
"Kalau begitu, besok saya minta tolong Brandon dan kawan-kawan untuk menemani kami menjaga Bengkel boleh, Pak?" Roy bertanya dengan harap juga.
"Baiknya tidak, kita tak mau merepotkan mereka tetapi kalau itu membuat kalian berdua merasa nyaman yah silahkan saja. Asal jangan memaksa Brandon yah dia juga kan ada kerjaan."
"Siap, Pak." Mereka menjawab bersamaan lagi.
"Boy, Roy, bengkel ini saya titipkan pada kalian. Jaga dengan baik untuk besok. Saya akan buat laporan ke Polisi segera hari ini juga agar besok kita juga bisa lebih aman dan semua terkendali." Elang memastikan Boy dan Roy agar tidak cemas.
"Bapak tenang saja, bengkel ini satu-satunya rumah kami. Kami sangat senang dan bersyukur bisa ada disini ikut sama Bapak. Jadi kalau perlu darah kami tumpah pun kami akan tetap jaga tempat ini, Pak." Tegas Boy menenangkan Elang.
"Iya, Pak. Jangan cemas. Bapak pastikan saja Ibu dan Non Putri baik-baik semua. Biar bengkel ini kami yang rapikan." Roy berkata dengan senyum mengembang.
"Ok, baiklah. Saya sangat percaya pada kalian. Kalian sudah saya anggap sebagai anak-anak saya sendiri. Tetap hati-hati yah." Elang menepuk pundak mereka berdua.
"Baiklah, saya tinggal dulu jangan lupa rapikan semuanya. Dan beristirahatlah siang ini."
Mereka berdua mengangguk. Elang pun bergegas ke dalam kantor untuk mengambil kunci mobilnya.
Sebuah mobil mewah berhenti tepat di depan lobby gedung tempat Atha bekerja. Dari dalam mobil, Pak Beni turun ditemani Dian, Ambar, dan Rocky. Mereka disambut ramah oleh Pak Beni dan segenap staf perusahaan termasuk Atha. Dian melambaikan tangannya perlahan saat melihat Atha, mereka hanya tersenyum. Ambar mengira senyum Atha tertuju padanya, Ambar jadi salah tingkah dibuatnya. Dian hanya tertawa kecil saat melihat Ambar tersipu malu.
"Halo, Pah. Bagaimana kabarnya?" Tanya Beno berusaha tenang menghadapi Pak Beni.
Beno tahu dia harus bersikap ramah dan biasa saja pada Pak Beni. Pak Beni adalah orang yang haus akan pujian dan penghargaan, dia memperlakukan anak-anaknya sama seperti pegawai biasa. Beno juga tahu jika hari ini tak berjalan baik maka dia akan digantikan oleh Kakak perempuannya, Bena yang selalu siap mengambil alih tempatnya.
"Semua sudah siap?" Pak Beni tak menjawab sapaan Beno tetapi langsung bertanya pada inti dari kedatangannya.
"Iya, Pah. Semua sudah siap."
"Bukankah saya sudah berulang kali berkata jika di Kantor panggil saya, Pak bukan Pah." Tegas Pak Beni menatap Beno dengan lirikan mata yang sinis.
"Baik, Pah eh Pak. Mari ikuti sekretaris saya, dia akan mengantar menuju ruang rapat kami." Beno berusaha tenang dan meminta Dewi untuk menemani Pak Beni.
"Mari, Pak. Kita lewat lift saja biar lebih cepat sampai di ruangan." Dewi berusaha mencairkan suasana.
Pak Beni memperhatikan Dewi dengan seksama dan berkata dalam hati, "untung saja dia punya tubuh bagus jika tidak gadis bodoh seperti ini tak pantas untuk jadi sekretaris di perusahaan ini."
"Baik, Ibu Dewi. Kami harus menuju ruang tiap divisi untuk melakukan audit. Jadi nanti Pak Beni dan Ambar yang akan ke ruangan." Dian berkata dengan senyum membuat Beno dan para pria yang melihat merasa teduh dan damai, kecuali Atha yang nampak risih melihat wajah rekan-rekan kerjanya itu.
"Baiklah, Dian jika ada hal-hal yang belum sesuai segera laporkan saya di hari ini juga." Pinta Pak Beni sambil berlalu mengikuti langkah Dewi
Dian mengangguk penuh hormat, "baik, Pak."
"Ambar, itu Pak Beni sudah jalan." Bisik Rocky pada Ambar yang masih menatap Atha dan berharap Atha membalas tatapannya.
Ambar tersentak dan segera mengikuti Pak Beni dengan berlari kecil. Rocky dan Dian berusaha menahan tawa. Setelah Pak Beni masuk ke dalam lift, maka beban berat terasa lepas dari semua orang yang ada di lobby. Dian segera mendekati Atha dan mereka berbincang ringan. Rocky memilih duduk di ruang tamu dan menyiapkan beberapa berkas yang akan digunakan untuk audit siang ini. Beno segera menghampiri Dian dan Atha dengan hati-hati.
"Hai, Ibu Dian. Kita bertemu lagi." Sapa Beno tak menghiraukan keberadaan Atha di dekat Dian.
"Hai juga Pak Beno." Sapa balik Dian mencoba tersenyum.
"Oh yah apa ada yang Ibu Dian perlukan selama disini? Mohon jangan sungkan-sungkan untuk menyampaikannya pada saya secara langsung. Saya akan berusaha untuk menyiapkannya." Beno mencoba membuat Dian nyaman selama berada di kantor.
Dian hanya tersenyum dan mencoba menolak dengan halus, "tidak apa Pak Beno nanti saya bisa minta tolong adik saya ini kalau ada perlu apa-apa."
Atha memandang Dian dengan senyuman.
"Oh, saya lupa mengatakan hal itu. Pak Atha hari ini tidak akan bersama dengan kita dalam mengaudit setiap Divisi. Karena hari ini Pak Atha ada dinas keluar bersama tim promosi untuk melakukan penawaran proyek baru kami ke Bekasi. Jadi nanti selama disini Ibu Dian akan ditemani oleh saya dan Pak Dito, asisten baru saya. Saya rasa Ibu Dian juga pernah bertemu dengan Pak Dito, bukan?" Beno memperkenalkan Dito pada Dian.
Dian nampak bingung dan menatap Atha yang mencoba tetap tersenyum. Atha sendiri dibuat bingung karena dia tidak tahu menahu dengan dinas luar yang dimaksud Beno. Tiba-tiba saja Karin dan beberapa temannya datang untuk meminta tanda tangan Beno.
"Nah ini dia Ibu Karin, hari ini Pak Atha ikut tim anda yah. Dia sangat bisa diandalkan untuk menjelaskan proyek ini." Beno berkata dengan tegas seakan memberi kode pada Karin bahwa Atha harus ikut dengannya.
Karin hanya bisa mengangguk menatap Atha dengan bingung. Tatapan Atha pun memberi arti pada Karin, bahwa dia pun tidak tahu tentang keputusan yang mendadak ini.
"Baik, Pak. Saya akan tunggu Pak Atha membereskan barangnya dulu." Karin menjawab dengan pasrah.
"Ok, silahkan Pak Atha kembali ke meja Bapak dan membawa apa yang diperlukan. Presentasinya setelah jam makan siang, jangan sampai terlambat sampai disana karena ini berhubungan dengan proyek terbaru perusahaan ini." Beno berbicara dengan tenang pada Atha seakan tak ada masalah diantara keduanya.
Dian menatap Beno dengan kesal lalu menatap Atha dengan iba.
"Ok, Kak aku tinggal dinas dulu jadi nanti kita ngga pulang bareng dulu." Kata Atha perlahan.
Dian hanya mengangguk seakan berat melepas Atha tuk jauh darinya.
"Jangan khawatirkan itu, nanti saya sendiri yang akan menemani Ibu Dian pulang dan selamat sampai rumah." Beno coba memancing amarah Atha.
Dian membelai punggung Atha yang hendak berjalan pergi namun tiba-tiba berhenti mendengar perkataan Beno.
Dito memberi kode pada Atha untuk tenang.
"Mari Pak Atha, saya juga harus meminta beberapa data anda sebelum pergi. Ternyata setelah saya cek, masih ada kurang beberapa." Dito berkata sambil mendorong tubuh Atha perlahan meninggalkan Beno.
Dian mengiringi kepergian Atha sambil menarik nafas dalam-dalam. Beno mempersilahkan Dian dan Rocky untuk mengikutinya menuju ruangan yang tidak berada jauh dari lobby.
Karin menghempas tubuhnya ke sofa lembut di ruang tamu dengan kesal. Adit yang melihatnya segera menghampiri dan duduk di depannya.
"Santai, Kar. Aku pastikan nanti Atha ngga mengacau presentasi kamu." Ujar Adit menenangkan Karin.
"Aku ngga ngerti apa yang ada di kepala Pak Beno saat ini. Kalau dia memang marah sama Atha yah lampiaskan ke Atha jangan ke aku!" Lirih Karin tak terima.
"Apa Pak Beno tahu tentang hubungan kamu sama Atha sebelumnya?" Selidik Adit.
Karin mengangguk, "mungkin. Atha dan Pak Beno kan dulu bersahabat baik sebelum hari ini. Bisa saja Atha sudah cerita tentang kami sama Pak Beno."
Adit mencoba memahami.
"Gini aja apa nanti aku suruh Atha diluar ruangan saja saat kamu presentasi?"
__ADS_1
"Ngga, aku sih ngga masalah dia mau ada didalam ruangan atau diluar ruangan. Hanya saja aku ngga mau kerja bareng Atha makanya aku pilih pindah divisi eh hari ini malah Pak Beno terlihat sengaja nyatuin kami. Maksudnya apa coba?" Karin mengeluh lagi.
"Iya aku juga mana tahu tentang pikiran Pak Beno sih. Cuma sekarang yang harus kita pikirkan adalah solusinya itu bagaimana?" Adit mencoba menenangkan Karin.
Karin menggelengkan kepala tanda tak tahu harus berbuat apa.
"Kamu kan bisa menggunakan kedekatan kamu dengan Pak Beno untuk membatalkan Atha untuk ikut bersamamu."
Karin hanya terdiam sambil memejamkan mata, Adit menatapnya dengan penuh cinta. Adit tahu dia terpesona pada kecantikkan Karin. Adit yang paling bahagia saat Karin memutuskan pindah divisi dari divisi operasional ke marketing. Dia sudah lama memendam cinta pada Karin sejak pertama mereka mengikuti training bersama. Tapi cintanya saat itu kandas melihat Karin dan Atha sering jalan berdua.
Atha membanting pulpen diatas meja melampiaskan rasa kesalnya. Dito berusaha menenangkannya.
"Nanti aku yang antar Kak Dian pulang, kamu jangan cemaskan hal itu."
"Aku sih ngga masalah dia mau antar pulang atau mau godain Kak Dian sekalipun. Tapi caranya itu loh benar-benar pengecut banget. Tiba-tiba aku dinas luar tanpa pemberitahuan sebelumnya. Terus pakai bilang mau antar Kak Dian pulang dengan nada ketus gitu. Dan parahnya dia bikin aku kerja bareng Karin!"
Dito nampak bingung sesaat dan menatap Atha penuh tanda tanya.
"Memang kenapa kalau kerja bareng Karin, Bro?"
Atha terdiam sesaat dan mencoba merapikan berkas yang tidak tahu berkas mana yang akan dia bawa.
"Bro, kamu ngga mau cerita tentang Karin? Apa Beno tahu sesuatu tentang kamu dan Karin?" Dito mencecarnya dengan penuh penasaran.
Atha menarik nafasnya dalam-dalam dan menatap Dito.
"Kamu pernah tanya aku kan waktu kamu ajak aku pertama kali makan bakso, kamu masih ingat kamu tanya apa aku pernah jatuh cinta, kenapa aku tiba-tiba sedih, masih ingat?"
Dito mengangguk mencoba mengingat hari itu.
"Karinlah orangnya, Bro. Dialah gadis yang membuat aku jatuh cinta untuk pertama kali dan dia juga orang yang membuat aku hancur pertama kali." Atha menggertakan giginya.
Dito melongo menatap Atha dengan tak percaya.
"Gila, kamu sama Karin pernah punya hubungan spesial?"
Atha mengangguk.
"Bro, Karin itu primadona di perusahaan ini. Kalau dia bukan sepupu Pak Beno bisa aja Pak Beno yang gaet duluan! Dan kamu pernah pacaran sama dia?"
"Bukan pacaran, Bro. Kami hanya dekat, yah walau beberapa kali jalan bareng, makan, nonton, duduk di pinggir jalan tol karena mobil mogok, ah sudah banyak kenangan yang aku lewati bersamanya termasuk ciuman itu."
"Ciuman apa?" Dito membelalakkan matanya tak percaya dengan apa yang dia dengar.
"Bro, pelan-pelan ngomongnya. Nanti semua orang tahu, Karin itu berusaha menutup rapat hal ini ke semua orang. Dia memastikan agar aku ngga pernah cerita ke siapapun."
"Tapi kamu cerita sama Beno kan?"
"Ngga, tapi Beno adalah orang yang melihat dengan matanya sendiri saat Karin menciumku. Tapi Karin tidak tahu. Beno tiba-tiba datang sama aku lalu tertawa memujiku karena berhasil mendapatkan ciuman dari primadona kantor."
Atha mengangguk.
"Terus kenapa kalian ngga jadian aja?"
"Bagaimana bisa jadian? Setelah hari itu Karin berubah seratus delapan puluh derajat, dia menghindariku dan bahkan memintaku untuk mengubur semua kenangan aku dan dia. Dia mengancamku agar tidak bercerita pada siapapun kalau aku mau Kak Dian tetap bertahan di perusahaan ini."
"Gila? Karin sedrastis itu berubah? Kenapa bisa?"
"Beno bilang Karin diancam Bapaknya untuk menjauh dariku jika tetap ingin dianggap sebagai Anak dalam Keluarga mereka. Beno bilang aku harus melupakan Karin bagaimanapun yang terjadi."
"Beno sendiri yang bilang begitu?"
Atha mengangguk.
"Lalu kenapa sekarang dia sengaja membuat kamu dan Karin dalam satu Tim?" Dito berpikir keras mencoba tuk menemukan jawabannya.
Atha menggeleng.
Tiba-tiba telpon di meja Atha berdering. Atha segera mengangkatnya dan terdengar suara Adit memintanya segera ke bawah dengan nada kesal.
"Siapa?" Tanya Dito menatap raut wajah Atha yang masam.
"Biasalah, Adit. Dari awal kami bergabung di perusahaan ini kan Adit itu naksir berat sama Karin. Waktu Karin jalan bareng sama aku, Adit itu paling gangguin."
"Sabar yah Bro. Aku ngga bisa membayangkan kamu hari ini harus satu mobil dengan yah boleh dibilang Mantanmu dan Seseorang yang mencintai mantanmu. Bakal sekikuk apa rasanya?" Dito menepuk-nepuk punggung Atha memberi semangat.
Atha tersenyum,"iya coba agak ke tengah, Bro. Enak banget ini serasa dipijat."
Ridho yang melintas di dekat meja Atha, langsung terbelalak melihat Dito sedang memukul-mukul punggung Atha dengan mesra. Ridho bergidik pelan dan segera berlalu.
"Benaran ini ternyata Atha sukanya sama Cowo pantas dia ngga pernah lirik satupun cewek di kantor ini. Bahkan dia ngga naksir pula sama Karin yang paling seksi itu." Ridho seperti geli sendiri masih membayangkan apa yang akan dilakukan Atha dan Dito selanjutnya.
Tina dan Sari tergopoh-gopoh pulang ke rumah saat menerima pesan singkat dari Elang. Sari menatap Tina dengan iba.
"Maaf yah Tin, gara-gara aku terus kalian jadi susah begini."
Tina menatap Sari dan tersenyum pelan.
"Bukan salahmu, Sar. Aku tahu Peter itu bagaimana, dia punya ego yang tinggi dan berusaha ingin terlihat sebagai pemenang dalam tiap hal yang dia hadapi. Dia tidak sadar bahwa banyak orang yang terluka karena sifat egonya itu."
"Aku hanya takut dia mukulin Elang dan menghancurkan Bengkel saja."
"Iya, itu juga yang aku takutkan."
Elang terlihat sedang bolak balik masuk keluar halaman rumah. Tina segera berlari kecil memeluknya erat. Elang meremas rambut Tina dengan lembut dan mengecup keningnya.
"Kamu ngga kenapa-kenapa kan?"
__ADS_1
Tina menggelengkan kepala.
"Aku takut orang-orang Peter berbuat yang tidak-tidak pada kalian."
"Tenang, Elang. Peter ngga akan berani nyakitin aku dan Sari. Aku malah takut dia bakal merusak bengkel." Tina mencoba menenangkan Elang.
"Aku juga berpikir begitu, Lang." Kata Sari menegaskan.
Elang mengangguk.
"Aku juga yakin hal itu karena anak muda yang dia utus tadi pun kelihatan takut kalau aku ngga tanda tangani surat itu."
"Anak muda yang mana? Siapa namanya?" Tanya Sari penasaran.
Dalam hati Sari terbersit tentang Zaki.
"Dia bilang namanya Zaki."
Sari agak goyah berdirinya hingga Tina harus menopang tubuh Sari perlahan menuntunnya duduk di kursi.
"Kenapa Sar? Kamu kenal dengan Zaki?" Tanya Elang bingung.
"Dia sepupu Peter yang datang dari Solo. Ayahnya itu adik Ayahnya Peter. Dia pemuda yang baik dan tidak pernah macam-macam. Kami sempat ketemu beberapa kali saat dia mengajak Istrinya main ke rumah waktu awal-awal dia datang dari Solo. Peter menjanjikannya pekerjaan di kantor tapi yang terjadi dia diberi pekerjaan lapangan sebagai bagian dari penagihan klien Peter yang bermasalah dalam pembayaran. Aku kasihan sama pemuda itu tapi apa dayaku." Sari terisak perlahan.
"Gila Peter itu, bahkan dengan adik sepupunya yang masih muda pun dia tidak punya belas kasihan. Harusnya dia diberi pekerjaan yang baik. Ini malah disuruh jadi tukang nagih." Elang menggelengkan kepala penuh emosi.
"Sari, ada lagi yang kamu mau ceritakan tentang Zaki?" Tina seperti mengetahui ada sesuatu yang disembunyikan Sari tentang Zaki.
Sari nampak gelagapan, "maksud kamu Tin?"
"Sar, kami tidak akan kecewa atau marah bahkan mengubah sudut pandang kami tentangmu. Hanya saja berikan kami cerita nyata, sebaiknya tidak kamu tutupi sedikitpun." Tina menambahkan.
"Tin? Kamu punya feeling apa memang?" Elang bertanya pelan.
"Aku rasa Sari dan Zaki punya hubungan yang lebih daripada Sepupu." Tina berkata pelan namun penuh menyelidik.
Sari semakin tersentak dan mencoba tenang tapi gerak tangannya membuat Elang mengerti kata-kata Tina.
"Kamu dan pemuda itu saling mencintai?" Elang menembak tepat di sasaran.
Sari mulai menangis kencang.
"Ngga, itu cuma hubungan semalam saja. Kami sama-sama lupa bagaimana itu bisa terjadi." Sari terisak mengenang malam itu.
"Apa yang terjadi? Bagaimana bisa kamu dan pemuda yang berusia tidak jauh dari anakmu terlibat hubungan terlarang?" Elang terlihat kesal.
Tina menatap Elang dengan penuh arti meminta Elang untuk tidak menambah Sari merasa bersalah.
"Ceritakan saja, Sar. Kami akan diam dan mendengarkan."
Sari menatap Elang dan Tina dengan perasaan bersalah. Dia mulai mengenang tentang hari yang mengubah kisah hidupnya. Dimulai dari saat Peter menelponnya bahwa dia tidak bisa menjemput Sari di Hotel tempat Sari selesai mempercantik diri dalam balutan mandi susu dan pijat refleksi.
Peter bilang Zaki akan menggantikan Peter menjemput Sari. Sari hanya mendengar dengan rasa kecewa bahwa dia ingin menunjukkan dirinya yang begitu cantik sore ini di depan Peter. Sari menunggu dengan malas di kursi goyang yang tersedia di lobby hotel.
Zaki datang dengan penuh pesona. Pemuda itu begitu terlihat tampan mempesona. Tubuh atletisnya berbeda jauh dengan perut Peter yang semakin maju ke depan. Zaki pun sangat harmonis dan romantis. Dia membawakan barang-barang Sari dan memperlakukan Sari bak Putri Raja.
"Kak Sari mau langsung pulang atau bagaimana?" Tanya Zaki sambil membukakan pintu mobil untuk Sari dan menyodorkan telapak tangannya yang terbuka untuk membantu Sari masuk ke dalam mobil.
Sari begitu bahagia dengan perlakuan Zaki, dia merasa kekecewaannya karena Peter tak datang berganti dengan rezeki durian nomplok. Sari seperti berusia muda kembali saat jemari Zaki menyentuh jemarinya.
"Memang kamu mau kemana, Zak?" Sari tak tahu apa yang terjadi dengannya hari itu.
Mungkin dia hanya ingin melampiaskan rasa kesalnya karena Peter tidak menepati janji makan tuk malam berdua di tengah laut. Jiwa nakalnya seperti terdesak keluar begitu saja, dia tak tahu bagaimana bisa dia mencoba menggoda Zaki sore itu.
"Hmm aku sih ngga tahu juga Kak. Cuma sejak pertama datang kesini, Kak Peter jarang mengajakku keliling Kota. Makanya aku senang pas dia minta tolong aku jemput Kak Sari. Siapa tahu kan Kak Sari bisa menemani aku keliling Kota." Ujar Zaki polos.
"Oh, kamu ngga ajak Istri kamu untuk keliling kota?" Tanya Sari masih sempat memiliki rasa tak enak.
"Dian pulang ke Solo dulu, Kak. Ada beberapa pekerjaan yang harus dia selesaikan disana sebelum pindah kerja disini."
"Oh jadi malam ini kamu sendiri dong?"
"Iya, Kak."
"Sama, aku juga sendiri." Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut Sari.
"Loh kan Kak Sari ada Kak Peter nanti dirumah."
"Peter tidak pulang malam ini, dia juga membatalkan acara makan malam kami. Kakakmu itu hanya peduli pada satu hal, pekerjaannya saja. Seakan istri pertamanya adalah pekerjaan dan aku hanya istri keduanya saja yang bahkan sering dia anggap tak ada."
"Oh aku tidak tahu kalau Kak Peter begitu, dia terlihat seperti Pria yang menyayangi keluarga."
"Jangan menilai buku dari sampulnya. Oh yah, karena kita sama-sama sendiri malam ini. Baiklah, aku akan mengantar kamu jalan-jalan." Seru Sari mencoba bebas malam ini.
"Oh yah? Wah asyik banget! Kita jemput Roger dulu apa Kak?"
"Jangan tak usah!" Sergah Sari buru-buru.
Dia tidak mau kebersamaannya dengan Zaki terganggu malam ini dengan keberadaan Roger.
"Tapi tadi Kak Peter nyuruh aku setelah jemput Kak Sari itu langsung jemput Roger."
"Tidak, tak usah. Roger dari tadi siang aku sudah minta bawa mobil sendiri karena aku pikir malam ini aku hanya ingin makan berdua dengan Peter."
"Memang tadinya Kak Sari mau makan dimana?" Tanya Zaki iba.
"Di Pantai Ancol, eh kan ada kamu yah, kenapa ngga kita berdua aja yang makan disana? Kamu mau kan? Kebetulan aku sudah minta view yang paling indah loh disana. Mau yah Zak, temanin Kakakmu ini?" Bujuk Sari dengan penuh harap.
__ADS_1