak orang itu. Apalagi Aila gak pernah sedeket itu sama cowo. Kalo ngeliat kita aja kek ngeliat hantu, pelan-pelan lah kalau mau deketin."
"Apa sih, Wil? Ga jelas lo ah." Ifsan melengos dan memilih untuk duduk di sofa ruang tengah.
__ADS_1
Wildan ikut duduk di sebelah Ifsan dan menepuk pundak adiknya itu pelan. "Lo tertarik 'kan sama Aila? Gak usah bohong karena gua sering pergokin lo diem-diem merhatiin dia kalo dia lagi jalan-jalan tengah malem."
"Gak usah banyak bacot," balas Ifsan tajam. Meski wajahnya terlihat kaku seperti orang marah, telinga pria itu tidak bisa berbohong, warnanya berubah kemerahan karena merasa malu. Wildan yang menyadari itu hanya tertawa tak ingin berkomentar lagi.
Wildan melihat jam dinding. "Temen-temennya jadi ke sini? Ini udah jam sepuluh malem btw." Mendengar itu, Ifsan ikut melihat jam dinding.
"Kalau gitu nanti gua yang nginep sini," ujar Ifsan santai yang langsung dihadiahi pukulan cukup keras di kepalanya.
"G*blok ya?! Otak lo disembunyiin di mana? Lo mau di grebek ama warga?"
Ifsan berdecak. "Tenang aja, gua malah seneng kalau digrebek."
"Sint*ng," desis Wildan menggeleng heran.
Keduanya menoleh ke arah pintu rumah ini saat mendengar suara motor yang cukup banyak. Ifsan keluar untuk melihatnya. "Oh kalian. Masuk aja, tapi jangan berisik." Mereka saling lihat-lihatan melihat Ifsan. Apalagi Andre yang belum pernah bertemu dengan Ifsan sebelumnya langsung berbisik pada Angel untuk menanyakan siapa Ifsan sampai berada di rumah Aila malam-malam begini.
Ifsan mengetuk pintu kamar Aila beberapa kali. "Ai, temen-temen kamu dateng. Kalau keluar pake selimutnya."
Ceklek!
Ifsan terdiam melihat Aila dengan balutan selimutnya yang menjuntai ke lantai. Sampai suara teguran Wildan pada Aila membuatnya tersadar kembali dengan suasana sekitarnya. "Selimutnya nyapu lantai, La."
"Misii Ailaaa," seruan teman-temannya itu membuat perhatian Aila berpindah pada mereka. Dengan langkah cepat ia menghampiri ke delapan temannya itu.
"Kalian beneran ke sini? Gak dicariin? Ini udah malem loh?" tanya Aila beruntun.
"Cerewetnya udah balik, berarti udah sembuh berarti ini mah," ujar Taufik setengah meledek. Kalau kondisi Aila sedang baik, habis laki-laki itu di tangannya.
Riska mengulurkan tangannya untuk menyentuh dahi Aila yang tertempel plester penurun panas. "Udah mendingan. Obatnya udah diminum blom?" tanyanya yang langsung mendapat anggukan kecil dari Aila.
"Udah kok, tenang aja. Aku juga udah makan tadi," terang Aila.
"Ai, kalau gitu Mas balik, ya. Nanti kalau ada apa-apa bilang aja, ok? Chat aja ya jangan sungkan," ujar Wildan berpamitan. Aila mengangguk patuh mendengarnya.
"Makasih ya, Mas."
"Yok sama-sama."
Kini pandangan Aila beralih pada Ifsan. "Mas mau di sini dulu?" Karena pertanyaannya barusan, Aila mendapat sikutan di lengannya dari Angel. Menurutnya, Aila terdengar seperti sedang mengusir pria itu.
__ADS_1
"Mas mau beresin bekas makan kamu dulu," ujar Ifsan melengos masuk ke dalam kamar Aila.
Andre menepuk pundak Aila pelan. "Siapa, Ai?" tanyanya dengan nada menggoda. Mengingat ia tidak pernah melihat Aila berinteraksi dengan pria lain selain keluarga dan mereka-mereka yang sekarang juga ada di ruangan ini untuk melihat keadaannya, tentu saja membangkitkan jiwa keponya.
Aila menunjuk pintu rumahnya menggunakan dagu. "Tetangga seberang," jelasnya singkat.
"Gua sambil duduk, ya. Kalian kalau mau minum atau makan, ambil aja sendiri di dapur," lanjut Aila seraya beranjak dari sana ke sofa yang tidak jauh dari letak kamarnya.
Putri dan Checillia masuk dengan membawa dua kantung plastik di tangannya dan menaruhnya di atas meja. "Ini buat lo, sama yang ini nanti kasih sama mas Ifsan sebagai tanda terima kasih karena udah jagain lo seharian." Riska menjelaskan untuk siapa-siapa saja bingkisan plastik itu.
"Makasih ya."
"Kek ama siapa aja lo."
"Jangan sakit-sakit lah, kita repot gak ada lo."
"Bener, biasa lo yang ngatur. Si Riska kasihan ngebabu dari siang."
"Ya lo pikir selama ini gua ngapain kalau kita ngadain acara atau plan jalan-jalan gitu?" sarkas Aila yang mengundang tawa teman-temannya.
Aila mengulurkan tangannya pada Andre dan disambut baik oleh laki-laki itu. "Selamat ulang tahun, Dre. Sorry gua gak ikut surprised lo tadi. Dan untuk tahun ini gua skip kado karena lagi bokek. Maapin gua ya." Andre menarik Aila ke dalam pelukan dan menepuk-nepuk punggung gadis itu dengan lembut seraya mengatakan tidak apa-apa.
Teman-teman yang lain karena sudah terbiasa melihat itu hanya diam saja dan sibuk ngobrol satu sama lain, berbeda dengan Ifsan yang melihat itu dengan alis yang terangkat sebelah. "Ai, Mas pulang, ya." Aila sontak langsung melepaskan diri dari pelukan Andre, lalu membawakan bingkisan dari teman-temannya pada Ifsan.
"Makasih banget ya, Mas. Aila udah ngerepotin Mas banget hari ini ... maafin Aila ya, Mas. Sama ini bingkisan dari temen-temen Aila buat Mas." Alih-alih merespons perkataan Aila padanya, Ifsan justru membungkukkan tubuhnya untuk mengambil selimut Aila yang terjatuh di lantai dan melilitkannya kembali pada tubuh Aila seraya menerima bingkisan yang diberikan gadis itu.
Ifsan mengusap lembut kepala Aila seraya menatap mata gadis itu dengan sorot mata yang tidak bisa dijelaskan. "Cepet sembuh, ya. Mas pulang."
Ifsan beralih untuk berpamitan dengan teman-teman Aila. "Yang pulang, jangan malem-malem ya pulangnya. Sama yang cowo gak pada nginep sini, 'kan?"
"Oh enggak kok, Mas. Yang nginep cuma Riska aja yang lain nanti pulang kok. Cuma mungkin kita di sini dulu sebentar lagi karena udah lama gak kumpul semua gini," balas Andre cepat karena merasa tidak enak. Ifsan menganggukkan hanya kepalanya mendengar itu.
"Ya udah, kalau gitu saya pulang dulu, ya," ujar Ifsan sebelum benar-benar pergi dari sana.
"Woy, Aila! Bengong aje yang abis di pat pat sama keras!" ledek Putri mengundang tawa dari yang lainnya.
Aila yang baru sadar dari keterdiamannya melempar gadis itu dengan selimut yang dipakainya. Hal itu tentu saja mengundang protesan orang-orang yang berada di dekat Putri karena ikut terkena timpukan selimut yang Aila lemparkan.
"Hem, sukur!" ujar Aila seraya tersenyum puas.
__ADS_1