Cinta lima sepuluh langkah

Cinta lima sepuluh langkah
11 - Pulang Bersama


__ADS_3

"Mas, punyaku udah diambil?" tanya Aila yang baru saja kembali.


Wildan menggelengkan kepalanya pelan. "Tinggal punya kamu sama Adit aja nih yang belum. Bapak-bapak yang lain tadi udah pamit duluan karena katanya ada urusan lagi setelah ini." Ekspresi wajah Aila sedikit memelas mendengar penjelasan Wildan barusan.


"Mas Wildan udah?"


"Udah dong. Gak lama abis kamu pamit, nama mas dipanggil."


"Berarti tinggal Aila sama Mas Adit aja ya?" tanya Aila seraya menoleh ke arah Adit yang sedang seksama mendengarkan panitia memanggil nama-nama orang yang sudah divaksin.


"Iya nih, Ai. Untung Wildan mau nunggu kita, kalau engga pulang jalan kaki kita."


Aila tersenyum canggung mendengar itu. "Makasih, Mas."


Wildan membalas senyum Aila dengan senyum tipis. "Nope."


Mereka terdiam sampai akhirnya nama Adit dipanggil. "Duluan, Ai."


Aila merengut karena akhirnya tinggal dirinya yang belum mendapatkan sertifikat vaksin. Harusnya ia mengikuti saran Ifsan untuk print sendiri sertifikat vaksin tersebut. Jadi, ia tidak menyusahkan orang lain seperti ini. Wildan menepuk-nepuk pundak Aila pelan, menyadarkan gadis itu karena nama Aila dipanggil barusan.


Dengan semangat Aila menjemput sertifikatnya di panitia yang letaknya cukup jauh dari tempatnya berdiri. "Saya, Pak!" seru gadis itu terlalu semangat hingga beberapa orang yang juga tengah menunggu sertifikat menoleh ke arahnya.










"Loh, Aila bareng sama lo?" tanya Ifsan saat mendapati Aila duduk di samping Wildan.

__ADS_1


"Sshhtt, nanti bocahnya kebangun," tegur Wildan berbisik karena takut membangunkan Aila.


Setelah memakirkan mobilnya, Wildan turun dari mobil tanpa mematikan mesin mobilnya. "Lo yang mau angkat ke rumahnya atau gua?" tawarnya.


Alih-alih menjawab, Ifsan justru menatap rumah yang ada di seberang sana dengan tatapan menerawang. "Heh! Ditanyain malah diem aja. Berarti gua aja ya, yang mulangin?"


"Bawa kamar gua aja," jawab Ifsan seraya menatap lurus Aila yang tengah tertidur di dalam sana dan sontak saja mendapat toyoran lumayan kencang di kepalanya.


"Yang bener aja dong!"


"Bener. Denger." Ifsan memajukan tubuhnya mendekati Wildan lalu berbisik, "beberapa jam yang lalu rumah seberang baru selesai ribut. Orang tuanya Aila pada pergi, adeknya juga pergi sama temennya. Biarin dia istirahat di sini dulu, takut-takut dia demam atau kenapa-napa dan gak ada yang ngurus." Wildan mengangguk-angguk mengerti.


"Eh tapi, nyokap nanti sore mau ke sini. Lo yakin bisa ngadepinnya nanti?" tanya Wildan teringat dengan perkataan bundanya yang akan datang untuk melihat keadaan mereka nanti sore.


"Tenang aja. Bunda bakal suka kok sama Aila." Wildan tepuk jidat mendengar jawaban Ifsan yang salah sangka dengan pertanyaannnya. Padahal maksud dia itu adalah bisa tidak Ifsan menangani Aila yang kemungkinan akan sangat shock saat terbangun nanti, bukan tanggapan bundanya terkait Aila.


"Bukan itu maksud gua, tapi terserah lo deh," ujar Wildan langsung melengos ke dalam. Dalam hati ia merutuki kebodohan sang adik terhadap semua hal yang berhubungan dengan Aila.


Dahi Ifsan mengerut dalam. "Apaan sih ga jelas lo, tua!" makinya setelah punggung Wildan tak terlihat lagi di matanya.


Teringat dengan gadisnya yang masih di dalam mobil, Ifsan pun membuka pintu mobil, lalu mengangkat tubuh Aila dengan perlahan dan sangat hati-hati karena tidak ingin sampai membangunkan gadis itu dari tidurnya. Setelah berhasil menutup pintu mobil dengan kakinya, Ifsan membawa Aila masuk ke rumahnya.


"Mobil gua blom dimatiin?" tanya Wildan dengan suara lirih. Pria itu hampir melempar Ifsan dengan meja di hadapannya saat melihat adiknya itu menggelengkan kepala dengan ekspresi wajah innocent-nya dan cepat-cepat melengos ke kamar untuk menaruh Aila di sana.


"Gimana abis vaksin?" tanya Ifsan yang rupanya sudah selesai mengurus gadisnya dan tengah bersantai menonton televisi di ruang tengah.


"Gua aman si, cuma emang tangan gua kek beku sebelah. Untung masih bisa nyetir satu tangan." Ifsan mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar penjelasan Wildan barusan.


"Hubungan lo gimana sama Aila jadinya? Lo serius sama dia?"


Ifsan mengangkat kedua bahunya. "Gak tau. Dia selalu bangun tembok gede supaya gua gak bisa ngedeketin dia. Kalau dibilang serius atau engganya. Ya, gua serius. Buat apa gua mutusin Renata kalau cuma buat main-main doang sama si Aila."


Wildan memutar tubuhnya menghadap sang adik karena sangat tertarik dengan arah pembicaraan mereka saat ini. "Eh tapi gua penasaran ... lo bisa suka sama si Aila tuh darimananya? Maksud gua alasan lo suka sama dia tuh apa?" Ifsan menatap sang kakak dengan tatapan datar dengan cukup lama, meskipun begitu Ifsan tak kunjung menjawab pertanyaan Wildan.


"Woy! Gua penasaran ah elah!" keluh Wildan melempari tisu ke kepala adiknya.


"Gak tau gua juga. Ya, gua tiba-tiba aja demen liat tuh bocah. Penasaran juga kenapa dia sering banget jalan-jalan keliling komplek tengah malem, abis itu tertutup banget bocahnya. Lo inget waktu dia sakit waktu itu? Dia gak kaya Aila yang biasanya kita liat 'kan sehari-hari?"


Wildan menatap serius sang adik. "San, gimana kalau misalnya lo ini cuma sekadar penasaran aja sama Aila? Bukan perasaan romantis yang selama ini kita kira?" ujarnya memberikan kemungkinan dari penjelasan adiknya barusan.

__ADS_1


Ifsan menggelengkan kepalanya tegas. "Gak mungkin. Gua emang gatau kenapa bisa tertarik banget dan sepenasaran itu sama Aila. Tapi yang bisa gua jamin adalah ... I have totally fallen for her."


"Ok. Terus Aila sendiri gimana? Dia tau?"


"She already knows everything. Tapi yang kaya gua bilang tadi ... dia bangun tembok tinggi-tinggi supaya gua gak bisa ngedeket."


Wildan menepuk tangannya sekali dengan sangat keras hingga Wildan terperanjat dari duduknya. "Gua tau. Itu semua karena lo bukan type-nya dia. Dengan kata lain, lo jelek di mata Aila." Ifsan melotot garang mendengar perkataan sang kakak yang sangat-sangat tidak bertanggung jawab itu.


"Mulut lo mending mingkem aja," satir Ifsan.


Bel rumah mereka berbunyi, membuat kedua kakak-beradik itu saling adu pandang, berdebat lewat tatapan mata siapa di antara mereka yang akan membukakan pintu untuk orang yang ada di depan sana.


'Brak!'


Keduanya sontak menoleh ke arah kamar Ifsan karena terdengar suara benda jatuh dari sana. Ifsan berlarian kecil menuju kamarnya dan meninggalkan Wildan yang mau tidak mau harus membukakan pintu untuk orang yang ada di luar sana.


"Eh, Bun- Ayah!" Wildan sangat terkejut saat melihat bundanya bersama dengan ayahnya datang di saat yang sama dengan Aila yang mungkin saat ini sudah terbangun, mengingat ada suara aktivitas dari kamar milik adiknya tadi.


"Makasih tumpangannya, tapi Aila mau-" perkataan Aila menggantung karena gadis itu berpapasan dengan bunda Ifsan yang hendak menaruh tas dan bawaannya di ruang tengah.


"Oh, Bunda udah sampe toh. Bunda bawa apa aja?" Ifsan yang menghampiri sang bunda langsung disingkirkan karena pria itu menghalangi pandangan Fatma terhadap Aila yang masih berdiri mematung di tempatnya.


"Mm Bunda, ini Aila. Anak tetangga seberang," terang Wildan memecah keheningan di antara mereka.


Aila yang disebutkan namanya pun dengan perlahan menghampiri Fatma untuk mencium tangan wanita itu. "Halo, mm Tante? Salam kenal, saya Aila." Aila merapikan rambutnya yang berantakan setelah bangun tidur, sebelum mencium tangan pria paruh baya yang berada di samping Fatma; Anthony.


"Ifsan, Wildan?" tuntut Fatma meminta penjelasan kepada dua putranya.


"Aila pacarnya Ifsan, Bun. Mereka lagi berantem cuma gara-gara Aila pulang bareng Wildan abis vaksin tadi." Sontak bola mata Aila dan Ifsan membelalak karena terkejut dengan kebohongan Wildan barusan. Aila sudah gelagapan bingung harus menjelaskan mulai dari mana.


"Mm itu-"


Ifsan yang mendapat kode dari sang kakak pun memanfaatkan keadaan. "Ya, wajar dong, Bun. Aila kan bisa telfon aku buat minta jemput? Kenapa malah nebeng sama Mas Wildan, padahal jelas-jelas dia pacar Ifsan," ujarnya menambahi kebohongan Wildan yang mana membuat Aila semakin menganga tidak menyangka di tempatnya.


"Tante, bukan. Hmph aku tuh-"


"Liat deh, Bun! Masa Ifsan jambak rambut Aila cuma gara-gara Aila teriak marah ke Ifsan. Tuh anak keterlaluan banget 'kan, Bun?!" potong Wildan seraya mengusap puncak kepala Aila lembut penuh kasih sayang dan merapikan rambut gadis itu agar tidak terlihat konyol di depan orang tuanya. Namun sayangnya hal ini mengundang teriakan tak terima dari Ifsan.


"LEPAS GAK?!"

__ADS_1


Aila yang tidak mengerti maksud dari semuanya hanya bisa diam seraya memijit dahinya. Demi apa pun ia baru bangun tidur dan sangat terkejut saat mendapati dirinya tidak tertidur di kamarnya melainkan di kamar milik Ifsan. Lalu, ia dikejutkan lagi dengan kedatangan orang tuanya Ifsan dan mereka memergoki dirinya yang terlihat berantakan dan tengah berdebat dengan anak mereka. Tak hanya sampai di sana, kedua kakak-beradik itu sekarang bermain drama dan membawanya ikut serta ke dalam drama tersebut.


"Boys, kalian bisa diem dulu gak?!" ujar Anthony tegas membuat putra-putranya langsung diam di tempat.


__ADS_2