Cinta Semangkuk Bakso

Cinta Semangkuk Bakso
-Hati yang Keliru-


__ADS_3

Zaki menganguk setuju, "ok Kak siap aku juga penasaran sebagus apa pantai itu. Aku sering dengar itu jadi salah satu destinasi favorit gitu kalau datang berkunjung atau liburan ke Jakarta."


"Yee, kamu baik banget loh Zak mau nemenin aku. Terimakasih banget yah, aku janji deh tempatnya bagus terus makanannya enak." Sari menatap Zaki yang duduk di belakang kemudi mobil dengan bahagia.


"Siap Kak Sari, aku percaya deh kalau Kak Sari yang cantik bilang begitu."


Sari melambung sesaat dipuji Zaki.


"Memang menurut kamu, aku masih cantik?" Sari bertanya menggoda.


"Jelas Kak, cantik kok mana mungkin Kak Peter pilih Kak Sari kalau ngga cantik hehehe." Puji Zaki sambil tetap asyik mengemudi.


Hati Sari semakin melambung.


"Zak bisa berhenti sebentar." Pinta Sari dengan wajah memerah.


"Loh kenapa, Kak?" Tanya Zaki bingung.


"Berhenti aja sebentar." Sari mengulangi permintaannya.


Zaki melihat spion kiri dan belakang lalu merapat ke kiri perlahan-lahan dan menghentikan mobil yang dikendarainya. Sari segera turun dan membuka pintu mobil disamping Zaki. Dia dengan gerakan menggoda membungkuk sesaat sambil menatap Zaki yang melihatnya tanpa mengedipkan mata.


"Aku duduk depan aja, kasihan kamu nanti dikira sopir aku." Sari mengerlingkan matanya membuat Zaki tersipu malu.


"Loh ngga apa kok, Kak aku ngga merasa jadi sopir juga."


"Terus merasa jadi apa?" Tanya Sari menggoda Zaki lagi dengan menyilangkan kaki kanannya diatas kaki kirinya.


Zaki hanya terdiam sambil menatap Sari dan berbisik dalam hati, "Kak Sari ini walau sudah punya anak usia remaja tapi masih secantik ini. Kak Peter bodoh sekali kalau selalu tidak memberi perhatiannya pada Kak Sari. Bisa saja Kak Sari menggoda pria lain selain aku."


"Ayo merasa jadi apa?" Sari terus menggoda Zaki dengan mendaratkan jari telunjuknya menggelitik tubuh Zaki.


"Eh Kak nanti aku kegelian kalau digelitik gitu. Aku juga lagi nyetir ini bahaya." Celoteh Zaki pura-pura tapi mau.


"Iya maaf, habis aku senang banget malam ini ditemani kamu. Makasih yah mau nemenin aku malam ini." Sari menatap Zaki dengan menebar pesonanya.


Dia yakin walau usianya tak semuda Dian tetapi dia mampu membuat Zaki mengalihkan dunianya sesaat tuk memperhatikannya. Sepanjang jalan mereka berdua berbagi kisah tentang pasangan mereka masing-masing. Bagaimana Peter yang tak pernah memperdulikan Sari dan bagaimana kerasnya Dian yang sering memutuskan sesuatu tanpa berdiskusi dengan Zaki.


Mereka menikmati makan malam layaknya dua insan yang sedang jatuh cinta. Mereka tertawa lepas melupakan sejenak arti dari cincin yang melingkar di jemari masing-masing. Sari terus meluapkan semua kekurangan Peter dan betapa sempurnanya Zaki. Sedangkan Zaki berkata bahwa Sari adalah wanita yang sempurna dan tetap cantik di usia hampir mencapai empat puluh lima. Mereka berbagi minum, saling memberi suapan, dan mabuk dalam kesempatan yang mereka temukan dan mungkin tak akan pernah mereka dapatkan lagi.


Pemandangan langit malam yang indah bertaburan bintang dan suara debur ombak menghempas kapal menjadi saksi bagaimana malam yang keliru itu. Entah siapa yang memulai, jemari mereka bertemu pada dekapan yang erat dan saling mencoba menghempas dingin yang mulai merajalela.


"Kak, ini salah. Aku ngga mau mengkhianati Dian." Zaki mencoba kembali pada kenyataan bahwa dia sudah beristri.


"Zak, tak ada kesalahan yang benar-benar salah dan tak ada kebenaran yang benar-benar benar. Aku hanya tahu bahwa malam ini aku bahagia dengan kamu. Aku mohon jangan sudahi secepat ini. Aku ngga mau pulang dulu, Zak. Bawa aku kemanapun kamu mau." Sari seperti sudah lupa dirinya.


Pikirannya hanya ingin selalu bersama Zaki walau hanya untuk menghabiskan satu malam yang indah ini. Hatinya tahu ini salah tetapi inilah yang selalu dia rindu dari Peter, sebuah perhatian tulus dan cinta yang menggebu. Zaki menatap Sari dengan iba, dia jadi tahu bahwa Sari tak pernah dicinta Peter dengan sepenuhnya cinta.


Zaki menggandeng erat tangan Sari, meminta kapal menepi lalu terus menuntun tangan itu menuju sebuah tempat terdekat. Mereka begitu kasmaran dan melupakan diri satu sama lain. Zaki hanya tahu malam ini dia harus memberikan Sari sesuatu bernama cinta yang tak pernah Sari dapat dari Peter. Dan Sari hanya tahu malam ini dia hanya ingin berada dalam pelukan hangat Zaki yang tak pernah dia dapat dari Peter. Mereka membuat langit menangis menurunkan hujan yang deras menampar atap Hotel mewah itu.


Dering telepon berbunyi saat Peter sedang memimpin rapat terbatas, dia hanya berpikir telpon itu dari Sari yang terus mengganggu pekerjaannya. Dia mengabaikan telpon itu tanpa melihatnya dan tetap larut dalam presentasi Tina. Sementara jauh ratusan kilometer dari sini, Dian mendengar hujan sedang bertalu di pekarangan rumahnya seakan hendak bercerita tentang Zaki malam ini.


Putri mematikan handphonenya sejak siang ketika nama Roger terpampang di layar. Putri tak mau membuang waktu untuk berdebat dengan Roger tentang hubungan mereka. Putri yakin inilah saat yang tepat untuk mengubur hubungan mereka yang tak pernah membuat Putri bahagia seperti di awal.


Ia masih asyik menyantap bakso sambil merapikan proposal proyeknya. Sesekali ia bercanda dengan Brandon atau Ribka.


"Neng cantik sudah hampir dua jam disini, ngga bosan apa?" Tanya Brandon sambil membereskan meja di sebelah Putri.


"Nggalah, Brot. Asyik tahu disini suasananya adem, pelayannya baik-baik dan lucu kaya kamu dan aku bisa dapat wifi gratis pula." Jawab Putri nyengir.


"Oh jadi karena wifi gratisan nih? Ah aku bilang Bunda aja biar wifinya dimatiin." Ledek Brandon.


"Eits ngga bakalan Bunda yang baik hati itu matiin wifi buat pelanggan setianya yang cantik jelita kaya aku." Putri membalas mengejek sambil tertawa kecil.


"Iya juga sih, apalagi Bunda sudah bilang kalau ada Non Putri kesini ngga boleh diganggu lagi."


"Nah dengar kan aku ini pelanggan VVVIP."


"V-nya sampai tiga kali?"


"Iya, Very Very Very artinya sangat sangat sangat istimewa loh." Bangga Putri.


"Iya aja deh daripada panjang urusannya." Brandon pura-pura mengeluh.


"Eh Brot, mana cowok yang katanya nungguin aku itu?" Tanya Putri melihat ke kanan dan kiri.


"Itu dia Neng, hari ini kok berasa aneh biasanya jam segini sudah disini kok."


"Mungkin ngga berjodoh kali, Non." Kata Ribka nimbrung seenaknya.


"Wah mending berjodoh sama orang itu daripada sama Roger!" Brandon protes.


"Eh iya Non, katanya sudah putus sama Roger?" Selidik Ribka.


Putri mengangguk dan tersenyum membuat Brandon dan Ribka bersorak kegirangan.


"Hari yang dinanti tiba juga!" Teriak Brandon membuat para pelanggan yang lain menoleh padanya.


"Maaf, maaf teman saya lagi kumat." Kata Ribka mengatupkan kedua telapak tangannya.


Putri tertawa kecil melihat tingkah keduanya.


"Aku putus cinta kok kalian malah senang yah?" Ledek Putri pura-pura kesal.


"Yah kami bahagia banget, Non akhirnya memilih yang terbaik. Benar kata Bunda loh, Non."


"Apa Mba?" Tanya Putri pada Ribka.


"Bunda pernah bilang sama kita yah Brot, kalau Non itu ngga akan lama lagi sama Roger." Kata Ribka disahut anggukan tegas Brandon.


"Oh yah? Bunda bisa meramal masa depan?" Seru Putri takjub.


"Bukan, Non. Tapi kan Bunda itu kaya bisa lihat orang itu baik atau ngga dari wajahnya gitu." Tegas Ribka.


"Wow keren yah Bunda itu." Puji Putri.


"Ok Non aku layanin pelanggan dulu yah. Ditunggu aja jodohnya pasti datang kalau memang Tuhan restui." Ribka berlalu sambil menggoda Putri.


Putri hanya tersenyum dan menjadi penasaran dengan pria yang sudah berhari-hari menunggunya di Warung Bakso ini.


Bagaimanakah wajahnya?


Apakah dia baik?


Apakah dia benar-benar tulus mencintaiku?


Pertanyaan demi pertanyaan mengalir sesaat.


Tak lama kemudian mobil putih berhenti dengan mendadak tak jauh dari parkiran Warung. Seorang pria turun terburu-buru diikuti dengan seorang wanita dan pria lainnya yang mengemudikan mobil itu.

__ADS_1


"Kenapa harus makan dulu sih, Tha?" Keluh Adit sambil menekan kunci mobil.


Suara beep terdengar dan mereka pun bergegas menuju Warung.


"Presentasinya masih jam dua kan? Terus kita mau ngga makan?" Protes Atha dengan jalan agak cepat didepan.


"Kar, kamu diam aja sih ini bilang Atha makannya dekat-dekat sana aja." Pinta Adit berharap Karin membelanya.


Karin hanya diam dan mengikuti langkah cepat Atha masuk ke dalam Warung.


"Brot pesan tiga mangkuk bakso yah." Seru Atha ketika melihat Brandon yang mematung.


"Brot, tiga mangkuk." Panggil Atha lagi agak keras.


"Oh iya Bro, siap duduknya di meja nomer tiga puluh yah di depannya meja nomer lima belas." Kata Brandon memberi isyarat pada Ribka.


Ribka yang melihat Atha datang langsung panik berada di antara bingung dan senang. Bingung karena tak menyangka Atha akan datang hari ini dan senang karena hari ini Putri duduk di meja nomer lima belas yang berada tepat di depan meja nomer tiga puluh.


"Aku ngga pakai sayuran yah kosongan aja." Pinta Karin dengan senyum manisnya membuat Brandon terpana sesaat.


"Siap Cantik, duh kalau lihat yang bening gini jadi lupa antara bakso kosongan dan hati yang kosong." Ujar Brandon genit.


Karin hanya tertawa kecil.


"Aku apa ajalah yang paling enak pokoknya." Kata Adit dengan kesal menatap wajah genit Brandon.


Brandon hanya menatap Adit sepintas lalu. Adit mengingatkannya akan Roger.


"Kalau Bro Atha biasa yah?" Tanya Brandon memastikan.


"Siap, eh tapi ini kenapa harus duduk di meja nomer tiga puluh yah?" Tanya Atha bingung.


"Iya kenapa ngga di meja lain, kan banyak meja kosong." Protes Adit menambahkan.


Adit pikir meja nomer tiga puluh adalah tempat strategis dimana pelayan genit ini dapat memandang Karin sepuasnya.


Brandon hanya diam dan memberi kode pada Atha dengan menggerakkan kepalanya ke arah meja nomer lima belas.


"Bang Brot lagi sakit leher?" Tanya Atha lagi polos tak mengerti isyarat Brandon.


Brandon menyerah dan mengalihkan pembicaraan, "meja nomer tiga puluh sudah dibersihkan sama Ribka. Soalnya meja yang lain masih kotor."


"Iya Mas Atha, yang lain belum dibersihkan." Kata Ribka meyakinkan.


"Oh begitu, siaplah kalau begitu." Ujar Atha sambil melangkah ke meja nomer tiga puluh diikuti Karin dan Adit.


Adit masih memasang muka tak percaya pada Brandon yang nampak senyum-senyum sendiri.


"Semoga hari ini Neng Putri cantik bisa ngobrol bareng Mas Atha. Mereka memang berjodoh." Gumam Brandon dalam hati sambil tersenyum.


Putri masih asyik mengetik saat wajah yang dikenalinya melintas di depannya.


"Itu bukannya cowok yang mukulin Roger yah?" Tanya Putri dalam hati.


Atha duduk membelakangi Putri. Karin duduk di depan Atha dan melihat Putri sedang mengamati mereka.


"Tha, kamu kenal cewek itu?" Tunjuk Karin ke belakang.


Atha tak mau menengok dan memilih untuk melihat layar handphonenya.


"Tha, Karin ngomong sama lu!" Bentak Adit kesal melihat Atha tak menanggapi perkataan Karin.


"Dia lihatin kesini terus soalnya. Aku ngga kenal, mungkin Adit juga ngga kenal jadi siapa tahu kamu kenal." Karin menjawab seadanya.


"Cantik sih, tapi aku ngga kenal." Adit berkata datar berusaha membuat Karin merespon.


"Kalau ngga ada yang kenal yah sudah ngga usah dilihatin." Atha memilih untuk tetap tak menengok ke belakang.


Karin merasa kesal dan langsung berkata setengah berteriak ke arah Putri.


"Ngapain lu ngelihatin kita?"


Putri yang tak merasa melihat ke arah Karin hanya menggelengkan kepala.


"Maaf, mungkin salah orang." Jawab Putri sambil tersenyum.


"Wow kalau senyum tambah cantik yah?" Puji Adit masih berusaha membuat Karin cemburu.


"Norak." Lirih Atha pelan namun terdengar oleh Adit dan Karin.


"Siapa yang norak?" Tanya Karin kesal.


Atha menunjuk Adit spontan. Adit menatap Atha dengan kesal.


"Oh, aku pikir kamu ngatain aku." Karin tersipu.


Atha hanya diam dan masih asyik dengan layar handphonenya.


Karin menatap Atha dengan perasaan tak menentu. Dia teringat bagaimana dia mencumbu mesra Atha walau Atha berusaha menolak. Penolakan pada malam itulah yang membuat Karin merasa tak dihargai. Ia menjadi kesal dan membenci Atha. Ia mengarang cerita bahwa Bapaknya tak setuju hubungan itu. Ia berusaha membuat Atha jatuh terpuruk untuk merindukannya lalu berusaha setengah mati mengejarnya. Tapi Atha tak sesuai harapannya, ia tak begitu merindunya. Atha malah menghilang tanpa kabar walau raganya berada dalam satu kantor dan Atha tak lagi berusaha mendekatinya sekali saja. Karin semakin membenci Atha, membenci karena mencintainya.


Ribka menyajikan tiga mangkuk bakso di atas meja. Ia menyelipkan sepucuk kertas di kantong Atha yang membuat Karin dan Adit saling menatap.


"Mas ini dibaca yah segera."


Atha mengangguk cepat walau dia sendiri pun bingung apa isi surat dari Ribka.


"Disini pelayannya semua genit yah. Ngga yang cowok, eh yang cewek juga." Cibir Adit.


Atha menggelengkan kepala pada Adit dan mengambil sepucuk kertas itu.


"Ini mungkin surat titipan dia buat Di." Atha buru-buru menutup mulutnya.


Dia lupa telah berjanji pada Dito untuk tidak memberitahu tentang hubungannya dengan Ribka.


"Di siapa?" Karin curiga.


Adit hanya menatap Atha dengan sinis.


Atha buru-buru membacanya dan jantungnya langsung berdegup cepat.


"Mas, gadis yang Mas tunggu duduk di meja lima belas. Good luck." Tulisan Brandon yang mirip tanah dicakar ayam itu mengguncang seluruh jiwa Atha.


Putri berada tepat di belakangnya. Gadis yang telah membuat dia merindu selama ini. Gadis yang telah dibuatnya marah beberapa hari lalu.


Apalagi kini Karin berada di hadapannya. Ya, kini Atha berada pada kenyataan bahwa masa lalu ada didepannya dan mungkin masa depan ada di belakangnya. Atha nampak gelisah sementara jantungnya terus bernyanyi. Dia bahagia tapi terluka. Dia gembira tapi ternoda.


Bagaimana kalau Putri memarahinya lagi seperti saat itu?


Tapi ini kesempatan yang dinantikannya. Atha menjadi pucat.

__ADS_1


"Tha kamu baik-baik aja?" Tanya Karin cemas.


Adit menjadi cemburu melihat Karin masih memberi perhatian pada Atha.


"Dia baca apa sih." Ujarnya sambil menarik kertas kecil itu dari tangan Atha yang hanya terdiam.


Adit melongo membacanya dan matanya menatap Putri dengan tak percaya. Adit tertawa kecil meledek Atha yang nampak kebingungan. Karin yang menjadi penasaran pun merebut kertas itu dari Adit yang langsung terdiam. Karin merasa kesal menatap kertas, Atha, dan Putri bergantian. Karin meluapkan amarahnya saat itu juga.


"Jadi kamu sengaja ngajak kita makan disini cuma mau ketemu gadis itu?" Bentak Karin seketika sambil menunjuk Putri.


Putri jadi bingung melihat Karin marah dan menunjuk dirinya. Atha hanya diam tak mampu mengatakan apapun. Dia sendiri tak tahu kenapa harus bertemu Putri di waktu yang tak pernah tepat.


"Kenapa diam, hah? Kamu sengaja mau nunjukkin sama aku kalau kamu berhasil move on dari aku?" Karin makin menjadi.


Adit buru-buru menghabiskan baksonya dan meneguk minumannya.


"Jawab dong, Tha?! Jangan diam aja seperti pengecut yang menghilang begitu saja tanpa berusaha mencari tahu aku kenapa dan bagaimana?!" Karin melanjutkan kekesalannya.


Adit segera menarik Karin menjauh dari Atha. Banyak pelanggan lain melihat keributan itu dan menatap Karin dengan iba. Ribka dan Brandon saling memandang dengan bingung.


"Tha, kamu yang bayarin dulu yah aku antar Karin pergi dulu."


Atha hanya mengangguk sambil melihat Karin menangis dalam dekapan Adit. Adit merasa inilah momen yang tepat untuk menunjukkan bahwa dia layak menjadi Pahlawan bagi Karin. Putri yang merasa tak nyaman dan iba melihat Karin pun segera menghampiri Atha dengan kesal.


"Hei! Kamu jadi pria yang benar dong jangan sukanya nyakitin hati wanita!" Kata Putri dari balik punggung Atha.


Atha hanya diam seperti saat Karin meneriakinya.


Putri yang merasa tak didengar itu pun segera menyolek punggung Atha.


"Hai, aku bicara sama kamu! Jangan kamu pikir kamu itu cowok jadi seenaknya nyakitin hati cewek. Aku juga cewek dan aku tahu apa yang dia rasakan!"


Atha menarik nafasnya dalam-dalam dan membalikkan tubuhnya menatap Putri.


Putri tersentak melihat Atha.


"Jadi kamu! Kamu yang mukul Roger kan? Kamu itu cowok ngga benar yah! Kemarin kamu mukul Roger terus sekarang kamu nyakitin hati pacar kamu sendiri?" Gerutu Putri.


"Dia bukan pacar aku." Singkat Atha menatap Putri dengan senyum.


Atha berusaha menenangkan deburan ombak di jantungnya saat menatap Putri.


"Terus kenapa dia marah sampai begitu?" Putri mulai merendahkan nada suaranya.


Atha memberikan sepucuk surat yang dibacanya pada Putri.


"Apa ini?" Putri meraihnya dengan bingung.


"Baca aja." Pinta Atha sambil membalikkan badannya lagi dan meneruskan melahap bakso.


Putri membacanya dengan tersentak lalu matanya menatap Brandon dan Ribka yang nampak malu-malu.


"Ini cowok itu?" Kata Putri pada Brandon dengan senyap hanya menggerakkan bibirnya.


Brandon mengangguk.


Putri pun duduk di tempat Karin duduk semula. Dia terbatuk perlahan meminta perhatian Atha.


"Bisa ceritakan siapa wanita tadi? Maaf, kalau aku salah paham dan marah-marah." Ujar Putri pelan.


Atha tersenyum memandang Putri. Wajah itu membius syarafnya untuk berhenti bergerak.


"Sorry." Putri menjentikkan jari-jarinya didepan mata Atha yang tersadar dari lamunannya.


"Maaf, aku hanya ngga nyangka aja bisa sedekat ini sama kamu." Atha tersipu malu.


Putri bersikap biasa dan membalas dengan senyum sekadarnya, "bisa jelaskan aja ngga tentang cewek tadi?"


"Kenapa kamu mau tahu tentang dia?" Atha berkilah.


"Aku hanya penasaran tadi kenapa cewek tadi nunjuk-nunjuk aku."


Atha mengangguk perlahan, "I see. Dia mantanku tapi kami ngga benar-benar pacaran hanya sebatas hubungan tanpa status. Dia yang mau hubungan itu berjalan begitu dan dia juga yang memutuskan hubungan itu dengan alasan aku bukan yang terbaik di mata keluarganya."


"Oh, sepertinya dia masih mencintai kamu." Seloroh Putri.


Atha menggelengkan kepala, "mungkin tidak atau iya, aku ngga tahu pasti. Mungkin juga dia sekedar marah karena aku lebih dulu menemukan yang lain."


"Siapa?"


"Kamu."


Putri terdiam sesaat dalam hatinya berbunga tapi dia tak mau merusak hubungan orang lain.


"Kenapa kamu ngga jadian aja sama dia? Jadi bukan lagi hubungan tanpa status."


Atha menggelengkan kepala, "hatiku pernah hancur karenanya dan butuh waktu yang lama untuk merapikannya lagi walau tak sempurna. Dia tak bisa seenaknya datang dan pergi sesukanya menghancurkan dan menghancurkan berulang kali. Dan lagi kini hatiku sudah menuliskan nama orang yang lain."


"Kalau orang yang lain itu pun menghancurkan hatimu lagi bagaimana?"


"Kurasa tidak, tapi aku belum tahu. Aku hanya tahu beberapa hari lalu seluruh tujuan hidupku tertuju padanya. Pada gadis yang selalu duduk di meja nomer lima belas."


Putri tersipu.


"Hatiku juga baru hancur."


"Maksud kamu? Oh iya kalau itu tentang Pacar kamu aku benar-benar minta maaf. Aku hanya refleks membela diri saja. Lagipula kamu tenang aja aku ngga mau berusaha merebut kamu dari dia. Aku akan menunggu kamu sendiri tanpa dia, saat itu izinkan aku mengenalmu." Pinta Atha penuh harap.


"Aku sudah sendiri kok." Putri tersenyum menguatkan hatinya.


Atha tak percaya mendengarnya dia begitu bahagia meski sedih pun tergurat.


"Kamu sudah putus? Apa dia memutuskan hubungannya dengan kamu?"


"Tidak, mungkin kita merasakan hal sama bagaimana rasanya dianggap sebagai bukan yang terbaik oleh orangtua orang yang kita cintai."


"Hah, orangtua pria itu berkata kamu tak layak untuk anaknya?"


Putri mengangguk perlahan.


"Bagaimana bisa dia berkata setajam itu pada Wanita seindah kamu? Banyak pria yang rela berkorban untuk kamu!"


"Apakah kamu termasuk pria itu?"


"Pasti! Aku akan melakukan apa saja untuk mengembalikan senyum indahmu ke dunia ini lagi."


"Kamu berkata seperti itu hanya untuk menghiburku saja bukan? Karena kita merasakan situasi yang sama dalam sebuah hubungan."


Atha menggelengkan kepalanya, "tidak. Aku percaya kita dipertemukan karena kita telah ditakdirkan untuk bersama."

__ADS_1


__ADS_2