
"Ai, ini dari bunda. Bunda nitip ini buat kamu sebelum dia pulang tadi siang," ujar Ifsan seraya menyodorkan scarf polos berwarna coklat susu pada Aila.
"Eh engga, Mas! Aku gak enak nerimanya. Beliau kasih itu pasti karena dia ngira aku pacar Mas Ifsan. Aku kan bukan pacarnya Mas Ifsan, gak pantes." Aila menolak scarf itu dengan sopan meskipun ia sangat menyukainya.
Tidak memperdulikan perkataan Aila barusan, Ifsan menarik tangan gadis itu dan menaruh scarf itu di sana. "Kalau kamu gak mau, kamu ngomong sendiri sama bunda. Mas gak mau nanti kena getah karena gak berhasil ngasih ini ke kamu."
"Kalau gitu ... scarf-nya aku terima ya, Mas. Terima kasih, sama tolong sampein salamku buat bunda, ya." Ifsan tidak berkata apa pun dan hanya mengusap kepalanya sebelum pergi dari sana dengan motor besarnya.
Tiara menghampiri kakaknya yang masih terdiam di depan rumah seraya memegang scarf di tangannya. "Ngapain lo ngejedok di depan rumah gini? Mas Ifsan ngasih apaan? Lo pacaran sama tuh orang?" Belum sempat dijawab segala rentetan pertanyaannya oleh Aila, Tiara kembali berteriak mengadu pada ibunya, "Maa si Aila pacaran sama tetangga seberang!!"
Sontak Aila gelagapan di tempatnya dan ia hanya tersenyum canggung pada tetangganya lainnya yang sedang melintas di depan rumahnya. "Si*lan lo!" maki Aila seraya menendang motor baru adiknya.
"HEH MOTOR GUA!" teriak Tiara histeris. Gadis itu langsung turun dari motor matic barunya itu dan siap menerjang sang kakak yang kini berlari kabur masuk ke dalam rumah.
"Keluar lo, Aila! Gua gedik pala lo!" teriak Tiara menggedor-gedor pintu kamar Aila yang sudah terkunci dengan beringas.
Ibu dari kedua kakak-beradik itu spontan mendekati Tiara untuk menenangkan putri bungsunya. "Ara, udah. Mending kamu buruan berangkat. Kalau bisa jangan seharian, itu motor baru, hati-hati pakeknya, parkirnya juga jangan sembarangan karena lagi musim maling. Gih sana berangkat!"
Tiara berdecak kesal, belum puas kalau tidak memukul sang kakak yang telah berani menendang motor barunya. Tiara menendang pintu kamar Aila sebelum pergi dari sana.
Setelah mendengar suara mesin motor yang menjauh, barulah Aila keluar dari kamarnya meskipun hanya dengan kepalanya saja yang menyembul keluar. "Ara udah pergi, Ma?" tanya gadis itu yang langsung mendapat tatapan tajam dari ibunya.
"Kamu tuh, udah tau adeknya sumbu pendek. Cari perkara terus tiap hari," omel wanita setengah baya itu sebelum kembali mencuci piring di dapur.
Aila diam saja mendengar kelanjutan gerutuan sang ibu yang berada di area belakang rumah itu. Ia justru sibuk membalas pesan teman-temannya yang mengajaknya keluar sore ini. Panas juga lama-lama mendengar gerutuan sang ibu yang mengungkit semua kesalahan yang pernah ia lakukan semasa hidupnya, Aila pun menyetujui ajakan teman-temannya dan meminta mereka untuk menjemputnya karena ia tidak bisa membawa sepeda motor setelah matahari terbenam.
Tidak sampai sepuluh menit, Taufik sudah ada di depan rumahnya dengan pakaian santai. Aila hanya perlu membawa ponsel dan sling bag miliknya yang selalu berisikan uang.
Taufik yang tidak ingin direpeti oleh Aila pun berinisiatif menurunkan foot step motornya. "Wih, anak bontot pengertian banget," puji gadis itu sebelum naik.
"Iya lah gua. Eh anak-anak yang lain gimana? Ini kita langsung ke sana apa tunggu dulu?"
Aila membuka chat grup khusus anggota perempuan mereka dan menanyakan apakah mereka udah siap semua atau belum. Namun karena jawaban mereka yang sepertinya belum siap, Aila pun memutuskan untuk langsung ke cafe tempat mereka biasa nongkrong. "Langsung jalan aja, Be," ujarnya yang tentu saja diikuti oleh Taufik.
Interaksi keduanya pun tanpa mereka sadari tengah diperhatian oleh Wildan yang juga sedang bersiap untuk pergi keluar. Dalam hati ia mensyukuri ketidakberadaan Ifsan di rumah saat ini. Kalau adiknya itu ada di rumah dan melihat ini semua, ia bisa menjadi korban samsak emosi pria itu.
__ADS_1
"Gimana? Udah pada jalan ke sini?" tanya Taufik yang baru saja selesai berbicara dengan si empunya tempat makan angkringan.
Aila mengaduk minumannya, bosan menunggu teman-temannya yang tak kunjung datang. "Gua yakin, ujung-ujungnya mereka gak bakal ada yang dateng."
"Untung minggu depan gua gak pulang," balas Taufik masih diselingi tawa.
From, Mas Ifsan: Ai, kamu di mari nongkrong?
"Kenapa, Ai?" tanya Taufik ketika melihat dahi Aila mengerut dalam saat membaca pesan di ponselnya.
Aila menggelengkan kepala disertai senyuman tipis. "Ah engga. Ini mah si Ara mengribet," ujarnya yang diangguki pelan oleh Taufik.
"Disuruh pulang?" Aila hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban dari pertanyaan Taufik.
Aila to Mas Ifsan: Iya mau malmingan ama anak-anak.
Mas Ifsan to Aila: Berdua aja?
Aila sontak celingukan setelah membaca pesan yang dikirimkan oleh Ifsan padanya. Taufik yang memang memperhatikan Aila sejak tadi pun turut celingukan mengikuti Aila. "Lo nyari apaan, Ai?" tanya laki-laki itu sukses mengalihkan perhatian Aila padanya.
__ADS_1
"Ah engga," kilah gadis itu kembali fokus pada ponselnya.
Taufik yang penasaran pun melirik sekilas pada layar ponsel Aila. Bisa ia lihat Aila sedang membalas chat seorang pria. Ia tidak tahu pasti siapanya karena hanya mengintip sekilas, tapi yang jelas Aila sangat serius sekali membalas chat pria itu.
Aila to Mas Ifsan: Mas dimana?
Mas Ifsan to Aila: Seberang
Aila langsung bangkit dari duduknya. "Pik, lo tunggu sini bentar ya," ujarnya sebelum pergi keluar angkringan. Kedua mata gadis itu menyipit untuk melihat jelas bangunan yang ada di seberang angkringan tempatnya berdiri. Dalam hati Aila mengumpat kesal karena penglihatannya sangat buruk setelah matahari terbenam.
Drrtt!
Mas Ifsan is calling...
Aila langsung mengangkat panggilan itu. "Mas dimana sih?" tanyanya tanpa salam pembuka terlebih dahulu.
"Masuk, Ai. Gerimis." Alih-alih menjawab pertanyaan Aila, Ifsan malah menyuruhnya kembali masuk ke angkringan.
"Mas dimana dulu?" tanya Aila lagi dan kali ini terdengar menuntut.
Hening untuk beberapa saat.
"Mas mau pulang. Tutup ya," ujar Ifsan yang langsung menutup panggilan teleponnya. Hal ini tentu saja menimbulkan kerutan kesal di dahi Aila. Gadis itu menoleh ke arah jam sebelas saat mendengar suara motor yang sangat familiar di telinganya.
Aila bertolak pinggang melihat itu.
"Ai, makanan lo udah mateng semua," ujar Taufik sedikit membuatnya terkejut. Ia pun membuntuti temannya itu masuk ke dalam angkringan. Di sela kegiatan makan, mereka bercerita tentang kegiatan mereka selama dua minggu tidak bertemu, atau lebih tepatnya Aila mendengarkan cerita tentang keseharian Taufik yang mulai mengekost sendiri.
Seakan tidak ingat jika mereka seharusnya merasa kesal karena yang lain tidak datang dan menepati janjinya, keduanya sangat asyik bercerita satu sama lain, saking asyiknya ... mereka tidak sadar dengan waktu yang terus berjalan dan hari semakin malam.
Drrrt! Drrtt!
From, Mas Ifsan: Jangan terlalu malem.
From, Ara: Pulang bego!
__ADS_1
"Ara?" tebak Taufik yang langsung diangguki oleh Aila.