Cinta lima sepuluh langkah

Cinta lima sepuluh langkah
8 - Pulang


__ADS_3

From, Mas Ifsan: Temenmu suruh pada pulang ... udah malem, Ai. Kasian nanti muter-muter cari jalan karena udah pada ditutup portalnya.


Aila sontak langsung menoleh ke arah jam dinding yang ada di ruang tengah. Benar apa yang Ifsan sarankan, teman-temannya harus segera pulang karena sudah hampir tengah malam. "Guys kalian gak pulang? Gua bukan ngusir loh ya. I mean, gua takut kalian susah cari jalan karena jalan udah diportal. Apalagi rumah Eci sama Angel yang di tengah-tengah."


"Kalau anak Puri Indah si santuy," ujar Putri langsung bertos ria dengan Yayan, Taufik, Bagus, dan Riska setelahnya dikarenakan mereka sama-sama tinggal di satu komplek perumahan yang sama yakni, Puri Indah. Berbeda dengan Angel, Checillia, dan Andre yang rumahnya masih berada di komplek perumahan yang sama dengan rumah Aila, Asri Indah.


"Eh iya, lo berdua pulang tuh nanti si Eci dicariin maknya udah hampir tengah malam gini. Kalau gua sih santuy karena jalan gua ke rumah dari sini gada portalan, beda sama kalian yang rumahnya di tengah-tengah, susah buat keluar masuk kalau udah lewat tengah malam." Andre berkata panjang lebar yang diangguki setuju oleh Aila.


Angel melihat jam tangan yang ada di pergelangan tangan kirinya, lalu mengangguk mendengar perkataan teman-temannya. "Hayuk, Ci ... mumpung masih sepuluh menitan lagi, masih sempet lewat jalan biasa."


"Ya udah deh. Padahal gua masih mau di sini, tapi udah diusir sama yang punya rumah," ujar Checillia dengan nada bicara yang disedih-sedihkan. Tentu saja mereka tertawa karena setelahnya Aila membalas perkataan gadis itu dengan lemparan bantal sofa.


"Bukan gitu ya, anak mamah Sri. Gua cuma nyaranin karena pernah ngerasain susah nyari jalan pas anterin lu pulang tengah malem! Noh mak lu udah telepon gua nih!" ujar Aila seraya menunjukkan layar ponselnya pada Checillia sebelum mengangkat panggilan telepon dari ibu temannya itu.


"Halo, iya, Mah. Ecinya lagi siap-siap mau pulang. Aila minta maaf ya malem banget kita pulangnya ... maklum Mah hari ini personelnya lengkap jadi gak berasa tau-tau malem, Sekali lagi maapin ya, Mah." Aila sesekali menggigit bibir bawahnya karena takut salah berucap selama berbicara dengan ibunda Checillia.


Riska yang melihat temannya kesulitan pun menimpali perkataan Aila yang sebelumnya dengan suara kecil. "Tau lo! Udah tau strict parent, kalo maen gak inget pulang."


"Lo juga sama sih, Ris," balas Checillia.


"Eh tapi 'kan-" Perkataan Riska terputus karena Aila menepuk-nepuk pundak gadis itu beberapa kali untuk diam karena suara ibunda Checillia jadi kurang jelas di telinganya.

__ADS_1


"Iya, tenang aja aman kok, Mah. Ada Andre juga nanti yang anter si Eci sama Angel. Ya 'kan, Dre?" ujar Aila seraya memanggil Andre agak keras dan mendekatkan jarak ponselnya dengan Andre. Meskipun itu tidak berpengaruh sama sekali karena jarak keduanya yang jauh.


"Eh, iya kok Mah," ujar Andre sengaja mengeraskan suaranya karena jaraknya dan ponsel Aila yang tidak berdekatan. Untung saja refleksnya bagus. Jadi, tanpa kode-kode dari Aila ia bisa menimpali jawaban gadis itu dengan baik.


"Iya, sama-sama, Mah."


Aila menghembuskan napas lega setelah ibunda Checillia mengakhiri panggilannya. Namun tak bertahan lama, Aila kambali menggigit bibir bawahnya saat mellihat ada panggilan tak terjawab dari ibunda Putri. "Put, emak lo telpon tapi gak keangkat karena tadi lagi telponan sama emaknya Eci. Lo pulang gih!" usirnya tegas seraya membalas pesan ibunda Putri di ponselnya.


"Kalau gitu kita pamit, ya."


"Yok guys, pulang yok."


"Ai, lo cepet sembuh ya."


"Hehe, liat nanti aja ya gak, Ai."


"Tidur lo, Ai. Ntar semaput baru tau rasa."


"Hati-hati ya, kalian!"


Mereka saling tos dan peluk sebagai salam perpisahan yang biasa mereka lakukan setiap melakukan pertemuan atau bisa dibilang mereka melakukan tradisi khas yang sengaja mereka buat agar rasa kedekatan dan keharmonisan hubungan mereka tetap terjaga.

__ADS_1


Setelah semua teman-temannya pergi, Aila menghembuskan napas panjang. Hari ini rasanya panjang sekali. Pikirnya. Aila mengunci pintu pagarnya terlebih dahulu sebelum menyusul Riska yang sudah masuk lebih dulu dan sedang membereskan ruang tengahnya. Namun belum sempat dirinya masuk ke dalam, satu pesan dari Ifsan membuat Aila sontak berbalik untuk melihat rumah pria itu.


Mas Ifsan to Aila: Cepet masuk langsung tidur.


Aila to Mas Ifsan: Iya-iya.


"Kenapa?" tanya Riska saat melihat Aila malah berhenti di depan pintu dan bukannya langsung masuk ke dalam.


Aila menggeleng, sebisa mungkin terlihat biasa saja dan menyembunyikan kekesalannya. "Engga ada. Tadi aku kek sempet denger suara kodok gitu makanya langsung nge-freeze," bohongnya yang malah mengundang kerutan dahi di wajah sang sahabat.


Namun karena Riska lebih khawatir kondisi Aila memburuk sebab terkena angin malam, Riska menyuruh Aila masuk ke dalam terlebih dahulu. Dan berencana akan menginterogasi gadis itu nanti setibanya di kamar saat akan tidur. Bukan sehari-dua hari mereka berteman, tentu saja Riska bisa membedakan kapan sahabatnya itu berkata jujur dan kapan sahabatnya itu berkata bohong. Apalagi, mata Aila selalu memancarkan isi hati gadis itu, sehingga sulit untuk gadis itu berbohong.


Begitu sampai di kamarnya, Aila menyentuh dada bagian kirinya yang bergemuruh. Setelah ini Riska pasti akan menginterogasinya sampai gadis itu mendapatkan jawaban yang ia mau dari mulut Aila. Selama ini ia tidak pernah berhasil berbohong pada Riska satu kali pun, dan ia tidak yakin jika Riska mempercayai perkataannya barusan.


Bagaimana caranya menghindari pertanyaan Riska? pikir Aila keras.


Kedua matanya melihat room chat-nya dengan Ifsan di layar ponsel yang masih menyala. Dan melihat chat terakhir milik Ifsan yang memerintahkannya untuk tidur, membuat Aila tersenyum tenang. Benar juga, tidur adalah jalan keluarnya, batinnya.


Dengan segera Aila membaringkan tubuhnya, mengatur napas, dan melemaskan seluruh persendiannya. Ia membayangkan tengah berbaring di atas awan dan setelahnya ia benar-benar tertidur kurang dari waktu lima menit. Saat Riska masuk dan melihat sang sahabat tertidur, tak semerta-merta ia langsung percaya begitu saja. Ia mendekati gadis itu dan memeriksa apa Aila benar-benar tidur atau sedang menipunya.


Karena tidak menemukan tanda-tanda sang teman menipunya, Riska memilih untuk ikut membaringkan tubuhnya di sebelah Aila dan bermain ponsel. Sekitar sejam-an ia memainkan ponselnya, ia kembali mengecek apakah Aila sudah benar-benar pulas atau belum. Dan setelah yakin sang sahabat benar-benar sudah tidur, Riska mematikan lampu kamar Aila dengan perlahan dan hati-hati, memastikan tidak menimbulkan bunyi cetekan lampu sedikit pun.

__ADS_1


Riska menghembuskan napas lega begitu selesai melakukan misinya, ia pun menyusul Aila yang sudah tertidur pulas.


__ADS_2