
Putri baru saja selesai mandi air hangat seperti yang biasa ia lakukan di pagi hari. Dia berusaha mengeringkan rambutnya yang terurai panjang sepunggung. Kilauan cahaya mentari berkelip manja di rambut hitamnya yang memudar kecoklatan. Tetesan air di rambut pirangnya itu seakan tak mau pergi dari keindahan yang dipijaknya.
Putri menatap cermin dihadapannya dengan mata yang berbinar. Dia semakin tahu alasan Roger begitu menjaganya hingga kadang begitu berlebihan. Putri ingin lepas tapi dia tahu hati Roger akan sangat hancur lebur. Tapi semakin hari menjalani hubungan dengan Roger hanya membuat Putri ingin menangis. Hidupnya seperti terkurung dalam Sangkar Emas, hanya ada Roger dan Roger dalam kehidupannya dari pagi membuka mata hingga malam menutup mata.
Jika Roger melihat Putri sedang berbicara dengan teman Pria maka Roger akan memarahinya dan bahkan tak segan beradu mulut dengan teman Pria itu. Putri menjadi malu, sedih, dan bingung, semuanya menyatu dalam tangis dan penyesalan. Putri ingin larut dan mengurung diri dalam kamarnya saja daripada pergi bersama Roger hari ini. Sepagi ini saja Roger telah melakukan sepuluh panggilan tak terjawab dan puluhan pesan Whatsapp di Handphone Putri. Putri tak mau mengangkat apalagi membalasnya, dia hafal isi semua pesan dan panggilan itu hanya kemarahan tanpa arah yang ditutupi dengan perasaan takut kehilangan.
Kenapa dia bisa begitu jatuh cinta pada Roger?
Dia sudah lupa alasannya. Dia tidak tahu lagi harus berbuat apa. Dia memilih memejamkan mata sesaat berharap esok Roger tidak mengganggunya sehari saja.
Dia berharap Roger tidak ada.
Ketika matanya mulai menutup dan sejumput kedamaian menenangkan pikirannya tiba-tiba pintu kamarnya diketuk. Suara Mamanya memanggil dengan lembut namun tersirat kecemasan.
"Putri, belum bangun Nak? Bukannya hari ini kamu harus presentasi laporanmu itu, sayang?" Panggil Mamanya dari balik pintu yang terkunci.
Putri menggeliat sejenak dan mencoba membuka mata sambil mengingat perkataan Mamanya tentang Laporan.
"Laporan apa yah, Ma?"
"Sayang, kamu lupa? Itu loh laporan yang kamu minta bantuan Mama bikin grafiknya!" Seru Mamanya semakin cemas.
"Astaga!" Putri segera bangkit dari tempat tidurnya lalu mulai merapikan isi tas kerjanya.
Ia segera membuka pintu dan berlari turun melewati Mamanya.
"Jangan terburu-buru sayang, sarapan dulu yuk masih sempat."
"Duh Mama, aku panik banget ini. Aku kok malah mau tidur lagi tadi." Jerit Putri meneguk Susu Putih dingin yang tersaji di atas meja makan.
"Makanya Mama bingung kok sudah jam segini kamu ngga berangkat kerja. Masa iya anak Mama mau nyerah sama presentasinya? Ngga kan?" Semangat Mamanya sambil merapikan rambut Putri dengan sisir.
"Makasih yah Ma selalu ada bantuin aku." Putri memeluk Mamanya dengan erat.
"Mama bingung nanti kalau Mama sudah ngga ada, siapa yang bantuin kamu lagi? Kamu harus bisa semuanya sendiri yah suatu hari nanti."
"Iya, Ma. Aku ngga tahu deh harus berbuat apa kalau ngga ada Mama."
"Sudah, Mama kan masih disini toh selalu ada buat kamu."
"Mama memang terbaik buat aku."
"Bukan Roger nih yang terbaik?" Ledek Mamanya.
Putri mendadak diam dan menghela nafasnya.
"Kamu berantem lagi sama Roger?" Mamanya bertanya.
Putri mengangguk, "aku tuh capek, Ma. Tiap hari begini terus sama Roger. Cemburuannya itu loh berlebihan banget."
Mamanya mengusap rambut Putri dengan lembut.
"Sudah, fokus pada Presentasi ini saja. Ini masa depan kamu, kalau proyek ini berhasil Mama yakin kamu bakal sukses. Dan saat kamu sukses, kamu ngga butuh Pria seperti Roger." Mamanya balas memeluk erat.
"Mama ngga apa kalau aku putus sama Roger?" Tanya Putri heran.
Mamanya mengangguk.
"Tapi Ma, Bapaknya Roger kan Bos Mama. Nanti Mama bisa dipecat gara-gara anaknya aku putusin." Takut Putri.
Mamanya menghela nafas sesaat, "Sayang, Mama ini hidup sudah bekerja hampir tiga puluh tahun. Jika karir Mama hancur saat ini pun Mama sudah tidak lagi mencari apa-apa. Tapi kamu, karir kamu baru dimulai dari hari ini di usia dua puluh tahun. Seorang Mahasiswa yang cerdas dengan projek brilian. Jangan sampai itu diambil dari kamu! Dan jika Roger adalah penghalangnya maka kamu harus putusin dia." Mamanya mantap.
Putri terkejut dan bahagia dengan perkataan Mamanya. Ia pikir Mamanya akan menentang keputusannya untuk memutuskan hubungan dengan Roger. Tapi hari ini dia melihat Mamanya begitu mendukung keputusan yang akan dia ambil. Putri pun memeluk Mamanya lagi dan kali ini lebih erat dari sebelumnya.
"Sudah sana berangkat kerja, Mama juga mau siap-siap berangkat."
Putri mengangguk senang ada senyum mengembang di bibirnya.
"Oh yah hari ini Mama mau mampir ke tempat kerja Papa, biasa Papamu ngga bisa pulang lagi hari ini jadi Mama harus bawakan baju ganti untuknya. Papamu titip salam, dia tanya kenapa kamu sudah jarang mampir ke bengkelnya."
"Malas ah, Papa juga kalau aku kesana paling aku dicuekkin dan dia sibuk merakit Mobil-Mobil mewah itu."
"Hahaha, itulah Papamu. Mobil adalah istri keduanya, Mama juga kalau disana pasti bosan kok."
Mereka berdua tertawa bersama.
"Tapi kamu harus mampir, ada kejutan buat kamu disana."
"Kejutan apa?"
"Janji yah kamu ngga bilang kalau Mama sudah kasih tahu?"
Putri mengangguk dan Mamanya berbisik pelan. Putri terkejut dan wajahnya menyiratkan bahagia.
"Serius, Ma?"
Mamanya mengangguk, "sudah sana berangkat kerja dulu. Jangan lupa jam dua siang yah di bengkel Papamu. Oh yah mampir beli Bakso di tempat biasa, bungkus Bakso Urat yang biasa untuk Papamu. Jangan lupa yah sayang."
"Iya, Ma." Putri berjalan keluar rumah dengan senyum tak terkira mendengar kejutan yang akan diberikan Papanya.
Presentasinya hari ini berjalan dengan baik. Pak Bambang, Dosen Pembimbingnya menepuk pundaknya dengan penuh kebahagian terpancar dari wajahnya. Dia sangat bangga saat projek Anak Bimbingannya ini berhasil menembus skala nasional dan akan didanai oleh Perusahaan besar.
"Hebat kamu, Put! Bapak salut banget. Next, pekerjaan kita bakal banyak ini. Kamu ready?"
"Siap, Pak. Tapi saya butuh tim seperti yang pernah saya sampaikan ke Bapak itu."
"Ok, kamu bentuk timnya dan buat proposalnya. Tadi kamu dengar sendiri kan proposalnya harus masuk dalam dua tiga bulan ini agar dananya bisa keluar cepat juga."
"Siap, Pak!"
"Ingat yah Put ini projek bernilai ratusan jutaan loh jadi jangan sampai hasilnya tidak sesuai ekspetasi mereka. Program pengembangan karir ini harus jadi trend mark baru dalam dunia psikologi. Kamu pun harus lanjut ke Strata Dua biar tidak dipandang sebelah mata. Karena psikologi itu harus S2 dulu baru disebut Psikolog. Hari ini kamu bisa pakai namaku tetapi suatu saat nanti penelitian ini harus dipatenkan pakai nama kamu!"
"Baik, Pak. Saya senang sekali Bapak mau membantu dan membimbing saya sampai sejauh ini. Saya ngga bisa banyak balas kebaikan Bapak."
"Tidak apa toh kesuksesan kamu ini akan menjadi kesuksesan saya juga karena ternyata tesis yang pernah saya buat telah menemukan jawaban kebenaran."
Pak Bambang tertawa kecil disertai senyuman Putri.
Putri segera menelpon Mamanya dengan riang.
"Mama tebak deh hasil presentasi aku bagaimana?"
__ADS_1
"Mama sudah yakin pasti gol kan?"
"Iya, Mama." Jerit Putri bahagia.
"Ah! Yah ampun, ya Tuhan. Mama mau lompat, Nak rasanya! Selamat cantik, sayang Mama. Mama bangga banget sama kamu!"
"Aku yang berterimakasih banget sama Mama mau bantuin bikin grafik dan statistiknya. Mama the best, pokoknya aku mau traktir Mama nanti."
"Iya sayang jam dua yah di tempat Papa tunggu Mama disana mau peluk Anak hebat Mama."
"Siap Mama cantik."
"Eh jangan lupa ke tempat Papamu sudah nanyain itu dan ingat baksonya."
"Oh iya ini sudah jam satu lewat, ok Mama aku meluncur kesana pesan Gocar dulu bentar."
"Loh kamu ngga bareng Widi dan Pak Bambang?"
"Widi sudah pulang, Ma."
"Kenapa?"
"Presentasinya disuruh direvisi sama Pak Bambang, ada banyak data yang menurut Pak Bambang belum sesuai gitu. Aku juga ngga ngerti tiba-tiba Widi nangis lalu buru-buru pulang."
"Oh, dia dimarahi sama Pak Bambang?"
"Ngga sih Ma, kan Pak Bambang itu Mama tahu sendiri ngga pernah marah cuma Widi saja mungkin merasa cape bolak balik benerin tapi tetap salah datanya."
"Ok, kalau kamu ada waktu bantu Widi yah sayang."
"Siap, Ma."
"Terus kenapa kamu ngga bareng Pak Bambang?"
"Tadi kesini yah bareng Pak Bambang dan Istri juga anaknya yang kecil lucu itu loh, si Raka."
"Oh Tante Dian ikut?"
"Iyalah Ma kan Ibu Dian itu Asisten Suaminya, semua berkas aku dan slide aku saja yang atur tadi Ibu Dian. Ini kayanya Pak Bambang tuh lagi bikin Perusahaan sendiri, nah yang jalanin itu Ibu Dian."
"Oh, wah Mama mau nanya-nanya Tante Dian ah. Siapa tahu Mama bisa kerja bareng kalau ternyata benar Bapaknya Roger pecat Mama toh karena anak manjanya diputusin sama anak cantik Mama ini." Mamanya berkelakar dari balik telpon.
"Si Mama nih ada-ada aja, hahaha. Sudah yah, Ma. Gocarku datang nanti aku info kalau sudah sampai tempat Papa."
"Ok, sayang. Mama juga jalan menuju tempat Papa nih. Ingat baksonya yah jangan lupa, pesan tiga deh Mama juga mau. Eh pesan lima aja, ngga enak nanti kita makan sendiri dilihatin dua anak buah Papa itu."
"Loh Papa masih pekerjakan mereka, Ma?"
"Iya, Nak kasihan mereka berdua kan sudah yatim piatu toh dan baru lulus SMK jadi yah kebetulan Papa ada yang bantu. Mereka juga mau digaji UMR sama Papa."
"Oh pantesan Papa ngga pulang-pulang ternyata sudah ada temannya dia di bengkel! Anak laki-laki pula bisa diajak nonton Bola." Putri nampak cemburu.
"Hahaha, sudah hati hati dulu nanti omelin aja Papamu pas sampai sana."
"Iya, aku bakal marah besar sama Papa enak aja ngurusin anak lain tapi anak sendiri ngga pernah diperhatiin."
Suara Mamanya tertawa keras dibalik telpon terdengar lepas.
"Anak cantik Papa datang juga!" Serunya kegirangan dan memeluk Putri erat.
"Papa, aku bukan anak kecil lagi jangan main peluk-peluk nanti Papa dipikir selingkuh sama Gadis Muda." Cemberut Putri.
Dalam hatinya tersirat rasa senang karena Papanya memeluk dengan erat. Sebuah pelukan hangat yang tidak pernah dia rasakan sejak beranjak kuliah.
"Ah masa meluk anak gadis sendiri dilarang, sejak kapan?" Papanya bercanda sambil mencubit pipi Putri.
"Sakit, Pa. Eh katanya Papa punya kejutan buat aku?"
"Hmm pasti Mamamu sudah kasih tahu yah? Ngga seru lagi ini mah."
"Ngga apa sih Pa, kan aku tetap penasaran bagaimana bentuk Mobil yang Papa rakit buat aku hehehe."
"Yah sudah ayo ke dalam." Ajak Papanya.
"Eh kata Mama juga Papa sudah ada yang bantu?"
"Iya tuh dua anak baru lulus SMK namanya Boy dan Roy, kembar mereka tapi aku suruh bedain yang Roy boleh gondrong kalau Boy ngga boleh haha."
"Kenapa Roy boleh gondrong?"
"Karena Boy itu kutuan rambutnya jadi dari kecil sering dibotakin Bapaknya, ngga bisa gondrong dia." Kelakar Bapaknya.
Roy dan Boy menjabat erat tangan Putri sambil membungkuk.
"Ini anak gadis saya, cantik ngga?"
"Cantik, Pak." Ujar Boy sambil tersenyum.
"Jelas, Bapaknya ganteng begini toh."
"Si Bapak narsis dari kemarin." Ledek Roy.
"Oh yah? Narsis kenapa?" Tanya Putri pada Roy.
"Itu waktu Ibu datang juga Bapak bilang Ibu cantik ngga? Terus saya jawab iya cantik, Pak. Eh si Bapak langsung bilang yah iyalah cantik mana mau seganteng saya kalau ngga cantik. Gitu, Kak." Roy memaparkan dengan mimik muka yang lucu.
Tubuh Roy lebih gemuk dari Boy.
"Si Papa ini narsis banget yah sekarang." Kata Putri menggelengkan kepalanya.
"Biar awet muda, Sayang jadi Papa harus humoris karena bahagia itu obatnya stress." Papanya merangkul pundak Putri.
Putri mengangguk setuju.
"Terus mana mobil rakitannya?" Tanya Putri tak sabar.
"Oh iya, Boy bawa mobilnya kesini dari belakang."
Boy bergegas mengambil anak kunci dan seperti sudah tahu mobil mana yang harus diambil ia berjalan cepat ke belakang. Bengkel ini terlihat sempit dari luar tetapi di dalam, Bengkel ini luas dan besar. Papa tidak pernah mau menjual sisa tanah di belakang Bengkel dengan alasan untuk menyimpan hasil karya rakitannya.
Sebuah mobil sedan lama yang dipadu dengan mesin baru menderu memecah keheningan Bengkel. Putri terperanjat karena Mobil itu begitu bagus dan terlihat feminin dengan warna strip merah muda memutari tubuhnya. Putri memekik bahagia dan memeluk Papanya dengan riang. Boy turun dari mobil dan memberikan anak kunci pada Papa Putri.
__ADS_1
"Bagus banget! Ini Papa yang rakit semua?" Tanya Putri tak percaya.
"Betul sayang, Papamu kerjain ini dari malam sampai pagi ketemu malam lagi." Ujar Mamanya dari belakang.
Papanya langsung memeluk Mamanya erat, "cintaku sudah datang ternyata. Mana bakso aku?"
"Loh Putri, kamu belum beli baksonya?"
Putri menggeleng sambil tersenyum.
"Jeuh demi melihat kejutan Papa sampai lupa sama pesanan Papa toh? Ini kuncinya, bawa jalan beli bakso sana. Papa sudah lapar ini." Ledek Papanya sambil menepuk-nepuk perutnya.
Putri pun dengan riang mengambil Kunci mobil dan mengendarainya perlahan keluar bengkel.
"Kamu yakin kasih dia mobil itu?" Tanya Mamanya cemas.
"Putri sudah dua puluh tahun, Ma. Aku ngga bisa beli mobil baru jadi mobil lama itu kurakit saja jadi baru. Aku sudah cek semua, mesin, rem, kopling, dan bodynya persis kaya baru tapi ngga habis kaya beli mobil baru hehe bahkan setengah harganya pun ngga sanpai." Papanya bangga melihat hasil karyanya itu meluncur keluar Bengkel di tangan Putri cantiknya.
"Semoga mobil itu membuatnya mandiri jadi ngga bergantung sama Roger."
"Ah, anak sial itu sudah kularang-larang dia mendekati anakku. Pernah Roger kesini, kamu tanya sama Boy dan Roy itu dia mau beli salah satu mobil rakitanku, dia bilang mau dikasih ke Putri. Aku hardik dia, begitu merendahkan aku sebagai Bapaknya Putri. Dia pikir Bengkelku ini Bengkel kecil jadi aku ngga bisa belikan mobil untuk Anakku? Aku berharap mereka putus dan Putri temukan cinta yang lebih baik. Roger itu parasit, dia mengambil semua kebahagiaan anak kita."
Mama Putri mengangguk dan mengelus pundak Suaminya dengan lembut, "sabar yah Sayang. Aku yakin Putri temukan yang terbaik. Aku juga ngga mau dia sama Roger. Kamu tahu sendiri kan Bapaknya Roger itu seperti apa, buah tidak jauh jatuh dari pohonnya. Aku takut nanti Putri ditinggalkan Roger saat sakit seperti Sari, teman baikmu itu."
"Itu dia Ma, besok kita jenguk Sari sekalian yah. Aku kasihan juga sama dia, padahal waktu kuliah dulu dia gadis tercantik di kampus. Sayang sekali dia harus menikah dengan Peter yang dari awal terlihat sebagai Sahabat baik, aku sudah tidak respek pada Peter. Dia terlalu sombong dengan kekayaan yang dimilikinya, pamer mobil mewah tiap saat dan traktir banyak gadis di kampus."
"Makanya Pa, jangan sampai Putri bernasib sama dengan Sari."
"Tenang, Papa akan pastikan itu. Makanya ini Papa berusaha bahagiakan Putri agar dia tidak terlalu bergantung pada Roger."
Mereka pun berdua berjalan beriring masuk dalam bilik kantor kecil. Papa Putri menghempaskan tubuhnya ke kursi sementara Mama Putri menyiapkan beberapa mangkuk dan sendok.
Putri menghentikan mobilnya di depan Bakso Bunda KiJe. Dia turun dengan perasaan bangga dan senang melihat hadiah dari Papanya. Dia masih tak menduga bahwa dia akan memiliki kendaraan sendiri.
Brandon yang melihat Putri datang langsung berteriak girang, "asyik ada Putri cantik mampir lagi nih. Sudah lama Neng cantik ngga mampir?"
Putri tertawa kecil, "iya Bang Gembrot. Lagi sibuk kuliah kemarin-kemarin. Ini aja disuruh Mama beli Bakso buat Papa."
"Oh jadi lagi pada di Bengkel ini?"
"Iya, pada mau makan Bakso."
"Oh atuh nanti saya antar aja ke Bengkel, Neng sekalian mau ngobrol sama Neng gitu. Hehehe."
"Ngga usah, Bang Brot nanti Ribka cemburu tuh Bang Brot godain saya terus."
"Ah Ribka mah sudah ada yang dia suka, Neng."
"Oh yah?"
"Iya tuh, cowok yang duduk disana yang berdua itu tapi Ribka suka sama Dito yang pakai baju kotak-kotak."
"Oh itu pacarnya Mba Ribka? Ganteng juga yah. Mantap ini seleranya." Seru Putri kaget sambil meledek.
"Aduh Neng Cantik ini kalau sudah ketemu si Brot kompak deh godain aku. Neng mau pesan apa, buruan ah aku lagi malas digodain sama kalian." Seru Ribka dengan suara sok judesnya.
Brandon dan Putri tertawa ngakak melihat gaya Ribka.
"Ya elah gitu aja marah, Mba. Maaf atuh. Hehehe. Aku pesan biasa lima bungkus."
"Busyet, Neng lagi patah hati apa mau makan bakso sebanyak itu?" Ribka menggelengkan kepala.
Brandon nampak girang, "asyik nih kalau sudah putus sama cowok song tothe ngong itu. Saya masuk nih Bursa Jodoh Neng hehehe."
Putri tertawa ngakak melihat tingkah lucu Brandon, "ih pada ngga senang banget apa yah sama Roger?"
"Ngga!" Kompakan Ribka dan Brandon berkata sambil tertawa lepas.
"Eh bentar yah Mba, aku antar Bakso ini dulu ke tempat yayang Beb aku disana." Ribka permisi dengan jalan bak Model di Catwalk.
Putri dan Brandon menggelengkan kepalanya.
"Itu mobil baru, Neng?" Kata Brandon melihat Mobil yang dikendarai Putri.
"Yoi, hasil rakitan Bokap tuh Bang."
"Mantap memang Om Elang! Sudah istri cantik, anak cantik, mobil juga cantik!" Kagum Brandon membuat Putri tersipu.
Putri masih asyik berbincang dengan Brandon ketika Ribka datang sambil tergopoh-gopoh.
"Neng, tolongin Ribka ye please."
"Minta tolong apa sih, Mba? Bilang aja kalau aku bisa bantu yah aku bantulah."
"Eh Rib jangan bikin gue malu ah, kalau mau pinjam duit nanti aja sama Bunda. Malu-maluin aja." Brandon nampak kesal.
"Apaan sih, Brot. Sok tahu lu! Aku ngga mau pinjam uang tapi mau minta tolong Neng Putri kasih tahu nama panjang dan nomer teleponnya. Itu aja."
"Hah? Buat siapa, Mba?" Putri bingung.
"Buat Dito? Parah dia, mau gue beri juga nih Dito." Brandon makin kesal.
"Bukanlah, buat temannya Dito. Itu yang duduk depan Mas Dito."
"Waduh, seriusan? Yah kalah ganteng lagi, kalah ganteng lagi deh gue kalau sama yang itu mah." Brandon terlihat hopeless membuat Putri tertawa.
"Ah ngga mau, Mba. Aku kan ngga kenal nanti Roger juga marah kalau tahu aku kasih nomerku ke cowok lain." Putri mengelak.
"Neng tolong dong katanya tadi mau bantuin Ribka. Soalnya Mas Dito yang minta, Ribka kan jadi ngga enak kalau ngga dapat."
"Duh gimana yah, Mba? Orangnya memang ganteng sampai Brandon nyerah gitu?"
"Ya sama Dito lebih ganteng Cowok itu, Neng." Brandon membungkus lima bakso dengan sigap setelah itu melayani pesanan lainnya.
"Hmm, gini aja Mba bilang sama Cowok itu kalau aku ketemu dia lagi disini baru nanti aku kasih No. Telponku dan itu pun harus dia sendiri yang minta. Cowok itu harus gentleman dong." Putri cekikikan diiringi tawa kecil Brandon.
"Mantap Neng, makin cinta Abang sama Neng kalau begini mah. Ajib!"
"Yah Neng, itu orangnya pemalu kayanya ngga bakal berani minta sendiri." Ribka terlihat pasrah.
"Kalau cinta pasti dia akan berjuang kok Mba, kalau dia ngga mau berjuang dari hal kecil bagaimana dia mau jagain aku nanti. Dah yah aku jalan dulu, nanti mampir lagi kapan-kapan. Makasih Bang Brot dan Mba Montok." Ujar Putri sambil berlalu pergi diiringi tatapan polos Ribka.
__ADS_1
-M-