
Di pagi hari, di saat semua orang masih tertidur, Aila merasakan ngilu di sekujur tubuhnya karena terkena angin. Dengan kedua mata yang masih terpejam dan kesadaran yang masih mengambang di awang-awang, Aila beranjak dari ranjangnya untuk mematikan kipas angin dan kembali masuk ke dalam selimutnya untuk tidur lagi.
Selang beberapa jam, alarm dari ponselnya berdering sangat kencang hingga membangunkan seisi rumah termasuk Aila sendiri. Tangan gadis itu bergerak perlahan meraba asal suara dering yang sangat kencang itu dan menggerang kesal karena tak kunjung menemukannya.
Aila dengan susah payah membuka kedua matanya yang terasa sangat berat untuk mencari letak ponselnya itu. Setelah menemukannya, gadis itu kembali memejamkan kedua matanya dan mematikan alarm ponselnya tanpa melihat. Lalu setelah itu ia kembali tertidur karena tak kuasa menahan rasa berat di kepalanya.
Sampai pada waktu tengah hari, barulah Aila sepenuhnya bangun dan berani keluar dari selimut shinchan-nya.
"Hadeh kepala gua berat bat kek abis ketimpuk," gerutu Aila seraya memegang kepalanya.
Meskipun ia merasa tidak enak badan, Aila tetap bangun untuk mengerjakan pekerjaan rumah yang memang menjadi tanggung jawabnya. Ia sangat bersyukur orang tuanya sangat berkecukupan hingga memiliki mesin cuci yang tentu saja sangat membantu pekerjaannya.
Sebelum memulai pekerjaannya, Aila menguncir rambutnya asal dan membasuh wajahnya menggunakan air dingin agar membuatnya tetap sadar. Setelahnya ia mengeluarkan bahan-bahan masakan yang ia butuhkan dari kulkas dan rak penyimpanan makanan untuk dibuat sarapannya atau mungkin makan siang?
Beberapa bahan masakan yang beku, ia rendam dengan air suhu normal agar salju-salju dari lemari pendingin luruh dan mudah dipotong nantinya. Sambil menunggu ia memilih playlist lagu yang berlawanan dengan suasana hatinya. Lalu karena kepalanya sedang pusing dan ia lemas, ia pun memilih untuk lagu-lagu rapper seperti Eminem, Jay-Z, Drake, Kanye West, dan yang lainnya untuk diputarkan.
Setelah itu, Aila mencuci tangannya sebelum memilah-milah pakaian yang akan ia cuci hari ini. Ia menyalakan air untuk mengisi mesin cuci sebelum kembali ke bagian dapur lagi untuk memasak.
"Aduh, pas barengan pula." Di saat Aila sedang menggoreng ayam, Aila mendengar jika air yang ada di mesin cuci sudah penuh, ia pun mencuci tangannya sebelum beralih ke mesin cuci. Tanpa mematikan air kerannya, Aila menggulung pakaian yang ada di dalam mesin cuci, lalu ia kembali ke dapur untuk mengangkat ayam yang kemungkinan sekarang sudah matang.
Setelah itu, Aila mengecek sebentar nasi yang ada di rice cooker.
Dirasa aman semua, barulah Aila beristirahat duduk-duduk sebentar sambil memainkan ponsel untuk mengisi waktu luang menunggu mesin cuci berhenti. Telapak tangan Aila menutup kedua matanya yang terasa panas. "Duh gua kenapa lagi sih?" Meskipun menggerutu karena kondisi tubuhnya yang terasa tidak nyaman, Aila tetap mengerjakan seluruh pekerjaan rumah yang tersisa. Ia tidak mau harus mendapatkan omelan lagi di saat keadaan tubuhnya sudah seperti ini.
__ADS_1
Ponsel milik Aila yang tergeletak asal di lantai bergetar terus-menerus, Nama kontak teman-temannya muncul bergantian di layar ponsel gadis itu. Sampai akhirnya ia mendengar ketukan di pintu kamarnya, kepalanya menoleh ke arah pintu kamarnya tanpa membuka kedua matanya. "Siapa?" tanya gadis itu masih dengan mata tertutup.
Ifsan langsung mengalihkan pandangannya dari Aila dan cepat-cepat beranjak dari sana. Ia keluar dan menemui teman-teman Aila yang masih memarkirkan kendaraan mereka di halaman rumah Aila. Salah satu teman Aila yang terlihat mirip dengan Aila menghampiri dirinya seraya berucap, "makasih loh, Mas. Kalau bukan karena Mas Ifsan, saya sama teman-teman yang lain gak bisa masuk."
"Sama-sama. Aila-nya baru bangun tuh. Yang masuk kamarnya cewe-cewe aja ya. Yang cowo tunggu di luar aja," ujar Ifsan langsung beranjak dari sana kembali ke rumahnya.
Semua yang mendengar itu saling lihat karena tidak mengerti maksud perkataan Ifsan barusan. Meski begitu, yang cowo-cowo tidak ikut masuk dan menunggu di luar seperti apa yang dikatakan pria itu. Melihat tato dan piercing yang ada di tubuh Ifsan, membuat mereka tidak berani membantah.
Putri yang melihat Aila masih tertidur dengan kaki yang menjuntai ke lantai pun berkacak pinggang. "Pantes aja ditelponin gak ngangkat-ngangkat, ngebo rupanya! Mana henponnya di-silent!"
"Lama banget si kali-"
Putri yang posisinya paling dekat dengan daun pintu pun langsung mendorong Taufik menjauh. "Liat apa lo tadi?!" todong Putri pada Taufik yang masih terbengong-bengong karena sempat melihat Aila tadi.
"Gedhe, Put." Karena perkataan spontannya barusan, Taufik langsung mendapat toyoran yang cukup kencnag di kepalanya.
"G*blok sia!" maki Putri yang setelahnya malah tertawa.
Riska keluar dari kamar Aila seraya merogoh tasnya mencari ponsel miliknya. "Pig, lo tolong bilangin yang cowo untuk tunggu sebentar lagi," perintahnya pada Taufik.
"Lo di mana? Kuenya udah dapet? Hah, haduh ... coba di toko lainnya. Si Aila demam jadi gak bisa ikut, ini gua sama anak-anak masih di rumah dia." Mendengar perkataan Riska pada orang di seberang sana, Putri sontak masuk lagi ke kamar Aila untuk mengecek keadaan temannya itu. Dan benar saja, suhu tubuh Aila yang biasanya paling sejuk di antara teman-temannya, kini begitu panas. Pantas saja gadis itu tetap keringatan di pakaian terbuka seperti itu.
"Kalau udah pada tutup semua beli martabak telor aja dua, masing-masing telor tiga. Nanti sisa duitnya beliin minuman, snack, sama lilin. Koreknya gak usah, gua udah dapet dari rumahnya Aila." Riska masih sibuk berbicara dengan Angel yang ada di luar sana bersama Checillia untuk mencari kue ulang tahun.
__ADS_1
Putri keluar rumah menghampiri teman-teman cowoknya yang berjumlah tiga orang. "Pg, lo sama Bagus atau engga sama Yayan keluar gih beliin obat demam sama by*e bye demam buat Aila," suruhnya.
"Seenggaknya kalau nyuruh tuh manggil nama gua yang bener," protes Taufik. Meski begitu laki-laki itu langsung mengatur motornya.
"Lah ntu anak bisa sakit?" tanya Yayan.
"Ya bisalah coy!"
"Yaelah tadi juga lo gak protes pas digituin ama Riska." Putri berkata seperti itu seraya memberikan beberapa lembar uang pada Taufik. Setelahnya Putri masuk ke dalam diikuti dengan Bagus di belakangnya.
"Yo." Riska mengakhiri teleponnya bersama Angel.
Putri yang dari tadi menunggu pun langsung melontarkan pertanyaan, "trus si Aila gimana? Masa kita tinggalin gitu aja?"
"Berapa derajat?" tanya Bagus pada Riska.
Riska menggelengkan kepalanya. "Gak tahu. Gua gak nemu thermometer di kamarnya."
"Terus gimana? Kita jadi rayain ultahnya si Andre?"
"Kalau gak jadi gua juga gak enak sama si Andre. Dia doang yang belum dirayain ultahnya. Kasian Be, tiap kita ultah dia matung loh." Riska sendiri bimbang, hingga akhirnya ia teringat dengan pria yang membantu mereka sampai bisa masuk ke dalam rumah Aila.
"Mas Ifsan!"
"Kenapa mas Ifsan?" tanya Putri tidak mengerti.
"Put, lo benerin bajunya si Aila. Dan lo Gus, ikut gua. Kita minta tolong sama mas-mas yang tadi buat jagain Aila sebentar."
"LO GILA?!" Bagus menatap Riska tidak percaya.
"Cuma sebentar, Gus. Seenggaknya kita absen muka dulu ke rumahnya si Andre buat kasih kejutan. Nanti setelah ngasih tau Andre kondisi Aila sekarang, kita ke sini lagi bareng-bareng. Lo tenang aja, aman!" terang Riska seraya berjalan keluar rumah diikuti oleh Bagus di belakangnya.
__ADS_1
Putri pun juga bergegas membetulkan pakaian Aila, setidaknya sampai gadis itu tidak terlihat seperti santapan lezat oleh para pria.