Cinta lima sepuluh langkah

Cinta lima sepuluh langkah
4 - Putri's Boyfriend


__ADS_3

Ekspresi wajah Aila menunjukkan ia enggan berkomentar dengan kabar yang disampaikan oleh Putri bahwa gadis itu tengah menjalin hubungan dengan seorang pria secara virtual. Dari percakapan teman-temannya Aila bisa ambil kesimpulan jika Putri bertemu dengan kekasihnya di forum chat anonim yang memang sedang digemari orang-orang seusia mereka. Lalu mereka lanjut ke chat pribadi dan karena merasa nyaman satu sama lain, mereka memutuskan untuk menjalin kasih.


"Sejak kapan?" tanya Aila karena teman-temannya yang lain tidak menanyakan hal ini.


"Ketemunya dua minggu lalu. Trus baru jadiannya dua hari yang lalu," jawab Putri antusias.


Checillia dan Riska turut senang. Dari mereka berempat, dua orang itu lah yang paling antusias menanggapi cerita Putri. Aila sendiri sebenarnya juga merasa senang, namun entah kenapa firasatnya kurang bagus sejak pertama kali mendengar Putri sedang menjalin hubungan dengan seseorang secara virtual.


Bukan karena Aila iri, bukan. Ia justru merasa khawatir karena mereka tidak tahu wujud asli kekasih Putri yang mengaku bernama Putra itu. Selain itu, ia tidak mengetahui pasti asal-usul pria itu. Jangankan dia, Putri sendiri belum tentu mengenal asal-usul pria itu dengan baik, mengingat masa pendekatan mereka yang sangat singkat.


"Kalian pernah ketemu?" tanya Aila yang mengundang decakan kesal Riska.


"Belum. Dibilang ... konsepnya virtual. Awalnya juga gua sama cowo gua virtual, tapi alhamdulillah sampe sekarang." Riska berkata seperti itu karena ia tahu kekhawatiran Aila dan berusaha meyakinkan gadis itu agar tidak terlalu mencemaskan teman mereka yang satu itu.


Tidak ingin merusak suasana, Aila pun menganggukkan kepalanya mendengar perkataan Riska. Semoga saja tidak akan terjadi yang aneh-aneh. Harap Aila dalam hati.


Aila menoleh ke arah pintu masuk, pas sekali Angel datang. "Gua terlalu lama gak?" ujar gadis itu begitu menempatkan bokongnya di samping Checillia.


"Engga tenang aja." Semua mengangguk mendengar perkataan Checillia.


Angel kembali bangkit dari duduknya hendak memesan. "Kalau gitu gua pesen dulu, ya."


"Gua ikut," ujar Aila ikut beranjak dari duduknya.


Karena sebelumnya Aila keceplosan berbicara belum makan, teman-temannya sepakat melarangnya untuk memesan minuman khas di tempat itu karena rasanya yang asam. Karena itulah gadis itu baru akan memesan minuman favoritnya sekarang.

__ADS_1


Putri yang melihat kepergian Aila pun bertanya pada temannya yang lain, "makanan dia udah abis?" tanyanya berbisik dan diangguki pelan oleh Riska. Gadis itu bahkan menunjukkan bekas makan Aila.


Tak lama Angel dan Aila pun kembali duduk di tempatnya. "Berarti yang belum sold out tinggal lo sama Eci ya, Ai," ledek Angel setelah mendengar kabar Putri telah memiliki kekasih. Aila pun hanya mengangguk-anggukkan kepalanya pasrah.


"Gua mimpi lagi. Alurnya kek mundur," ujar Aila tiba-tiba. Sebenarnya gadis itu enggan menceritakan, tapi mimpinya yang terakhir kali sedikit mengganggunya.


"Kalian tau? Gua mimpi ... gua nungguin mas Wildan pulang kerja sambil ngelus-ngelus perut di depan rumahnya. Tapi perut gua gak sebesar di mimpi gua sebelumnya, makanya gua nyimpulin ini kaya alur mundur." Tentu saja Aila memotong beberapa scene dalam mimpinya. Tidak mungkin ia mengatakan dengan sejujurnya, 'kan?


"Anj*r bisa gitu ... gapapa dah Ai sama duda juga. Ganteng ini ... tajir pula." Mendengar perkataan Angel yang begitu asal, Aila hampir melemparkan kotak tissu yang ada di dekatnya pada gadis itu.


Sayangnya teman-temannya yang lain ikut setuju dengan perkataan Angel yang terdengar asal di telinganya.


Aila menggeleng seraya menghela napas panjang. "Gak. Gak mau gua. Bukan karena doi duda. Gua gak masalah mau doi duda apa bujang. Tapi yang agak mengganjal adalah katanya doi dulu cerai sama istrinya gak baik-baik. Ada perselisihan terkait harta gono-gini gitu katanya. Ga paham juga gua."


Angel menggeleng tidak setuju. "Gak. Gua paham maksud Aila. Dia gak peduli status doi. Tapi yang bikin dia gak mau adalah doi cerenya gak baik-baik. Dia takut nanti malah berdampak juga ke hubungan mereka nanti. Lagian kalau cere ga baik-baik gitu, berarti ada masalah kan di diri doi? Maksud lo gitu 'kan, Ai?" Aila mengangguk mengiyakan penjelasan Angel barusan.


"Loh. malah bagus dong kalau udahannya ga baik-baik! Lo bisa tenang. Karena bisa dipastikan doi gak ada perasaan lagi sama mantannya," balas Riska.


"Belum tentu juga sih, Ris. Dan Ngel, tentang omongan lu tadi juga belum tentu. Bisa jadi yang bermasalah tuh pihak mantannya doi, bukannya doi. We never know. Toh si Aila juga baru denger-denger omongan dari orang lain 'kan bukannya nanya langsung ke doi?" Putri menengahi keduanya.


Checillia yang sedari tadi memperhatikan pun ikut menyuarakan pendapatnya, "kalian gak usah ribut. Kan belum tentu si Aila beneran sama doi. Siapa tau mimpinya itu cuma bunga tidur dan plot twis-nya malah Aila sama adeknya." Mendengar itu awalnya Aila sudah mengangguk-anggukan kepalanya, ikut setuju dengan pemikiran temannya itu. Tetapi mendengar kata terakhir Checillia, Aila langsung menggebrak meja.


"Mwo?!"


"Bener juga," ujar Angel sepakat dengan apa yang dikatakan Checillia.

__ADS_1


"Iya, ya. Bego bat gua capek-capek debatin ginian ama lu lu pada. Keknya gua ketularan ket*lolan kalian deh." Kali ini Riska dengan mulut tajamnya.


"Iya bener tuh. Siapa tau malah kena sama adeknya." Tanggapan Putri tadi langsung mendapat respons tatapan tajam dari Aila.


"Enak aja! Yang modelan kek abangnya aja gua ogah, apalagi sama adeknya! Gak! Never!" ujar Aila mencak-mencak. Keempat sahabatnya hanya diam melihatnya. Dalam pikiran mereka, semoga perkataan Aila sekarang tidak akan berbalik menyerang sahabat random mereka yang satu itu.


"Yah semoga aja, ya."


Riska mengangguk-anggukkan kepalanya pelan. "Semoga lo gak berakhir minum air ludah lu sendiri."


Salah satu pelayan cafe ini menghampiri mereka dan menyuguhkan pesanan Aila dan Angel. "Silahkan, Kak." Angel tersenyum seraya mengucapkan terima kasih pada pelayan tadi.


"Lo pesen minum aja, Ngel?" tanya Checillia.


Angel mengangguk. "Iya. Gua masih kenyang. Sebelum ke sini gua diajak makan ke MCD sama cowo gua."


Semua bersorak.


"Enaknya punya pacar deket," ujar Riska dan Putri berbarengan. Mereka tertawa setelahnya.


Angel, Putri, dan Riska serempak menatap Aila dan Checillia bergantian. "Apa?!" gertak Aila yang sebenarnya sudah tahu isi kepala mereka semua.


"Lo sama Eci kapan?" ledek Angel sesuai dengan yang dipikirkan Aila.


Aila melihat ke arah Checillia, begitupun sebaliknya. "Pan kapan. Ye gak, Ci?" balas Aila yang diangguki setuju oleh Checillia.

__ADS_1


__ADS_2