Cinta Semangkuk Bakso

Cinta Semangkuk Bakso
-Temukan Cinta-


__ADS_3

Putri masih melamun ketika Ribka menggoyang-goyangkan tubuhnya.


"Neng!" Bentak Ribka mengagetkan Putri.


Putri tersentak dan mencoba tersenyum malu.


"Neng tuh melamun kenapa? Saya panggil dari tadi tapi ngga dengar. Ini tuh baksonya sudah jadi, keburu dingin loh." Tanya Ribka memberikan kantung plastik berisi Bakso pesanan Putri.


"Hehehe, maaf Mba. Aku tuh keingat tentang kejadian yang ribut-ribut itu disini."


"Ngapain diingat, Neng. Itu kan masa lalu, sekarang mah lihatnya ke depan."


"Iya, kamu bisa bilang gitu karena hubungan kamu sama Dito lagi baik-baik aja. Coba nanti kalau lagi berantem pasti ngelamun juga kaya Neng Putri." Ejek Brandon sambil terkekeh.


"Loh Mba Ribka sudah jadian sama Dito-Dito itu?" Tanya Putri penasaran.


Ribka hanya tersipu malu.


"Iyalah Neng makanya dia happy terus belakangan ini." Brandon mengejek lagi.


"Si Brot mah iri karena belum punya pacar. Nanti kalau sudah punya pacar juga pasti lebih ngga jelas." Balas Ribka.


"Yee dibilang aku mah nunggu Neng Putri jomblo." Kata Brandon lepas.


Putri hanya tertawa mendengarnya.


"Ini nih yang bikin Roger emosi." Kata Putri sambil menahan tawa.


"Iya Brot mah ngga kapok-kapok, sudah kena omelan habis sama Bunda juga. Mau kamu diomelin lagi?"


Brandon menggelengkan kepalanya dan nyengir.


"Sudah ah aku pamit dulu."


"Eh jangan Neng, tunggu bentar aja." Tahan Brandon dan Ribka bersamaan.


"Kenapa sih?" Putri heran melihat Brandon dan Ribka saling memberi kode.


"Ngga sih Neng cuma mau tanya nanti Neng kira-kira kesini lagi hari apa?" Tanya Ribka polos.


"Hmm aku ngga tahu sih, Mba. Memang kenapa sih?"


"Biar disampaikan ke Mas-nya itu loh yang nyariin Neng. Kasihan Neng tiap kesini kalau ngga ketemu Neng langsung manyun." Brandon menirukan mimik wajah murung Atha membuat Putri terpingkal-pingkal.


"Gini aja, Brot. Kamu bilang sama Cowok itu kalau jodoh pasti kita ketemu kok." Putri mencoba kalem.


"Lah Neng ini kasih harapan aja. Neng aja sama saya ketemu terus tapi kita ngga jodoh." Brandon menggodanya lagi.


Putri tertawa lagi, "udah ah aku bisa habis digodain Bang Brot kalau disini."


"Mumpung ngga ada Roger, Neng."


Mereka berdua pun tertawa menyisakan Ribka yang masih terdiam.


"Jadi Neng ngga mau kasih tahu kapan kesininya lagi?" Ribka bertanya dengan wajah polos untuk kedua kalinya.


Putri hanya tersenyum sambil berjalan lalu meninggalkan mereka.


"Duh, aku mesti bilang apalagi ke Mas Dito nih." Ribka nampak bingung.


"Bilang aja tadi dia sudah datang cuma ngga kasih tahu kapan kesini lagi." Brandon terus mengamati mobil Putri menghilang di belokan.


"Lah kamu tadi ngga jadi info ke Mas Atha kalau Neng Putri datang kesini?" Tanya Ribka datar.


"Aku kehilangan kertas yang ditulisi nomer handphonenya Mas Atha." Keluh Brandon.


"Duh Brot kenapa ngga bilang? Kan bisa bilang aku jadi aku info Mas Dito." Ribka nampak kesal.


"Oalah iya juga, buru-buru info Mas Dito tadi Neng Putri datang."


"Sudah telat atuh, Neng Putri sudah pergi. Dasar Brot, bilang aja kamu ngga rela kalau Neng Putri dideketin Mas Atha, huh!"


"Yee daripada sama Roger mending sama Atha, lah." Ujar Brandon sambil meneguk teh manisnya.


Sebuah pesan masuk berbunyi di layar HP Dito yang sedang asyik meeting dengan Beno dan beberapa rekan kerjanya yang lain. Suara itu berbunyi lebih dari dua kali membuat Beno melirik Dito dan mengedipkan mata. Dito melirik layarnya dan melihat nama Ribka, ia tersenyum. Beno sengaja terbatuk membuat Dito jadi tersipu malu.


"Ok, kita break dulu lima belas menit karena sepertinya beberapa dari kita diruangan ini terlihat tidak fokus. Ada yang mengantuk dan sibuk dengan hal lainnya." Beno berkata tegas sambil melirik ke arah Dito.


"Baik, Pak." Satu per satu rekan kerja mereka meninggalkan ruangan.


Langkah Dito yang ingin keluar ruangan pun ditahan Beno.


"Tunggu, Dito." Panggil Beno pada Dito.


"Siap, Pak." Dito meremas handphonennya dengan erat.


Dito dan Beno memang sudah bersahabat baik tapi Dito selalu menghormati Beno saat berada di dalam ruang kerja.


"Sudah ah panggil biasa aja, kaya sama siapa aja Lu." Beno merapikan kertas di atas meja rapat.


"Ngga enaklah ada yang lain tadi." Dito mengelak.


"Bunyi HP kamu nanti di silent jadi yang lain ngga terganggu." Pinta Beno tenang.


"Iya, Pak eh Bro lupa. Maaf yah."


"Santai, kalau itu penting kan kamu bisa izin keluar ruangan dulu aja."


"Ngga kok, ini cuma dari Ribka."


"Hah? Ribka yang pelayan Warung Bakso itu?" Beno antusias.


Dito mengangguk.


"Lu udah jadian?"


Dito mengangguk lagi.


Beno nampak riang, ia langsung berdiri dan menghampiri Dito dengan cepat. Beno memeluk Dito erat dan menepuk-nepuk pundaknya.


"Akhirnya cinta sahabatku ini menjadi kenyataan! Tuhan terimakasih mengabulkan doaku."


"Kamu doakan aku, Ben?"


"Iyalah, Dit. Kata Pendetaku kalau kita rajin doakan orang pasti Tuhan juga akan mengabulkan keinginan kita hehehe."


Dito tersenyum kecil.


"Kamu masih ngarepin Mba Dian?"


"Itu masa lalu, Dit. Aku sekarang lagi ngincar seorang gadis. Aku berpapasan sama dia beberapa hari lalu. Mobilnya unik kaya orangnya hehehe."


"Hah? Siapa?"


"Kamu ngga bakal kenal. Aku juga belum kenal, tapi sudah empat hari ini aku pulang lewat jalan kemarin itu dan belum ketemu dia lagi. Tapi aku tahu, dia adalah tujuan hidupku."


"Wow, kamu kali ini serius lagi?"


Beno mengangguk, "yah semoga dia belum menikah seperti Dian hehehe."


Dito mengangguk pelan.


"Eh, aku izin bentar ketemu Atha ada yang penting."


Beno menggangguk dan berjalan kembali ke mejanya. Dito bergegas keluar ruangan dan berlari kecil menghampiri Atha.


Atha masih asyik berkutat dengan layar laptop didepannya ketika Dito menyentak punggungnya. Atha terkejut dan mengatur nafasnya, sementara Dito tertawa kecil.


"Maaf, Bro. Ada berita penting."


"Penting sih penting tapi jangan bikin jantungan juga, Bro."


"Maaf yah?"


"Iya, iya eh berita penting apa sih memang?"


"Oh iya, tadi Ribka whatsapp aku."


"Terus?" Atha mulai tertarik dengan perkataan Dito.


"Katanya tadi Gadis itu datang ke Warung."


Atha langsung berdiri dan merapiian rambut.


"Eh tunggu dulu, tapi dia sudah pulang."


Atha menghempaskan tubuhnya dengan lunglai.


"Tapi dia kasih No.Telp kan?"

__ADS_1


Dito menggeleng.


"Dia bilang kapan mau ke Warung lagi?"


Dito menggeleng juga.


"Jadi ngga ada info apapun tentang dia?"


Dito tersenyum kecil, "kalau itu ada, Tha."


"Apa?"


"Dia bilang kalau jodoh pasti bertemu." Dito berbisik pelan.


Atha tersenyum dan memeluk Dito dengan erat.


"Doakan aku berjodoh sama dia, Dit."


"Pasti!"


Atha berjalan kecil menuju tempat parkir motornya berada. Beno menyusulnya dengan langkah kecil berlari sambil memanggil Atha.


"Tha!"


Atha menengok ke belakang dan melihat Beno terengah-engah.


"Beno, kamu habis lari sampai nafas kamu ngga beraturan gitu?"


"Apa? Dari tadi di dalam gedung sampai sini aku ngejar kamu, dipanggil ngga nengok-nengok. Lagi ngelamunin siapa?"


"Hah? Kamu daritadi panggil aku?"


"Iya! Mau aku buktikan dengan lihat CCTV gedung?"


Atha menggaruk kepalanya perlahan sambil terkekeh, "maaf Bro ngga dengar."


Atha teringat dia sedang melamun tentang Gadis itu yang membuat seluruh pikirannya terpenjara.


"Memang ada apa Bos Super hebat ini nyariin aku?"


"Jangan formal-formal ah ngomongnya, cape. Pakai gue elu aja kaya biasa."


"Jeuh itu kamu sama Dito kali, aku kan jarang."


"Oh iya yah, hehehe." Kini Beno yang tersipu.


Beno terdiam sejenak menatap Atha yang bingung.


"Gue mau minta tolong sama u, Tha."


"Minta tolong apa?"


"Ikut dulu yuk."


"Kemana?"


"Sudah motor kamu nginepin dulu aja disini."


"Aduh jangan ke Puncak Bogor lagi deh, besok kan masih masuk kerja Bos."


"Ngga, cuma temani gue sampai perempatan depan perumahan itu loh yang ada deretan bengkel mobil."


"Terus nanti aku pulang ngangkot gitu?"


"Ngga lah, gue antar sampai depan kos-an u."


"Rumah, bukan kos-an."


"Iya iye, rumah yang jadi kos-kosan."


"Ngga ada yang ngekos lagi disitu. Itu sudah jadi rumah gue sama Kak Dian dari beberapa bulan lalu."


"Itu dia hati gue masih ngekos disitu gara-gara Kak Dian! Jadi itu rumah kos gue."


"Apaan sih? Ngga jelas nih! Kak Dian sudah nikah sama Mas Zaki, Ben. Sadar kamu mesti move on!"


"Justru itu gue mau move on."


"Terus?"


"Kemarin itu aku lihat cewek cantik banget baik mobil unik keluar dari salah satu bengkel disana."


Beno kini menggaruk kepalanya, "gitu lah. U mau kan bantuin sahabat terbaikmu ini?"


Atha terdiam sejenak menatap Beno yang nampak mengiba ditemani.


"Gaji gue naik ngga bulan ini?"


"Hahahaha, ngga perlu nunggu bulan besok. Bulan ini gue kasih bonus 1 juta."


"Wuih, mantul nih okelah kalau gitu ayo capcus. Lumayan buat bayar sewa kamar."


"Sewa kamar apa?"


"Kos-an."


"Katanya tadi itu rumah?"


"Iya itu rumahnya Kak Dian, aku masih ngekos jadi mesti bayar sewa kebersihan dan kenyamanan kamar sama Mpok Ela."


"Mpok Ela siapanya Kak Dian?"


"Pembantunya."


"Lah itu mah berarti bukan sewa kos tapi kalian patungan gaji Mpok Ela."


"Yah begitulah kura-kura."


"Dasar Atha! Makanya hidupmu tuh harus penuh cinta kaya gue jadi otak u itu ngga ribet."


"Lebih baik mencinta itu pada orang yang tepat jangan pada orang yang sudah punya suami."


"Mulai kan? Ini mau move on, Bro! Ngerti ngga? Gue turunin tengah jalan juga u."


"Janganlah Bos, hehehe. Ayo buruan jalan."


"Ok yuk ke parkiran gue dulu."


Atha pun berjalan bersama Beno menuju parkir mobil. Selama itu, Beno terus menyanjung kecantikan gadis yang ditemuinya empat hari lalu. Dalam hati Atha tersirat wajah Putri. Dia tidak mendengarkan lagi kata demi kata dari Beno, wajah cantik Putri sudah mengisi seluruh pikirannya.


Roger menunggu di dalam mobil mewahnya yang diparkir tidak jauh dari Bengkel Elang. Dia tidak mau masuk ke dalam Bengkel karena takut bertemu Elang akibat kejadian di Warung Bakso Bunda KiJe. Roger melirik jam tangan dan layar handphonenya berulang kali berharap Putri segera keluar.


"Ngapain sih dia lama-lama di dalam. Aku sudah bolak-balik whatsapp juga ngga dibaca bahkan diread aja belum. Apa aku harus nyusul kesana yah?"


Tiba-tiba handphonenya berbunyi, dia berharap itu dari Putri tapi ternyata nama Mamanya tertera di layar.


"Mama ngapain sih telpon!" Gerutunya dengan malas mereject panggilan tersebut.


Mamanya menelpon kembali.


Mau tak mau Roger pun mengangkatnya, "ada apa sih Ma? Ganggu aku aja terus."


Suara Mamanya menarik nafas terdengar.


"Kamu dimana sekarang?"


"Aku masih nunggu Putri belum keluar dari Bengkel Papanya."


"Justru itu, Mama nanya kamu nunggunya dimana?"


"Ya, di seberang Ruko lah Ma. Gitu aja pakai nanya."


"Kenapa ngga masuk ke dalam?"


"Aku malas ketemu Om Elang, nanti dia nyuekin aku lagi buat apa?"


"Apa begitu caramu memperlakukan orang yang nantinya akan jadi Papa Mertua kamu?"


"Ma, aku tuh nikahnya sama Putri bukan Om Elang ngapain aku harus memperlakukan dia dengan baik?"


"Roger, ketika nanti kamu menikah sama Putri maka Om Elang itu juga jadi Papa kamu. Dalam pernikahan itu..."


Roger langsung memotong perkataan Mamanya, "Ma ngga usah ngajarin Roger tentang pernikahan deh. Mama aja sama Papa memang baik pernikahannya? Ngga kan?"


Mamanya nampak terisak dan terdengar suara Om Elang menenangkannya.


"Ma? Mama lagi dimana sih ini kok ada suara Om Elang?"


Terdengar suara telpon ditutup.

__ADS_1


Roger mengacak-acak rambutnya dan menatap ke arah Bengkel.


"Apa Mamaku ada di dalam Bengkel? Ngapain Mamaku ke tempat Om Elang? Apa jangan-jangan Om Elang itu selingkuhan Mamanya selama ini?"


Roger menjadi geram dan memukul-mukul stir mobil dengan keras sambil berteriak kesal, "argh!!!"


Roger pun membuka pintu depan mobil, naas sebuah mobil yang berjalan perlahan menubruk pintu depan mobilnya. Roger makin kalap dan keluar dengan pongah. Beno dan Atha pun terkejut melihat seseorang marah-marah diluar mobil mereka.


"Reseh benar yah nih Anak bau kencur! Dia yang buka pintu ngga lihat-lihat belakang sekarang dia yang ngomel. Perlu diberi pelajaran ini." Beno bergegas keluar tanpa sempat bisa ditahan oleh Atha.


Atha bingung sejenak lalu memilih keluar mengikuti Beno yang sedang beradu mulut dengan Roger.


"Mata lu dimana?" Teriak Roger kesal.


"Hei! U yang matanya dimana!? Mobil gue jalan pelan yah, coba cepat aja pintu mobil u sudah bengkok." Beno pun terlihat geram.


"Apa? Gue buka pintu pelan yah, lu yang main tabrak aja ngga pakai mata. Nyetir pakai mata bukan dengkul!"


"Apa? Kuping dipake makanya kalau orang ngomong! Sok banget u yah disini!"


"Kenapa? Ngga suka? Gue bisa beli sepuluh mobil kaya punya lu! Kalau ngga mau ganti rugi sekarang juga gue panggil polisi!"


"Panggillah sekarang! Emang dipikir gue takut? Gue juga bisa beli puluhan mobil kaya punya u!"


Roger memanggil Peter di telp tapi tidak diangkat-angkat. Dia nampak kesal dan tidak bisa berpikir dengan baik.


Atha mencoba menenangkan Beno dan meminta Beno menepikan Mobilnya karena banyak kendaraan lain terganggu di belakang mereka. Beno dengan pelan berjalan menuju mobilnya.


Roger yang masih kalap pun berteriak saat melihat Beno kembali ke mobilnya.


Ia pikir Beno mau lari, "hei pengecut mau kemana lu? Mau kabur?"


Atha yang sejak tadi diam pun menjadi kesal dibuatnya.


"Dia ngga kabur, cuma mau menepikan mobil. Kamu ngga lihat jalanan jadi macet?"


"Sok tahu lu! Lu kan temannya pasti lu belain dia dong meski dia yang salah!"


"Memang dia yang benar kok, kami jalan pelan dan kamu main buka pintu sembarangan."


"Eh bacot lu! Cuma bisa numpang mobil teman lu jadi gitu banget yah belain teman lu yang salah!"


Roger mendorong dada Atha dengan kencang hingga Atha terjatuh.


Atha mencoba bangkit berdiri sambil tersenyum menyeringai.


"Apa? Berani lu sama gue?!" Tantang Roger.


Atha mencoba mendiamkannya tapi Roger mendorongnya lagi. Kali ini Atha lebih sigap sehingga tidak terjatuh seperti sebelumnya.


"Sekali lagi kamu dorong gue, jangan salahin gue kalau gue balas."


Roger meludah ke arah Atha, "lu pikir gue takut hah? Maju lu kalau berani, dua orang juga ngga takut gue!"


Roger seperti hendak memukul Atha tapi Atha menepisnya. Atha pun nampak kesal dan memukul telak tepat di hidung Roger sehingga mengeluarkan darah. Roger menjadi emosi dan berusaha menyerang Atha tapi Atha menangkis tinju Roger dan membalas dengan satu pukulan telak dibawah dagu. Roger terjerembab ke tanah. Saat Atha hendak memukul Roger lagi, Beno datang dan melerainya.


"Gila, Bro sabar. Kenapa jadi u yang berantem sama dia orang?"


"Maaf Bos, ngga sabar. Dia dorong gue dua kali dan berusaha mukul tadi juga ngeludah kena kacamata nih."


"Sial juga nih anak bau kencur."


Beno menghampiri Roger yang masih mengaduh kesakitan.


"Sudah tobat, kau? Jangan dipikir semua orang disini takut sama kau, takut sama Bapakmu, takut sama teman polisimu. Gue juga punya semua itu."


Roger masih meringis saat beberapa orang pun terlihat berkerumun. Putri yang melihat mobil Roger segera berlari lebih dahulu dari Elang dan Sari. Putri terkejut melihat muka Roger penuh darah.


"Siapa yang mukul dia?!" Tanya Putri dengan marah pada semua orang.


Atha terdiam mematung melihat Putri, begitupun Beno.


Putri melihat kemeja Atha yang kotor, "kamu! Kamu yang mukul pacar aku, hah?"


"Pacar?" Atha terguncang mendengar kata itu.


Beno mencoba menjelaskan pada Putri ketika Elang datang menghampiri. Sari langsung histeris melihat keadaan Roger dan menangis. Tina pun segera menelpon Ambulans dan lalu menelpon Peter.


"Tapi kan ngga perlu sampai dihajar begini?" Isak Putri pada Beno.


"Iya, tapi dia yang mulai. Dia yang dorong jatuh temanku yah temanku hanya berusaha membela dirinya saja." Beno terus meyakinkan Putri.


Atha hanya diam mematung menatap Putri. Semua perasaan cintanya seperti terhempas gemuruh ombak di pantai. Pasir-pasir cinta yang telah dibangunnya mendadak melebur bersama derai ombak yang datang meratakannya lagi.


Putri menatap tajam wajah Atha penuh kebencian yang mendalam.


"Aku ngga akan lupa wajah kamu! Aku doakan kamu juga akan merasakan hal yang sama seperti pacar aku!" Jerit Putri ditahan Elang.


Tina segera meminta Beno untuk pergi. Beno pun menarik tangan Atha yang masih diam mematung. Sari masih terisak meratapi Roger.


"Bro, kenapa kamu ngga tahan diri sih?" Suara kecewa Beno terdengar jelas.


Atha hanya terdiam, air matanya mulai menetes pelan.


"Kamu tahu ngga sih? Itu cewek yang lagi aku taksir selama empat hari ini aku tuh nyariin..."


Perkataan Beno tidak lagi terdengar oleh Atha yang tersentak kedua kali mendengar kenyataan bahwa Beno pun mencintai Putri.


Atha makin terasa seperti berada di pinggir jurang yang begitu rapuh. Di satu sisi, Putri sudah memiliki pacar dan dia baru saja memukuli pacar Putri sampai babak belur. Dan di sisi lain, dia harus menerima kenyataan bahwa jika Putri belum punya pacar sekalipun maka dia akan bersaing dengan Beno yang memiliki segalanya dibandingkan dirinya.


Perasaan kecewa, sedih, dan pesimis menyatu dalam dirinya. Dia bisa bertemu Putri tapi pada keadaan yang tidak baik, sangat tidak baik. Apa dia harus mengubur mimpinya untuk memiliki Putri?


Putri masih menunggu di depan kamar Rumah Sakit ditemani Elang dan Sari. Tina masih menunggu Peter datang di lobby Rumah Sakit. Putri terisak pelan di pelukan Sari.


"Apa Putri kenal sama orang yang tadi mukulin Roger?"


Putri menggelengkan kepala. Dia sempat mengingat seseorang dengan wajah itu tapi dimana dan kapan, Putri lupa.


Elang terbatuk pelan, "kamu kan dengar sendiri cerita teman orang itu. Kalau itu semua berawal dari kesalahan dan emosi Roger yang sering tidak terkendali."


Sari hanya diam menatap Elang.


"Tapi kan ngga harus dia mukulin Roger, Pa?" Tanya Putri membantah.


"Loh, kamu ingat dengan Brandon? Itu siapa yang mulai dulu perkelahiannya?"


"Iya kalau itu memang Roger yang mulai. Tapi ini kan kita tidak tahu siapa yang mulai." Putri terus mengelak.


"Roger itu harus belajar mengendalikan emosinya kalau tidak dia akan terus begini, Sar."


"Kenapa harus Roger yang berubah? Kenapa semua orang ngga bisa nerima Roger apa adanya?" Putri protes.


"Putri! Kamu pikir semua orang mengenal Roger lalu mereka semua harus maklum dengan semua perbuatan Roger?"


"Makanya dia kenal dulu Roger bagaimana baru dia tahu dan ngga perlu mukul Roger!"


"Oh iya, seperti kamu membiarkan Roger memukuli kamu hah?!" Bentak Elang membuat Putri diam.


Sari terperanjat dan menatap Elang seakan tak percaya.


"Putri bilang sama Tante, apa itu benar?"


Putri memilih diam dan terisak pelan.


"Kamu pikir Papa ngga tahu, hah? Papa macam aku ini Sari yang mesti berdiam diri saat tahu anak perempuannya dipukul?"


Sari nampak sedih dan terluka.


Peter datang berjalan pelan ditemani Tina.


"Kamu telpon Sari juga untuk ada disini?" Bentak Peter pada Tina.


"Tidak, Pak kebetulan tadi Ibu Sari sedang datang main ke Bengkel Mas Elang saat kejadian."


"Suruh dia pulang, dia sudah cukup membawa masalah dalam hidup saya."


Sari terisak pelan membuat Elang nampak kesal namun Tina memberi kode agar Elang menahan diri.


Sebelum Tina berjalan mendekati Sari, Putri pun menjawab dengan tenang.


"Ibu Sari akan tetap berada disini untuk menemani saya menunggu Roger sampai diperiksa dokter, Om."


Peter menatap Putri dengan tatapan sinis membuat Elang begitu kesal.


Peter berjalan pelan menghampiri Putri dan menatapnya dengan begitu merendahkan.


"Kamulah yang membuat Roger seperti ini!"


-M-

__ADS_1


__ADS_2