Cinta Semangkuk Bakso

Cinta Semangkuk Bakso
-Saling Berharap-


__ADS_3

Atha menunggu jarum jam menit berdetak lima menit lagi sebelum jam dua belas tepat. Ia sudah tidak sabar menanti waktu makan siang tiba. Ingin dia sesegera mungkin menuju Bakso Bunda KiJe dan menemukan gadis itu lagi disana.


Masih teringat jelas perkataan Ribka dengan tertunduk lesu.


"Maaf yah Mas Atha, dianya ngga mau kasih tahu nama apalagi nomer telepon. Katanya kalau besok-besok ketemu lagi baru dia mau kasih tahu itu pun Mas Atha sendiri yang harus nanya. Cowok itu harus gentleman, Mas dia bilang gitu. Maaf yah Mas."


" Loh kenapa Mba Ribka yang minta maaf? Tak apa itu juga Dito iseng aja. Aku mah ngga apa-apa." Elak Atha mencoba tenang.


Dito menepuk bahu Atha dengan menggeleng-gelengkan kepala, "sabar Bro belum jodoh mungkin."


Sejak hari itu, wajah Gadis itu selalu terbayang dalam tiap hari yang Atha lewati. Dia sudah tiga kali bolak balik ke Bakso Bunda KiJe namun tak juga menemukan Gadis itu. Tapi entah kenapa, dia tak pernah berhenti menyerah untuk bertemu.


Jam dua belas pun tiba, Atha segera berlari kecil keluar ruangan dan menuju tangga ke bawah. Dito yang melihatnya segera menyusul dari belakang. Mereka berlari kecil menuruni anak tangga.


"Tunggu, Bro. Busyet dah semangat banget mau makan Bakso." Ledek Dito yang seakan tahu tujuan Atha kesana.


Atha tak menggubrisnya, dia terus berlari menyeberangi jalan menuju deretan ruko. Mereka berdua terengah-engah sesampainya di Bakso Bunda KiJe. Ribka seperti biasa langsung bermanja-manja dengan Dito.


"Mas e buru-buru amat mau ketemu aku, kan semalam baru jalan." Ribka memerah wajahnya menatap Dito.


Masih terbayang pertemuan mereka semalam dimana Dito begitu menjaganya dan membiarkannya memeluk Dito dari belakang saat berkendara. Hubungan mereka berdua semakin dekat. Dito sudah berani menunggu Ribka pulang dan mengajak nonton film di Bioskop. Cinta mereka sedang bertumbuh dan mekar sedangkan cinta Atha baru ditanam.


"Biasa, Rib. Ada anak lagi kasmaran mau ketemu Bidadarinya nih." Tunjuk Dito pada Atha yang langsung nengok kanan-kiri ke dalam ruangan.


"Belum datang yah, Mba?" Tanya Atha pada Ribka.


Ribka memandang Brandon berharap Brandon yang memberikan jawaban.


"Belum, Mas e. Sudah tiga hari ini Neng Cantik itu ngga kesini. Gini aja, aku minta No. Telp sampean ae nanti aku calling kalau dia kesini. Piye?"


Atha mengangguk dan langsung menuliskan No. Telponnya di Nota Bon.


"Kasih tahu loh yah kalau dia datang, jangan ngga." Harap Atha.


"Siap, Mas. Demi pejuang cinta mah ane bantu." Ujar Brandon mencoba mencairkan suasana yang sedih.


"Mas Brandon bisa aja, makasih loh." Atha pun berjalan menuju tempat duduk biasa.


"Pesan apa Mas Atha sekarang?" Ribka merasa iba melihat wajah Atha yang memelas.


"Aku pesan menu yang baru lagi yang belum pernah aku makan."


"Ok, Bakso Iga mau yah?"


"Nah itu boleh."


Ribka pun langsung nyelonong pergi menuju Brandon menyiapkan Bakso.


"Lah Dit, Ribka langsung pergi tanpa nanya kamu pesan apa."


"Et dah jangan mulai ngeledek. Kan kamu tahu Ribka sudah hafal pesananku."


"Oh iya yah hehehe."


"Kamu tuh beneran cinta sama gadis itu? Kamu belum kenal loh sama dia baru lihat sekali."


Atha mengangguk, "kamu pernah dengar cinta pandangan pertama ngga?"


"Ya, pernahlah tapi ngga secepat ini juga. Kamu itu sama sekali buta tentang dia. Ketemu dia juga baru satu kali. Itupun cuma beberapa menit tanpa saling kenal atau saling sapa."


"Aku juga ngga tahu, Bro bagaimana menjelaskannya. Aku cuma tahu tiap ingat wajahnya itu jantung aku tuh melonjak kegirangan kaya senang aja gitu."


"Aneh sih, tapi cinta memang aneh ngga ada yang ngga aneh."


"Kaya kamu sama Ribka yah?"


Dito tertawa, "iya Bro. Tahu ngga kemarin aku dikenalin Ribka ke orangtuanya. Mereka semua ramah dan baik. Mamanya itu sampai muji-muji aku terus dan Papanya itu malah langsung nanya mau nikah kapan."


"Oh yah?"


"Iya, aku bingung kan mau jawab apa. Akhirnya Ribka yang jelasin kalau kami baru mulai mengenal satu sama lain belum pacaran. Yah mudah-mudahan jodoh baru Papanya ngangguk-ngangguk lalu bilang yah sudah langsung nikah aja ngapain pakai pacaran."


"Hahaha, mantap Bro sudah dapat restu itu namanya."


Dito tersenyum bahagia, "aku juga maunya gitu makanya ini aku sekarang sama Ribka lagi susun rencana."


"Seriusan?"


Dito mengangguk senang.


"Selamat, Bro!!!" Atha pun turut bahagia mendengarnya.


Mereka melahap bakso bersama hingga jam satu pun tiba. Atha harus gigit jari lagi hari ini. Keinginannya untuk bertemu Putri belum terwujud.


"Tenang, Bro. Hari esok masih ada tetap semangat yah!" Dito memberi semangat.


Atha berjalan lunglai kembali ke kantor.


Tak lama setelah Atha pergi, sebuah mobil sedan menderu hebat lalu berhenti. Putri keluar dari mobil dan berjalan pelan masuk ke dalam Warung Bakso. Brandon langsung tersentak dan segera mencari Nota bon berisi nomer Atha.


"Et dah tuh nomer dimana yah tadi?"


Putri menghampirinya dengan wajah ceria.


"Bang Brot lagi cari apa? Tumben aku datang ngga diteriakin, tapi dicuekkin." Putri meledeknya dengan sok manja.


"Eh maaf Neng, ngga cari apa-apa tadi lupa naruh sesuatu aja. Lagipula saya sudah nyerah ngejar Neng ngga dapat-dapat." Ledek balik Brandon.


Putri tertawa kecil, "si Abang nih bisa aja. Aku pesan biasa yah lima bungkus."


"Oke Neng, siap." Ujar Brandon seraya berusaha mengingat dimana dia meletakkan Nota Bon berisi nomer telepon Atha.


Tiba-tiba Ribka menghampiri mereka dengan antusias, "Neng lama amir ngga kemari? Ada yang nyariin Neng terus loh. Ah sayang banget baru aja balik ke kantor tuh orangnya."


"Siapa, Mba? Cari saya buat apa?"

__ADS_1


"Neng masih ingat ngga cowok yang beberapa hari lalu mau ngajak kenalan itu tapi malu dan akhirnya Mas Dito nyuruh aku nanya nomer telepon Neng itu?"


"Oh iya aku ingat, hahaha. Serius dia tadi disini?"


"Bukan kali ini aja Neng. Sudah hari keempat ini sejak hari itu dia bolak balik terus kesini bahkan pas pulang kerja juga nongkrong lagi disini."


"Hah serius ini? Dia sampai segitunya mau ketemu aku?"


"Iya Neng, coba deh tanya Bang Brot yang sering dia tanyain Neng datang ngga. Aku antar pesanan dulu yah Neng."


"Ok, Mba."


Putri tersenyum sendiri dan tersanjung atas usaha Pria itu. Dia bertanya-tanya pada dirinya sendiri, kenapa Pria itu terus menunggunya untuk sekedar nomer telepon. Dia teringat pada cara Roger pertama kali mendekatinya dengan meminta nomer telepon dia dari Mamanya.


"Orangnya baik, Neng. Sudah gitu ganteng juga menurut saya. Kayanya juga lebih sopan dari Roger deh." Ujar Brandon memecah lamunan Putri.


"Ah yang benar Bang? Itu kan terlihat dari luar kalau sudah dekat kan kita ngga tahu. Roger dulu juga baik, ramah, dan perhatian tapi sekarang kan Bang Brot tahu gimana dia, kasar dan protektif habis."


"Iya sih Neng tapi feeling saya sih beda lah yang ini. Kalau Roger mah saya sudah ngga respect."


"Roger sering kesini ngga?"


"Boro-boro Neng, terakhir itu kan pas dia marah-marah disini sampai Bunda harus turun tangan misahin saya sama dia itu." Brandon menuangkan Bakso dalam bungkus plastik.


Putri teringat kejadian memalukan itu. Saat itu Putri mengajak Roger untuk makan malam ke dua kalinya di Bakso Bunda KiJe. Aura kemarahan Roger sudah terlihat sejak Brandon seperti biasa menyapa Putri dengan centil. Roger yang mendengarnya langsung memarahi Putri saat mereka duduk menunggu hidangan Bakso datang.


"Yah udah sih, Ger. Kan dia memang biasa nyapa aku begitu. Kan kemarin juga kita datang, dia begitu toh. Kamu juga sudah kukenalin sama dia. Ada Papa Mamaku juga dia begitu, dan bukan hanya aku aja yang disapa gitu. Banyak langganan lain juga disapanya gitu. Memang orangnya begitu kok." Putri mencoba menenangkan Roger.


"Iya kalau dia nyapa cewek lain begitu terserah dia tapi asal jangan kamu! Awas aja sampai dia genit lagi sama kamu, aku habisin dia kalau perlu aku tutup ini Warung Bakso kumuh begini." Kesal Roger sambil menatap Brandon.


"Apaan sih Ger? Ini tuh bakso langganan aku dari kecil. Papaku suka banget sama bakso ini. Kamu juga bakal suka deh nanti."


"Ngga akan aku suka makan disini kalau ada cowok genit begitu jadi pelayannya. Lebih baik kita makan di Hotel atau Restoran bintang lima, kamu ngga perlu takut harganya kan aku yang bayar."


"Papamu yang bayar bukan kamu. Lagipula sesekali aku ajak kamu makan disini, kenapa?"


"Kenapa lagi? Kamu tuh memang suka yah digodain cowok-cowok hah? Mau jadi cewek ngga benar kamu kaya Mamaku!"


"Kamu kok ngomongnya kasar sih, Ger? Mamamu yah Mamamu dan aku yah aku jangan sama-samain."


"Yah sudah kalau ngga mau disamain kaya Mamaku yah kamu ngga usah balas kalau cowok itu coba godain kamu. Cuekkin aja!" Roger mengumpat sambil menahan teriaknya.


Putri menahan tangisnya dengan mencoba tetap tenang. Dia tak mau malam ini rusak lagi seperti malam-malam lainnya. Dia tak mau Papanya tahu dia ribut dengan Brandon di Warung Bakso langganannya ini.


"Brot, kamu aja yang bawa pesanannya atau Ujang deh." Ribka berbisik pada Brandon


"Kenapa?"


"Takut ah, kasihan lihat Neng cantik diomelin pacarnya lagi."


"Putusin aja cowok macam itu, banyak yang mau sama Neng cantik." Brandon berbisik balik.


Ribka mencubit lengannya, "ngga usah ikut campur apalagi manas-manasin. Kamu ngga kasihan memang sama Neng cantik?"


"Auh, iya iya sudah Ujang aja. Aku nanti malah emosi sampai sana. Mana tega lihat Cewek secantik itu diomel-omelin. Untung warung lagi sepi coba banyak orang kan ngga enak kita."


"Ya, Mba?" Tanya Ujang polos.


Ujang baru lulus SMP dan tidak bisa melanjutkan sekolah. Ribka membawanya dari kampung untuk bekerja di Bunda KiJe. Bersyukur Bunda KiJe menyuruh Ujang melanjutkan sekolah di pagi hari dan bekerja membantu Ribka di siang hari. Ujang adalah anak yang baik dan ceria.


"Antar yah."


"Oh siap Mba." Ujang mengangkat baki berisi dua mangkuk bakso dengan cekatan dan berjalan menuju meja Putri berada.


Roger masih terlihat marah dan sedang berkoar-koar sementara Putri memilih diam menahan malu. Ketika Udin datang dan sedang mengambil mangkuk dari baki, tangan Roger tanpa sengaja menabrak baki hingga dalam posisi miring dan membuat mangkuk tergelincir jatuh ke lantai. Suara mangkuk pecah membuat Brandon dan Ribka menoleh ke arah Ujang.


Roger nampak kesal dan langsung mencengkram kerah kemeja Ujang, "hei mata kamu ditaruh dimana memang? Makanya jangan suka lihatin cewek orang!"


Ujang hanya terdiam menahan sakit, cengkraman tangan Roger begitu kuat hingga mencekiknya.


Putri memekik tolong dan mencoba membuat Roger melepaskan Ujang.


"Roger lepasin dia! Kamu kan yang salah, kamu yang nabrak bakinya. Dia ngga sedang lihatin aku!" Mohon Putri merasa iba.


"Apa? Kamu tuh belain orang terus! Jelas-jelas aku lihat matanya melototin wajah dan tubuh kamu! Dia jadi grogi dan jatuh mangkuknya! Anak bau kencur sudah ngga benar otaknya!" Maki Roger.


Brandon segera berlari lalu menghempas tangan Roger dan menarik Ujang ke belakang badannya. Tubuh Brandon yang lebih besar membuat Roger sesaat menciut nyalinya. Ribka menenangkan Ujang yang terbatuk-batuk sambil menangis terisak.


"Jangan cari ribut disini. Jelas-jelas tangan kamu yang nyenggol bakinya main nuduh aja sembarangan!" Brandon menatap Roger dengan kesal.


"Eh gue mau ribut dimana aja apa urusan lu? Warung ini bisa gue gusur kapan aja gue mau, ingat itu!"


"Silahkan, mau gusur nih warung lewatin saya dulu kalau berani!" Tantang Brandon.


Roger tertawa mengejek, "lihat kan! Kamu sering biarin dia godain kamu tuh jadi dia begini sok jantan depan kamu."


Roger menggelengkan kepalanya menghadapi Brandon.


"Gue memang jantan ngga kaya lu pengecut beraninya cuma sama cewe dan anak kecil!" Brandon mengejek balik.


Roger naik pitam dan langsung meraih botol saos lalu mencoba memukul ke arah Brandon. Brandon mengelak dan menepisnya jatuh. Mereka pun terlibat perkelahian, saling mencengkram dan berguling di lantai. Putri menangis terisak mencoba melerai tapi tak bisa, akhirnya dia mencoba menelpon Pak Peter. Ribka memilih berlari ke ruang atas warung memanggil Bunda yang sedang menulis laporan penjualan bakso bulan ini.


Bunda dengan tergopoh-gopoh datang langsung meminta pelanggan lain melerai. Ada yang menarik Brandon menjauh dari Roger. Beberapa lagi menahan Roger yang masih kalap sambil berteriak dan meracau. Kemejanya robek dan pipinya bengkak terkena bogem mentah Brandon. Brandon sendiri hanya luka cakaran di lengan kirinya.


"Sudah! Tolong jangan berkelahi disini. Kita akan bawa ini ke Polisi atau mau diselesaikan dengan cara damai?" Hardik Bunda masih dengan lembut sambil menatap Brandon dan Roger bergantian.


Brandon memilih tertunduk tak berani menatap wajah Bunda. Sementara Putri mencoba menenangkan Roger dengan memberinya air putih. Roger menepis air putih itu dan beranjak keluar Warung sambil berteriak mengancam.


"Lihat aja nanti, Warung ini bakal gue robohin! Sial!" Roger berjalan cepat menuju mobil lalu pergi menghilang dari balik jalan.


Beberapa pelanggan lain nampak saling berbincang dan mengamati. Putri mengatupkan kedua telapak tangannya memohon maaf pada Bunda dan semua orang yang ada. Papa dan Mama Putri datang dengan syok melihat keadaan Warung yang berantakan.


"Jeng Bunda maaf ini warungnya jadi berantakan." Mama Putri memohon maaf sambil berdiri di dekat Bunda KiJe.


"Nda apa Jeng Tina. Aku malah kasihan sama Anak Gadismu ini loh. Cantik begini, ayu begini kok bisa dapat Cowok seperti itu. Maaf loh, Putri bukannya Bunda mau ikut campur tapi Bunda berharap, yakin banget kamu itu jodohnya bukan dia."

__ADS_1


Putri hanya bisa mengangguk dan menangis di pelukan Tina.


"Saya juga harapannya gitu kok Jeng tapi namanya anak-anak, saya ngga mau memaksa biar Putri tahu mana yang terbaik untuknya."


Bunda mengangguk dan mengusap rambut Putri, "Bunda hanya bisa doakan kamu dapat yang terbaik atau Tuhan mengubah perangainya menjadi lebih baik."


"Terimakasih Bunda, aku mohon maaf banget ini jadi banyak yang rusak."


"Nda apa, barang rusak bisa diperbaiki atau dibeli tapi kalau hati yang rusak itu susah diperbaiki apalagi dibeli, ngga bisa." Bunda terus memandang Putri dengan iba.


"Andai saja Bunda punya anak cowok sudah besar-besar seumuran kamu pasti Bunda kenalin sama kamu, tapi sayang Kian dan Jeru sudah menikah semua."


Tina tertawa begitu pun Putri.


"Iya mana mereka berdua? Lucu-lucu loh Jeng foto kedua anaknya pas kecil." Tina memuji.


"Mereka sekarang kerja semua, ada yang jadi dokter di Jakarta dan yang kecil ikut Pamannya di Jerman. Ini barusan Kian malah telpon nih pasti Ribka sudah ngadu ke dia. Sebentar yah saya angkat telponnya dulu."


Elang berusaha merapikan barang-barang yang bisa diselamatkan bersama Ribka dan Ujang. Elang melihat luka Brandon dan menatap sekeliling pada pelanggan yang ada.


"Bapak Ibu ada yang Dokter? Kalau ada saya minta tolong luka tangan ini diperiksa. Terimakasih."


Seorang pelanggan yang kebetulan berprofesi sebagai Dokter pun mengangkat tangan dan menghampiri Brandon. Ia melihat luka itu dan langsung merawatnya.


"Ma tolong ambil barang-barang Papa di mobil." Serunya pada Istrinya yang bergegas menuju Mobil mereka.


"Wah terimakasih yah, Pak Dokter." Elang berterimakasih pada Dokter itu.


Doker itu tersenyum, "ngga apa-apa Pak namanya seorang dokter kalau ada musibah jadi harus siap."


"Brandon ngga apa-apa?" Tanya Putri yang teringat pada Brandon.


"Ngga Neng santai aja. Itu cuma bisa nyakar kaya cewek ngga bisa berantem dia. Kalau saya mau serius, habis dia kena bogeman saya." Brandon memuji dirinya sendiri.


Bunda menutup telponnya lalu menatap Brandon dengan menggelengkan kepala.


"Brandon, nanti aku mau ngobrol sama kamu!" Ujar Bunda tegas.


"Iya, Bunda." Brandon kini membungkuk lagi.


"Kerugiannya nanti dihitung saja Bunda, biar kami ganti." Ujar Elang melihat sekitar.


"Memangnya aku mau diganti sama kamu, El? Kita ini kan teman sejak dulu bahkan Suamiku sudah anggap kamu kaya Saudaranya sendiri. Dia selalu bilang itu Elang kalau lagi di Bengkel kirimin Bakso jangan biarin kelaparan dia."


Elang tersenyum, "Mas Yo itu memang baik banget sama saya. Kadang saya malah bingung mau membalas pakai apa."


"Santai El, kita kan saudara yah harus saling membantu dan mengharapkan yang terbaik toh."


Tiba-tiba suara mobil mewah berwarna merah mentereng berhenti depan Warung Bakso. Peter turun dari mobil diiringi wanita muda berpakaian seksi yang memandang jijik melihat keadaan warung.


"Aku di mobil aja deh, Sayang."


Peter mengangguk dan berjalan masuk. Tina mau tak mau menghampiri Peter dan menyalaminya.


"Halo, Pak maaf jadi merepotkan Bapak harus datang malam-malam kesini ditengah kesibukan Bapak."


Putri memandang Peter dengan mengumpat dalam hati, "sibuk apaan? Lagi berduaan sama pacar barunya aja."


Peter hanya tersenyum pelan menatap Bunda KiJe.


"Kayanya aku ingat kamu yah?" Peter mencoba menerka Bunda KiJe.


"Kamu toh, Peter. Jadi anak muda tadi itu anak kamu?" Bunda menatap Peter dengan tajam.


Peter mengangguk, "dunia kecil yah, Mar. Kita lama ngga ketemu tahunya ditemukan dengan cara aneh begini."


Bunda hanya tersenyum pelan.


"Okelah, nanti berapa pun kerugian kamu tinggal telp aku aja. Putri tahu nomer telponku. Kirimi aku nomer rekeningmu biar aku ganti."


"Kamu tuh ngga berubah sejak dulu. Kamu merasa bisa menyelesaikan sesuatu dengan uang. Tapi maaf, Peter. Uangmu tidak bisa aku terima. Kerusakan ini bisa diperbaiki. Aku hanya minta kamu bicara empat mata dengan Anakmu, karena sepertinya dia butuh kehadiran kamu."


Peter tersenyum sesaat, "Roger itu anak yang baik tapi dia kehilangan arah karena diasuh oleh Ibu yang tidak baik. Andai dulu kamu yang jadi Ibunya Roger mungkin dia akan seramah dan sebaik anakmu sekarang."


"Hidup tak ada yang tahu, Peter. Tapi menurutku pengasuhan anak itu tidak bisa kamu limpahkan pada seorang Ibu saja. Seorang Ayah pun harus menjadi teladan bagi dirinya."


Peter hanya tertawa kecil, "baiklah kurasa pertemuan kita sampai disini. Salam hormat untukmu selalu, Mar."


Peter pun beranjak pergi menuju mobilnya ditemani Tina yang mengantarnya sampai di depan Warung.


"Bunda kenal sama Pak Peter?" Tanya Putri tak menduga.


"Iya, dulu dia melamar Bunda tapi ditolak oleh Papa Bunda. Bunda juga tidak suka dengan dia, walau dia lebih kaya dan sukses dibanding Mas Yo tapi Bunda lebih pilih Mas Yo."


"Kenapa Bunda menolaknya?"


"Cinta itu datang dari hati, terbit dan tumbuh sendiri tanpa harus dipaksa dan dikekang. Cinta itu bukan tentang harta yang melimpah atau kebahagiaan yang semu. Tapi cinta itu perasaan tulus, suci, tanpa cela dan itu semua ada pada diri Mas Yo bukan Peter."


"Seandainya aku bisa seberani Bunda."


"Kamu bisa, Putri. Lihat Papamu, apa kau tidak pernah mendengar perjuangannya mendapatkan cinta Mamamu?"


"Belum, Bunda."


"Jadi mereka tidak pernah cerita padamu?"


"Tidak, Bunda."


Bunda menggelengkan kepalanya, "lain kali kau harus memaksa mereka menceritakan kisah cinta itu. Aku dan Mas Yo mengagumi Papamu dan menyayangi Mamamu karena cinta mereka itu kamilah saksinya, kami ada didalamnya."


"Hah? Bunda tahu semua tentang Papa dan Mamaku?"


"Iya, cinta mereka dimulai dari semangkuk bakso dan setelah itu mereka saling berharap untuk bertemu lagi dan lagi."


"Bunda aja yang ceritain ke aku."

__ADS_1


Bunda hanya tertawa lembut memandang Putri yang penuh penasaran sambil menatap Papa dan Mamanya tengah berjalan beriring menuju ke arahnya.


-M-


__ADS_2