
Bab ini mature konten ya. Yang belum cukup umur, mundur ya sayang.
****
"Jadi yang bakal lo gibahin kali ini yang mana? Adeknya atau abangnya?" tanya Riska begitu Aila kembali duduk di sampingnya.
"Kali ini abangnya. Kalian pasti kaget ngedenger cerita gua." Putri dan Checillia menatap Aila penasaran. Di sisi lain, Angel dan Riska mengangkat sebelah alis mereka sebagai respons perkataan Aila barusan.
"Gua mimpi ... gua hamil anaknya doi. Kalian juga ada di mimpi gua," terang Aila singkat. Gadis itu menatap satu-persatu temannya untuk melihat reaksi mereka.
"Anjir. Lanjut-lanjut. Gua ngapain di mimpi lu?" tanya Putri terdengar antusias.
Kali ini Aila memajukan tubuhnya, mendekati Putri. "Lo lagi deket sama seseorang sekarang?" tuduhnya tiba-tiba.
"Dih sok tau. Engga!" bantah Putri tegas. Sejenak Aila mengerutkan dahinya curiga, namun setelahnya Aila mengangkat kedua bahunya tidak peduli.
"Oh kalo engga berarti ga ada hubungannya," tandas Aila.
"Apaansi bikin gua penasaran aja." Putri menggerutu kesal karena Aila bercerita setengah-setengah.
"Tau coba ceritain yang jelas," timpal Riska.
"Jangan ada yang motong ya. Jadi, di mimpi gua itu ... gua lagi bunting gede dan di rumah tuh lagi mau ada acara gitu, kayanya sih acara nujuh bulanan. Gua juga gak tau pasti. Yang jelas kalian ada semua di mimpi gua. Dan elo, Put!" Aila menunjuk wajah Putri.
"Lo nikah paling pertama anjir di mimpi gua." Mendengar itu, mereka semua bersorak heboh sampai para pengunjung kembali memperhatikan mereka.
"Anjir ga pernah pacaran tau-tau kawin." Angel bertepuk tangan salut.
"Nikah woy bukan kawin!" koreksi Riska.
"Emang bedanya nikah sama kawin apa guys? Bukannya sama?" tanya Checillia yang langsung membuat ke-empat gadis lainnya terdiam.
"Terus-terus kalau gua gimana?" Angel dengan cepat kembali mengalihkan pembicaraan mereka ke topik semula.
Aila mendesah kecewa. "Padahal yang gak pernah kosong tuh elu, Ngel. Tapi herannya lo masih stuck pacaran. Tapi gua gatau cowonya siapa."
"Ciri-cirinya gimana?" tanya Angel yang jadi sangat tertarik dengan cerita mimpi Aila.
__ADS_1
"Nah iya tuh. Laki gua juga gimana ciri-cirinya?" tanya Putri juga menimpali.
Aila terdiam sebentar dan berusaha mengingat kembali mimpinya itu. "Em... kalau cowonya Angel tuh tinggi tapi badannya biasa aja, gak gede gak kecil."
"Nah kalo elu, Put. Gua gak inget. Yang jelas dia cepet gitu bisa baur sama laki gua and cowonya Angel. Oh iya, di mimpi gua lu udah ada anak dua!" Mereka kembali bersorak mendengar cerita Aila.
"Gil*-gil* si Putri!" Riska menggeleng-gelengkan kepalanya takjub.
"Kalo si Riska sama Eci gimana?" tanya Putri berusaha mengalihkan pembicaraan tentang dirinya karena malu, wajahnya sudah terasa hangat sekarang.
Aila langsung memasang wajah sedih. "Nah ntu dia! Si Eci tuh gak bisa dateng ceritanya ... terus cuma bisa video call sama kita-kita. Tapi lu cangtip banget di mimpi gua, Ci." Aila menunjukkan jari jempolnya pada Checillia dan mereka tersenyum lebar.
"Nah kalau Riska ... she is still single. Dan ... di mimpi gua dia justru repot bantu-bantu di belakang. Bantu koordinir ibu-ibu yang lagi nyiapin acara. Pokoknya gabung ngobrol sama kita malah cuma sebentar aja," terang Aila menatap Riska dengan prihatin.
Riska menaikkan dagunya saat menyadari tatapan kasihan dari teman-temannya. "Ih gua doang emang yang paling berguna."
"Anjay, plot twist sekali."
"Gila si kalau ini jadi kenyataan," ujar Riska yang juga diangguki setuju oleh yang lainnya.
"Permisi, atas nama ka Aila?" Pelayan cafe menginterupsi obrolan mereka untuk mengantarkan pesanan Aila.
"Oh iya, Mas. Makasih ya."
"Kenapa emang ga mau? Karena doi duda?" Aila menggeleng tegas mendengar pertanyaan Riska.
"Gua gak mau sama tetangga, terlalu deket. Gak seru nanti pas besanannya. Lagian gua gedek banget sama dua kakak-beradik itu, motornya berisik!" jawab Aila tegas.
"Ya masa depan gak ada yang tau, 'kan? Sekarang aja lo amit-amit begitu. Di masa depan lo bunting anaknya die kek di mimpi lu 'kan kita gada yang tau," balas Riska.
"Bener tuh, Ai."
Aila tersenyum smirk. "Gak mungkin lah!" bantahnya yakin.
__ADS_1
Aila tersenyum saat menikmati oranye senja yang begitu cantik hari ini. Sambil menunggu kepulangan suaminya, Aila memilih untuk bersantai di depan rumah sambil menikmati susunya. Sesekali ia mengajak bicara buah hati yang ada di dalam perutnya seraya mengusapnya lembut. "Sabar ya, Sayang. Daddy kamu masih dijalan katanya. Kamu doain ya, semoga jalan pulang daddy dilancarkan ... biar bisa cepet ketemu mommy sama kamu," ujarnya antusias.
Aila tertawa pelan saat merasakan tendangan agresif di perutnya, sesekali ia meringis saat dirasakan tendangan bayinya terlalu kuat. Meski begitu, senyum lebar nan manis tak luntur sedikit pun. "Kamu udah gak sabar banget ya ketemu sama daddy? Utuutuutu sayangnya Mommy kangen juga sama daddy?"
"Mas pulang." Suara berat yang dinanti Aila terdengar, membuat mommy muda itu mengalihkan perhatiannya pada sang suami yang baru saja sampai.
Aila tersenyum lembut menyambut kedatangan suaminya, lalu merentangkan kedua tangannya minta dipeluk. Suaminya tertawa pelan, ia pun menarik Aila ke dalam dekapannya sambil memberikan elusan dan kecupan lembut penuh kasih sayang.
"Ayo masuk. Udah mau malam ... gak baik buat kamu sama baby," ujar sang suami menggiring Aila masuk ke dalam rumah.
Aila membantu sang suami melepaskan kancing teratas kemeja pria itu seraya bertanya, "Mas mau langsung mandi? Tapi Ai belum siapin bathub-nya." Tidak menghiraukan pertanyaan Aila, pria itu justru menarik pinggang Aila lebih dekat hingga tubuh keduanya saling menempel. Aila tidak sadar dengan tatapan sayu penuh gairah yang dilayangkan sang suami pada tubuhnya.
Suami Aila itu memilih untuk menenggelamkan wajahnya di cerukan leher Aila dan menikmati wangi tubuh Aila. "Mas?" Tubuh Aila menegang saat merasakan hembusan napas sang suami mengenai permukaan kulitnya. Lenguhannya lepas saat sang suami menghisap lembut lehernya.
"Mas mau, boleh?" izin sang suami tak diiyakan ataupun ditolak oleh Aila. Meski begitu suami Aila terus melanjutkan aksinya karena Aila tidak memberontak ataupun menolaknya. Justru Aila juga terlihat menikmati kegiatan mereka.
Sang suami mengangkat tubuh berisi Aila dan membaringkan tubuh Aila dengan sangat hati-hati di ranjang mereka. Kecupan kupu-kupu dan ciuman ringan suami Aila berikan untuk membujuk Aila. Tangan besar suaminya sudah mulai masuk ke dalam daster yang Aila kenakan hingga tersingkap ke atas.
Jari-jemari Aila bergerak meremas rambut sang suami guna memperdalam ciuman mereka. Aila melenguh karena merasakan sentuhan sang suami di puncak dadanya, ciuman sang suami turun ke bawah menuju leher jenjang Aila. Sentuhan dan cumbuan yang diberikan suaminya itu benar-benar membuat Aila kepayahan. Napas Aila terengah-engah, tak hanya itu penampilan Aila pun kacau dibuatnya.
*Suaminya itu kembali mendekatkan wajahnya dan mencium Aila dengan lebih bergair*ah lagi. Tangan besar pria itu merabai pinggang Aila dengan sangat lembut, dimana di situlah salah satu titik sensitif Aila. Lalu setelahnya turun terus ke bawah hingga bertemu dengan pakaian dalam Aila yang sedikit mengganggu.
"Janghan dihsohbek," ujar Aila.
Aila melenguh untuk ke-sekian kalinya saat tangan besar sang suami sudah mulai menyentuh titik tersensitifnya. Nafsu Aila semakin menggebu saat sang suami melemparkan senyum seringainya. "Basah," bisik pria itu disusul pekikan terkejut Aila.
__ADS_1