
Wisnu sudah berada di depan rumah kontrakan yang Sofia tempati. Jeepnya sengaja dia sembunyikan di tempat lain supaya Sofia tidak terlalu kaget. Saat Wisnu sudah berada di depan rumah kontrakan Sofia, sejenak Wisnu diam berdiri memikirkan kemungkinan lain yang akan terjadi. Firasatnya mengatakan Sofia sedang tidak berada di rumah. Sebab teman intelnya menginformasikan bahwa Sofia saat ini sudah bekerja menjadi Bidan di sebuah klinik.
Wisnu mulai mengetuk pintu, lima menit tidak ada yang menyahut, Wisnu yakin Sofia tidak ada di rumah. Akan tetapi Wisnu tidak kehilangan ide, dia beranjak dari depan rumah kontrakan Sofia.
Rupanya Wisnu mencari Sofia ke klinik di mana Sofia bekerja. Tidak susah mencari klinik tersebut sebab letaknya tidak jauh dari rumah kontrakannya.
"Pasti di sini," ujarnya pelan seraya memasuki pintu gerbang klinik yang sudah terbuka.
Di depan ruangan IGD, Wisnu bertanya pada salah satu Perawat di sana, dan benar kata Perawat itu Sofia memang bekerja di klinik itu sebagai Bidan bagian kandungan, sesuai keahlian yang dia miliki.
"Bapak, tunggu saja di ruang tunggu ini, biar saya panggilkan Bidan Sofianya. Sepertinya sedang ada pasien," ucap Perawat itu ramah lalu beranjak menuju ruangan Sofia bertugas.
Tidak lama kemudian, apa yang ditunggu Wisnu akhirnya datang juga. Wisnu melihat ke arah Sofia dengan binar yang berbeda. Antara kerinduan dan rasa syukur bercampur di sana.
"Sofia," refkeksnya seraya merangkul Sofia. Sofia kaget dengan perlakuan Wisnu, terlebih Wisnu tiba-tiba memeluknya sementara ini sedang di klinik yang lalu lalang orang.
"Aa," ujarnya menahan tubuh Wisnu supaya tidak begitu menempel. Sofia masih kaget, dari mana Wisnu mengetahui dirinya berada di sini? Sofia perlahan melepaskan rangkulan tangan Wisnu. Kemudian Wisnu diarahkan untuk duduk di ruang tunggu. Wisnu mengikuti kode tangan Sofia, kemudian mereka duduk di ruang tunggu klinik tersebut.
__ADS_1
Sofia menunduk dan tidak berani menatap Wisnu yang kini dengan cepat telah meraih jemari Sofia. "Kita pulang sekarang, aku mohon! Patuh kali ini sama omonganku. Aku janji akan mencintaimu sebagaimana kamu mencintai aku. Dan aku janji akan melupakan cintaku pada Dara," ucapnya memohon diakhiri kalimat berjanji. Sofia masih diam dan menunduk, namun sudut matanya mulai menyimpan bulir bening yang siap jatuh, entah mengapa saat Sofia mendengar janji yang diucapkan Wisnu barusan, hati Sofia malah sedih.
"Apakah janji yang diucapkan A Wisnu sungguh-sungguh?" batinnya sedih, sebab Sofia belum yakin bahwa Wisnu akan mencintainya.
"Berikan aku kesempatan Sofia, biarkan cinta itu hadir dalam diriku untukmu, aku akan berusaha memupuk cinta itu. Ayolah bantu aku mencintaimu, supaya aku bisa mencintaimu," mohonnya lagi membujuk. Sofia perlahan mendongak, mencoba menatap mata tajam Wisnu yang baginya pesona lelaki di hadapannya ini tidak pernah luntur. Sangat mempesona dan tetap tampan.
"Sofia .... " Sofia menjeda ucapannya, seperti ada ragu dalam dirinya. Saat ingin berucap, lidahnya terasa kelu.
"Sofia, ayo katakan apa yang mau kamu katakan," pinta Wisnu. Sofia masih diam.
"Sejak kau pergi, aku selalu mencarimu dan ingin minta maaf atas perlakuanku padamu. Aku merasa bersalah. Tapi, keberadaanmu belum juga ditemukan. Akhirnya saat kemarin Mamak dan Bapak datang, aku bertekad untuk mencarimu dengan bantuan intel dan ternyata berhasil. Aku bersyukur kamu dalam keadaan selamat," terang Wisnu membuat Sofia terhenyak.
"Pulang ya, aku juga merindukan kamu. Tiap malam aku sendiri dan kedinginan." Mendengar kalimat itu, Sofia berdiri. Dia berpikir yang diingat Wisnu pasti hanya kebutuhan batinnya saja, bukan butuh Sofia secara utuh.
"Sofia belum siap pulang, Sofia masih betah di sini. Apalagi Sofia terikat kontrak di sini, jadi tidak sembarangan keluar begitu saja." Sofia berkata dengan maksud menolak secara halus.
"Aku tahu kamu masih belum yakin aku akan berubah. Setiap manusia pasti berubah jika dalam dirinya ada keinginan untuk berubah. Dan aku ingin berubah, belajar mencintai kamu. Tolonglah, beri aku kesempatan!" Wisnu masih memohon dengan harapan Sofia mau percaya padanya.
__ADS_1
"Sofia butuh waktu, A," ucap Sofia singkat. Wisnu berdiri, lalu menatap Sofia. Sorot matanya nampak kecewa, ingin rasanya memaksa dan menarik Sofia masuk ke dalam Jeepnya, namun Wisnu berusaha menahan dan mencoba sabar. Dan ini ujian bagi Wisnu, Wisnu yang tidak suka dengan sesuatu yang lebay dan bertele-tele, sementara itu Sofia membuatnya harus bersabar dan bertele-tele seperti ini.
"Benar nih kamu belum mau pulang sama aku sekarang? Padahal aku sudah janji lho akan berusaha mencintai kamu. Jika kamu masih tidak percaya dengan apa yang aku katakan ini, maka setelah ini aku akan menyerahkan keputusan di kamu, apapun itu," tandas Wisnu seraya berbalik.
"Setiap manusia tidak selalu sempurna, termasuk aku yang selalu penuh kekhilafan. Jika usahaku tidak mau kamu terima, ya sudahlah. Yang penting aku sudah berusaha. Mendatangimu bukan membawa bualan, tapi kesungguhan," lanjut Wisnu seraya beranjak. Sofia melihat Wisnu yang beranjak dengan tatapan nanar. Dia tahu Wisnu bukan tipe lebay yang harus dengan cara yang sok romantis merayu-rayu. Buktinya barusan saja memintanya pulang, tapi tidak dengan cara yang memohon dan merayu, padahal perlakuan itu yang Sofia inginkan.
"Sofia, jika kamu maunya yang lebay-lebay banyak deh yang kayak gitu. Tapi, suamimu tipe tidak mau ribet. Jadi dia tidak mau bertele-tele karena kehidupan tentara itu keras, Sof. Justru kamulah yang harus berusaha lebih merayunya. Kalau dilihat-lihat suamimu walau kaku dan tidak romantis, kali ini sepertinya dia serius dan sungguh-sungguh deh," ucap Syaina saat Sofia meminta pendapatnya.
"Jadi, aku harus bagaimana?" tanya Sofia.
"Tanya hatimu, deh. Apalagi dalam perut kamu ada anaknya dia, apa kamu tidak kepikiran anak dalam kandunganmu merindukan sosok bapaknya?" saran Syaina seakan mengingatkan dirinya kini sedang berbadan dua.
"Jangan sampai menyesal Sof, Wisnu itu orangnya memang keras, tapi sekali dia mengatakan akan berubah, aku yakin dia akan berubah. Sekarang tergantung dirimu, Sof. Jika kamu menjauh, maka suamimu juga perlahan akan menjauh. Kalau seperti itu, artinya kamu malah mau menjauhkan suami kamu dengan anaknya," tukas Syaina memberikan pendapat pamungkasnya.
Sofia diam terpaku dengan ucapan teman masa kecilnya itu. Ada benarnya apa yang dikatakan Syaina, dia harusnya yang mencoba mengalah dan kembali pulang pada pangkuan suaminya. Jika toh saat kembali nanti Wisnu masih memperlakukannya tidak baik, maka Sofia akan mengalah.
__ADS_1
Jam dua belas siang tiba, kini saatnya Sofia beristirahat. Sofia keluar klinik dengan tas di pundaknya menuju rumah kontrakannya. Sofia melihat kiri dan kanan siapa tahu ada Jeepnya Wisnu, namun nihil.
"Kenapa Aa cepat pergi?" bisik Sofia sedih. Namun Sofia bertekad kali ini dia akan pulang dan kembali ke pelukan Wisnu.