
"Jadi, Aila itu anak tetangga kalian sekaligus pacarnya Ifsan, begitu?" tanya Fatma yang diangguki oleh kedua kakak-beradik itu. Berbeda dengan Aila yang kini hanya bisa menatap tajam ke arah Ifsan dan juga Wildan.
"Aila," panggil Fatma yang spontan disahuti ramah oleh Aila karena wanita itu memanggil namanya juga dengan ramah.
"Usia kamu berapa, Sayang?"
"17 tahun, Tante," jawab Aila seadanya.
"Kamu udah lulus sekolah? Mau lanjut kuliah atau gimana?"
Aila terdiam cukup lama sampai akhirnya membuka suara, "hm, Aila memutuskan untuk gap-year dulu, Tan. Aila masih bingung harus kemana setelah ini," jawabnya seraya menunduk dalam. Sejujurnya ia malu dan takut menjawab pertanyaan Fatma barusan. Ia takut wanita itu akan memandangnya jelek atau bahkan memberikan seribu satu hinaan yang berkedok wejangan.
Sampai ... ia merasakan gerakan sofa dan pelukan dari samping. "Gapapa, Sayang. Nanti Bunda akan bantu kamu. It's okay," ujar Fatma menenangkan Aila yang sudah menggigit bibir bawahnya kuat-kuat karena menahan haru. Gadis itu menatap ketiga pria yang saat ini menatapnya dengan senyum tulus.
Fatma melepaskan pelukannya dan membingkai wajah bulat Aila dengan kedua tangannya. "Kamu tadi berantem sama Ifsan, 'kan? Dia ngapain kamu? Bilang sama Bunda. Kata Wildan dia jambak rambut kamu? Bener itu, Sayang?" tanyanya beruntun.
"Bundaa jangan ikut campur!" ujar Ifsan setengah merengek. Hal ini tentu membuat Aila sedikit-banyak terkejut.
Aila melirik ke arah dua pria kakak-beradik itu, meminta jawaban atas pertanyaan Fatma terkait drama yang mereka lakukan tadi. Fatma menoleh ke belakang, mengikuti arah pandang Aila yang merujuk pada kedua putranya yang saat ini tengah menghindari tatapannya.
"Itu gak sakit kok, Tante. Mas Ifsan sedikit emosi karena aku kabur-kaburan terus tadi," bohong Aila yang mau tidak mau harus mengikuti alur drama yang dibuat kakak-beradik itu.
Fatma menoleh cepat ke arah Ifsan, lalu menghampiri putranya tersebut dan memberikan jambakan di rambutnya. Gerakan cepat Fatma tersebut tak bisa dicegah oleh siapa pun, termasuk Anthony yang kini berusaha melepaskan putranya dari cengkraman sang istri. Wildan sendiri sudah terbahak-bahak di tempatnya, sangat berbeda dengan Aila yang kini meringis ngilu sekaligus merasa sangat bersalah pada Ifsan.
"Bunda gak pernah ngajarin kamu buat main tangan sama perempuan ya, San! Kamu buat malu Bunda aja! Mau kamu Bunda masukin lagi ke dalem perut, hah?!" omel wanita itu tak kunjung melepaskan jambakannya di rambut sang putra.
"Aduh, ampun Bundaa! Ai, Mas minta maaf. Gak lagi-lagi main tangan sama kamu," ringis Ifsan diselingi dengan permintaan maafnya pada Aila.
Aila langsung beranjak menghampiri mereka. "Tante, udah tante ... kasian Mas Ifsan-nya."
Fatma menghembuskan napas kasar mendengar perkataan Aila yang memohon seperti itu padanya. "Aila, nanti kalau Ifsan main tangan lagi sama kamu, langsung putusin dia! Abis itu kamu lapor Bunda, oke?!" Aila mengangguk patuh.
"Bunda sama ayah nginep sampe lusa di sini. Wil, siapin kamar untuk Bunda!" perintah Fatma masih menyentak-nyentak. Sepertinya wanita itu masih terbawa emosinya terkait masalah Ifsan yang katanya main tangan dengan Aila.
Wildan mengatur dirinya agar berhenti tertawa, ia langsung beranjak dari duduknya untuk menunjukkan kamar tamu yang sudah ia persiapkan sebelumnya. "Udah kok, Bun. Ayo Wildan antar ke kamar," tawarnya seraya membawakan tas milik bundanya.
__ADS_1
Aila dengan ragu-ragu menyentuh kepala Ifsan yang dijambak Fatma tadi, lalu mengusapnya lembut saat ringisan Ifsan kembali terdengar. "Maafin Aila," cicit gadis itu masih terdengar, baik di telinga Ifsan maupun Anthony.
"Ngapain kamu yang minta maaf? Wildan noh br*ngsek kompor aja," gerutu Ifsan.
"Mas Wildan, Mas," koreksi Aila yang langsung mendapat delikan tajam dari Ifsan.
"San ....," panggil Anthony dengan nada memperingatkan sang putra.
Ifsan berdecak kesal. "Pusing, Yah! Cobain deh sendiri!" geramnya membuat Aila yang berada di sebelahnya berjengit kaget.
"Aila harus apa dong? Salah sendiri Mas Ifsan-"
Perkataan Aila langsung terputus karena Ifsan dengan sigap membekap mulut gadis itu dengan tangannya. Dan tentu saja perlakuannya terhadap Aila itu sontak mendapat delikan tajam dari sang ayah, namun dengan secepat kilat Ifsan mengecup punggung tangannya yang sedang membekap mulut Aila.
"Diem, duduk di sini, terus usap kepala Mas. Get it?" Aila menganggukkan kepalanya kaku mendengar perintah tegas Ifsan.
Anthony yang mengira putranya akan bertindak kasar pun mendengus sebal saat melihat putranya justru sedang memodusi pacarnya. Ia pun menyusul sang istri ke kamar yang disiapkan oleh sang putra untuk mereka berdua.
"Om udah pergi," bisik Aila yang rupanya diam-diam mematai pergerakan Anthony.
"Aila mau pulang," ujar Aila pelan.
"Gak usah di sini aja. Di rumah kamu gak ada orang. Kamu abis vaksin. Mending kamu istirahat di sini karena ada Bunda yang ngurusin." Ifsan mengambil remote tv dan mencari saluran yang bagus.
"Itu aja, Mas. Jam segini biasanya ada drama Korea. Kalau ga salah yang lagi tayang di tv tuh Goblin. Seru banget jalan ceritanya. Udah gitu ada Gong Yoo oppa, sama Lee Dong Wook oppa yang ganteng hehe." Awalnya Ifsan penasaran karena Aila bilang jalan ceritanya seru, namun saat gadis itu memuji pemain drama itu, Ifsan langsung menggantinya ke saluran yang lain. Bisa ia dengar ******* kecewa Aila karena ia mengganti saluran televisinya.
"Gak seru banget," keluh Aila yang tidak dihiraukan oleh Ifsan.
Ifsan memberhentikannya di saluran televisi yang sangat digandrungi oleh ibu-ibu termasuk bundanya, ia sengaja mengencangkan volume suaranya agar sang bunda ikut nimbrung bersamanya dan Aila jadi sungkan untuk meminta ganti ke saluran televisi yang terdapat drama Koreanya.
"Mas, sebentar aja. Dijamin Mas Ifsan bakal suka juga karena emang jalan ceritanya bagus," rayu Aila masih berusaha membujuk Ifsan demi bisa menonton salah satu drama kesukaannya di televisi.
"Udah nonton ini aja. Seru kok," ujar Ifsan menolak untuk menggantinya.
Dan sesuai dugaan Ifsan, bundanya kembali saat mendengar opening filmnya. "Oh Naku! Ya udah deh gapapa Mas gak usah ganti."
__ADS_1
Ifsan mengernyitkan dahinya mendengar Aila yang tiba-tiba antusias setelah mendengar opening film india tersebut. "Oh udah sampe sini," gumam Aila masih terdengar oleh Ifsan.
"Kamu suka nonton ginian juga, Ai?" tanya Fatma yang diangguki antusias oleh Aila.
"Gak semua sih, tapi kalau serial Naku aku suka," terang Aila dengan kedua mata berbinar.
"Nanti abis ini kasian tau, Mas, Tan."
"Kenapa emang?" tanya Ifsan masih sedikit tidak percaya jika Aila suka nonton serial India seperti ini. Fatma yang penasaran pun ikut duduk di samping sang putra, ingin mendengar penjelasan Aila lebih lanjut.
Aila sekilas melirik ke arah Fatma. "Tapi nanti jadinya spoiler. Aila udah nonton serial ini sebelumnya sekali. Masih inget-inget dikit jalan ceritanya. Gapapa, Tan?" tanyanya pada Fatma meminta izin.
Fatma mengangguk semangat. "Gapapa, Ai. Tante juga jadi penasaran denger cerita kamu tadi sekilas."
"Jadi, Tante-"
"Bunda!"
"Bunda?"
"Kamu panggilnya Bunda jangan Tante," terang Ifsan.
"Ok. Jadi gini, Bun ... nanti tuan Dutta nya itu diculik, trus si Naku ngejar-ngejar gitu. Pokoknya sedih deh, Tan." Saat Aila menjelaskan itu, ia menurunkan tangannya dari kepala Ifsan dan tangannya bergerak secara otomatis mengilustrasikan apa yang ia jelaskan pada Fatma.
"Bunda," tekan Fatma mengingatkan.
"Eh iya, Bunda. Pokoknya nanti si Naku kecelakaan terus hanyut sampe terdampar di pantai gitu, nanti juga si Naku jadi stress juga tau, Bun."
"Yah terus gimana itu si Naku?"
"Tapi Bunda tenang aja. Si Naku nanti ketemu babang ganteng, namanya Digu. Terus maap nih nanti ngancurin ekspektasi Bunda ... nanti pemeran tuan Dutta-nya diganti sama yang main jadi Abhi di kumkum Bhagya." Penjelasan Aila barusan mengundang reaksi yang sangat kontras antara ibu dan anak itu.
"Ganti aja lah sama yang lain," ujar Ifsan hendak mengganti saluran televisinya dan langsung dicegah oleh sang bunda.
Ifsan mendapat pukulan di kepalanya dari Fatma dengan remote televisinya. "Enak aja kamu! Bunda sama Aila mau nonton ini. Kamu kalau gak mau ikut nonton pegi aja sana jauh-jauh. Hush!" usir Fatma persis seperti sedang mengusir kucing.
__ADS_1
Ifsan hanya bisa menghela napas panjang saat melihat bundanya memonopoli Aila. Padahal ia sudah nyaman diusap-usap seperti tadi, tapi gadis itu malah dipindah tempat menjadi di sebelah bundanya untuk menonton serial India bersama.