
Lima bulan kemudian, tiba-tiba Sofia kedatangan tamu yang tidak disangka-sangka. Dia adalah Dara, kakak iparnya. Sebagaimana telah ia ketahui bahwasanya Dara merupakan cinta pertama masa lalu Wisnu yang sampai kini masih dicintai Wisnu.
Sofia menjadi sangat sedih jika ingat akan hal ini. Dia menjadi sangat takut rasa cinta Wisnu kembali merekah pada Dara, Kakak iparnya. "Bagaimana ini, akankah cinta A Wisnu kembali merekah untuk Yuk Dara? Kenapa juga Yuk tiba-tiba datang ke sini? Apakah hanya untuk memperkeruh hubungan rumah tangga kami yang baru terbina?" tanya Sofia berbisik dengan prasangka negatifnya atas kedatangan Dara yang tiba-tiba.
"Astaghfirullah, kenapa sih aku mikirnya sudah suudzon? Bukankah ini saat yang tepat untuk aku menunjukkan di depan A Wisnu bahwa aku benar-benar tulus mencintainya, dan walau badai halangan di depan mata menghadang, aku harus tetap menunjukkan sikap yang baik dan elegan. Bukankah A Wisnu suka sama perempuan yang tidak lebay. Dan aku harus tunjukkan sekarang." Sofia bermonolog mencoba menguatkan hatinya menghadapi Dara.
"Assalamualaikum." Ucapan salam itu terdengar lantang di depan pintu rumah Wisnu. Sofia sudah tahu karena sejak tadi dia melihat pergerakan Kakak iparnya dari loteng rumahnya. Kalau mengikut kata hati, inginnya Sofia membiarkan begitu saja Dara tanpa menghiraukan, namun ketika dia sadar bahwa sesungguhnya Dara sama sekali tidak bersalah, Sofia tersadar dengan kekhilafannya.
"Maafkan Sofi, Yuk." Sofia berjingkat menyambut Kakak iparnya dengan wajah sumringah. "Waalaikumsalam," balasnya seraya merangsek ke muka pintu dan menyambut Dara.
"Ayukkkk." Sofia menghambur ke pelukan Dara dengan perasaan suka cita yang seperti dulu saat di mana dirinya tidak mengetahui kalau Dara merupakan cinta pertama yang masih dicintai suaminya.
"Sofiaaaa," jerit Dara membalas pelukan Sofia dengan hangat. Sofia memeluk begitu erat, Darapun demikian. Mereka saling menumpahkan rasa rindu yang benar-benar apa adanya. Keduanya larut dalam suasana haru dan bersamaan menangis bahagia.
"Sofia, Dara kangen Sof. Kehamilan kamu sudah sangat besar, apakah ini sudah masuk bulannya?" Dara melepas rangkulannya, kini kedua tangannya merangkum bahu Sofia kiri dan kanan sembari menatap wajah Sofia yang basah air mata sama seperti wajah Dara.
Sofia mengangguk. Sesungguhnya dia sedih karena saat merasakan pelukan sang Kakak ipar, Sofia merasakan ketulusan dan kasih sayang yang besar dari dalam diri Dara untuknya. Lantas kenapa dia menyimpan kesal dan benci pada Dara yang tidak tahu apa-apa tentang suaminya yang masih ada hati untuknya? Sofia salah dan tidak seharusnya marah dan benci Dara.
__ADS_1
"Kamu pasti senang, kan, Bidan Sofia? Karena sebentar lagi kamu akan punya baby dan menggendongnya lalu menyusuinya saat dia nangis karena kehausan," ujar Dara antusias sembari tidak lepas senyum merekah di bibirnya terbit setelah tadi sempat basah air mata bahagia karena mengingat Sofia begitu baik sebagai adik ipar. Karena Sofia selalu mendukung dan membelanya selama ini.
"Betul, Yuk. Sofia sebentar lagi akan jadi ibu seperti Yuk Dara. Ehhh, ngomong-ngomong baby Zla kenapa tidak diajak?" Sofia heran dengan Dara yang datang ke rumahnya tanpa baby Zla
"Baby Zla di rumah Ibu. Tadi kebetulan saat kami baru sampai, dia ngantuk dan langsung tidur di rumah Ibu," tukas Dara.
"Terus, kok bisa Ayuk ke sini, apakah Bang Azlan mengijinkan kalian pergi berdua begitu saja?" Sofia semakin keheranan saat sadar Kakaknya Azlan tidak sedang bersama Dara. Dara sendirian.
"Bang Azlan ke Korea, Sof. Untuk waktu kurang lebih sebulan Bang Azlan ditugaskan di sana sebagai bentuk pelatihan untuk menjadi Manager. Kebetulan Bang Azlan mendapat promosi dari perusahaannya untuk bisa mengikuti pelatihan ini. Siapa tahu saat pulang, langsung diangkat jadi Manager," jelas Dara senang dengan penuh harapan.
"Assalamualaikum!" ucap Wisnu seraya memasuki rumah. Sofia dengan sigap menyambut Wisnu dan menyalami tangannya. Sebuah senyuman terbit dan usapan lembut Wisnu berikan pada kepala Sofia. Melihat interaksi antara Wisnu dan Sofia, Dara sangat terharu dan senang. Dia menduga bahwa Aanya Wisnu sudah bisa mencintai Sofia dan melupakan cinta pertama di masa lalu Wisnu, yang Dara tahu masih dicintai Wisnu.
"Aa," seru Dara sembari menghampiri kehangatan antara Sofia dan Wisnu. Wisnu sontak terkejut melihat adik sepupu yang disayanginya tiba-tiba ada di rumahnya.
"Ade," teriaknya histeris saking kaget sekaligus senang. Wisnu beralih ke Dara, secara spontan Wisnu memeluk Dara tanda rindu yang mendalam. Sofia yang melihat sedikit terhenyak, namun dia berusaha setenang mungkin. Bukankah dia janji akan mengambil hati Wisnu dengan cinta yang tulusnya?
__ADS_1
"Deee, Aa kangen banget. Kenapa sih datang tiba-tiba kayak jalangkung? Mana ponakan Aa, kok tidak ada? Terus suamimu mana, kenapa kamu sendiri? Tega banget dia membiarkan kamu sendiri ke Bandung?" Rentetan pertanyaan terlontar dari mulut Wisnu yang kini fokus pada Dara. Sofia tetap bersabar dan masih positif thinking.
"Ya ampun A, sabar dulu, tahan dulu pertanyaannya. Satu-satu dong," protes Dara tidak senang. "Dara ke sini berdua sama baby Zla. Baby Zla kebetulan sekarang lagi bobo di rumah Nenenya. Makanya Dara bisa ke rumah Aa, karena baby Zla tidur. Mengenai Bang Azlan, dia saat ini sedang ada pelatihan ke Korea selama satu bulan untuk promosi jabatan menjadi Manager. Doakan ya, A." Dara bercerita dengan sumringah.
"Iya, Aa doakan untuk kebaikan semua." Wisnu memberi respon dengan wajah yang berseri. Senyumnya kini nampak tulus, tidak seperti dulu yang masih menyimpan kebencian setiap mendengar nama Azlan disebut.
"Selamat juga buat Aa dan Sofia, sebentar lagi kalian akan menjadi orang tua. Alangkah bahagianya Dara sebentar lagi akan punya keponakan," seru Dara sembari menghampiri Sofia yang sejak tadi tidak sengaja dicuekkan akibat keseruan ngobrol antara Dara dan Wisnu.
"Iya, Yuk. Kami sebentar lagi akan menjadi orang tua, mungkin kurang lebih seminggu lagi waktunya melahirkan," ujar Sofia senang.
"Alhamdulillah. Dan sepertinya Aa sudah bisa move on dari cinta pertama sekaligus cinta di masa lalunya itu, kan A?" Dara sontak menutup mulutnya ketika sadar bahwa pertanyaannya bisa melukai Sofia mengenai pacar pertama di masa lalunya Wisnu.
"Dara minta maaf," lanjut Dara menatap sendu Sofia, dia merasa bersalah karena telah mengungkit masa lalu Wisnu yang mungkin Sofia tidak tahu sama sekali.
"Tidak apa-apa kok, Yuk. Tidak perlu minta maaf, Sofia sudah tahu masalah cinta masa lalu A Wisnu," ujar Sofia sedikit sendu. Wisnu dan Dara saling tatap dengan pikiran dalam benaknya masing-masing.
__ADS_1