
Pria pendiam dan penggerutu ini nampak bingung melihat seabrek daftar menu yang tersedia di meja makan kantin Kantor tempatnya bekerja. Dia menguap perlahan sampai dia dapat mencium bau keringatnya sendiri yang bercampur keringat Para Karyawan di Gedung berlantai lima belas itu. Udara di ruangan Kantin itu begitu sesak dan seperti kehabisan oksigen.
Dia menggaruk kepalanya yang tak gatal hanya untuk menunjukkan bahwa dia bosan dengan menu yang itu-itu saja. Dia butuh sesuatu yang berbeda, makanan yang sama seperti masakan Ibunya di Solo. Bulatan daging yang dibentuk dari adonan daging sapi begitu mengiurkan untuk dinikmati dalam suasana terik siang yang mulai redup ini. Remang terlihat dari jendela gedung begitu pekat dan nampak tak bersahabat.
Dia meniup nafas panjang dan menutup buku menu dihadapannya.
"Mau kemana Bro?" Tanya teman kantornya yang bernama Beno.
Dia melihat Beno sedang asyik mengunyah empal daging favoritnya.
"Keluar, Bro." Jawab Atha pelan.
"Resign?" Beno tersentak kaget dan membelalakkan matanya.
"Ngga lah."
Beno mengelus dadanya dan perlahan duduk kembali, "fiuh, aku pikir beneran kau mau resign."
"Maksudnya kamu mau makan diluar?" Sahut Dito yang juga belum memesan makanan seperti dirinya.
Atha mengangguk.
"Diluar mahal-mahal, Bro." Seloroh Ridho yang menyeruput teh manis dengan nikmat.
"Ngga apa kan cuma sesekali." Dito dengan cepat berdiri dan menghampiri Atha.
"Sekali apaan, kau tiap hari kan selalu makan diluar." Kata Beno mengedipkan matanya pada Dito.
Dito tertawa kecil, "dasar reseh."
Beno mencoba tertawa dengan mulut penuh makanan.
"Lah memang Dito sering keluar makan dimana?" Ridho menyelidiki.
"Ada deh, rahasia perusahaan." Beno menanggapi dengan santai sambil mengerlingkan mata lagi ke Dito yang melengos pergi.
"Yuk, aku juga bosan makan bareng mereka disini." Dito jalan lebih dulu disusul Atha yang mengikuti di belakang meninggalkan Beno yang terus menggoda Dito.
"Kamu kalau diluar memang biasa makan dimana?" Tanya Atha pada Dito yang berjalan pelan.
Atha kepikiran dengan perkataan Beno tentang rahasia perusahaan.
"Aku jarang keluar sih kalau makan siang."
"Loh tadi Beno bilang kamu sering makan diluar sampai dia bilang itu rahasia perusahaan."
"Beno mah ember suka ngga jelas."
Atha mengangguk walau dia yakin itu bukan alasan yang tepat.
"Terus kita mau makan dimana?"
"Aku tuh biasanya ngga pilih-pilih tempat makan. Cuma kan aku ngekos dekat sini jadi aku biasa makan malam di sekitar sini jadi tahu mana yang enak dan kurang. Nah kalau malam sih banyak yang buka dan biasanya enak-enak. Harga juga ngga mahal-mahal amat kok sama aja kaya di Kantin malah ada yang lebih murah." Jawab Dito lancar.
"Oh yah?" Atha tak percaya.
"Iya." Dito meyakinkan.
"Kata Ridho tadi mahal." Atha mengulangi perkataan Ridho.
"Dia kan punya Tante yang buka Kantin di Kantor pasti bilang gitu lah." Dito berbisik pelan takut ada yang mendengar.
Atha mengangguk tanda mengerti.
Dia terus mengikuti langkah kaki Dito yang berjalan cepat menuju rumah makan yang berderet tak jauh dari Kantor mereka.
"Lalu makanan favorit kamu disini apa?" Atha menatap sekeliling dengan muka bingung kembali.
Dito terdiam sejenak dan menunjuk Warung Bakso yang tak jauh berada dari tempat mereka berdiri.
"Bakso?" Atha terkejut senang.
"Iya, itu Bakso favorit aku. Pelayannya eh penjualnya juga ramah dan baik banget. Walau harga sama tapi dia biasa kasih aku kenyang deh pokoknya haha." Dito tertawa kecil.
"Apa baksonya enak?" Atha ragu sesaat.
Dito memberi kode ok dengan jemari tangannya.
Atha terbayang Bakso buatan Ibunya. Apakah rasa Baksonya akan seenak buatan Ibunya? Atha memaksakan langkah kakinya menyusul langkah kaki Dito yang nampak riang menuju Warung Bakso itu.
Warung Bakso itu berada pada salah satu Ruko kecil dan nampak sederhana. Bangku dan Meja kayu tertata rapi dan sendok bersih terpajang dalam sebuah wadah bening. Salah satu pelayan disana langsung berlari kecil menghampiri. Ia begitu ramah menyambut Dito, seakan dia sudah mengenal Dito dengan baik.
"Eh ada Abang Dito." Seru salah satu pelayan wanita yang nampak riang melihat Dito datang.
"Dito, kamu dicariin mulu sama Ribka tuh. Katanya sumpah kangen banget sama gantengnya itu loh." Ledek salah satu pelayan pria bertubuh gemuk yang sedang menyajikan bakso di mangkuk.
Dito hanya tersenyum kecil dan pelayan wanita yang bernama Ribka itu tersipu malu dengan wajah memerah.
"Apaan sih lu, Brot!" Hardik Ribka malu.
"Yee daripada kelamaan ngumpetin perasaannya mending langsung nembak aja, Rib. Abang Dito juga mau pasti sama lu secara ente kan bahenol." Pelayan yang dipanggil Brot itu terus menggoda.
Dito hanya tertawa kecil membuat Ribka salah tingkah.
"Sudah ah, Brot!" Hardik Ribka lagi berusaha marah namun dengan mimik wajah memerah.
Sejenak dia mencuri pandang pada Dito.
"Abang Dito mau pesan apa?" Ribka nampak malu-malu menatap Dito.
Sebelum Dito berkata, Ribka sudah nyerocos lagi, "eh satu mangkuk bakso urat ngga pakai mie kuning, kan? Terus minumnya Kopi panas ngga pakai gula."
Dito mengangguk dengan senyuman.
"Hafal banget, Beb?" Ledek Pria yang dipanggil Brot lagi dengan kencang.
"Ganggu aja lu, Brot!" Ribka protes lagi dengan wajah yang semakin memerah.
Atha yang dari tadi melihat Ribka tertawa kecil. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya ke arah Dito. Kini dia mengerti kata rahasia perusahaan yang dikatakan Beno saat di Kantin.
Dito nampak tersipu malu melihat senyuman penuh arti dari Atha.
"Mas-nya yang ini mau pesan apa?" Tanya Ribka ke arah Atha.
"Oh, aku samain saja kaya pesanan Dito tapi jangan pakai bihun juga. Cukup tauge dan sayur." Atha memesan menu Bakso Urat yang sama dengan Dito.
"Lah kok samaan sih Mas? Selain Bakso Urat kita ada menu Bakso yang lain loh?" Ribka menunjukkan menu baksonya ke Atha.
Atha menerima menu dan melihatnya, "banyak juga yah menu baksonya?"
Ribka mengangguk penuh semangat, "iya Mas. Menu yang favorit dalam minggu ini Bakso Telur Bebek loh kalau Mas-nya mau cobain."
"Hmm boleh deh cobain Bakso Telur Bebeknya."
"Siap, ditunggu yah." Kata Ribka murah senyum.
Sepeninggal Ribka, Atha batuk perlahan sambil meledek Dito yang menatap Ribka dengan pendaran cinta di wajahnya.
"Pantas kamu ngajak aku makan disini. Ternyata ada yang kamu taksir, Bro? Ini toh yang namanya rahasia perusahaan?" Goda Atha pada Dito yang tersadar dari lamunannya memandang Ribka.
Dito tersipu malu kembali, "haha aku bilang ke Beno jangan kasih tahu siapa-siapa. Tapi aku ngga bohong kok Baksonya benar-benar enak."
"Ibuku itu suka bikin bakso, Bro dijual untuk beberapa tukang bakso yang rutin ambil tiap hari. Jadi aku tahu bakso yang enak mana dan tidak hehe." Bangga Atha.
"Oh yah?" Tanya Dito tak menyangka.
"Iya, tiap saat Ibu aku bikin adonan baru pasti korban percobaan baksonya yah itu anak-anaknya, yang paling sering itu aku dan Kak Dian."
"Oh, Kakakmu itu cantiknya kebangetan sih memang. Beno saja sampai suka banget tuh sama Kakakmu. Sayang banget sudah nikah tahun kemarin. Beno langsung putus cinta itu, haha" Dito kini membuka rahasia perusahaan milik Beno.
__ADS_1
"Loh kamu tahu juga toh?" Atha tertawa kecil.
Dito mengangguk.
"Aku juga dipaksa banget sama Beno buat ngenalin dia sama Kak Dian. Aku malas sebenarnya cuma karena aku dan Beno satu Divisi jadi terpaksa banget video call Kak Dian cuma biar Beno bisa lihat mukanya, coba." Atha mengenang Beno dengan tertawa kembali.
"Beno tuh kalau sudah suka apa aja bakal dia lakuin."
"Iya, cuma yah dia itu terlalu cuek sama penampilan jadinya Cewek juga lihat dia kaya ngga berduit padahal mereka ngga tahu Bapaknya Beno itu siapa."
"Lah kamu ngga bilang sama Kak Dian kalau Beno itu bapaknya bos kita itu?"
Atha mengangguk, "sudahlah, Bro."
"Terus?"
"Kakakku itu sama Mas Zaki kan sudah pacaran lama, Bro. Sejak mereka sama-sama SMA kelas dua kalau aku ngga salah ingat. Jadi yah sudah kepalang sayang banget."
"Oh yah jelas kalau gitu."
"Cuma yah aku kasihan aja sama Beno jadinya. Dia pas tahu Kak Dian mau nikah, langsung ngajakin aku malam-malam nancap gas mobilnya ke Puncak Bogor."
"Ngapain?" Dito kaget.
"Cuma buat makan jagung bakar sambil nangis."
"Busyet, begitu cintanya dia sampai gitu. Padahal belum pernah kan dia ketemu Kak Dian?"
"Sudahlah, Bro pas ulang tahun kantor itu kan aku ajak Kak Dian karena bosan pas dia lagi main kesini."
"Oh iya yah, aku pas lagi di Surabaya ngerjain projek."
"Oh betul-betul aku ingat itu padahal harusnya kamu sama Beno toh? Cuma Beno nukar karena dia tahu Kak Dian mau datang, haha."
"Pantes! Ternyata gara-gara itu toh makanya aku bingung kok dia mendadak cancel nemenin aku ke Surabaya. Aku pikir kenapa tuh Anak tumben ngga mau bareng aku."
Atha dan Dito tertawa puas menggibah tentang perjalanan cinta Beno yang kandas.
"Eh waktu Bapakmu sakit lalu meninggal, Kak Dian bagaimana?" Tanya Dito perlahan.
"Stress lah Bro. Apalagi seminggu kemudian dia harus nikah toh. Aku aja hancur lebur apalagi Kak Dian."
"Iya sih."
"Kenapa kamu tanya itu?"
Dito terdiam sejenak, "adik aku kan perempuan juga. Empat bulan lagi dia nikah tapi Bapakku lagi bolak balik perawatan jantung. Dia jadi suka marah-marah aja kalau ngga ada yang bisa antar Bapak perawatan. Semua kena omel bahkan Mamaku juga."
"Oalah, Bro. Jaga baik-baik Bapakmu kalau bisa pulang yah kamu pulang. Jangan kaya aku, disuruh pulang pas ngga bisa memang cuma jadinya penyesalan banget."
"Benar, Bro. Makanya aku rela dipotong gaji buat izin pulang pas Bapakku jatuh dari kamar mandi. Untung Beno yang tekan surat izinnya jadi loloslah aku ngga potong gaji."
"Itulah Beno, dia sering royal sama kita bahkan belain projek macet depan Bapaknya yang super disiplin."
"Eh Bro, kamu ngga kepikir nikah gitu kaya Kak Dian?" Tanya Dito menyelidik.
"Aku sih belum, Bro."
"Kenapa?"
"Belum ketemu yang cocok aja." Jawabku singkat.
"Kan banyak Bro, gadis di kantor kita yang masih single bahkan aku dengar ada loh yang naksir sama kamu."
"Siapa?"
"Dewi, kamu ngga naksir memang? Banyak loh cowok yang suka sama Dewi. Kamu malah beruntung dia sukanya sama kamu."
Atha tertawa menanggapi Dito.
"Dewi sih cantik, Bro tapi aku ngga ada perasaan apa-apa sama dia. Ngga tahu, ngga ada yang berdetak di jantung kaya orang suka gitu. Kaya apa yang kamu rasakan sama siapa itu pelayan tadi."
Dito yang kini telah tertawa, "bisa aja kamu. Itu Ribka namanya."
"Aku tuh minderan, Bro. Apalagi Dewi itu kan kelasnya tinggi banget ngga mungkinlah sejelek aku bisa masuk kriterianya."
"Bro, di zaman sekarang ini banyak cewek cantik jalannya sama cowok ganteng memang. Tapi coba lihat pacarnya bukan yang ganteng itu Bro, malah yang jelek tapi humoris."
"Ah masa?" Dito tak percaya.
"Iya, coba kamu lihat Ridho. Ganteng mana kamu sama Ridho?"
"Aku lah, hahaha."
"Setuju, cuma kamu lihat ceweknya Ridho siapa?"
"Pia, iya yah Pia kan cantik banget secara dia itu salah satu Model Iklan Produk di Kantor kita."
"Nah itu maksudku. Sekarang itu cowok mau sejelek apapun harus pede dan bisa humoris pasti dapat cewek cantik."
Dito mengangguk-angguk, "masalahnya aku sudah minderan juga ngga bisa ngelucu, yang ada jayus malah haha."
"Sama kita, hahaha."
Atha dan Dito tertawa lepas bersama lagi.
Tak lama kemudian Ribka datang sambil membawa baki berisi dua mangkuk bakso dan dua cangkir kopi hitam. Dia dengan grogi meletakkan mangkuk di meja perlahan-lahan. Matanya berusaha tak menatap Dito yang menampilkan senyuman di wajah.
Atha tersenyum kecil dan berusaha menggoda kedua insan yang sedang saling jatuh cinta itu.
"Mba sudah punya pacar?" Tanya Atha spontan.
Ribka tersentak menatap Atha lalu menatap Dito dengan senyum.
"Belum, Mas e. Mana ada yang mau sama pelayan kaya saya." Ribka berusaha merendah.
"Lah Mba kan pekerjaan Mba ini halal kenapa takut ngga ada yang mau. Cinta itu ngga lihat pekerjaan kok, Mba. Lihatnya itu luas bahkan sampai kedalaman hati." Goda Atha membuat Dito dan Ribka tersipu.
"Mas-nya bisa aja. Memangnya ada Mas yang mau sama saya?" Tanya Ribka memancing sambil menatap arah Dito dengan penuh arti.
Dito langsung gelagapan dan cepat-cepat menuangkan beberapa sendok sambal dan tetes cuka ke dalam mangkuk baksonya tanpa beraturan.
"Ada, Mba." Atha penuh yakin menjawab sambil melirik ke arah Dito membuat Dito makin gelagapan.
"Mas mah godain aja nih." Ribka nyengir sambil berlalu pergi dengan perasaan senang.
Si Brot yang melihat Ribka langsung menggoda dengan suara kencang, "asyik nih lampu hijau. Uhuy!!!"
Dito melototkan matanya ke Atha yang masih tertawa sambil menahan suaranya agar tidak keluar.
"Reseh nih! Sama aja kaya Beno!" Dito merona sekali wajahnya seperti kue apem.
"Bro, ini sih saran baiknya jangan lama-lama keburu dia diambil orang nyesel nanti kamu." Ledek Atha dengan girang.
"Pengalaman yah?" Ledek balik Dito membuat Atha terdiam.
Dito jadi bingung melihat perubahan drastis dari wajah Atha.
"Tha, kamu marah?"
Atha masih diam. Dia sibuk menuang sambal satu demi satu sendok.
"Tha, seriusan sambal kamu sebanyak itu? Kamu ngambek kenapa sih kaya anak kecil aja!" Dito kesal bercampur bingung.
"Ngga, aku cuma teringat aja. Maaf." Atha menarik nafasnya pelan.
"Teringat apa?" Dito ngga enak hati melihat Atha memotong Bakso Telur Bebek dengan tak semangat.
"Rahasia perusahaan".
__ADS_1
"Rahasia apaan sih?"
Atha tak menjawab, dia mengambil sepotong bakso dan menelannya dan mulai meneteskan airmata.
"Bro, sekarang kamu kenapa nangis?" Dito makin serba salah melihatnya.
"Gila, Bro baksonya mirip banget kaya bakso buatan Ibu aku." Atha berkata dengan lantang membuat beberapa pembeli di Warung itu menatap padanya.
Dito mengatupkan kedua telapak tangannya pada semua orang seraya meminta maaf.
"Maaf yah maaf, ini teman saya lagi teringat Ibunya."
"Oh yah tidak apa, baksonya memang bikin kangen sama rumah." Jawab salah seorang Pelanggan dengan ramah.
Dito tersenyum-senyum pada mereka dan kembali menatap Atha dan dia tersentak ketika melihat tak ada sisa kuah setetespun di mangkuk bakso Atha.
"Gila, Bro lapar atau lapar ini?"
"Enak banget Bro! Mba!" Panggil Atha pada Ribka yang segera datang dengan cepat.
"Ya Mas, ada apa?"
"Aku mau cobain yang lain dong. Bakso Mercon yah sekarang."
"Oh nambah ini Mas ceritanya?"
"Iya Mba, satu porsi lagi. Baksonya enak sih kaya bakso buatan Ibu saya di Solo."
"Loh Mas e dari Solo?"
"Iya, Mba juga dari Solo?"
"Bukan, Bunda bilang resep baksonya memang berasal dari Solo. Lalu dia buat sendiri dan dijual disini."
"Maksudnya Bunda itu siapa, Ibunya Mba?"
"Bukan, Bunda itu yang punya Warung Bakso ini."
"Oh gitu. Kok rasanya bisa sama kaya punya Ibu saya lalu asalnya pun sama dari Solo. Kebetulan yang aneh yah Mba."
"Mba Ribka ada fotonya Bunda?" Tanya Dito ingin memastikan.
"Ada." Jawab Ribka dengan lembut.
"Mba nih kalau Dito yang nanya lembut banget yah jawabnya kaya Putri Solo." Goda Atha.
"Wis Mas e jangan ngeledekin terus nanti Mas Dito jadi ngga mau lagi makan disini loh." Ribka menjawab dengan pelan.
"Walah ngga mungkin, Mba. Malah bakal sering dia, Mba kesini apalagi kalau tahu cintanya tidak bertepuk sebelah tangan." Atha meyakinkan.
"Cinta opo toh Mas e. Mana mau Mas Dito sama saya."
"Wes jangan salah, aduh." Atha meringis saat Dito mencubit lengannya.
Ribka semakin tersipu, dia terus pura-pura asyik menggeser layar handphonenya mencari foto Bunda.
"Ini Mas fotonya Bunda."
"Bukan Nyokap lu, Tha. Dia lebih muda dan cantik." Dito melihat dengan terkesima menatap foto Bunda.
"Lah kamu pikir ini Ibuku yang jualan disini?"
Dito mengangguk.
"Mana mungkin, Dit. Aku pasti tahu lah kalau Ibuku buka Warung Bakso. Mungkin saja Bunda ini salah satu pelanggan adonan Bakso Mamaku."
"Ngga, Mas. Bunda mah bikin sendiri. Mungkin Ibunya Mas yang dulu pernah kasih resepnya sama Bunda?" Selidik Ribka.
"Oh kalau itu juga ngga mungkin, Mba. Ibu saya itu ngga pernah memberikan resep baksonya sama siapapun. Itu rahasia. Saya saja ngga dikasih. Selama Ibu masih kuat bikin bakso yah dia ngga akan kasih resepnya sama siapapun bahkan anak-anaknya."
"Oh yah pasti ini hanya kebetulan saja Mas kan rasa makanan kadang bisa aja sama." Ribka mencoba menetralkan.
"Betul, Mba. Saya bakal sering kesini deh Mba kalau gitu. Enak ini benar-benar mirip kaya bakso buatan Ibu saya."
"Ok, Mas tunggu yah saya bilang si Gembrot biar dibuatin satu porsi Bakso Merconnya."
"Oh, Mas yang itu namanya Gembrot?" Tanya Atha bingung.
"Bukan, Mas itu panggilannya aja. Namanya mah bagus, Brandon. Dia mah keponakannya Bunda tapi Raja Iseng karena suka ngeledekin semua Pelayan disini bukan saya saja korbannya. Noh, si Tia dan Udin juga korban dia. Sudah yah Mas ditunggu baksonya."
"Ok, Mba.
Atha kembali menyenderkan punggungnya di dinding kursi. Dito asyik menyeruput kopi dengan begitu nikmat. Atha melihat sekeliling sampai matanya berhenti. Ada seorang gadis berparas cantik yang membuat matanya memandang terpaku.
"Bro, kenapa lagi? Tadi diam lalu nangis. Sekarang diam lagi, apa mau nangis lagi?" Tanya Dito heran.
Atha masih terdiam.
"Bro!" Dito menepuk pundak Atha dengan kencang hingga Atha tersadar.
"Aw!" Atha memekik kesakitan.
"Bengong kenapa?."
"Hehe maaf Bro. Itu tuh." Tunjuk Atha.
"Itu apaan sih?" Dito bertamba kesal.
"Itu Bro, ada yang cantik di pojok." Tunjuk Atha pada seorang gadis di sudut Warung.
Gadis itu asyik berbincang dengan Brandon dan Ribka.
"Iya Bro cantik juga yah. Pantas kamu ngga suka Dewi, ternyata selera kamu yang begini toh?" Ledek Dito.
"Duh Bro diam jangan kencang-kencang ngomongnya malu." Atha mengingatkan.
"Apaan dari tadi kamu godain aku bahkan di depan Ribka. Pokoknya aku harus balas dendam." Seru Dito kesenangan.
"Jangan, Bro. Aku malu." Atha memohon.
Ribka datang dengan semangkuk Bakso Mercon.
"Nah ini buat Mas, siapa namanya?"
"Atha, Mba."
"Loh kok kaya nama cewek, Mas?"
"Iya nama saya memang banyak yang bilang kaya Cewek sih, Mba."
"Hatinya memang kaya Cewek sih, Rib." Kata Dito mengejek Atha.
"Cie panggilnya Rib." Atha tertawa lepas dan Ribka tersipu-sipu kaya ikan sapu-sapu.
"Eh Rib. Kamu bisa bantu Mas Atha ini ngga?" Tanya Dito lembut tapi jahil.
"Duh kalau Mas Dito yang minta yah aku ngga bisa nolak." Ribka manja.
Atha bingung dengan permintaan tolong apa yang hendak diselatankan, eh diutarakan Dito pada Ribka.
"Aku minta tolong tanyain nama dan nomer telp Mba cantik yang ngobrol sama Brandon itu." Kata Dito berbisik agar tidak didengar Atha.
"Mas Dito nih, apa aku ngga cantik sampai minta dikenalin sama cewek lain?" Ribka merajuk.
"Bukan, bukan buat aku tapi buat Atha." Dito berkata sambil geregetan.
"Oh! Paham aku, Mas. Kirain buat Mas, tunggu yah." Ribka segera melengos pergi.
"Eh Mba jangan, itu Dito kurang kerjaan." Cegah Atha.
__ADS_1
Terlambat buat Atha, karena langkah Ribka perlahan mendekati gadis itu berada. Dito menggerakkan tangannya seperti sedang berjoget kegirangan. Atha menutup mukanya mencoba menahan malu yang akan diterimanya. Tangannya ditutup rapat dan dikepalkan ke arah Dito yang terbahak.
-M-