
Atha memasuki pekarangan rumahnya dengan bersiul bahagia. Sore ini dia telah memperbaiki kesalah-pahaman yang ada di antara dirinya dan Putri. Dia masih mengingat senyuman Putri dan semua perbincangan yang mengasyikkan sambil melahap dua mangkuk Bakso. Ditatapnya nomer handphone yang tertera di layarnya, nama Putri melekat disana. Ingin dia segera mengetik sesuatu namun dia masih belum memikirkan kata yang tepat.
Apakah cukup dengan sekedar kata Halo?
Atha menghentikan siulannya ketika dia mendengar suara Dian yang bertengkar dengan Zaki. Atha segera masuk ke dalam rumah dan mendapati Dian tengah berteriak keras di depan Zaki yang sedang asyik menonton Televisi.
"Kamu sudah berjanji akan berhenti dari pekerjaan itu! Kenapa sekarang kamu ambil lagi! Kamu tahu Pak Peter itu bukan orang baik! Aku tahu dia Saudara kamu tapi dia tak sebaik yang kamu kira!" Dian memegang selembar map biru di tangannya.
Zaki hanya terdiam dan tak menggubris Dian yang nampak kesal.
"Ada apa Kak?" Atha mencoba menenangkan Dian yang mencoba mengatur nafasnya.
"Kamu tanya sama Mas kamu ini! Tadi sore ada dua orang yang ngikutin Kakak sampai rumah ini. Kakak akhirnya tanya mereka kenapa mereka ngikutin, lalu mereka cuma bilang mau memastikan dimana Zaki tinggal."
"Siapa mereka? Apa mereka menyakiti Kak Dian?" Atha bertanya dengan cemas.
Dian hanya menggelengkan kepala.
"Kakak juga ngga tahu, Tha. Tapi mereka itu seperti tukang pukul gitu. Badannya besar dan ada tato kepala singa di telapak tangan mereka. Mereka cuma senyum senyum ngga jelas lalu berjalan pergi setelah puas mengamati rumah."
"Mas Zaki bisa jelaskan siapa mereka?" Tanya Atha kesal melihat Zaki hanya terdiam.
Zaki mematikan Televisinya, "kalian ini terlalu berlebihan. Ngga usah khawatir mereka cuma anak buah Sepupuku, Peter. Aku lagi ngerjain tugas yang dia perintahkan. Ini bakal jadi tugas terakhirku sebelum aku pindah ke kantornya."
"Tugas terakhir apa? Dari bulan lalu kamu bilang begitu. Mana buktinya? Kamu masih ditugaskan di lapangan, nagih orang sana sini. Kamu itu lulusan Sarjana Terbaik!" Dian membentak lagi.
"Ini Jakarta bukan Solo! Dimana aku bisa dikenal dengan baik di sana, di sini aku sama seperti gelandangan yang susah buat cari kerja!" Zaki balas membentak.
"Kak, jangan bentak Kak Dian di depanku." Atha berkata pelan dan tajam.
"Apa? Aku di sini sendirian! Aku rela ngikut Kakak kamu kesini, tapi Kakak kamu tidak paham tentang pengorbananku itu. Yang dia tahu dan dia pikirkan hanya dirinya sendiri saja. Kalau aku punya Sepupu disini apakah aku tidak boleh bekerja dengan dia?" Zaki balas menatap tajam pada Atha.
"Kamu bilang kamu yang berkorban? Aku juga berkorban untuk berada disini bersama kamu!"
"Yah sudah kita kembali saja ke Solo! Apa kamu mau?" Tantang Zaki.
"Aku sudah punya pekerjaan yang baik disini."
"Pekerjaan apa? Pekerjaan yang diberikan oleh kenalan adik kamu itu? Orang yang godain kamu di pesta kantor itu? Siapa namanya?" Zaki naik pitam.
"Dia ngga ada hubungannya dengan masalah kita!" Dian pun bertambah kesal.
"Kak Dian sudah, lebih baik Kak Dian ke kamar. Ini akan jadi debat kusir karena kalian berdua sedang tidak berpikir jernih." Atha mencoba menenangkan Dian.
Dian segera berjalan ke kamar menjauhi Zaki. Ia keluar dari kamar sambil membawa beberapa pakaian dan masuk ke dalam kamar Atha.
"Mulai hari ini aku tidur di kamar kamu, aku sudah tidak mau lagi berada di dekat dia!" Dian membanting pintu kamar Atha dengan keras.
"Ya larilah dari masalahmu seperti yang biasa kamu lakukan! Kamu ada masalah di Solo, kamu lari ke Jakarta!" Zaki masih berteriak dengan lantang.
"Mas, tolong berhenti. Hargai Kak Dian, biar dia tenang dulu." Atha memohon sekali lagi dengan menahan kesal.
"Kenapa kamu ikut campur masalahku dengan Kak Dian?" Zaki mendekati Atha dengan tatapan tajam.
Atha melepas nafasnya dengan kesal, sedikit sinis sambil mengarahkan pandangannya pada Zaki.
__ADS_1
"Dia kakakku, aku berhak menolong dia saat dia dalam kesulitan atau ada masalah seperti ini. Sebaiknya Mas Zaki mulai memahami itu." Atha menatap balik Zaki dengan tajam.
"Apa? Kamu pikir aku takut sama kamu? Karena Kak Dian saja kamu bisa aman dari aku, kalau aku tak memandang Kak Dian maka sudah lama aku habisin kamu."
Atha hanya tersenyum mencibir, "bersyukurlah Kak Dian masih mencintai Mas Zaki karena kalau tidak maka Mas Zaki yang sudah tidak ada di rumah ini."
Zaki mengepalkan tinjunya dan menggeram. Atha menatapnya dengan sinis kembali dan bersiap memasang kuda-kuda pertahanan menunggu Zaki menyerangnya lebih dahulu. Tiba-tiba Dian membuka pintu dan menarik tangan Atha masuk ke dalam kamar lalu menutup pintu dan menguncinya dari dalam.
"Berduaanlah kalian di kamar! Aku curiga kalian ini punya hubungan apa lagi selain kakak adik? Jangan-jangan selama ini kalian berdua sering main di belakangku!" Bentak Zaki dari luar.
Atha hendak ke luar dan meninju muka Zaki namun Dian melarangnya dan memintanya duduk di kursi. Atha mengatur nafasnya menenangkan diri.
"Jangan digubris, itu memang yang dia mau."
"Maksud Kak Dian?"
"Dia memang sudah lama mau ribut sama kamu. Ngga jelas kadang apa yang dia pikirkan."
"Yah biarin aja, Kak. Aku juga ngga takut kok sama dia." Atha menahan kesalnya yang begitu dalam.
"Kakak tidak takut kamu yang babak belur tapi kakak takut Mas Zaki yang babak belur kok." Dian mencoba bercanda sambil menenangkan Atha.
Atha tersenyum mendengarnya.
"Dulu aku pikir Kak Dian beruntung dapat Mas Zaki, ternyata makin kesini aku pikir kok Mas Zaki yang ngga tahu diri kalau dia sudah dapat Kak Dian."
"Sudahlah, ini masalah aku dan dia. Nanti juga reda seperti biasa."
"Apa Kak Dian ngga lelah bolak-balik ribut begini?"
"Tha, pernah kamu lihat Papa Mama kita tidak bertengkar?"
"Dalam keluarga, sepasang suami istri pasti akan ada saatnya bertengkar atau sekedar meributkan sesuatu. Itu hal yang biasa."
"Tapi Mas Zaki tidak pernah seperti Papa. Kak Dian ingat bagaimana Papa selalu meminta maaf dan menenangkan Mama setelah mereka bertengkar walaupun kita tahu terkadang Mama yang salah bukan Papa."
Dian mengangguk, 'Iya sih Tha."
Atha berdiri sambil mendengus.
"Tiap Kak Dian bertengkar dengan Mas Zaki, kalau aku perhatikan selalu Kak Dian yang mengalah di hari besoknya. Itu tidak seperti hubungan yang seimbang, Kak. Mas Zaki selalu menyalahkan Kak Dian atas keputusan pindah ke Jakarta dan itu selalu menjadi senjatanya yang berulang-ulang kali dia katakan untuk membuat Kak Dian merasa bersalah dan tersudut."
Dian menatap Atha dengan berbinar, dia seperti membenarkan semua perkataan Atha.
"Tha, laki-laki itu punya harga diri yang tinggi dan mungkin itu yang sedang dirasakan Mas Zaki. Dia hanya ingin diakui bahwa keputusan kami pindah ke Jakarta itu adalah kesalahan terbesar."
"Tapi Kak, dia harusnya tahu bahwa keputusan Kak Dian pindah ke Jakarta itu juga untuk menyelamatkan muka Mas Zaki dari perkataan keluarga besar disana. Apa yang mereka katakan kalau mereka tahu Maz Zaki itu mandul?"
"Tha, bisa ngga hal yang itu tidak usah kamu ungkit lagi?" Dian menatap Atha dengan keras seraya memohon rasa iba.
Atha mengangguk dan mendekati Dian yang mulai terisak perlahan. Atha memeluk Dian yang menyandarkan kepalanya di dada Atha sambil menangis.
"Dia tidak pernah tahu kalau dia mandul, Tha. Jangan sampai kebenaran ini dia ketahui karena itu akan membuat Mas Zaki makin terpuruk. Cukup dia tahu aku yang salah karena membawanya ke Jakarta."
Atha mengangguk sambil tetap memeluk erat Dian.
__ADS_1
"Aku jadi tahu kenapa Papa sayang banget sama Kak Dian?"
"Kenapa?"
"Kak Dian itu mirip banget sama Papa ternyata."
"Kenapa kamu bilang begitu?"
"Kak Dian dan Papa itu selalu mengalah untuk suatu hal yang terbaik walau mungkin orang lain tak memahami apa yang kalian korbankan untuk mengalah demi kebahagiaan orang lain itu."
"Seperti Papa selalu mengalah sama Mama?" Tanya Kak Dian.
Atha mengangguk pelan.
"Kamu tahu, Kakak sayang banget sama kamu. Kamu selalu jadi tempat terbaik Kakak buat curhat."
"Kakak juga tempat terbaik aku buat curhat juga kok. Aku juga sayang sama Kakak."
"Kita kompak forever yah?" Dian menatap Atha dengan lembut.
Atha mengangguk sambil melepas pelukannya.
"Aku tidur di bawah saja, nanti Kakak yang di atas."
"Jadi teringat waktu kecil yah? Aku tidur di atas dan kamu di bawah terus kamu ketakutan pas ada tikus lewat di kamar. Kamu langsung lari ke atas dan memeluk Kakak." Dian menggoda Atha.
"Iya yah kok dulu malah aku yang takut sama Tikus?" Atha terkekeh malu.
Mereka tertawa bersama mengenang masa kecil.
Zaki berhenti menguping pembicaraan Dian dan Atha. Ia menghapus air matanya yang turun perlahan. Ia lalu memilih untuk keluar dari rumah dan membawa motornya melaju menembus pekat malam.
Dia berhenti di sebuah pohon besar tak jauh dari rumah dan menangis di bawahnya.
"Kenapa ini terjadi padaku!" Tanyanya memaki langit yang nampak sunyi.
Zaki masih menangis saat handphonenya bergetar. Dia berharap Dian mencarinya, dia segera mengambil handphone dan mendapati nama Sari tertera di layar. Zaki mengusap airmatanya dan mengangkatnya dengan sedikit kecewa.
"Yah, Kak kenapa?"
"Kamu dimana? Kita bisa ketemu?"
"Aku lagi di jalan, maaf Kak kalau ini tentang kemarin lalu aku mohon maaf. Aku khilaf saat itu, tolong maafkan aku, Kak Sari."
"Bukan, Zak. Ini tentang Peter."
"Maksudnya Mas Peter tahu tentang aku dan Kak Sari?"
"Kita ketemu di tempat kemarin, besok jam tiga sore aku tunggu."
Sari menutup telponnya dan Zaki membanting punggungnya ke pohon besar dan mulai menarik rambutnya dengan kesal. Bingung dan sedih menghantuinya. Sedikit rasa takut pun mulai merambat pikirannya mengingat akan kemarahan yang akan diterimanya dari Peter.
Zaki berjalan menuju Kafe, disana Sari sudah menunggunya sambil berharap cemas.
"Kak Sari, aku benar-benar minta maaf tentang hari itu. Tolong Kak bantu katakan pada Kak Peter ini cuma kesalahan dan kita tidak melakukan apa-apa." Zaki mencoba berlutut di hadapan Sari.
__ADS_1
Sari hanya tersenyum kecil memandang Pria yang telah membuatnya jatuh cinta sekali lagi dalam hidupnya.
"Kak Peter tidak tahu apa-apa kok." Sari mencoba menenangkan Zaki.