
"Kamu itu pria, buktikan pada Putri bahwa dia bukan siapa-siapa tapi kamulah yang memegang seluruh kendalinya. Papa sarankan kamu bersenang-senang saja dengan Putri bawa dia seakan-akan dia akan kamu bawa terbang tinggi ke langit lalu hempaskan dia ke bumi dengan sangat keras! Agar dia tahu bagaimana jadinya bila mempermainkanmu! Putuskan dia saat kau sudah selesai bersenang-senang! Kamu harus membuktikan kamu Pria yang tidak bisa dipermainkan!" Peter terus memprovokasi Roger.
Roger menatap langit-langit kamar sambil terisak.
Peter menatap Roger dengan senyuman kemenangan. Ia membiarkan Roger sejenak dengan kemarahannya. Suara dering telponnya berbunyi.
"Papa tinggal sebentar yah keluar. Kamu tenang saja, istirahat yang cukup dan cepat sembuh agar kamu bisa melampiaskan semua amarah di hatimu. Kamu harus tahu Papa selalu ada buat kamu."
Peter meninggalkan Roger yang masih terisak perlahan dan semakin deras.
Peter mengangkat telponnya dengan terburu-buru sebelum dering berhenti berbunyi.
"Yah, bagaimana?"
"Sudah diurus Bos, biayanya sudah aku kirim lewat whatsapp. Apakah setuju dengan angka itu?" Suara dari seberang terasa berat.
"Kan saya sudah bilang kamu minta berapapun saya bayar asal kamu kasih pelajaran sama orang itu supaya dia ngga macam-macam sama saya!" Peter membentak sambil berbisik agar Roger tak mendengarnya.
Ia berjalan keluar ruangan.
"Baik, Bos. Saya hanya mau memastikan saja hehehe."
"Sudah laksanakan secepat mungkin. Saya bayar separuh, sisanya nanti setelah selesai."
"Siap, Bos. Tapi ada sedikit masalah."
"Masalah apa lagi?"
"Saya harus menugaskan orang baru itu untuk ke lapangan. Nantinya semua masalah ini akan dilimpahkan ke dia."
"Orang baru yang mana?"
"Itu yang Bos titip ke saya untuk dikasih kerjaan."
"Oh yah anaknya Paman saya dari Solo itu?"
Peter berjalan pelan kembali menuju ke kamar Roger.
"Iya Bos, dia banyak ngga mau mengerjakan tugas lapangan yang berat jadi beberapa rekan saya mau dia disudahi."
"Begini, dia itu anak Paman saya. Sudahi dengan baik-baik jangan kasih dia pelajaran macam-macam. Nanti dia saya pindah ke perusahaan saya saja."
"Nah boleh Bos, baik. Ini jadi pekerjaan terakhirnya sebelum Bos pindah, bagaimana?"
"Ok, deal. Ingat jangan diapa-apakan. Sampai dia luka, separuh bayaran kamu ngga akan saya kirim!" Ancam Roger seraya berbisik dengan tegas sambil berdiri didepan pintu kamar Roger.
"Baik Bos!"
Peter menutup telponnya dan menatap Roger yang masih terisak. Peter menggeleng-gelengkan kepalanya dan mendekati tempat Roger terbaring.
Putri bersiap akan pergi ke Kampus saat Sari mengetuk pintu kamarnya.
"Tante boleh masuk, Put?" Pinta Sari lembut.
"Oh, Tan boleh kok Tan tapi maaf yah kamarku agak berantakan."
"Ngga apa, Put. Tante pun seusia kamu sama. Apalagi Mamamu cerita kamu lagi bikin proyek skripsimu yang wow itu. Pastilah kamarmu berantakan kertas dan buku begini. Tante semakin kagum juga loh sama kamu."
"Ah, Mama mah pasti suka melebihkan ceritanya Tan. Ini suatu keberuntungan sih, Tan sebenarnya aku juga ngga nyangka proyek aku disetujui bahkan dikasih dana sebesar itu dari perusahaan ternama pula."
Kata Putri penuh semangat.
"Seandainya Roger juga tahu kalau dia itu sangat beruntung ketemu kamu."
Putri menjadi diam mendengar Sari berkata lirih seperti itu.
"Maaf yah, Put kalau Tante mengingatkan kamu dengan Roger. Tapi dia memang tidak bisa diandalkan sebagai Pria ataupun Pacar. Tante rasa hubungan kalian memang harus diakhiri. Dan mungkin ini satu-satunya cara untuk menghentikan hubungan kalian." Sari berkata pelan memastikan Putri tidak kecewa.
Putri masih diam menatap Sari dengan bimbang.
"Tapi Tan, aku ngga tahu caranya bagaimana harus memilih putus atau terus dengan Roger. Ini seperti dilema yang berat banget untuk aku."
"Apa karena kamu sangat mencintai Roger?"
"Putri sendiri bingung, Tan. Ini cinta yang benar-benar cinta atau karena Putri sudah terbiasa dengan kehadiran Roger dengan semua kelebihan dan kekurangannya atau karena Putri memang terpaksa harus mencintainya."
Sari memegang kedua bahu Putri dengan kedua tangannya.
"Kamu harus berani keluar dari zona nyamanmu dengan Roger. Tante ngga mau kamu merasakan apa yang Tante rasakan dengan Peter."
"Kenapa, Tan?"
"Roger yang sekarang bukan Roger yang Tante kenal sejak dia masih berada di perut Tante. Roger sudah berbeda."
Sari terisak, dia menatap salah satu foto Putri dan Roger yang terpajang di dinding belakang Putri.
"Dulu dia begitu baik, ramah, dan sangat periang. Tapi satu tahun mengubah semuanya."
"Satu tahun?"
"Ya, satu tahun sejak Tante terpaksa harus meninggalkannya."
"Kenapa dulu Tante memilih untuk meninggalkannya?" Putri terbata-bata saat bertanya, dia tak mau Sari tersinggung dengan pertanyaannya.
Tapi Putri sangat ingin tahu alasan terbesar Sari meninggalkan rumah. Kenapa Sari harus meninggalkan Roger jika Sari sangat menyayangi Putranya itu?
"Peter mengusir Tante, Put."
Putri tersentak.
"Kenapa Om Peter mengusir Tante?"
Sari menggeleng pelan.
"Tante tidak tahu, dia menunjukkan foto-foto Tante saat bersama seorang Pria. Dia tidak tahu kalau Pria itu adalah sahabat baiknya yang kutemui di Mall. Dia dan istrinya mengajakku makan, aku tidak bisa menolak dan mengiyakan. Lalu Istrinya pergi ke Toilet, saat itu Tante larut dalam perbincangan bersama sahabat tante itu berdua. Tante tidak tahu kalau percakapan itu difoto dan dijadikan senjata Peter untuk memaki dan mempermalukan Tante. Meski Tante menceritakan kebenarannya, Peter tetap marah dan melempar semua pakaian Tante keluar rumah."
Sari terisak pelan.
Putri mendekati Sari dan memberanikan dirinya untuk memeluk Sari dengan erat.
"Percayalah lebih baik kamu dan Roger berpisah. Tante mengatakan ini bukan karena Tante tidak sayang dengan Roger tetapi Tante tidak mau sebagai Wanita, kamu akan merasakan hal yang sama seperti Tante." Pinta Sari sambil memeluk erat Putri.
Mereka berpelukan dengan hangat ketika Tina masuk ke dalam dan tersenyum.
"Mama juga berpikir begitu, Put."
Putri melepaskan pelukannya dan menatap Tina.
"Mama juga berpikir begitu?"
Tina mengangguk sementara Sari mengusap airmatanya.
"Iya, sayang. Dari dulu Mama sangat ingin kalian berpisah apalagi Papamu. Dia akan senang saat tahu kamu memilih untuk berpisah dengan Roger. Apalagi Tante Sari pun sudah berkata begitu."
Putri menatap Sari dan Tina bergantian. Jujur dalam hatinya, ia menjadi dilema. Ia masih berpikir bagaimana yang akan terjadi dengan Roger saat dia meninggalkannya?
"Jika kamu masih mempertimbangkannya tidak apa. Mama tidak mau memaksa, semua kembali padamu."
"Putri hanya tidak ingin dianggap sebagai wanita yang jahat ketika harus meninggalkan seseorang yang mencintainya dalam keadaan sakit, Ma."
Tina mengangguk dan membelai rambut Putri dengan penuh kasih sayang.
"Rambut kamu sudah berapa hari ngga ke Salon? Kok kasar begini sih sayang? Sepulang dari kampus, ke Salon ya bareng Mama dan Tante Sari?" Ajak Tina memasang muka ceria.
Putri tersenyum dan mengangguk.
Atha memberikan berkas daftar persiapan yang dibutuhkan Beno pada Dito.
"Ini yah Bro daftarnya."
"Ok, bagaimana aku bisa melakukan semua ini Bro?"
__ADS_1
"Kamu pasti bisa, semangat yah!"
"Bro, nanti sore temani aku dan Ribka yah."
"Kemana?"
"Ke tempat bengkel Papanya Putri itu." Bisik Dito mencoba agar tidak ada yang mendengarnya berbicara tentang Putri.
Atha terkejut dan mengangguk senang sesaat sebelum wajahnya menjadi murung.
"Kenapa?" Tanya Dito bingung.
"Bro, aku tuh takut kalau ketemu Putri."
"Takut kenapa sih? Harusnya senang dong kalau ketemu Pujaan hati. Kamu takut ribut sama Beno?"
"Bukan, itu mah bukan masalah besar."
"Terus kenapa?"
"Jadi gini, kemarin itu kan Beno minta aku temani katanya mau nunjukkin aku dengan gadis impiannya sekarang."
"Oh jadi ini cerita awalnya kamu ribut sama Beno?"
"Iya." Atha mengangguk pelan.
"Terus, terus?"
"Di tengah jalan tuh pas mau sampai di tempat biasanya Beno ketemu gadis impiannya itu adalah insiden mobil Beno nabrak anak muda gitu yang mendadak buka pintu depan mobilnya. Bukannya minta maaf, tuh cowok malah marah-marah dan yah gitulah gedor-gedor mobil Beno sambil lagaknya tuh senga banget."
"Senga bagaimana?"
"Ya ngoceh ngga jelas, petentang-petenteng, bahkan ngajakin Beno ribut gitu. Nah aku suruhlah Beno itu markir dulu mobilnya didepan biar ngga hambat mobil yang lain toh?"
Dito menganggukkan kepalanya pertanda dia memahami cerita itu.
"Eh nih cowok malah manas-manasin aku dan bahkan mendorong aku sampai aku tuh jatuh. Aku kesal dong, lalu aku peringatkan dia jangan dorong-dorong lagi, dia malah dorong lagi sambil songong banget. Marahlah aku dan pukul dia akhirnya aku berantem dong, kan dia masih bocah gitu jadi berantemnya itu ngga terarah cuma emosi aja. Ya aku pukullah dia satu dua kali di muka sampai dia berdarah di hidung gitu."
"Oh yah? Harusnya kamu nahan diri lebih lagi sih Bro. Dia masih muda juga kan?"
"Itu dia Bro, aku kan sudah peringatkan dia aampai dua kali loh. Dia itu masih sok jagoan gitu sampai dorong kencang banget."
"Iya sih, aku juga mungkin akan marah kaya kamu. Tapi apa hubungannya dia yang bonyok sama Beno yang jadi marah sama kamu?"
"Nah, ternyata tuh cowok pacarnya Putri itu. Keluarlah Putri sama mungkin orangtuanya aku ngga tahu pasti. Beno saat itu datang dan langsung natap aku kaya marah gitu, karena dia kan ngga tahu alasan aku berantem sama cowoknya Putri."
"Jadi yang kamu pukul itu Roger?"
"Roger?"
"Iya, pacarnya Putri itu namanya Roger. Kata Ribka, tuh anak memang songong dan suka bentak bahkan mukul Putri depan umum."
"Hah? Serius kamu?"
"Iya, Ribka yang cerita. Roger juga dulu pernah babak belur dihajar si Brandon di Warung Bakso."
"Oh yah? Memang reseh dong si Roger itu?"
"Banget, wah Ribka sama Brandon bakalan kaget plus senang ini dengar cerita kamu."
"Hahaha, akunya yang ngga senang gara-gara itulah Putri marah-marah sama aku. Bahkan dia pukul dada aku sambil bilang kenapa ngga nahan diri buat ngga mukul."
"Kamu dimarahin Putri? Hahaha, asyik dong bisa dengar suaranya seperti yang kamu mau?"
"Iya tapi ngga gitu juga harusnya. Jadi hancur kan pertemuan pertamanya!"
"Hahaha iya sih. Eh terus tadi belum terjawab, kenapa Beno bisa marah begini sama kamu? Masa gara-gara kamu pukul Roger lalu dia semarah ini?"
"Iya bukan karena itu aja Bro tapi karena Beno bilang aku tuh menghancurkan momen dimana dia bisa ketemu gadis impiannya. Karena cewek yang dia suka yah Putri itu."
"Tuh kan benar banget dugaan aku! Gila, Bro. Saingan lu Beno loh. Dari segi harta, kekayaan, dan tabungan lu kalah jauh." Dito menggelengkan kepala.
Atha mengangkat kedua tangannya diatas kepala tanda menyerah.
"Mau dikata apa lagi, Bro. Beno itu lebih dari segalanya dan lagipula Putri pun pasti ngga akan lah mau sama orang yang pernah bikin Roger bonyok."
"Gimana sih? Ini bukan Atha yang aku kenal."
"Aku juga ngga tahu, Bro. Lebih baik mengalahlah daripada jadi batu sandungan."
"Ngga gitu cara berpikirnya. Cinta itu bukan sesuatu yang harus direlakan ke orang lain sesuka kamu. Kalau kamu benar-benar cinta yah buktikan!"
"Buktikan bagaimana?"
"Ya diperjuangkan dan dikejar sampai titik darah penghabisan!"
"Masalahnya, apa masih ada harapan buat aku? Kamu kan sudah dengar sendiri ceritaku Putri itu marah-marah didepanku."
"Tapi dia masih cantik kan saat marah-marah?" Ledek Dito.
"Tambah cantik sih Bro saat dia marah itu." Atha mengingat wajah Putri saat memarahinya.
"Hahaha, terus kamu rela wajah cantik itu jadi milik Beno sebagai pelampiasan sementaranya .atau tetap teraniaya oleh Roger?" Ejek Dito dengan menggoda.
"Nanti dulu, pelampiasan sementara Beno?"
Dito mengangguk.
"Maksud lu apa?"
"Gini loh Bro, tapi ini jadi rahasia kita yah jangan bilang kamu tahu dari aku. Janji?"
"Iya!" Atha menjawab dengan penuh keyakinan.
"Beno itu masih suka sama Kak Dian bahkan dia bilang sendiri sama aku, sampai kapanpun ngga akan ada yang bisa mengganti Kak Dian di hatinya. Untuk pelampiasan mungkin ada tapi untuk jadi pengisi hati ngga akan ada."
"Hah? Kamu yakin, Dit?"
"Iya, lu ngga percaya sama gue?"
"Bingung sih, cuma ngga mungkin kalau cuma pelampiasan itu dia sampai semarah ini sama aku toh?"
"Itu dia lakukan cuma buat nunjukkin ke semua orang kalau dia itu pria yang tegas dan bisa move on dari masa lalu. Lagipula kan Papanya mau datang, kamu kan tahu Papanya itu bagaimana?"
"Oh iya yah. Aku jadi ngerti kenapa dia marah. Papanya itu kan selalu marah ke dia kalau dia terlalu baik sama kita semua."
"Sudah paham kan? Makanya kamu tetap bersikap biasa aja yah jangan tunjukkin kalau kamu sudah tahu semua ini apalagi bilang kalau tahu dari aku. Nanti dia ngga percaya lagi sama aku."
"Siap, siap Bro. Memang lu tuh sahabat yang baik banget yah pinter ngademin yang lain kalau lagi berantem." Puji Atha pada Dito yang menepuk dadanya dengan tangan mengepal dua kali.
Atha tertawa kecil bersama Dito dan sepasang mata Beno mengamati mereka dengan tersenyum.
Zaki menguap perlahan seraya membuka mata dan memandang jam dinding yang berdetak perlahan. Pagi ini memang berjalan terasa lambat untuknya karena keadaan rumah yang telah sepi. Dian sudah tidak ada di kamarnya begitupun Atha.
Zaki masuk ke kamar dan mengambil baju yang telah disiapkan Dian diatas ranjang. Ia tersenyum sendiri dan membayangkan Dian ada didepannya memberikan baju itu. Zaki berlalu ke kamar mandi sambil bersiul riang.
Sebuah pesan singkat masuk ke handphonenya.
"Ditunggu Tim Leo segera yah jangan terlambat, mesti koordinasi dulu biar di lapangan bisa terkendali dengan baik."
Zaki membalas dengan cepat sambil menutup pintu kamar mandi.
"Siap, delapan enam masih on the way."
Ia bergegas mandi secepat mungkin dan mengenakan baju dengan rapi. Tak lupa ia merapikan rambutnya seperti saat Dian memuji wajah tampannya dengan gaya rambut itu.
"Dian, kamu pasti senang malam ini melihat uang yang kuhasilkan dalam sehari." Bisik Zaki dalam hati penuh kegembiraan.
Ia membayangkan wajah Dian yang bahagia melihat uang sebanyak itu dan memeluknya erat.
Ia segera mengendarai motornya setelah mengunci pintu rumah dan melajunya dengan kencang. Motor itu meraung dengan senyap menembus pekat malam.
__ADS_1
Sesampainya di depan Gedung, dia menepikan motornya dan memarkir tidak jauh dari Pos Satpam.
"Pak Eko titip sebentar." Kata Zaki pada Seorang Satpam bertubuh tegap di dalam ruang pos.
"Siap, Komandan." Tegas Pak Eko.
"Widih tumben gue dipanggil Komandan, biasanya Mas Zaki." Ledek Zaki sambil tertawa kecil.
"Ada maunya ini, Mas!" Seru Pak Eko spontan.
"Iya, iya tahu. Nih nomer telponnya Janda yang kemarin. Ingat jangan ketahuan Istri Bapak nanti habis Bapak diamuk." Ledek Zaki kembali.
"Hehehe, begini baru disebut Komandan. Tenang Pak Eko, ini bukan buat saya tapi buat adik saya kebetulan sudah umut empat puluh masih bujangan."
"Kalau cowok bukan bujangan dong tapi pajangan." Lanjut Zaki tertawa keras.
Pak Eko pun ikut tertawa.
"Sudah yah mau ketemu Bos. Ada kan dia?"
"Ada, sama Pak Leo dan Pak Nandar juga."
"Pak Nandar yang tukang pukul itu?"
"Iya, Mas."
"Ngapain Bos panggil Pak Nandar yah?"
"Mana saya tahu, Mas. Pak Nandar kan dipanggil kalau ada kreditur yang ngeselin biasanya."
"Iya, tapi aku sudah berulang-kali bilang Bos supaya ngga pakai jasa Pak Nandar lagi."
"Kenapa memang, Mas?"
"Kemarin kan Pak Nandar itu yang mukulin Klien saya sampai babak belur lalu saya yang kena panggil Polisi. Dua jam saya diperiksa, saya aduin saja itu ulah Pak Nandar. Tapi tetap aja Pak Nandar lolos terus."
"Yah pasti lolos, Mas."
"Kenapa?"
"Mas ini masa ngga tahu bekingannya Pak Nandar itu siapa?"
"Siapa?"
"Pak Peter lah."
"Peter Suwarna?"
"Iya, Mas."
"Itu mah Kakak Sepupu saya, Pak. Dia itu anak tertua dari Kakaknya Ayah saya."
"Wuih, mantap Mas Zaki juga pegangannya Pak Peter toh?"
"Yee, itu mah bukan pegangan yah memang dia Kakak saya. Mau bagaimana lagi."
"Bisa dong Mas Zaki bikin Pak Nandar out?"
"Bisalah, hehehe. Tapi nanti aja kalau nih orang makin belagu."
"Mantul, Mas. Saya juga ngga suka sama dia sok ngatur disini kalau sama satpam berlagak dia kepala satpamnya."
"Lah kan kepala satpamnya Pak Eko?"
"Iya itu dia, Mas. Saya yah ngga bisa buat apa-apa kan dia orangnya Pak Peter."
"Mulai hari ini Pak Eko ngga usah takut sama dia, pegang saya aja." Kata Zaki angkuh.
"Siap, Komandan." Pak Eko senang.
"Sudah yah saya ke dalam. Tuh janda cantik semoga berjodoh sama adik Pak Eko." Ledek Zaki kembali sambil berlalu masuk ke dalam Gedung.
Dian masih bekerja di depan laptop ketika Ambar, Sekretaris Pak Beni memanggilnya.
"Bu Dian, Pak Beni manggil katanya hari ini Bu Dian sama saya dan Rocky harus bersiap jam sepuluh ini pergi ke kantor cabang."
"Cabang yang mana?"
"Cabang masih satu kota sih Bu, yang dipimpin Pak Beno anaknya Pak Beni itu."
"Oh asyik dong aku bisa ketemu sama adik aku." Dian sumringah mendengarnya.
"Aku juga senang toh Mba akhirnya bisa ketemu Atha hehehe."
"Yee, kamu tuh Am. Aku ngga bisa bantu yah kalau masalah hati tuh kamu mesti bilang sendiri sama Atha."
"Bu, kami itu sudah berjodoh huruf depan nama kami aja sama 'A' gitu."
Dian tertawa kecil, "bukannya kamu mau dijadikan istri keduanya Pak Beni?"
"Ngga mau ah Bu, hehehe."
"Pak Beni kan kaya raya, Am. Kok kamu ngga mau?"
"Ih Ibu nih, saya tuh maunya sama adik Ibu jadi Ibu mesti kasih izin."
Dian tertawa kecil lagi.
"Kenapa ngga sama aku aja, Am? Aku juga ngga kalah ganteng sama Atha." Kata Rocky ikut nimbrung.
"Amit-amit aku sama kamu, ngga bisa memperbaiki keturunan nanti." Seru Ambar sambil berlalu pergi meninggalkan Rocky yang menggelengkan kepala dan Dian yang terbahak-bahak.
"Kamu malah ikut ketawa toh, yan?" Protes Rocky.
"Yah kepiye, Ambar benar toh."
"Huh, bilanglah sama adikmu itu jangan rebut Ambar dari aku." Pinta Rocky penuh harap.
"Tenang, Ky. Adik aku itu sudah ada yang dia suka kok."
"Wah bagus itu, saingan terberatku lewat." Rocky terlihat senang.
Dian hanya tersenyum.
"Eh yan, kamu ngga risih apa mesti ketemu Pak Beno lagi nanti?"
"Yah ngga lah kan gara-gara dia juga aku diterima kerja disini. Kalau aku ngga pernah ketemu dia di acara kantornya Atha kan ngga mungkin aku bekerja disini."
"Iya juga sih, tapi kenapa dia taruh kamu disini bukan sama dia di kantornya?"
"Yee, aku kan kakaknya Atha. Ngga mungkin dia taruh satu saudara dalam kantor yang sama."
"Ya kan dia bisa lempar Atha yang disini lalu kamu yang disana."
"Mana mungkin dia lempar Atha kesini, Atha itu kan tangan kanannya. Semua kerjaan dia kan yang beresin Atha."
"Iya juga yah. Mantaplah adik kamu itu. Seandainya aku juga bisa kaya dia dipercaya Pak Beni sebesar itu."
"Lah bukannya kamu sekarang dipercaya Pak Beni."
"Itu kan karena rekomendasi kamu."
"Iya kan pelan-pelan karir kita bakal bagus kalau kita bisa tunjukkin yang terbaik disini."
"Benar juga yah, yan. Coba kamu masih single yan."
"Kenapa, jangan mulai gombal bilang kamu juga bakal naksir sama aku?"
"Nggalah hehehe, aku mah nyadar yan tipe kaya aku mah ngga level sama bidadari kaya kamu hahaha."
"Bisa aja, terus kenapa?"
__ADS_1
"Iya, pasti kamu sekarang jadi pacarnya Pak Beno secara kan Pak Beno dari tahun lalu itu tergila-gila sama kamu."