Cinta lima sepuluh langkah

Cinta lima sepuluh langkah
6 - Sisi Lain


__ADS_3

Ifsan menghembuskan napas panjang melihat Aila yang masih terlelap dengan peluh di sekujur tubuhnya. Ia merasa tak habis pikir dan sedikit merasa kesal karena gadis itu sakit di saat semua orang yang ada di rumahnya pergi semua dan gadis itu tidak meminta bantuan siapa pun sama sekali. Kalau saja bukan karena teman-teman Aila yang berinisiatif mengunjungi gadis itu, ia tidak bisa membayangkan bagaimana kondisi gadis itu nanti.


Tangannya bergerak spontan mengambil handuk kering yang disiapkan temannya Aila untuk mengelap tubuh Aila yang terus mengeluarkan keringat. Merasa sentuhan handuk di tubuhnya, Aila mengerjapkan kedua matanya untuk berusaha menyesuaikan cahaya ruangan yang masuk ke dalam matanya. Ifsan yang memang tidak melepaskan pandangannya dari Aila pun mendekatkan telinganya. "Aus," lirih gadis itu.


Tanpa berkata apa pun, Ifsan keluar kamar Aila untuk mengambil segelas air. Ponselnya berdering menampilkan nama kontak sang kakak di layarnya.


"Dapet ga?" tanya Ifsan begitu mengangkat panggilan Wildan.


"Ya udah lo cantolin aja di pager, nanti gua ambil."


"Ya iya. Katanya ke Depok ada acara keluarga besar gitu sih tadi ngomongnya. Gua juga gak nanya lebih lanjut."


"Gak tau kayanya, tadi sih mamanya cuma nitip kunci rumah cadangan aja, sama bilang kalau ada Aila kok di rumah, beliau gak pesen apa-apa lagi."


Ifsan mendorong pintu kamar Aila yang sidikit tertutup dengan sikunya karena kedua tangannya sibuk memegang ponsel dan gelas secara bersamaan. "Gua aja tau dari temen-temennya. Kalau mereka gak minta gua buat buka pintu rumah si Aila pake kunci cadangan, gak bakal ada yang tau kalau si Aila sakit," balasnya tanpa sadar menaikkan intonasi nada bicaranya pada Wildan di telepon tersebut.


Aila sendiri sedang bersusah payah untuk bangun dan bersandar pada kepala ranjangnya. Dalam hati ia menggerutu kesal karena Ifsan malah sibuk mengobrol di teleponnya alih-alih membantunya duduk. Demi apa pun ia merasa sangat lemas dan tidak bertenaga! Ini pasti karena tidak adanya makanan yang masuk ke perutnya sejak siang tadi.


"Aus iihh!" rengek Aila mengejutkan Ifsan. Pria itu langsung menutup telepon secara sepihak karena terkejut. Sepertinya Aila benar-benar kehausan sampai-sampai untuk pertama kalinya ia mendengar gadis itu merengek seperti ini padanya.


Setelah menggeletakkan ponselnya asal di tempat buku Aila, Ifsan membantu gadis itu untuk melepas dahaganya. "Gimana? Masih pusing?" tanya Ifsan seraya meletakkan gelas yang ada di tangannya di nakas sebelah ranjang Aila.


"Sedikit," balas gadis itu canggung.


"Mas keluar sebentar," pamit Ifsan yang hanya diangguki kepala pelan oleh Aila. Dalam hati Aila menyesali tingkahnya yang kekanakan tadi. Bisa-bisanya ia tidak bisa mengontrol dirinya di depan Ifsan dan merengek seperti tadi. Pasti laki-laki itu merasa aneh dan ilfeel padanya. Rusak sudah citra juteknya di hadapan laki-laki itu.


Di sisi lain Ifsan masih sedikit terkejut dengan rengekan Aila. Demi apa pun itu terlihat manis di matanya, tidak seperti Aila yang biasanya.

__ADS_1


"Lo ngapain?" tanya Ifsan saat mendapati sang kakak berdiri di depan gerbang rumah Aila dengan sekantung plastik di tangannya.


Setelah dibukakan gerbang, Wildan menyelonong masuk tanpa bisa Ifsan cegah. "Ikut di sini lah gua, cewe-cowo gak boleh berduaan aja kalo malem-malem gini. Lagian gua sekalian mau jenguk."


"Serah lo," ujar Ifsan merebut bungkusan yang ada di tangan sang kakak, lalu masuk ke dalam diikuti dengan Wildan di belakangnya.


Ifsan pergi ke dapur terlebih dahulu untuk memindahkan makanan tadi ke mangkuk, sedangkan Wildan langsung menuju kamar Aila untuk segera melihat kondisi gadis itu.


Tok tok!


Wildan terlebih dahulu mengetuk pintu kamar Aila yang terbuka setengah sebelum benar-benar masuk ke dalam. "Gimana, La?" tanyanya tidak berani mendekat. Karena melihat Aila sampai terperanjat kaget saat melihatnya, pria itu memutuskan untuk menjaga jarak dengan tetap berdiri di dekat pintu.


Aila tersenyum canggung. Demi apa pun ia benar-benar merutuki hari ini, dan menetapkannya sebagai hari tersialnya dalam tahun ini. Bagaimana bisa ia dijenguk sekaligus dijaga oleh dua kakak-beradik yang paling dibencinya?


Bertemu atau berinteraksi dengan salah satu dari mereka saja bisa membuat perasaannya dongkol, lalu sekarang ia harus berhadapan dengan kedua orang ini di waktu yang bersamaan seperti ini?!


Wildan tersenyum kaku karena ia juga bingung menghadapi anak tetangganya yang terkenal pendiam dan jutek ini. "Kalau gitu Mas di ruang tengah, ya. Nanti kalau kamu perlu sesuatu, kamu teriak aja."


"Ok," balas Aila pelan.


Ifsan masuk dengan mangkuk dan teko air di tangannya. "Makasih ya, Mas," ujar Aila saat melihat pria itu kembali masuk ke kamarnya dengan makanan dan minuman untuknya. Meski Aila tidak menyukai pria ini, bukan berarti Aila tidak tahu cara berterima kasih pada orang yang sudah membantunya.


"Hm, sama-sama. Sekarang ayo makan dulu," ujar Ifsan yang sudah siap akan menyuapi Aila. Keduanya saling diam ketika Aila mengangkat tangannya.


"Kamu ngapain?" tanya Ifsan membuat dahi Aila berkerut.


"Minta mangkoknya. Kata Mas aku disuruh makan?"

__ADS_1


"Mas suapin. Mending kamu balesin chat temen-temen kamu. Mereka khawatir banget tadi, tapi karena katanya mereka ada acara ... akhirnya mereka nitipin kamu sama Mas. Ayo aaa." Ifsan langsung menyodorkan sesendok sup ke mulut Aila. Walau canggung, Aila pun akhirnya membuka mulutnya patuh karena tidak ada tenaga untuk berdebat.


"Terlalu panas ga?" tanya Ifsan yang mendapat gelengan kepala dari Aila. Gadis itu repot menyingkirkan helaian rambut yang hampir masuk ke mulutnya. Ifsan yang melihat itu pun berinisiatif untuk membantu Aila, tapi rupanya gadis itu bisa menanganinya sendiri.


Sambil mengikat rambutnya asal dengan kunciran yang memang selalu ada di pergelangan tangannya, Aila bertanya, "mereka kasih tau Mas gak ada acara apa?"


"Ulang tahun gitu. Mereka juga bilang bakal ke sini lagi nanti." Aila hanya manggut-manggut mendengar penjelasan Ifsan padanya. Sekarang fokus gadis itu sudah beralih pada ponsel di tangannya. Banyak sekali notifikasi panggilan yang tidak terjawab dan beberapa pesan dari teman-temannya yang belum ia baca. Sementara itu, Ifsan terus menyuapi Aila dengan telatennya. Mereka bahkan tidak sadar jika Wildan sedang memperhatikan keduanya dari luar.


"Aku ga mau ijo-ijonya," ujar Aila dengan tatapan yang kini menatap lurus ke arah sendok di tangan Ifsan.


Alis Ifsan terangkat sebelah. "Kenapa?" tanyanya menanyakan alasan gadis itu enggan memakan suapannya kali ini.


"Gak suka sayur," jawab Aila cepat.


Kini dahi Ifsan berkerut mendengarnya. "Tapi tadi kamu makan wortelnya, Ai? Bahkan tadi kol nya kamu makan ...."


"Emang iya?" tanya Aila yang rupanya tidak sadar sudah berhasil menelan makanan yang paling dibencinya itu.


"Iya. Kamu terlalu fokus sama hp kamu, makanya gak ngeh. Udah sekarang buka lagi mulutnya," perintah Ifsan tak juga menyingkirkan sayuran di sendoknya. Hal ini sontak membuat Aila menggelengkan kepalanya enggan membuka mulut, gadis itu bahkan semakin rapat menutup mulutnya.


Dalam hatinya sendiri Aila tidak yakin dan percaya dengan jawaban Ifsan tadi. Mana mungkin ia bisa menelan makanan hijau-hijau itu. Seumur-umur ia tidak bisa lagi menelan makanan hijau itu sejak menginjak bangku Sekolah Dasar, setelahnya sampai saat ini lidahnya seakan menolak kehadiran makanan sejenis dedaunan itu dan selalu berakhir memuntahkan dedaunan itu keluar dari mulutnya.


"Ai, pegel ini tangan Mas," keluh Ifsan.


Aila menggelengkan kepalanya. "Singkirin dulu," jawabnya dengan secepat kilat kembali menutup mulutnya rapat-rapat.


Ifsan menghembuskan napas kasar, ia mengalah menyingkirkan semua sayuran itu sesuai permintaan Aila. Gadis itu akhirnya kembali membuka mulutnya dan tersenyum menang setelahnya.

__ADS_1


__ADS_2