Cinta Semangkuk Bakso

Cinta Semangkuk Bakso
-Putus atau Terus-


__ADS_3

Seorang Suster menghampiri Peter dan berkata dengan wajah riang.


"Silahkan, Pak. Anak Bapak sudah bisa ditemui saat ini."


"Ah baik, terimakasih." Jawab Peter singkat sambil mengamati Suster itu dari rambut sampai ujung kaki.


"Ada apa yah Pak?" Tanya Suster itu merasa risih diamati oleh Peter.


"Ah tidak, Suster. Apa suster sudah lama bekerja disini?" Peter mulai menggodanya.


"Oh, lumayan Pak saya baru lulus Akademi Perawat dan kebetulan ditempatkan disini."


"Oh berarti usia Suster baru dua puluh tahun sepertinya? Masih sangat muda dan cantik." Peter sekali lagi mengamati tubuh Suster belia itu.


Suster itu semakin risih dan hanya bisa tersenyum pelan.


"Apa kamu tidak merasa bosan bekerja di rumah sakit ini? Apalagi saya yakin gajinya tidak cukup untuk kamu membeli barang-barang yang kamu suka?"


Suster itu hanya terdiam, ia berharap untuk dapat menyudahi percakapan yang tidak menyenangkan ini.


"Saya rasa pekerjaan sebagai Suster di rumah sakit ini pun tidak layak untuk gadis secantik kamu. Apa kamu mau mencari pekerjaan lain?"


Suster itu terkejut mendengarnya, namun ia tetap berusaha tenang.


"Ah itu tidak perlu, Pak."


"Tak apa jika masih ragu."


Peter mengambil sesuatu dari dompetnya, "ini kartu nama saya jadi kamu bisa hubungi nomer hp saya langsung. Percayalah, saya bisa memberikan gaji dua sampai tiga kali lipat dari yang kamu terima di Rumah Sakit ini."


"Oh terimakasih, Pak. Tapi pekerjaannya apa yah Pak? Secara saya ini hanya lulusan Akademi Perawatan." Suster itu mencoba menolak dengan halus.


Peter tersenyum licik.


"Suster cukup bekerja merawat kesehatan keluarga saya saja, terutama kesehatan saya dan mungkin juga putra saya yang saat ini sedang sakit."


"Saya akan pertimbangkan yah, Pak. Terimakasih atas tawarannya."


"Tenang saja tak usah buru-buru, kamu bisa masuk kerja kapan saja kamu mau. Itu cukup satu panggilan telpon saja."


Suster itu membalas dengan senyuman yang tertahan.


"Untuk gadis secantik Suster, saya siap menunggu." Ujar Peter lagi sambil tersenyum genit.


Suster itu hanya tersenyum dan bergegas pamit pergi. Ia melangkah dengan terburu-buru agar cepat-cepat menjauh dari Peter yang terus mengamati gerak langkah Suster itu dari belakang sambil tersenyum mesum.


Beno melihat Atha berada di mejanya. Dia menghampiri dengan perlahan dan mencoba tenang.


"Saudara Atha, apa kemarin anda sakit hingga tidak bisa memberikan izin atau info apapun ke kantor?" Tanya Beno pada Atha secara formal dan suara yang berbeda tak seperti biasanya.


Sebenarnya Atha tak ingin menggubrisnya, tapi dia teringat pesan Dian agar tetap bersikap profesional. Bagaimanapun juga, Dian benar Beno adalah Bosnya. Dengan rasa malas yang kuat, Atha pun beranjak berdiri dan menatap Beno perlahan. Ia menarik nafasnya sesaat sebelum berkata dengan perlahan juga.


"Maaf, Pak Beno. Kemarin saya akui saya memang salah karena tidak masuk tanpa izin, jika memang saya dianggap bolos maka Bapak boleh potong gaji saya atas satu hari itu." Atha mencoba bersikap biasa.


"Sejak kapan anda memanggil saya dengan Bapak? Apa semua ini karena gadis itu?" Beno menyindir halus.


Atha mengatupkan bibirnya erat.


"Bukankah Bapak tadi juga memanggil saya dengan formal? Jadi saya rasa saya juga harus bersikap formal pada Bapak." Atha mencoba meluruskan keadaan.


Beno menyeringai sinis, "apa anda pikir anda ini telah sangat berjasa di kantor saya? Sehingga anda bisa masuk kerja kapanpun anda mau?"


Dito dan yang lain di ruangan itu saling bertatapan, mereka tidak mengerti apa yang telah terjadi di antara Beno dan Atha. Tidak biasanya dua sahabat baik itu terlihat kaku dan memasang muka serius. Perasaan janggal menghampiri mereka yang saling berbalasan menatap tanpa henti.


"Maaf, Pak. Saya tidak mengerti maksud Bapak. Kemarin itu saya hanya kelelahan, dan bangun kesiangan jadi saya pikir untuk tidak ke kantor." Atha masih mencoba tenang.


Beno menarik nafasnya dalam-dalam.


"Pukul sepuluh pagi ini temui saya di ruangan, ada surat peringatan pertama yang harus anda tanda tangani." Tegas Beno sambil melangkah pergi menuju ruangannya.


"Baik, Pak." Atha mengangguk pasrah mendengar surat peringatan.


Selepas Beno pergi, Atha menghempaskan tubuhnya ke kursi kembali sambil mengeluh dalam hati.


Atha menundukkan kepalanya diatas meja sambil menggerutu.


"Sial!!! Sok berkuasa banget, dia! Kalau bukan teman baik, rasanya mau resign gue!!! Satu hari bolos aja kena SP satu, coba?! Huh! Padahal bulan lalu sampai bolos tiga hari aja nyantai banget yah walau memang izin sama dia sih."


Dito menghampiri Atha dan berbisik pelan dari belakang.


"Bro!"


"Apa?" Jawab Atha malas.


"Beno kenapa, Bro?"


"Tanya aja dia sendiri!" Ketus Atha.


"Yaelah kok jadi marah sama gue juga sih." Dito pura-pura kesal.


Atha melihat ke belakang dan tersentak melihat Dito memasang muka sedih.


"Eh sorry, Bro. Aku pikir siapa."


"Jeuh, masa ngga hafal suara gue. Kebangetan nih yang lagi jatuh cinta! Belum aja bisa dengar suara gadis idamannya sudah begini, apalagi kalau sudah tiap hari dengar suaranya pasti gue dilupain beneran, ini mah." Protes Dito.


"Maaf, Bro. Maaf yah, suasana hati gue lagi kacau ini."


"Kacau kenapa?"


"Nanti yah aku ceritain pas makan bakso."


"Tapi janji yah lu bakal cerita?"


"Iya."


"Penasaran nih, ngga biasanya Beno begitu tahu. Cerita yah?"


"Oke pastilah sama lu, gue bakal cerita." Atha membentuk tanda ok dengan jemarinya.


"Kalian berdua, kenapa ngobrol di jam kerja? Apa ini perusahaan kalian?" Suara tinggi Beno tiba-tiba membuat Dito dan Atha kelimpungan.


"Maaf Ben, tadi aku lagi..." Dito mencoba menjelaskan tapi kata-katanya dipotong Beno dengan keras.


"Panggil saya Bapak, jangan sok akrab anda!"


Dito membelalakkan matanya sesaat, seakan ia tak percaya dengan apa yang didengarnya. Beberapa rekan kerja lain pun saling melirik penuh tanda tanya. Atha hanya menunduk menahan kesal dengan perubahan pada Beno.


"Kembali ke meja kerja anda dan bekerja. Kalian disini digaji untuk kerja, kerja, dan kerja bukan ngobrol tentang apapun yang tidak berhubungan dengan pekerjaan. Jika ada yang mau dibicarakan silahkan ke ruang rapat dan berdiskusi tentang pekerjaan disana!" Beno berteriak pada seisi ruangan.


Semua di dalam ruangan pun segera menatap layar komputer dan mulai bekerja.

__ADS_1


Dito pun berjalan pelan menuju mejanya.


"Oh yah, siang hari ini kita akan kedatangan Kepala Pemimpin dari Pusat, jadi jam makan siang ditiadakan. Semua akan mendapat makan siang dari Kantor, jadi tidak boleh ada yang keluar kantor pada jam istirahat. Mengerti?!" Tegas Beno.


"Mengerti." Jawab seisi ruangan kecuali Atha dan Dito yang saling menatap penuh kecewa.


"Jika ada yang berani keluar saat jam istirahat, maka silahkan mengambil dan mengisi formulir pengunduran diri di meja Sekretaris saya. Saya tidak suka bekerja dengan orang-orang yang tidak bisa bekerja dibawah perintah saya. Dan saya sangat tidak suka pada mereka yang meminta jantung saat saya sudah memberi hati!" Beno berujar kembali dengan tegas sambil menatap Atha.


Atha memilih untuk tetap tenang sambil meremas kepalan tangannya. Kesal yang dia rasakan seperti ingin meledak saat itu juga. Dito nampak kecewa terhadap perubahan pada diri Beno.


"Pak Dito, nanti siang anda harus temani saya dan Kepala Pimpinan keluar. Ada beberapa daerah yang harus kita tinjau. Silahkan persiapkan daftarnya. Ambil semua daftar yang ada di Pak Atha. Tugasnya sekarang menjadi tugas anda." Ujar Beno pada Dito yang terkejut sambil mengangguk pelan.


Dito menatap Atha dengan rasa tak enak.


"Pak, bukannya dua hari lalu Bapak bilang ditemani Pak Atha kenapa sekarang jadi Pak Dito yah?" Tanya Dewi, Sekretaris Beno berbisik pelan sambil menyiratkan rasa kecewa.


"Pak Atha ada pekerjaan lain disini. Ubah seluruh agenda saya bersamanya menjadi bersama Pak Dito." Beno berkata kencang dengan sengaja agar Atha mendengarnya.


"Tapi kenapa yah, Pak?" Dewi masih menolak dan bersikeras mempertahankan Atha.


"Pegawai yah tidak bisa hadir dan tidak bisa mendukung saya disaat saya membutuhkannya tidak layak untuk mendapat kehormatan berada disamping saya. Semoga ini menjadi pelajaran untuk semuanya." Ketus Beno sambil berlalu menuju ruangannya diikuti Dewi yang cemberut.


Keinginan Dewi untuk bisa bersama Atha dalam satu perjalanan dinas pun kandas. Sedangkan keinginan Beno untuk membuat Atha merasa jenuh dan bosan berada di Kantor pun sedang dimulai. Bagi Beno, saat ini Atha adalah orang yang harus disingkirkan sejauh mungkin. Dia tidak mau Atha merebut apa yang menjadi impiannya saat ini. Bahkan diam-diam, Beno merekomendasikan Atha untuk dikirim ke cabang Kantor Ayahnya yang berada di Kalimantan. Beno ingin Atha berada jauh dari Putri, gadis idamannya.


Dito memandang Atha dengan permintaan maaf. Atha hanya tersenyum mengisyaratkan dia baik-baik saja. Dito pun memberikan pesan singkat lewat Whatsapp pada Atha.


"Bro, maaf banget yah."


"Santai, Bro ngapain minta maaf segala sih."


"Ya kan itu pekerjaan kamu, seenaknya dilimpahkan ke aku. Padahal itu kan karir kamu jadi Asisten Bos."


"Yaelah, kaya sama siapa sih. Aku malah tenang jabatan itu dipindah ke kamu daripada ke Romi atau yang lain hahaha."


"Tetap saja aku berasa kaya teman makan teman, tahu!"


"Sudah aku malah senang kok. Daripada aku ribut sama dia terus sepanjang perjalanan kan ngga enak."


"Iya sih cuma tetap aja aku ngga enak banget. Oh yah kamu kenapa sih sama Beno? Cerita di WA aja yah kan nanti ngga bisa makan di luar."


"Iya nanti aja ah aku ceritanya, panjang tahu. Sebal banget nih ngga bisa makan bakso. Padahal hanya itu harapan ketemu sama Gadis itu."


"Namanya Putri, Bro tadi Ribka kasih tahu aku."


"Iya, Putri itu. Aku mau minta maaf sama dia."


"Lah kamu sudah ketemu dia memang?"


"Iya."


"Kapan, Bro? Mantul banget ini beritanya, tapi apa hubungannya sama minta maaf ke dia?"


"Itulah Bro yang jadi ceritanya kenapa Beno jadi berubah gitu sama aku."


"Maksudnya? Ngga, ngga jangan bilang Beno juga suka sama Putri?"


Atha mengirim emot tersenyum.


"What?!"


"Tahu kan kenapa dia jadi segitunya benci gue banget?"


"Parah, Beno! Dia ngga tahu apa kamu duluan yang suka?"


"Duh jangan gitu dong jadi ngga enak banget nih gara-gara itu. Kita tetap temanan kan? Tenang-tenang nanti gaji tunjangannya aku bagi dua lah sama kamu."


"Hahaha, ngga usah begitu ah cukup traktir gue bakso tiap hari aja."


"Wkwkwk lebih banyak atuh itu jadinya dua puluh harian bayarin bakso. Secara kamu makan bakso kan ngga cukup satu mangkok!"


"Hahaha, katanya teman?"


"Ini mah ancaman namanya!"


"Hahaha."


Putri terbangun dengan wajah yang masih lembap, bekas air mata seperti menggumpal di pipinya yang berkilau terkena cahaya mentari pagi. Dia melihat layar handphonenya tak seperti biasanya. Tak ada puluhan panggilan dan whatsapp lagi dari Roger. Bahkan tak ada kabar apapun tentang Roger yang ia dengar.


Putri mengacak-acak rambut panjangnya. Dia bimbang karena merasa berada di antara keadaan harus senang atau sedih. Senang karena pada akhirnya ia tiba di satu hari dimana Roger berhenti mengganggunya. Sedih mengingat Roger masih berada di rumah sakit terbujur lemas dengan luka lebam.


Ia mendengar suara dua orang wanita berbincang dengan tawa dan ceria memecah keheningannya. Putri beranjak malas dari tempat tidurnya dan mengintip keluar jendela. Dilihatnya Tina dan Sari sedang berbincang bersama sambil menghirup teh di pagi ini.


"Oh lihat Tuan Putri kita yang cantik ini sudah bangun sepagi ini?" Canda Tina sambil tertawa.


Sari tersenyum padanya dengan lembut.


"Memang dia ngga pernah bangun pagi yah?" Goda Sari.


"Oh tidak, dia selalu bangun sebelum Ayam tertidur lagi." Tina menambahkan dengan tertawa kecil.


"Mama mah suka banget godain aku deh." Manja Putri.


"Kemarilah, Sayang duduk disini bersama kami." Ajak Sari lembut.


Putri mengangguk, "aku cuci muka dulu, Tante."


Sari tersenyum lagi pada Putri.


"Dia sangat cantik yah Tin?" Puji Sari.


"Kau kan tahu itu menurun dari Mamanya ini." Ujar Tina bangga.


Mereka berdua pun tertawa kecil kembali.


Putri berjalan pelan menghampiri Tina dan Sari.


"Ini Emak-Emak cantik lagi ngobrolin apa sih sampai seru banget ketawanya. Aku jadi terbangun dengar ketawa Mama dan Tante Sari loh."


"Ini loh Tante Sari lagi nyeritain masa muda Papa kamu yang aneh-aneh." Gelak Tina.


"Hah, aneh bagaimana?"


"Kamu ceritain lagi, Sar dari pertama yang kejadian Mas Elang ngecat baju Dosen itu." Tina tertawa keras.


Sari pun tertawa mengenangnya.


"Hah, kok Papa senakal itu sih Ma?" Putri tak percaya.


Tina mengangguk membenarkan,"iya, Mama juga baru tahu ini dari cerita Tante Sari."


"Iya, jadi waktu itu kami lagi KKN gitu. Terus kan Papamu kebagian ngecat pagar dengan warna putih nah Pak Dosen itu mungkin sedang asyik memberikan teori pada mahasiswa lain sambil berjalan mundur dan tidak melihat Papamu ngecat. Papamu pun ngecatnya sambil godain teman kami yang dia taksir waktu itu namanya, Dinar."

__ADS_1


"Hah? Papa suka godain cewek?" Putri tambah tak menduga.


"Papamu itu alim cuma depan kita, ternyata dulu dia tak sealim sekarang." Tina tersenyum membuat Putri menggeleng-geleng.


"Terus, Tan?" Putri memandang Sari berharap Sari meneruskan ceritanya.


"Nah, jadi papamu kan ngga lihat juga kalau Pak Dosen lagi berjalan mundur. Pas Pak Dosen berasa mentok ngga bisa mundur lagi dia berbalik pas saat itu Papamu lagi asyik naik turunin Kuas cat tanpa melihat yang dia cat itu baju sampai muka Pak Dosen. Yah jelas itu membuat kami semua tertawa melihat muka polos Papamu berusaha minta maaf dan melihat muka Pak Dosen yang memerah menahan marah."


Tina dan Putri tertawa kencang mendengarnya. Elang yang baru keluar dari dapur langsung mengerutu kecil.


"Mau kamu ceritakan berapa kali kejadian yang membuat aku semalaman ngga tidur gara-gara nyuci kemeja Pak Iwan itu Sar?" Elang menyajikan Roti Bakar yang baru saja dibuatnya.


"Papa nih makanya jangan suka godain cewek dong, jadi bisa fokus ngecat. Parah nih Papa, aku pikir dulu Papa nih Mahasiswa yang alim gitu loh Tante."


"Wah alim banget dia, sampai pernah gantiin Pendeta khotbah di hari minggu." Sari tertawa lagi diikuti Tina.


"Eh bagian yang itu pun kamu ceritakan ke Tina toh?" Elang tak percaya.


Sari mengangguk.


"Aduh, Sar malu banget ini aku. Mau ku taruh dimana mukaku ini didepan Bidadari cantikku ini." Elang menatap Tina dengan wajah memerah.


Tina masih tertawa sambil menahan sakit perutnya karena tertawa sejak tadi.


"Bagaimana Tante ceritanya? Ayo Tante ceritakan padaku." Semangat Putri meminta.


"Jangan kau ulangi yah ceritanya, jangan!" Elang mengancam Sari dengan mata melotot sok sangar.


Sari hanya tertawa.


Sepanjang pagi itu mereka tertawa berusaha melupakan hari kemarin.


Tina sengaja membuat suasana pagi semenarik mungkin seperti ini agar Sari mampu melupakan Peter dan mulai menatap masa depan. Walau Tina takut apa yang pernah terjadi di antara Sari dan Elang di masa lalu akan terbit lagi. Tapi Tina percaya Elang tidak akan pernah menduakannya, apalagi dengan Sari, seseorang yang pernah mengisi hari-harinya sesaat di masa lalu.


Tina juga tak mau Putri tahu bahwa Sari adalah salah satu mantan kekasih Elang. Kekasih yang kini menjadi sahabat baik Elang karena Elang pernah berjanji pada Ibu Sari untuk menjadi Kakak yang baik. Janji yang tidak akan pernah bisa Elang tarik kembali.


Di rumah sakit, Roger menatap seisi ruangan dengan sedih. Tak ada Sari ataupun Putri di sisinya, yang ada hanya Papanya yang masuk sambil bersiul kegirangan.


"Halo, Jagoan Papa sudah siuman ternyata yah?" Sahut Peter dengan riang.


Roger menatap sekeliling kamar dengan penuh harapan.


"Mama dimana?" Roger bertanya lirih.


Ia berpikir mungkin Sari ada di luar kamar.


Peter seperti kehilangan suka hatinya mendengar Roger bertanya tentang Sari. Ia mendadak terdiam dan menghempaskan tubuhnya di sofa dekat Roger berbaring.


"Kenapa kamu mencari orang yang tak pernah ada untuk kamu, hah? Mencari orang yang bahkan pergi meninggalkan kamu untuk bersama pria lain? Apa kamu pikir dia masih peduli sama kamu? Apa kamu yakin di pikirannya itu masih ada kamu?! Sama papa saja dia lupa." Ejek Peter dengan kasar.


"Tapi kemarin Mama ada saat Roger..."


"Diam! Kalau kamu terus mencari Mamamu yah silahkan. Tapi mulai besok jangan kembali ke rumah Papa, dan Papa juga akan bekukan semua kartu kamu! Mau?" Ancam Peter menatap Roger tajam.


Roger memilih diam dan menatap jendela, dia kini berharap ada Putri disana.


"Putri dimana?" Roger bertanya lagi dengan lirih.


Peter semakin meradang.


"Kamu ini kenapa sih? Putri terus, putri lagi! Apa sih cantiknya Putri itu, hah? Kamu lihat tadi Papa baru bertemu seorang suster cantik dan usianya pun masih sama denganmu. Dia terlihat lebih berkelas dan berkualitas dibanding Putri itu!" Tandas Peter merendahkan Putri.


Roger merintikkan air mata perlahan mendengar perkataan Peter.


"Aku cuma mau Putri, Pah." Lirih Roger.


Peter menahan kesal dan mulai memaki, "apa hebatnya dia? Kamu mesti lihat Suster itu, nanti Papa kasih tahu kamu orangnya yang mana. Cantiknya pun melebihi Putri. Lagipula papanya hanya tukang bengkel biasa dan Mamanya, kemarin masih karyawan Papa tapi mulai sekarang tidak lagi. Mereka hanya parasit yang menginginkan harta Papa. Mereka pikir dengan anaknya menikah sama kamu terus jadi bisa ngambil semua harta Papa. Tidak mungkin itu terjadi!"


"Papa bilang apa tadi?"


"Bilang apa?"


"Itu yang Tante Tina bukan karyawan Papa lagi?" Roger tersentak tak percaya.


Peter mengangguk, "iya! Semua parasit harus disingkirkan dalam hidup ini."


Roger mengepalkan tinjunya, ia teramat kesal.


"Papa bisa membuat Roger kehilangan Putri!" Rengek Roger kesal seraya menahan sakit di pelipisnya.


"So what? Let Her go! Dia bukan yang terbaik. Papa bisa mencarikanmu seratus wanita yang seperti dia. Salah satunya Suster tadi, Papa juga mau yang begitu. Papa akan mencarikanmu Gadis berkelas yang terbaik untuk anak Papa yang terbaik ini!"


"Roger ngga mau yang lain. Roger cuma mau Putri, Pah! Papa ngerti ngga sih?"


"Diamlah, besok kamu akan mengerti kenapa Papa lakukan ini padamu. Kamu ini sudah dipelet kali sama Putri itu!"


"Apa sih Papa ini!" Roger meradang kesal.


Peter berpikir sejenak seraya menatap Roger yang tersedu. Dia berusaha menjauhkan Roger dari Putri, apapun caranya.


"Papa harusnya ngomong ini dari awal sama kamu tentang Putri."


Roger menatap Ayahnya dengan penasaran, "apa, Pah?"


"Putri itu bukan gadis baik, Papa pernah lihat dia jalan sama Pria lain selain kamu." Seloroh Peter sambil tersenyum jahat.


Roger menatap Peter seakan tak percaya, batinnya sangat terguncang.


"Papa yakin? Itu ngga mungkin, Pah."


Peter mengangguk dan berusaha meyakinkan Roger.


"Kamu kira bagaimana dia berhasil mendapatkan proyek skripsinya dengan mudah, hah?"


"Itu karena dia pintar, Pah."


"Pintar saja ngga cukup, Roger. Kamu itu masih muda, terlalu naif dan buta akan cinta."


"Lalu kenapa?"


"Dia itu pasti memberikan sesuatu yang tidak diberikan oleh Mahasiswi lain pada para pemegang dana, bukan?"


Roger makin merengek sejadi-jadinya, dia seakan tak percaya dengan yang didengar.


"Papa menyimpan ini lama dan rapat darimu tapi Papa sudah ngga tahan lagi dengan kamu yang terus mencintai gadis tidak baik itu. Papa lihat dengan mata kepala Papa sendiri Putri sedang memeluk erat tangan orang yang bahkan jauh lebih tua dari Papa ini."


Roger masih terisak, "ngga mungkin Pah!"


"Be Brave, Roger!"


"Ngga, Pah. Ini ngga mungkin!"

__ADS_1


Peter memasang muka serius dan menggelengkan kepala.


__ADS_2