
Setelah memasuki kamarnya, barulah Aila membalas pesan yang dikirimkan Ifsan padanya.
To, Mas Ifsan: Udah pulang.
Aila menatap ponselnya selama beberapa menit karena merasa ada yang janggal. Dahinya mengerut memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang membuatnya merasa seperti itu. "Kenapa gua pake ngabarin kalau udah pulang?!" sesalnya seraya melempar ponselnya menjauh, seakan ngeri dengan apa yang dilakukannya beberapa menit yang lalu. Kenapa jari-jarinya dengan sangat santai mengabari Ifsan seolah-olah sudah menjadi kebiasaannya mengabari segala hal pada pria itu?! pikir Aila bergidik merinding.
Aila yang niat awalnya tidak ingin mandi dan langsung rebahan, akhirnya memutuskan untuk mandi lalu membereskan segala kekacauan yang ada di dalam kamarnya. Sesekali matanya melirik ke arah ponselnya yang sama sekali tidak memunculkan tanda-tanda kehidupan di sana.
Tidak tahu harus melakukan apa lagi, Aila mengambil kembali ponselnya dan membuka aplikasi chat di sana. Bisa ia lihat pesan terakhir yang ia kirimkan pada Ifsan belum dibalas bahkan belum dibaca sama sekali. Padahal biasanya pria itu pasti langsung membalas pesannya tak lama setelah ia mengirim pesan.
Sadar akan sesuatu, Aila menampar dirinya sendiri dengan cukup kencang. "Ngapain lo nunggu balesan tuh orang?" tanyanya pada diri sendiri.
Mood Aila seketika berantakan ketika mengingat kejadian di angkringan tadi. Dengan cepat ia membuka ruang grup chat-nya bersama teman-teman dekatnya itu.
Aila:
Bagus banget anj lo semua
Gua nungguin di sana berdua sama opik sampe malem gada dari kalian yang muncul
Putri:
Maap kanjeng ratu, saya basah kuyup jdi lgsng balik
Riska:
Gw juga kejebak ujan.
Gw kira lo semua udh pada balik, tau gitu gua nyusul lu tdi
Angel:
Klo gua kn udah bilang klo gua gak bisa
Checillia:
Hayolohh
Aila:
__ADS_1
Hilih-hilih bicit ki simii
Semakin malam, semakin sedikit dari keempat temannya yang membalas pesannya di ruang grup chat. Tandanya Aila sudah seharusnya turut memejamkan kedua matanya seperti teman-temannya. Namun hingga hari telah berganti pun Aila tak kunjung memejamkan kedua matanya. Gadis itu malah berjalan-jalan gelisah di dalam kamarnya.
Sampai pada akhirnya Aila keluar dari rumah dengan jaket yang tersampir di pundaknya, berjalan-jalan tak tentu arah seraya mendengarkan musik dari earphone yang menyumbat telinganya. Sesekali gadis itu mendongak dan berhenti untuk menatapi bulan dan bintang yang ada di atas sana, tanpa menyadari sosok pria yang sudah mengikutinya dari awal ia keluar dari rumah.
Aila kembali melanjutkan langkahnya sampai ke lapangan basket dekat pos ronda 2, yang mana merupakan tempat paling sepi di kompleknya begitu sudah lewat tengah malam. Tanpa menghiraukan pakaian yang tengah ia kenakan, Aila berbaring di tengah-tengah lapangan seraya memandang langit di atasnya.
Ifsan yang memperhatikan dari jauh pun tersenyum tipis melihat kebiasaan gadisnya tiap malam. Derap langkah terdengar, membuat Ifsan segera menghampiri bapak-bapak yang tengah keliling menjaga keamanan komplek mereka.
"Eh Ifsan. Kaya biasa?" tanya pak satpam yang memang sudah tau kebiasaan Ifsan dan Aila di jam segini. Ifsan tersenyum seraya mengangguk, mengiyakan pertanyaan satpam kompleknya.
"Ngapain emangnya kamu di sini, San?" tanya salah satu warga.
"Ini ... si Ifsan lagi mantau neng Aila yang suka jalan-jalan kalo tengah malem gini. Tuh bocahnya lagi tiduran di lapangan basket." Pak satpam menjelaskan seraya menunjuk lapangan basket dengan dagunya.
"Aila anak pak John?"
"Iya, Pak." Kali ini Ifsan yang menjawab.
"Kalau berkenan kaya biasa ya, Pak. Kasian nanti Aila malu kalau tau bapak-bapak ngeliat dia," ujar Ifsan meminta tolong pada pak satpam seperti biasanya.
Panik karena bapak-bapak yang lain memasang wajah curiga, Ifsan menggelengkan kepalanya cepat. "Engga-engga. Tenang aja. Saya cuma ngawasin doang ko, itung-itung ngeronda juga."
"San, kalau Bila-anak saya tau ... kamu bakal dikatain badut kaya abangnya."
Ifsan menggaruk pipinya yang tidak gatal. "Kok gitu, Pak?"
"Yaa katanya sih karena terlalu menomor satukan cewenya, makanya abangnya dikatain gitu."
"Persis! Kamu kan juga sama lagi menomor satukan si Aila sampe bela-belain sering ngeronda mandiri gini," timpal pak Satpam membuat Ifsan diam-diam meringis.
"Kalau gitu, kita lanjut jalan ya, San." Pak satpam menepuk pundak Ifsan sebelum kembali melanjutkan kegiatan rondanya bersama dengan bapak-bapak yang lain. Dan seusai kepergian mereka, Ifsan kembali mengalihkan seluruh perhatiannya pada Aila yang belum juga beranjak dari tempatnya tadi.
Tak lama, Aila bangkit dan menepuk-nepuk bagian belakang tubuhnya. Sementara itu, Ifsan bersembunyi di balik dinding pos. Pria itu menggerang kesakitan saat kakinya tak sengaja membentur ujung tembok pos. Untungnya Aila masih mengenakan earphone, sehingga ia tidak bisa mendengar suara erangan Ifsan yang masih bersembunyi di balik dinding pos.
Mendengar suara derap langkah kaki yang menjauh, sontak Ifsan menyembulkan kepalanya untuk memastikan keberadaan Aila. Ia menghembuskan napas lega karena tampaknya Aila tidak menyadari keberadaannya sama sekali dan ia mensyukuri itu. Akan tetapi, ia juga sedikit kesal karena Aila begitu apatis pada sekitarnya sampai-sampai tidak sadar sering ia ikuti seperti ini.
Memikirkan kemungkinan gadis itu tidak menyadari saat orang lain mengikutinya seperti ini- Ifsan menggelengkan kepalanya cukup kencang, berusaha membuang segala pemikiran negatifnya. Hal seperti itu tidak akan terjadi, batinnya penuh harap.
__ADS_1
Aila baru bangun dari tidurnya setelah matahari tepat berada di atas kepala, itu pun karena ponselnya yang terus berdering karena ada panggilan masuk dari Riska. Masih merasakan pening di dahinya, Aila menatap sayu ponselnya yang tergeletak asal di atas nakas. "Tadi dia ngomong apa anjir?" gumam Aila masih dengan suara serak khas bangun tidur.
Cukup lama Aila terdiam di atas kasurnya untuk sekadar mengumpulkan nyawanya, sampai deringan ponselnya kembali mengusik keheningan yang ada di rumah ini.
"Siapa yang deringin hp gua sih?! Berisik anjir!" gerutu gadis itu sebal. Meski begitu ia mengangkat panggilan dari Angel.
"Iya udah bangun. Kasih gua waktu buat cumuk," jawab Aila ogah-ogahan.
Setelah menyikat gigi dan membasuh wajahnya, Aila mengganti pakaiannya lalu memakai sunscreen terlebih dahulu. Tak lupa ia menguncir rambutnya asal dan membawa masker untuk berjaga-jaga jika teman-teman laknatnya itu memboyongnya ke tempat ramai.
Aila menghembuskan napas kasar saat mendapati suasana rumahnya yang benar-benar sepi. Orang tuanya selalu sibuk bekerja dan adiknya selalu kelayapan seharian. Yang mengurus dan menjaga rumah ini hanya dirinya. Ini ... sedikit menyebalkan, pikir gadis itu.
Suara klakson motor Riska membuatnya tersadar dan cepat-cepat mengunci pintu rumahnya, ia juga tidak lupa untuk mengunci pintu gerbangnya. Sejenak ia melihat ke arah rumah yang ada di seberang rumahnya, hanya beberapa langkah, namun rasanya berat sekali untuk melangkahkan kakinya ke sana.
To, Mas Ifsan:
Mas di rumah?
Kunci cadangan rumnah Aila masih ada 'kan, Mas?
Aila minta mau tolong ... titip rumah ya?
Diusahain gak lama.
__ADS_1
Usai mengirim itu semua, Aila segera naik ke jok bagian belakang motor scoopy merah milik Riska.