
Putri terperangah mendengar kata-kata Peter, ia tak menyangka Peter akan berkata sepahit itu. Putri hanya menunduk lesu dan mulai meneteskan air matanya. Elang nampak emosi mendengar perkataan Peter yang tajam, Elang tahu hati Putri kini seakan tertancap pisau. Dia ingin meradang dan balas memaki Peter, tapi Tina kembali melarangnya untuk berkata sepatah kata pun.
"Wanita bodoh seperti kamu itu tidak ada apa-apanya. Seperti Sari ini, kamu pun akan bernasib sama. Kamu hanya akan dibuang begitu saja oleh Roger saat dia sudah tahu mana Wanita yang berkelas dan tidak." Peter semakin pongah dan terus menancapkan duri ke dalam hati Putri.
Peter menoleh pada Tina yang sedang menahan Elang untuk meluapkan amarahnya.
"Sebaiknya kau pun tidak usah berharap banyak, Tina. Camkan kata-kataku ini bahwa aku tidak akan membiarkan Roger menikah dengan anakmu yang tidak berkelas. Sungguh tidak selevel dengan Roger!"
Putri makin terisak mendengarnya, Sari memeluk erat Putri dalam dekapannya dan mencoba menenangkannya.
Sementara Elang sudah tidak tahan lagi, ia pun meninggikan nadanya, "hei! Jaga bicaramu!"
Peter menoleh pada Elang dengan sinis.
"Atau apa?" Tantang Peter kepada Elang.
"Kau hanya punya Bengkel kecil yang kurasa hanya memiliki satu atau dua pelanggan saja lalu kau berharap menikahkan anakmu dengan anakku agar dapat menguasai harta anakku, hah?"
Elang ingin maju namun tangan Tina menahannya.
"Lihat, kau saja takut dengan Istrimu. Bagaimana kau bisa menjadi seorang Pria terhormat?!" Peter semakin arogan.
Tina menarik nafasnya sesaat lalu mendekat pada Peter dengan kesal terpantik di ubun-ubunnya.
"Anda boleh menghina saya, Pak karena saya adalah Karyawan anda. Tetapi anda tidak boleh menghina anak atau suami saya."
"Lalu kau mau apa?" Tantang Peter merendahkan Tina.
"Anda akan terima surat pengunduran diri saya besok di meja anda." Tina meluapkan ledakan di dadanya dengan tetap berusaha tenang.
"Tak perlu besok, saat ini juga kau dipecat dan jangan pernah lagi keluargamu ataupun kamu muncul di depan wajahku!" Peter berteriak di depan semuanya sambil menunjuk-nunjuk wajah Tina.
Tiba-tiba sebuah tinju mendarat di pipi Peter dengan telak hingga merah lebam meluas di dekat pelipis matanya. Elang masih mengepalkan tangannya dan menatap Peter dengan begitu amarah yang menyala di matanya. Tina yang sesaat tak menyadari Elang akan bertindak jauh segera menahan pundak Elang dengan kuat, ia mencoba menenangkan Elang.
"Mas sudah, tahan emosi kamu. Aku mohon, Mas." Tina mendekap kuat ke dua tangan Elang di kedua tangannya.
"Sekali lagi kau menghina anakku dan istriku maka aku tak segan-segan akan memburumu dimanapun kamu berada! Camkan itu!" Bentak Elang membuat Peter terdiam.
Peter mencoba berdiri namun matanya terasa berkunang-kunang.
Elang menarik tangan Putri untuk segera pergi, Putri ingin bertahan ketika menatap Roger di balik jendela tapi Tina menatapnya dengan penuh harapan agar Putri mengikuti keinginan Elang. Putri pun memilih pergi mengikuti langkah Elang. Sari pun sama, dia memilih berjalan di belakan Tina tanpa tahu tujuannya akan kemana. Dia tidak mempedulikan keadaan Peter yang masih meringis kesakitan.
Peter merapikan kemejanya dan mengusap perih di pelipisnya.
"Akan kubuat mereka menderita!"
Dia mengambil telponnya dan menelpon seseorang.
"Halo, Kak apa kabar?" Sapa seseorang disebrang telpon.
"Aku sedang tidak baik, aku mau kamu membereskan orang ini. Profilnya aka kukirim ke whatsappmu. Kau mau kamu buat mereka membayar semua perlakuan dan penghinaan mereka padaku malam ini."
"Baiklah, akan aku kerjakan. Tapi berapa bayarannya?"
"Berapapun yang kau mau, akan kukirimkan cek kosong padamu."
"Wow, itu baru bos besar. Ok, anggap saja pekerjaan ini sudah dilaksanakan."
Peter menyeringai seram dan menutup telponnya.
"Lihat saja kalian, itulah pelajarannya jika bermain-main dengan Peter!"
Sari berdiam di dekat Mobil Elang yang sedang menenangkan Putri untuk mau masuk ke dalam. Tina menghampirinya dengan senyum mengembang. Sari menatap Tina dengan rintikan airmata.
"Aku bingung mau pergi kemana, Tin. Ibuku bilang aku belum dicerai oleh Peter jadi aku ini masih Istri sah Peter. Ibu menyuruhku untuk kembali ke rumah Peter tapi aku tidak mau. Peter pun akan mengusirku nanti."
"Menginaplah di rumah kami semalam, esok baru pikirkan kau akan kembali ke Jogja atau mencari rumah kontrakkan didekatku." Tina menenangkan Sari yang masih terisak.
"Kamu kan tahu selama ini aku tidak bekerja, Peter melarangku. Aku tidak punya penghasilan untuk menyewa sebuah rumah. Aku terlalu bodoh dan percaya dengan Peter, lihat sekarang aku menjadi Wanita yang tidak bisa apa-apa. Padahal dulu, aku lulus dengan Cumlaude saat kuliah."
"Tenang, kamu bisa bekerja membantu Mas Elang. Pembukuannya berantakan sekali, aku benar-benar menyerah untuk mengurus keuangannya." Tina meledek Elang yang sudah siap menstarter Mobil.
"Aku ngga sangguplah menggaji lulusan terbaik di kampus." Kata Elang bercanda.
Sari tersenyum dan mengusap tangisnya perlahan.
"Aku tidak perlu digaji pun tak apa, asal aku dapat tempat tinggal dan makan dulu saja sementara." Sari berkata dengan senyum yang mulai terbit.
"Kau harus jadi wanita yang kuat seperti dulu, aku dan Mas Elang akan membantu kamu disini. Kamu tidak sendiri, Sari. Kamu masih punya kami berdua dan Mas Yo juga Maria. Mereka pun akan membantu kamu jika kami ceritakan keadaanmu pada mereka."
"Jangan, Tin. Aku ngga mau ngerepotin Maria. Dia sudah terlalu pusing dengan kenakalan Roger waktu itu. Aku benar-benar malu kalau bertemu mereka berdua."
"Baiklah, tinggallah dengan kami untuk sementara. Kami mohon sampai kau benar-benar siap untuk mandiri, bagaimana?"
Sari menggangguk sambil memandang Tina dengan syukur. Dia meremas kedua tangan Tina dengan lembut dan tertawa kecil.
"Aku beruntung memiliki sahabat seperti kalian."
Elang dan Tina pun tersenyum mendengarnya.
Atha masih terdiam di kamarnya saat Dian datang dan mengetuk pintu dengan cemas.
"De, kamu tuh sedang apa sih di dalam? Semenjak kemarin malam itu kamu jadi diam aja. Kamu ngga diapa-apain kan sama Bos kamu? Kan kemarin pulang kamu diantar dia."
Tak terdengar balasan suara dari Atha.
Zaki keluar dari kamar dan menggelengkan kepala melihat Dian berada didepan pintu kamar Atha.
"Ckckck, berisik banget kamu sore-sore begini ada apa sih?"
"Ini Atha dari pagi ngga keluar kamar." Dian menjawab ala kadarnya.
"Kenapa dia?" Tanya Zaki bingung.
"Aku ngga tahu, Mas. Sejak kemarin pulang diantar Bosnya itu dia ngga keluar kamar sampai Bosnya tadi telpon nanyain Atha kenapa ngga masuk kerja hari ini."
"Jadi dia ngga masuk kerja lagi?" Sindir Zaki.
"Lagi?"
"Iya maksud aku ngga masuk kerja kaya beberapa bulan lalu itu."
"Itu kan beda, masa dia harus kerja saat kita menikah?"
Zaki memilih diam sejenak.
"Bilang sama dia, hidup di Jakarta ini keras kalau ngga kerja yah ngga bisa makan."
"Mas, jangan suka ngeledek gitu. Toh dia bukan resign tapi cuma izin ngga masuk satu hari ini mungkin."
__ADS_1
"Kalau aku jadi Bosnya, sudah aku pecat dia seenaknya ngga masuk kerja."
"Mas!" Bentak Dian kesal.
"Apa sih Dian? Kamu itu jangan suka belain dia terus, nanti dia akan selalu jadi anak kecil yang ngga pernah tahu kerasnya hidup ini."
"Dia masih bagus loh, Mas punya pekerjaan. Coba lihat Mas Zaki, semenjak kita menikah apa Mas punya pekerjaan tetap?"
"Kamu kenapa balik nyindir aku sih? Kamu kan tahu aku ngga kerja kenapa? Karena kamu mau tinggal si Jakarta bareng adik kamu ini! Kalau aku ngga ikut kamu ke Jakarta pasti aku sudah sukses di Solo. Pekerjaanku disana sudah lumayan bagus."
"Mas kan pintar, kenapa Mas ngga cari kerja yang tetap di Jakarta?"
"Kamu pikir cari kerja gampang hah? Banyak orang pintar di Jakarta yang ngga punya pekerjaan karena disini pintar aja ngga cukup kalau kamu ngga punya orang dalam!"
Dian menghembuskan nafasnya sesaat.
"Yah setidaknya Mas berusaha cari kerja yang baik bukan pekerjaan serabutan gini. Tiap hari aku cemas kalau lewat Pasar pasti banyak Ibu-Ibu pada komplain tentang Mas."
"Biarin mereka komplain, kalau berhutang yah harus dibayar. Kalau bayarnya telat yah pasti ditagih. Ini pekerjaan halal juga, pekerjaan menagih hutang itu pekerjaan baik disini. Kita ngga harus tiap hari masuk kerja tapi uangnya banyak sekali pas dapat tagihan."
"Sudahlah aku malas berdebat sama Mas Zaki. Kalau Mas ngga punya solusi untuk Atha jangan ganggu dia. Lebih baik Mas tidur atau makan saja sana."
"Manjain saja adikmu itu terus, ngga akan pernah dewasa dia." Seloroh Zaki sambil berlalu.
Dian hanya menggelengkan kepalanya kesal.
Atha membuka pintunya dengan wajah dingin dan memeluk Dian erat sambil terisak.
"Kak Dian maaf yah jadi bikin Kakak berantem lagi sama Mas Zaki."
Dian membelai rambut Atha dengan lembut.
"Kita ini di Jakarta cuma berdua, Tha. Kamu kalau ada apa yah cerita ke Kakak. Jangan dipendam sendiri toh De."
Atha melepaskan pelukannya dan mengangguk. Ia melirik ke arah dapur dan melihat Zaki tengah bersiap untuk makan. Ia menarik tangan Dian ke dalam kamar dan bergegas mengunci pintu.
"Aku malas kalau berurusan sama Mas Zaki makanya kubiarkan dia pergi dulu."
Dian tersenyum pada adiknya.
"Yah sudah ayo cerita, sekarang dia ngga akan dengar."
Atha pun duduk disamping Dian dengan manja lalu bercerita. Cerita yang dimulai dari saat Atha melihat wajah Putri.
Putri masih terisak di dalam mobil sambil kepalanya rebah di atas paha Tina. Tina terus mengusap rambut Putri dan menenangkannya.
"Sudah yah sayang jangan nangis terus. Hapus airmata kamu itu. Kemarin kan kamu sendiri yang sempat bilang sama Mama, kalau mau putus sama Roger tapi ngga pernah bisa. Mungkin ini petunjuk dari Tuhan agar kalian bisa dipisahkan toh?"
Putri masih terisak perlahan.
Sari memandang ke luar kaca mobil, Gedung, Pohon, dan beberapa bangunan lain silih berganti mereka lewati. Elang mengendarai mobil itu dengan cepat, hatinya masih diliputi kegeraman.
"Aku jadi tahu kelakuan Roger begitu karena menurun dari Peter. Maaf sebelumnya kalau ini menyinggung kamu, Sari."
Sari menggelengkan kepala, "tidak apa, Mas. Aku baru pergi dari rumah satu tahun dan perilaku Roger berubah drastis dari yang aku kenal. Dia jadi mudah marah dan mengumpat pada siapapun."
"Mas sudah jangan dibahas. Pikiran kita sama-sama lelah hari ini. Biarkan Sari tenang." Ujar Tina mencoba bijak.
"Iya, aku paham. Aku hanya begitu kesal saat Peter menghina kalian bahkan dia pun berani menghina Sari di depan kita."
"Aku sudah biasa dihina seperti itu, Lang. Aku benar-benar sudah lelah hidup seperti ini. Aku pikir perceraian adalah yang terbaik tetapi tidak. Dia terus saja menghantui hidupku dan tak segan-segan mempermalukan aku." Sari mengusap matanya perlahan.
"Dia belum mau menanda-tangani surat perceraian itu?" Tina bertanya lirih.
Tina memberinya selembar tisu, "kamu yang sabar yah Sar. Aku berharap perceraianmu segera disahkan oleh Pengadilan. Kasihan kalau kamu terus seperti ini."
"Iya, Tin. Aku cuma mikir Roger bagaimana nanti apalagi kalau dia tahu Peter melarang Putri untuk bersamanya."
"Jujur, Sar. Aku berharap Putri tidak jadi dengan Roger." Elang berkata lirih.
Sari diam sesaat, ada rasa kecewa dan bersyukur datang menghampirinya.
"Aku tadinya berharap Putri mampu membuat Roger menjadi lebih baik tapi mendengar Roger memukul Putri, aku jadi takut Putri akan merasakan apa yang aku rasakan selama hidup dengan Peter. Aku kecewa sskali kalau Roger tidak jadi dengan Putri tapi entah kenapa aku merasa bersyukur juga kalau Putri tidak terus-terusan merasakan apa yang aku rasakan selama ini." Sari terisak lagi.
"Sudah, Sar. Mereka masih anak-anak kok ada kesempatan untuk berubah lebih baik. Roger akan lebih baik tanpa Putri, begitupun Putri. Kalau mereka berjodoh pasti sekuat apapun kita memisahkan, mereka tetap akan bersatu." Tina mencoba menenangkan.
"Peter sudah merusak Roger, Tin. Dia menjadikan anak kecilku yang baik menjadi liar dan kasar bahkan dia berani memukul Putri yang sudah kuanggap sebagai anakku sendiri. Dia pun beberapa bulan ini sering memakiku di telpon, bahkan ada satu kali dia berkata aku ini perempuan tidak baik karena meninggalkan Papanya. Peter mengajari Roger untuk membenciku." Sari terisak kencang.
Tina masih mengusap rambut Putri yang kini sudah terlelap di pelukannya. Ia memberikan tisu kembali pada Sari.
Elang merasa iba pada Sari.
"Aku kasihan sama Roger, Tin." Sari berkata lagi lirih.
Perlahan Sari memejamkan mata menatap Elang yang masih menggeram penuh amarah mendengar kelakuan Peter.
"Kalau aku tahu Peter akan jadi seperti ini, dulu sudah aku buat dia babak belur saat dia menggodamu pertama kali, Sar." Elang mengumpat dengan kesal.
"Sudah, Mas. Sekarang kita tidak perlu lagi memikirkan orang yang tidak peduli pada kita. Kita harus berpikir ke depan, bagaimana menjalani hidup ini. Terutama kamu, Sar. Kamu harus kuat dan mandiri."
"Iya, Tin. Aku sangat menghormatimu, Tina. Kamu membuat aku tetap merasa memiliki sandaran dalam hidup ini. Tapi, maaf gara-gara aku juga kamu harus kehilangan pekerjaan."
Tina hanya tersenyum lalu menggelengkan kepala dan menatap Sari dengan lembut.
"Oh yah Mas, aku jadi ingat besok temani aku yah Mas mengambil berkas-berkasku di kantor." Kata Tina manja.
"Iyalah aku takut kamu kenapa-kenapa lagi di kantor."
"Santai, Mas kalau di kantor itu Peter ngga berani sama aku karena semua orang disitu tuh baik sama aku."
"Iyalah mereka kan tahu itu usaha Peter cuma kamu yang bisa nanganin semua proyeknya. Kita lihat aja jadi apa dia tanpa kamu."
"Nggalah, Mas. Peter itu banyak uang pasti dia bisa cari pengganti aku kok."
"Yah tetap aja tidak sebaik kamu." Elang mengelak terus.
"Kalian tuh romantis banget, aku kagum sama kalian. Benar-benar pasangan serasi." Sari nyeletuk pelan.
"Kami ngga romantis, Sar. Kami hanya mencoba untuk tetap menjaga perasaan satu sama lain saat emosi." Tina meledek Elang dengan senyuman.
Elang tertawa kecil.
Telpon Zaki berdering saat sedang lahap makan.
"Ya, Bos ada apa?"
"Besok ke Pusat yah, ada job lapangan baru."
"Ok, Bos. Nagih janda muda lagi nih saya?" Tanya Zaki terkekeh.
__ADS_1
"Maunya kamu itu mau. Apa kurang cantik itu Istrimu?"
Zaki tertawa kecil.
"Besok kamu ikut timnya Leo ada kerjaan penting."
"Aduh, kalau sama Leo saya mending ngga ikut."
"Ini persenannya banyak, benar ngga mau?"
"Wow berapa banyak, Bos?"
"Cukup buat beli satu beat buat Istri cantikmu."
"Wah, boleh kalau gitu Bos. Tapi Leo ngga masalah kalau saya ikut dia?"
"Tenang, kamu bagian telpon nanti yang gerak mereka."
"Ah siap Bos, saya ikut."
"Jangan lupa besok pagi di Pusat, biar koordinasi dulu kita."
"Ok Bos." Zaki melompat kegirangan.
Dia bersiul senang dan segera menghabiskan makanannya.
"Jadi gitu Kak ceritanya." Keluh panjang Atha menatap langit kamar.
"Hmm rumit yah De."
"Kak Dian ada solusi ngga?"
"Kalau aku di posisi Gadis itu yah aku benar-benar ngga akan mau ketemu kamu lagi. Kecuali dia putus sama pacarnya itu yah itu lain cerita."
"Aku malah berharap mereka benar-benar putus loh, Kak. Jahat ngga yah punya pikiran seperti itu?"
"Sebenarnya jahat sih cuma kan kita tidak pernah tahu itu kebaikan atau kejahatan buat hubungan mereka."
"Maksud Kakak?"
"Gini loh, De. Kalau ternyata dia itu bukan jodoh kamu maka sepositif apapun pikiran kamu dan mau berjuang kaya apapun juga yah akan tetap percuma. Tapi kalau dia jodoh kamu mau sedekat apapun dia sekarang dengan cowoknya pasti dia akan ditemukan sama kamu dengan cara apapun."
"Iya sih Kak, tapi apa harus ditemukan dengan cara yang ngga banget begini?"
"Menurut Kakak, kamu harus temuin Gadis itu dan minta maaf."
"Minta maaf sama cowoknya yang reseh itu? Ngga, Kak. Aku ngga mau kan aku ngga salah."
"Bukan sama cowoknya, tapi sama Gadis itu."
"Kenapa aku harus minta maaf sama dia, Kak?"
"Karena kamu sudah ngga bisa nahan diri untuk mukul cowoknya karena ejekan dan hinaan cowoknya. Kakak yakin kalau dia Gadis yang baik pasti dia akan paham dan memaafkan kamu. Nah saat itu adalah kesempatan kamu buat dekat sama dia."
"Jadi aku harus nikung dia dari pacarnya?"
"Bukan nikung juga sih tapi entah Kakak rasa cowok itu juga bukan yang terbaik buat Gadis itu."
"Kakak tahu darimana?"
"Entahlah, feeling sesama wanita aja. Kakak rasa kamu harus menyelamatkan Gadis itu dari cowoknya."
Atha menatap Kak Dian dengan sebuah harapan.
"Dian!" Terdengar suara Zaki memanggilnya dari luar kamar.
"Ah pengganggu aja." Gerutu Atha pelan.
"Eh, gitu-gitu dia Kakak Ipar kamu." Cubit manja Dian pada pipi Atha.
"Iya, Kak." Jawab Atha malas.
"Sudah yah kita lanjut besok lagi ceritanya. Kasih tahu Kakak yah perkembangannya."
"Siap, Kak."
"Oh yah tentang Beno, kamu mending tetap bersikap profesional aja di tempat kerja. Dua sahabat yang mencintai satu gadis yang sama biasanya akan berakhir dengan permusuhan. Memang ngga banyak sih, tapi biasanya gitu. Ok?"
"Iya, Kak terimakasih yah Kak selalu ada buat aku." Atha memeluk Dian dengan erat.
Dian pun memeluk erat Atha, "aku cuma punya kamu disini, De."
Dian pun melepaskan pelukan Atha lalu bergegas keluar kamar.
"Pintunya kenapa pakai dikunci segala sih?" Tanya Zaki dengan kasar memegang lengan Dian.
"Apaan sih, Zak?" Dian menghempaskan lengannya melepaskan diri dari cengkraman Zaki.
"Kamu yang apaan? Ngobrol berdua di kamar sama adik laki-laki sambil kunci kamar tuh maksudnya apa?"
"Kenapa sih kamu? Itu adik aku sendiri. Dia lagi ada masalah dan mau curhat memang kenapa?"
"Kenapa dia harus curhat sama kamu? Aku kan cowok, dia bisa curhat sama aku!"
"Bagaimana dia mau curhat sama kamu kalau tiap saat kamu bisanya mengolok-olok dia? Lagipula dia adik aku yah nyamannya cerita sama akulah masa sama kamu!"
"Argh sudahlah! Banyak banget jawaban kamu! Pokoknya besok aku ngga mau lihat kamu ngobrol berdua lagi di kamar!"
"Apaan sih? Pikiran kamu itu akhir-akhir ini ngga beres. Makanya jangan bergaul sama teman-teman kamu di lapangan itu jadi begini isi otak kamu ngga beres."
Zaki hanya melongo mendengar kekesalan Dian yang segera bergegas masuk kamarnya dan mengunci pintu.
Zaki menyusulnya dan berdiri di depan pintu kamar.
"Dian, buka pintunya sayang. Aku minta maaf."
Dian tidak menjawab.
"Dian, nanti aku tidur dimana malam ini? Masa di sofa lagi sih sayang?"
Dian tetap tak menjawab.
Zaki mengeluh pelan dan menghempaskan tubuhnya di sofa sambil menyalakan Televisi.
Peter masih berjaga di depan kamar Roger. Dokter berkata agar Roger tidak diganggu dulu karena sedang dalam masa pemulihan. Beruntung tidak ada luka serius pada wajah Roger, hanya beberapa gigi depan di bagian bawahnya terlepas. Peter segera menghubungi dokter Gigi kenalannya agar memasang gigi palsu saat Roger sudah membaik. Sekretarisnya, Anita memberi pesan singkat bahwa Tina akan datang ke Kantor untuk mengambil berkas-berkasnya. Kepergian Tina mungkin akan berdampak pada beberapa Klien Peter untuk menghentikan proyek mereka jika tidak ditangani oleh Tina.
"Bagaimana, Pak? Apakah tidak sebaiknya kita mempertahankan Ibu Tina?" Bunyi pesan whatsapp Anita.
Roger berpikir sejenak lalu membalas, "suruh Pak Karyo membuka lowongan kerja Manajer Proyek dalam beberapa hari ini segera."
__ADS_1
"Tapi, Pak? Apakah kita bisa mendapatkan Manajer Proyek sebagus Ibu Tina dalam beberapa hari ini?"
"Kamu itu sekretaris saya, tidak usah banyak bertanya dan ngatur saya. Apa yang saya perintahkan itu yang kamu kerjakan!" Balas Peter nampak kesal.