
"Huss, jangan bilang gitu nanti Pak Beni dengar bisa dipecat aku."
"Iya dipecat jadi pegawai lalu diangkat jadi menantu." Ledek Rocky dengan girang sambil berlalu pergi.
Dian tertawa kecil sambil menggelengkan kepala.
Dia pun berbisik pelan dalam hati, "aku masih setia sama Mas Zaki, bagaimanapun juga aku sudah bersuami."
Ia menatap cincin yang melekat di jarinya dengan senyuman kecil.
Ia membayangkan saat pertama Zaki menyatakan cinta padanya dibawah tetesan hujan di pelataran Sekolah. Zaki memberinya seikat bunga yang perlahan layu terkena tetesan hujan dan sebatang coklat kesukaannya. Lalu mereka pulang berdua berboncengan motor menerjang rintik hujan.
Dian memeluk kencang Zaki agar melawan dingin yang menerpa tubuh kuyupnya. Zaki memberikan jaketnya untuk Dian dengan senyuman penuh arti. Saat itu indah walau mereka berdua bermandi hujan di atas motor.
Zaki adalah siswa teladan di Sekolah. Dia meraih Juara Umum Pertama di satu Sekolah. Banyak gadis yang menyukainya dan patah hati saat tahu Zaki memilih Dian.
Dian pun menjadi musuh bersama para gadis yang tergabung dalam suatu perkumpulan fans Zaki. Semua yang diharapkan gadis-gadis saat itu memang ada pada diri Zaki. Ketampanannya yang tiada banding, bakatnya yang keren dalam bernyanyi, suaranya mampu menghipnotis para gadis untuk larut dalam petikan gitarnya. Zaki juga jago bermain basket dan yang fantastis adalah kepintarannya dalam tiap mata pelajaran. Dia selalu mendapat nilai diatas delapan puluh untuk setiap pemetikan nilai. Itulah yang membuat Zaki menjadi favorit para Guru.
Berbeda dengan Dian, yang merupakan gadis paling kuper walau kepintarannya menjadi yang nomer dua di Sekolah. Tapi dia tidak berbakat dalam musik apalagi olahraga. Dian hanya tahu tentang Puisi dan Novel. Hal yang paling romantis dari Zaki adalah saat Zaki menulis sebuah lagu untuknya. Zaki dengan penuh percaya diri menyanyikan lagu itu saat kencan mereka di Cafe tempat biasa bermalam minggu di Solo. Dian sangat menyukai Zaki yang begitu romantis dan perhatian. Tak ada sedetik pun hidup Zaki tanpa memikirkan Dian sekalipun.
Dian tersenyum sendiri, lalu lamunannya beralih pada saat bertemu Beno di pesta perayaan hari ulang tahun perusahaan. Beno begitu lembut dan baik hati dibalik tampangnya yang urakan dan kasar. Beno menyapanya dengan sangat berbeda membuat Dian sempat melupakan Zaki untuk sesaat. Beno mampu meraih sisi yang sementara ini ditinggalkan Dian untuk bersama Zaki. Zaki membuat Dian menjadi wanita yang mudah dikendalikan sesuai arah Zaki tetapi Beno membuat Dian menjadi wanita yang dapat berjalan bebas ke arah manapun Dian mau dan Beno hanya mengikutinya.
Dian teringat saat Beno terburu-buru mengambilkannya makanan dan minuman. Beno begitu perhatian bahkan mengusir beberapa orang yang duduk di bangku hanya untuk memberikan satu kursi untuk Dian. Beno juga rela mengantarnya dan Atha pulang meski arah rumah mereka berbeda jalan. Beno pun terus memandang ke arahnya kapanpun dan dimanapun matanya bertemu mata Beno. Mata liar Beno akan selalu tertuju padanya.
Dian mencoba menghapus pikiran tentang Beno dan merapikan berkas diatas mejanya.
"Maaf Zaki, aku memikirkan Beno untuk sesaat. Tapi cintaku tetap padamu." Ujar Dian dalam hati.
"Bro sudah mau jam sepuluh nih, kok belum datang juga yah yang dari kantor pusat?" Tanya Romi pada Atha.
Atha menggeleng.
"Jeuh jangan sedih gitu dong gara-gara dicabut jabatannya sama Bos, kan yang penting lu masih tetap kerja disini." Romi mencoba menghibur.
Atha mencoba tersenyum seperlunya.
"Oh yah dengar-dengar, Pak Beni itu kesini bareng kakak lu yang cantik itu. Benar ngga?"
Atha melirik sejenak ke arah Romi dengan tatapan tak suka dan menggelengkan kepala.
"Soalnya gini, Bro. Lu lihat aja tuh para cowok lagi sibuk semua dandan, ada yang langsung pakai gel, terus pada cuci muka biar sedikit glowing gitu, ada yang semprotin parfum mahal ke baju mereka. Mereka pikir bisa nampang dikitlah didepan Kakakmu juga katanya biar dilirik sama Sekretarisnya Pak Beni yang masih muda itu. Siapa namanya yah?"
"Ambar?" Tanya Atha malas.
"Nah itu dia si Ambar. Lu sendiri senang dong akhirnya diapelin Ambar?"
"Ngga."
"Kenapa, Bro? Kata temanku yang di Pusat, Ambar itu naksir sama lu. Masa lu ngga naksir sama cewek secantik itu?"
"Menurut gue, dia biasa aja."
"Yee cantik itu si Ambar ngga kalahlah sama Dian."
"Ya kalau menurut lu dia cantik, kenapa ngga lu aja yang pacarin?"
"Hehehe ngga lah kan gue sudah punya, Bro. Begini-gini gue tipe pria setia, Bro." Ujar Romi tersipu.
Atha melirik Romi dengan muka curiga.
"Setia?"
Romi menggangguk bangga.
Atha menggelengkan kepala tak percaya.
"Kalian ini bikin bingung gue sebenarnya. Kalau Ambar mungkin silahkanlah mau curi-curi perhatian tapi Kak Dian itu kan sudah menikah lalu kenapa masih aja kalian lihatin? Apa pada ngga mikir dosa yah?" Keluh Atha.
"Hehehe maklumlah Bro, wajar sebenarnya kalau cowok begitu kan yang penting ngga godain yang gimana-gimana gitu. Cuma yah kagum aja ada wanita seanggun kakakmu itu."
Atha hanya diam dalam hatinya mengiyakan perkataan Romi tentang kecantikan Dian.
Atha merasa Dian adalah wanita tercantik nomer tiga setelah Putri dan Mamanya. Mereka bertiga seperti bidadari yang tidak ada duanya. Atha membayangkan betapa beruntungnya Zaki mendapatkan hati Dian.
"Eh Bro, lu tahu ngga bagaimana membuat cewek itu ngga cemburu?" Tanya Romi tiba-tiba.
"Rom, kamu itu nanya gitu ke gue serius nanya apa cuma mau meledek ceritanya?" Balas Atha ketus.
"Hehehe maaf Bro. Gue kan cuma nanya."
"Iya kalau nanya yang benar gitu, masa kamu nanya hal yang berbau pacaran sama orang yang punya pacar aja ngga."
Romi tersentak mendengarnya.
"Hah? Masa ah dari dulu lu ngga punya pacar?"
"Iya, aku ngga pernah pacaran. Puas?"
"Serius? Lu ngga suka sama wanita?" Romi bertanya dengan takut.
Atha menarik nafasnya dalam-dalam.
"Iya, gue sukanya cowok. Kenapa?" Jawab Atha semakin ketus.
Romi berdiri dengan pelan lalu pergi secepat mungkin menjauhi Atha sambil bergidik.
Atha menggelengkan kepalanya, "ada aja yah yang bikin hari ini tambah riweuh."
"Siapa, Bro?" Tanya Dito seraya menenteng map tebal.
"Itu si Romi aneh-aneh aja kelakuannya."
"Kenapa memang dia?"
"Ngga jelas bangetlah. Sudah ah ngga usah diceritain. Eh, kapan Pak Beni datang? Sudah jam sepuluh kok mereka belum sampai."
"Katanya mampir dulu Bro beli sesuatu."
"Beli apa?"
"Kurang tahulah, coba tanya aja sama Kak Dian."
"Oh iya yah aku coba tanya Kak Dian dulu deh. Eh itu map isi apa?"
"Ngga tahu nih Beno juga lagi ngga jelas kaya Romi kali yah?"
"Ngga jelas kenapa dia?"
__ADS_1
"Ngga tahu mendadak minta semua admin perusahaan dari masing-masing Divisi. Untung sebagian besar sudah ada dalam map yang kamu kasih."
"Wow kira-kira ada apa yah sampai semua berkas dikumpulkan?"
"Dengar-dengar sih Perusahaan ini benar-benar akan dilepas Pak Beni ke Beno jadi perusahaan mandiri yang lepas dari perusahaan pusat."
"Oh yah? Keren dong."
"Iya sih keren, tapi pusing banget Bro ngurusnya. Andai kamu bisa terlibat bantu disini mungkin semua akan berjalan dengan cepat."
"Santai Bro, nanti ada kurang apa-apa langsung gerak cepat hubungi aku aja." Ujar Atha dengan ikhlas.
"Iya Bro bantuin yah, please." Dito memohon dengan wajah memelas.
"Siap, pastilah buat Sahabat Terbaik mah!"
"Asyik!" Seru Dito kegirangan.
Zaki membolak-balik halaman demi halaman yang diberikan padanya dalam satu map. Halaman-halaman itu berisi foto dan beberapa data lainnya. Zaki seperti kurang setuju dengan cara Pak Ali menangani klien kali ini. Apalagi jika Zaki gagal melakukan negosiasi maka Tim Leo akan mengambil alih kasus ini.
Zaki melihat Leo dan teman-temannya berjalan menuju arahnya yang masih terdiam di atas sepeda motornya.
"Mau quit sekarang?" Ejek Leo diikuti tawa merendahkan dari anggota timnya.
Mereka semua bertubuh tegap dan berotot seperti atlet angkat beban. Salah satu dari mereka memiliki kumis dan tato harimau di lengan kanannya, Pak Nandar namanya. Dia adalah orang yang paling tidak disukai oleh Zaki karena selalu menggunakan kekerasan dalam menjalankan tugasnya di lapangan.
Zaki hanya tersenyum dan menggelengkan kepala.
"Lebih baik nyerah aja, jadi kami ngga terhambat buat langsung turun tangan." Pak Nandar berkata sambil meludah ke tanah.
Zaki ingin marah tapi dia masih menahan diri.
"Gue dikasih waktu dua kali dua puluh empat jam. Perjanjiannya gitu kan? Jadi selama dua kali dua puluh empat jam itu, tim lu ngga boleh turun tangan dulu." Tandas Zaki sambil merapikan berkasnya ke dalam tas.
Leo mendekatinya dengan pongah.
"Dua kali dua puluh empat jam itu waktu buat seorang pengecut melakukan tugasnya. Klien keburu kabur selama waktu itu. Gue cuma kasih lu waktu dua belas jam aja!" Sindir Leo menatap tajam ke arah Zaki.
Zaki menatap balas mata Leo dengan tajam, "kalau tim lu turun tangan setelah dua belas jam maka gue yang akan bikin kalian ditangkap Polisi."
Mendengar ancaman Zaki, Pak Nandar dan b.eberapa anggota Tim Leo malah tertawa terbahak-bahak.
"Hei anak bau kencur! Polisi mana yang mau nangkap kami? Lapor aja, yang ada kami bebas besok pagi. Masuk penjara itu makanan harian kami!" Ejek Pak Nandar lagi dengan penuh hinaan.
"Ya kali ini gue pastikan kalian ngga cuma semalam tapi satu atau dua tahun lah buat pelajaran." Balas Zaki mengejek.
Pak Nandar ingin maju ke arah Zaki tapi Leo menahannya.
"Banyak omong! Dua belas jam ke depan kita lihat aja!" Emosi Pak Nandar meluap.
"Dua kali dua puluh empat jam! Biasakan baca kontrak kerja lu!" Tegas Zaki tak kalah takut.
"Ok, dua kali dua puluh empat jam. Kita lihat lu bisa apa!" Leo berkata sambil mengajak Pak Nandar dan lainnya berlalu.
Mereka berjalan melewati Zaki dengan penuh murka, terlebih Pak Nandar.
"Kenapa ngga kita habisin aja dia sekarang, Bos?" Tanya Pak Nandar pada Leo dengan geram.
"Pak, buat bunuh Nyamuk itu biarkan dia menyedot darah kita sedikit karena saat tubuh mereka gemuk maka terbang mereka akan melambat dan mudah untuk kita tepuk!" Leo menepuk pundak Pak Nandar dengan tatapan penuh arti.
Zaki melajukan motornya menembus kemacetan Kota siang ini. Google Maps-nya mengarahkan laju motornya menuju sebuah bengkel yang harus ditempuh dalam sembilan puluh menit ke depan. Pikirannya terus menolak pekerjaan ini tetapi bayaran yang besar juga terus melintas.
"Tuhan, semoga Pak Elang ini mau berdiskusi dengan baik. Ini pekerjaan yang berbeda dari biasanya tetapi aku butuh uang itu. Aku ingin Dian tak memandangku sebelah mata lagi hari ini." Batin Zaki memohon.
Tak sampai sembilan puluh menit berlalu, motornya pun telah sampai di Bengkel yang dituju. Dia segera turun perlahan dan merapikan helmnya. Zaki menarik nafas perlahan dan mulai memasuki Bengkel itu.
Elang masih asyik memodifikasi sebuah mobil mewah ketika Zaki menghampirinya.
"Pak Elang?" Tanya Zaki memastikan.
Elang menatap Zaki dengan senyum, "ya betul. Anda siapa?"
"Saya Zaki, Pak"
"Ok, ada yang bisa saya bantu?" Tanya Elang dengan masih asyik membuka kap mobil bagian depan dibantu oleh Roy.
"Saya perlu bicara empat mata dengan Bapak. Apa Bapak bisa?"
Elang pun terdiam sejenak dan memperhatikan Zaki dengan perlahan.
"Apa Bapak mau membeli mobil atau mau mendesain mobil? Nanti Boy bisa membantu Bapak." Tanya Roy polos.
"Tidak, saya hanya perlu berbicara dengan Pak Elang sebentar." Zaki menegaskan dengan nada pelan.
"Ada keperluan apa?" Elang tak tertarik dengan permintaan Zaki.
"Kita bisa bicara berdua saja?" Zaki meminta dengan sangat agar dapat berbicara berdua dengan Elang.
"Saya rasa kita dapat berbicara disini, saya harus mengejar pesanan ini." Tegas Elang sambil meminta Roy untuk mengambil beberapa peralatan di Gudang.
Roy pun berjalan pelan meninggalkan mereka berdua. Zaki mendekati Elang dengan tenang sambil membuka tasnya dan mengambil sebuah Map. Ia mengeluarkan suatu berkas dan menyodorkannya pada Elang.
"Apa ini?" Elang masih tak tertarik dan tidak menerima berkas itu.
"Ini sebuah surat perjanjian, sekaligus penyelesaian masalah Bapak dengan Atasan saya."
Elang nampak bingung dan menatap Zaki penuh tanda tanya.
"Masalah apa? Saya pikir anda mungkin salah alamat."
"Tidak, disini tertulis Pak Elang dan alamat bengkel ini dengan benar."
"Ok, siapa Atasan kamu."
"Anda tak perlu tahu namanya. Saya hanya disuruh oleh Kepala Lapangan untuk memastikan anda menanda-tangani surat ini saja." Zaki menyodorkannya untuk kedua kali.
Elang semakin bingung dan dengan cepat meraih surat itu lalu membacanya. Wajahnya nampak marah dan sesekali menggelengkan kepalanya. Lalu ia menatap Zaki dengan penuh amarah.
"Katakan pada Peter, sampai kapanpun saya tidak akan menjual Bengkel ini untuk harga setinggi apapun!" Luap Elang dengan keras membuat Roy dan Boy segera keluar dari Gudang dengan kebingungan.
Zaki hanya tertawa kecil.
"Ah saya pikir ini akan mudah. Begini saja, berapa nominal yang Bapak minta? Saya bisa bantu menegosiasikannya dengan Pak Peter." Zaki menawarkan bantuannya.
"Apa anda tidak dengar, hah? Saya tidak akan menjual bengkel ini untuk harga setinggi apapun!" Elang membentak lagi dan kali ini sambil meremas jemarinya.
"Begini Pak, saya hanya memiliki waktu dua hari untuk bernegosiasi dengan Bapak melalui cara yang baik. Jika Bapak tidak menyetujuinya maka saya tidak tahu apa yang akan Bapak hadapi nanti." Zaki berusaha memberi pengertian.
__ADS_1
"Anda mengancam saya?" Tanya Elang mendekati Zaki.
"Tidak, saya tidak mengancam. Saya hanya berkata apa adanya. Saya hanya orang lapangan yang bertugas mendiskusikan hal ini dengan baik-baik. Jika saya gagal maka nanti akan ada tim lapangan lain yang tidak menggunakan cara diskusi tetapi langsung eksekusi."
Elang meremas-remas surat itu dan membuangnya di tempat sampah.
"Katakan pada Peter, saya siap menantinya jika mau main kasar!"
Zaki berusaha tetap tenang. Dia memang sudah menduga bahwa pekerjaan ini tak mudah. Dia hanya tersenyum sambil memungut berkas itu dari tempat sampah. Roy dan Boy menatapnya dengan kesal.
"Pak Elang, saya mohon kebijaksanaan anda. Ini sebenarnya sederhana saja. Anda tinggal katakan berapa harga bengkel ini lalu anda bisa pindah ke tempat yang lebih baik, membeli banyak peralatan terbaru untuk bengkel anda, bahkan anda bisa saja menuliskan angka yang fantastis agar anda bisa membeli rumah yang mewah untuk tinggal anda dan keluarga." Zaki berusaha membujuknya.
"Siapa tadi nama anda?" Elang membentak lagi.
"Zaki, Pak."
"Dengar Mas Zaki, saya tidak akan pernah menjual bengkel ini pada siapapun apalagi pada Peter. Saya sudah sangat tahu bagaimana kelicikan dan kejahatannya selama ini. Sebaiknya anda pergi dari sini sebelum saya semakin tak dapat lagi mengendalikan amarah saya dan melampiaskannya pada anda!" Elang berkata dengan lantang sambil menunjuk pintu keluar dari Bengkelnya pada Zaki.
"Tapi, Pak."
"Keluar saya bilang!" Elang makin naik pitam.
"Ok, saya akan keluar hari ini tapi besok pagi saya akan datang lagi dan seperti saya bilang itu akan menjadi kunjungan terakhir saya disini."
"Keluar sekarang!" Elang membentak lagi dengan mata terbelalak.
Roy dan Boy pun segera mengambil inisiatif menarik lengan Zaki dan menyeretnya keluar Bengkel. Meski Zaki berusaha melepaskan tangannya tetapi dia tak mampu menahan Roy dan Boy yang terasa l..ebih kuat darinya. Mereka baru melepaskan tangan Zaki setelah Zaki berada diluar Bengkel.
"Lepaskan saya!"
"Saya mohon Mas segera pergi, nanti kalau Pak Elang murka Mas bisa babak belur disini." Kata Boy dengan tenang.
Zaki tidak menggubrisnya.
"Pak Elang mengertilah! Saya berusaha menyelamatkan Bapak dan bengkel ini." Zaki masih berteriak dari luar dengan mata tertuju pada Elang.
Roy pun terlihat geram dan mendorong tubuh Zaki hingga terjatuh.
"Jangan ganggu kami!" Teriak Roy.
Boy menahan Roy untuk tidak main hakim sendiri. Zaki mengumpat sendiri dan berusaha bangun perlahan.
"Kalian tidak tahu apa yang kalian hadapi nanti. Kalau kalian mau selamat, bujuk Bos kalian itu agar menjual bengkel ini pada saya." Seru Zaki sampil mengibaskan kerikil dan debu yang menempel di pakaiannya.
"Kami tidak takut dengan siapapun!" Roy membentak lagi.
"Sebaiknya anda segera pergi, saya mohon." Ujar Boy lebih tenang.
Zaki menarik nafasnya dalam-dalam. Dia mengumpat lagi dan segera berjalan pelan menuju motornya terparkir. Dia menyalakan motornya dan terus melaju kencang hingga hilang dari pandangan Roy dan Boy.
Tak jauh dari Bengkel, beberapa pasang mata memandang dengan girang dan penuh tawa membahana.
"Sudah ku bilang kan ini pekerjaan sulit untuknya tetapi mudah untuk kita." Kata Leo dengan senyum licik terpampang di wajahnya.
"Betul banget, ini sangat mudah. Paling kita harus beresin anak muda yang suka marah itu saja. Kasih pukul sedikit biar tahu kerasnya dunia ini." Pak Nandar berkata dengan penuh ejekan.
"Yup, ok kita kembali nanti malam."
"Kenapa malam? Kan Bos Leo sudah bilang dua kali dua puluh empat jam bakal nunggu Zaki dulu."
"Aku cuma bilang kan belum tentu harus ditepati bukan?" Tanya Leo penuh arti.
Pak Nandar seperti paham maksud Leo dan segera tertawa puas.
"Ini dia yang gue suka! Mantul banget dah!"
"Jam sepuluh malam kita gerak, kita hancurin semua barang dan kalau perlu kita bakar bengkel ini biar ludes semua mobil mewahnya."
"Sisain satu bos buat saya." Pak Nandar meminta.
"Jangan, nanti jadi kasus pencurian bahaya itu." Leo menegaskan.
"Okelah kalau begitu. Tapi kalau nanti mereka lapor polisi karena perusakan bagaimana?"
Leo tersenyum dan mengambil salinan berkas yang sama dengan yang dipegang Zaki.
"Kita tinggalin berkas ini disana maka mereka akan mengira Zaki-lah yang merusak bengkel."
"Mantap!" Pak Nandar bertepuk tangan dengan ide Leo.
"Jangan panggil gue Leo, kalau gue ngga bisa bikin anak baru kesayangan Pak Peter itu masuk penjara."
"Tapi Bos, nanti kan Pak Peter bisa bebaskan dia lagi?"
"Tenang, Pak Peter sudah kasih izin kita kasih pelajaran Zaki asal dengan satu syarat."
"Syarat apa Bos?"
"Jangan seorangpun dari kita memukul atau membuat Zaki babak belur."
"Ah, kurang seru ini. Padahal saya pengin banget kasih dia satu dua pukulan."
"Sabar, itu bisa kita lakukan di Penjara." Senyum Leo semakin penuh kelicikan.
"Oh iya? Hahaha keren banget pemikiran lu! Ngga salah gue hari ini ikut tim lu, Bos." Pak Nandar terlihat kagum dengan pemikiran Leo.
Leo merasa bangga dan tersenyum penuh kemenangan.
"Kamu akan habis besok, Zaki! Itulah akibatnya kalau kamu berurusan dengan Leo." Batin Leo penuh kepuasan diri.
Elang terus mencoba berulang-kali menelpon Tina dan Sari secara bergantian. Tapi mereka berdua tidak ada yang merespon.
"Bagaimana dengan Putri? Apa telpnya diangkat?" Tanya Elang cemas pada Boy.
Boy menggelengkan kepala, "sudah coba tiga kali, Pak. Tapi Non Putri tidak mengangkat juga."
"Kita harus bagaimana, Pak?" Tanya Roy mengatur nafasnya yang memburu penuh kemarahan.
"Tak apa, kalian berhati-hati saja besok. Saya akan datang pagi-pagi sesekali untuk memastikan semua baik-baik saja. Siang ini kunci rapat semua pintu dan gerbang. Kalau ada apa-apa segera kabari saya. Saya pulang dulu ke rumah mau memastikan mereka baik-baik saja."
"Baik, Pak." Sahut Roy dan Boy bersamaan.
"Pak, apa besok saya boleh lapor Keamanan Kawasan Niaga ini?" Tanya Boy penuh harap akan persetujuan Elang.
"Boleh, Boy. Itu ide bagus. Saya takut Peter menyuruh tukang-tukang pukulnya besok. Dia biasa menyelesaikan masalah dengan kekerasan dalam beberapa proyeknya."
Elang menatap sudut-sudut bengkelnya dengan perasaan tak menentu dan khawatir.
__ADS_1