Cinta Sofia

Cinta Sofia
Bab 27 Pijatan Membawa Cinta


__ADS_3

Wisnu duduk di tepi ranjang, entah kenapa hari ini badannya merasa tidak enak. Sebetulnya sudah sebulan lamanya Wisnu sering merasakan tidak enak badan. Kini Wisnu sering merasakan mual. Kotak P3Knya saja disesaki obat masuk angin cair siap minum. Sejenak Wisnu memijit-mijit tengkuknya yang terasa sakit, serta merta suara sendawa keluar dari mulutnya.



"Masuk angin nih," gumannya. Sofia masuk kamar setelah membersihkan diri, dia melihat Wisnu tengah memijit tengkuknya. Sofia yang masih menggunakan handuk menghampiri dan duduk di samping Wisnu.


"Aa sakit? Biar Sofia pijit tengkuknya ya." Sofia menawarkan pijitannya yang langsung diangguki Wisnu. Wisnu tiba-tiba baring dan menelungkup.


"Kalau kamu bisa kerok, keroklah punggung sekalian biar anginnya keluar," titahnya seraya bersendawa kembali. Sofia merasa kasihan melihat Wisnu sakit, biasanya Wisnu selalau fit dan bugar, tapi pagi ini dia melihat Wisnu lemas layaknya orang sakit, mana harus berdinas yang membuat Wisnu selalu memaksakan diri walau dalam keadaan sakit.


Sofia membuka kaos yang membalut tubuh Wisnu, koin seribu sama minyak zaitun sudah siap sebagai alat tempur kerok. Sebelum dikerok, Sofia mengurut belikat Wisnu terlebih dahulu sehingga Wisnu terlihat keenakan.


"Ya ampun, pijitan kamu enak Sof," pujinya seraya menikmati pijitan itu sampai merem melek. Sofia hanya tersenyum dan mengagumi keindahan bahu dan kulit mulus Wisnu.


"Masya Allah, A, indah dan mulus banget punggung Aa. Aa benar-benar laki-laki yang pembersih banget, nyaris tidak ada daki. Jerawatnya juga sama sekali tidak ada." Sofia memuji Wisnu dalam hati. Kulit lelaki saja sebersih ini, padahal Wisnu seorang Tentara tapi sangat bersih kulitnya.


"Enak banget, Sof. Pijatan kamu sangat enak, sama persis dengan enaknya .... " Wisnu tidak melanjutkan ucapannya, dia mendadak diam. Sofia penasaran dengan kelanjutan ucapan Wisnu.


"Sama persis dengan enaknya apa A?" tanya Sofia penasaran.


"Apa perlu aku lanjut? Kalau aku lanjut, nanti malah kita benar-benar melanjutkan yang enak itu." Wisnu menjawab dengan kiasan yang kini sudah dipahami Sofia. Sofia tersenyum malu, meskipun senyumnya tidak terlihat Wisnu.


"Benarkah apa yang diungkapkan A Wisnu, bahwa Sofia seenak itu?" pikir Sofia.


"A, apakah Aa masih mau lanjut kerokan? Kalau Menurut Sofia lebih baik jangan dibiasakan kerokan, sebab nanti pori-pori kulitnya membesar. Nanti malah sering masuk angin. Diurut saja anginnya sudah banyak keluar, kulit Aa memerah karena banyak angin keluar," ujar Sofia memberi tahu.


"Terserah kamu, Sof. Urut dan pijit saja. Lagipula pijitan kamu benar-benar enak," puji Wisnu tiada henti. Harum minyak zaitun yang dioles Sofia pun manjadi wangi yang menenangkan karena harum aromaterapinya sangat menenangkan.


Wisnu kemudian berbalik. "Wajah dan dada kamu pijit juga ya, kayaknya wajah aku sangat lelah," titah Wisnu sembari memejamkan mata. Sofia patuh dia segera mengikuti apa yang Wisnu inginkan.


"Apakah Aa mau dioles juga pakai minyak zaitun wajahnya?" tanya Sofia ragu.

__ADS_1


"Pakai saja, asal tidak masuk hidung, mata dan mulut," peringatnya. Dan Sofia kini memulai memijit pelan wajah Wisnu yang mulus. Rahangnya yang tegas, hidung yang mancung serta bibir yang tipis tapi bervolume manambah betapa sempurnanya Tuhan menciptakan Wisnu.


Wisnu sangat menikmati dan kadang tersenyum, sentuhan Sofia kadang ada sensasi gelinya akan tetapi sentuhannya benar-benar enak. "Pandai betul kamu memanjakan tubuh aku Sof, sentuhan tanganmu begitu enak. Bukan pijatanmu saja yang enak, tapi servismu juga mantap. Sepertinya kamu memang benar-benar mencintai aku setulus hati. Aku jadi menyesal pernah kasar sama kamu. Rupanya kamu memang membuat aku senyaman ini. Aku janji, aku akan berusaha mencintaimu sepenuh hati," batin Wisnu berjanji.


Tangan Sofia kini menyasar ke bagian dada, Sofia benar-benar menjelma bak tukang pijit profesional. Cara mengurutnya seperti sudah tahu kemana arah urat sarafnya. Perut yang tadi mual, kini tidak dirasakannya lagi. Kini Sofia menuju dada, dia menyasar otot dada. Urutannya membentuk lambang hati. Lihai dan cekatan, sehingga rasa pegal di otot dada Wisnu sembuh. Sofia benar-benar menghadirkan cinta pada Wisnu lewat pijitan mautnya yang bikin Wisnu melayang keenakan.


"Dari mana kamu belajar memijit seenak ini, Sof?" Lagi-lagi ini sebuah pertanyaan, namun ujungnya kalimat pujian yang membuat Sofia tersipu malu.


"Sofia kan Bidan A, selama belajar ilmu kebidanan, Sofia juga sudah dibekali ilmunya untuk memijit dan mengurut bayi. Jadi pijitan dan urutan Sofia tadi adalah mengikuti metode mengurut dan memijit bayi. Namun untuk orang dewasa seperti Aa, tenaganya Sofia ditambah beberapa kali lipat," jawab Sofia membuat Wisnu paham.



Sofia melanjutkan kembali pijatannya, membuat Wisnu merem melek, lalu tanpa Sofia sadari Wisnu sudah meremat jemari Sofia. Diremasnya perlahan lalu mata Wisnu terbuka dan menatap mata Sofia. Sofia berkedip, rasanya tidak sanggup menerima tatapan tajam namun sendu dari suaminya ini yang kini berubah manja.



"Aku rasa pijatan di tubuhku cukup, dan itu sangat membantu sekujur tubuhku kembali bugar. Pegal di sekujur tubuhku sirna. Kamu benar-benar profesional dalam memijit. Enak dan nyaman. Bagaimana kalau pijatannya ditambah dengan pijatan lain, pijatan plus-plus misalnya, sebab pagi ini aku menginginkannya," pinta Wisnu yang dipahami Sofia. Sofia benar-benar malu diminta Wisnu pijat tambahan. Dia memalingkan muka ke samping saking malunya.




"A, jangan kasar-kasar." Sofia memperingatkan Wisnu yang kini mulai bergerak ke sanan kemari.


"Kenapa?"


"Karena di dalam perut ini ada bayi kita," ucap Sofia sehingga membuat Wisnu tidak terkendali. Sofia pasrah dan berdoa semoga apa yang diperbuat Wisnu sebergerilya itu tidak membuat kehamilannyan yang berjalan sebulan lebih ini tidak kenapa-kenapa.


"Benarkah?" tanya Wisnu saat menyudahi serangan brutalnya. Sofia mengangguk lemah sembari mengatur nafasnya.


__ADS_1


"Serius? Benarkah kamu sedang hamil anakku?" Wisnu hampir mau berdiri namun Sofia menarik kembali tubuh Wisnu yang tanpa busana.



"Sofia, ini sungguhan kan?" Wisnu masih belum percaya dengan pengakuan Sofia.


"Benar, A. Sofia hamil anak Aa. Saat Sofia pergi dari rumah sebenarnya Sofia sedang hamil dua minggu," beber Sofia akhirnya.


"Ya, ampun. Benarkah itu Sofia? Kamu pergi saat kamu hamil anakku? Coba kalau saat itu kehamilanmu kenapa-kenapa, maka aku akan sangat marah besar padamu karena telah berani keluyuran membawa anakku jauh dariku." Wisnu terlihat kesal.



"Maafkan Sofia, A. Saat itu Sofia terbawa emosi dan kesal sama Aa."


"Lantas kenapa tadi kamu tidak bilang bahwa kamu sedang hamil, bagaimana kalau guncangan akibat aku menengok janin kita menimbulkan masalah bagi janin kita?" Sofia menggeleng.



"Sofia tadi tidak menduga kalau Aa minta dipijat tambahan, Sofia baru sadar saat Aa semakin garang," alasan Sofia.


"Kamu ini , ya. Bagaimana kalau aku membuat janin kita terluka?" kesal Wisnu sembari mencubit hidung Sofia.


"Aku tidak menyangka, kepulangan kamu membawa banyak kali lipat kebahagiaan. Aku yang dibuat nyaman dan enak oleh pijatanmu, juga kejutan anak dalam rahimmu. Betapa aku bahagia, Sof," ungkap Wisnu seraya melabuhkan ciuman bahagia di kening Sofia.



Sofia tersenyum dan menangis bahagia saat Wisnu mengungkapkan kebahagiaannya. Satu langkah besar tanda cinta sudah mulai Wisnu perlihatkan di hadapannya juga dalam dekapannya. Mungkin ini akibat doa kedua orang tuanya juga kedua mertuanya yang sangat mendukung Sofia mendampingi Wisnu.



"Terimakasih orang tuaku dan mertuaku. Sofia sangat sayang kalian," ucapnya dalam hati. Dan pagi itu merupakan saksi di mana cinta Wisnu mulai menyala pada Sofia.

__ADS_1


__ADS_2