Cinta Sofia

Cinta Sofia
Bab 31 Melahirkan


__ADS_3

Seminggu kemudian, perut Sofia sudah mulai terasa mulas. Mulas yang kini dia rasakan semakin sering dan beraturan. Terlebih kini ditandai dengan adanya bercak darah di celana jeronya. Sofia was-was, sudah jelas ini pertanda kelahiran semakin dekat. Wisnu sudah pergi ke kantor, dan kini dia sendiri di rumah.



Sofia berdiri dan perlahan berjalan menuju bupet. Dia ingin meraih Hpnya di sana, dan akan menghubungi Dara, Kakak iparnya, yang sudah seminggu masih berada di kota kecil Lembang ini.



"Assalamualaikum, Sof. Iya ada apa?" Suara di ujung telpon sana sudah terdengar, akan tetapi Sofia belum menjawabnya. Rasa mulas yang menderanya mengalahkan mulutnya untuk berbicara. Sofia meringis menahan sakit.



"Ahhhh." Desisan dan rintihan itu yang mampu dia keluarkan dengan spontan. Hp di tangannya pun terjatuh ke atas bupet kembali karena tangan Sofia bergetar.



"Sofia, Sof." Suara di ujung telpon masih terdengar dan kini nadanya seperti was-was.



"Ya Allah kuatkan Sofia," pintanya lirih dan hampir tidak terdengar. Sofia berjalan menuju ruang tamu dengan tubuh membungkuk, tangan sebelah kanannya menahan bawah perut sebelah kanan yang dirasakannya sangat sakit. Selangkah demi selangkah Sofia kini menuju sofa ruang tamu, dan akhirnya sampai juga. Sofia mendudukkan tubuhnya di sana dengan suara nafas tersengal.



"Sofia," jerit suara Dara tiba-tiba memenuhi ruangan itu dengan pintu yang terbanting, sepertinya Dara membuka pintu dengan terburu-buru. Sofia terkejut, namun tidak luput juga rasa sukur memenuhi wajahnya yang kini menahan rasa sakit.



"Ayukkk," teriaknya pelan. Dara dan Pak Malik yang juga ikut, kini sudah menghampiri Sofia yang terduduk kesakitan di sofa.



"Sofia, kamu akan melahirkan. Tahan sebentar ya, Dara akan persiapkan semua perlengkapan bayi dan punya kamu. Bapak, tolong hubungi A Wisnu. Atau kalau A Wisnu lama merespon, Bapak langsung pesan grab saja. Segera, Pak! Sofia sudah benar-benar akan melahirkan," ujar Dara setengah berteriak. Dia memang panik melihat Sofia kesakitan karena akan melahirkan.



Pak Malik tidak menunda lagi, dia segera menghubungi grab lebih dulu, karena pikirnya jika menghubungi Wisnu dulu tidak yakin akan tersambung, sebab pagi-pagi begini Wisnu pasti sedang apel pagi dan tidak mengaktifkan Hpnya.

__ADS_1



Tidak lama, Grab pun datang. Dara juga sudah mempersiapkan semua perlengkapan bayi dan perlengkapan milik Sofia, karena sepertinya jauh-jauh hari Sofia sudah mempersiapkan di dalam kamarnya dengan tas besar. Dara hanya tinggal membawanya ke bawah.



Saat grab telah siap, Pak Malik segera memasukkan tas besar itu ke dalam grab. Dan kini Sofia mulai dibopong oleh Dara dan Pak Malik menuju grab.



"Rumah Sakit Bersalin Ibu dan Anak," ucap Pak Malik. Supir grab segera melajukan mobilnya menuju Rumah Sakit yang disebut Pak Malik tadi. Untungnya RS tersebut tidak jauh. Dan beruntung juga di RS tersebut Sofia sudah banyak kenal dengan Bidan maupun Dokter kandungan. Karena walau Sofia selama ini belum aktif menjadi Bidan, dia sering mengikuti penyuluhan di Puskesmas terdekat yang dihadiri Bidan maupun Dokter kandungan RS tersebut.



Kedatangan Sofia segera ditangani dengan cepat. Tubuh Sofia segera dibawa ke IGD dan ditangani di sana. Tidak berapa lama, Sofia segera dipindahkan ke ruangan bersalin karena menurut Dokter, Sofia akan segera melahirkan. Diperkirakan bukaannya sudah 6. Untuk menuju bukaan lengkap diperkirakan tidak akan lama lagi, sebab perpindahan bukaannya terhitung cepat.



"A Wisnu," desis Sofia memanggil Wisnu seraya menahan sakit yang kian menjadi.


"Sabar, Sof, A Wisnu sebentar lagi menuju kemari. Mungkin dalam perjalanan." Tidak hentinya Dara menghibur dan memberi semangat untuk Sofia adik iparnya.



"Sepertinya bukaan Ibu Sofia sudah lengkap, kita persiapkan saja sekarang proses melahirkannya, kepala bayi sudah terlihat dan posisinya bagus," ujar Dokter Sharmila sembari mempersiapkan segalanya bersama Suster yang membantunya.



"Semangat Sof. Ayo, ikuti arahan Bu Dokter ya," ujar Dara. Sofia nampak sedih dia berbisik pada Dara dan mengucapkan nama Wisnu suaminya yang hingga kini belum juga datang.



Pak Malik yang saat ini sedang menunggu di luar, juga was-was menantikan anaknya yang belum sampai, padahal tadi pesan WAnya sudah sampai dan dibaca. Namun kekhawatiran Pak Malik tidak berlangsung lama, Wisnu muncul dengan tergesa.



"Bagaimana, Pak, apakah Sofia sudah melahirkan?" tanya Wisnu seraya memegangi tangan Pak Malik panik.

__ADS_1


"Sepertinya belum, Nak Sofia masih menunggu kedatangan kamu, A," ujar Pak Malik. Mendengar hal itu, Wisnu segera masuk ke dalam ruangan bersalin.


Kedatangan Wisnu membuat Sofia senang bukan main. Tadinya dia hampir putus asa dan sudah tidak bertenaga, tapi kini tenaganya seolah datang kembali setelah melihat Wisnu.



"Aa," serunya seraya mengulurkan tangan meraih tangan Wisnu. Wisnu menangkap uluran tangan Sofia dan menggenggamnya erat memberikan kekuatan. Dara yang sejak tadi memberikan semangat buat Sofia, ikut gembira. Dia nampak terharu dan meneteskan air mata.



"Aa. Alhamdulillah Aa sudah datang. Kalau begitu Dara pamit dulu, ya, A. Baby Zla takut menangis kalau terlalu lama ditinggal sama Nenenya," ujar Dara senang melihat Wisnu sudah datang, lalu Dara mohon ijin untuk pulang, sebab dia tidak tega meninggalkan baby Zla terlalu lama bersama Bu Endah.



"Pulanglah, De. Lagipula sekarang sudah ada Aa. Terimakasih sudah menemani Sofia dan memotivasinya," ujar Wisnu memberikan ijin untuk Dara pulang.



Tidak lama dari itu, Sofia mulai berjuang dalam proses melahirkannya. Wisnu terus memberikan dorongan dan semangat. Kadang mengusap keringat di kening Sofia. Raut wajah Wisnu nampak tegang dan sedih, ternyata seberat ini perjuangan seorang wanita yang melahirkan.



Penyesalan Wisnu tiba seiring disaksikannya perjuangan hidup dan mati Sofia melahirkan anaknya. Dia menyesal awal pernikahan telah menyakiti dan bersikap kasar sama Sofia.



"Maafin Aa, Sof. Aa sudah sering bersikap kasar sejak pertama kali kita menikah. Kuatlah, Sayang dalam melahirkan anak kita, bertahanlah," ucap Wisnu seraya mengelus lembut dahi dan wajah Sofia yang berpeluh. Tetes-tetes air mata kini mulai membasahi wajah Wisnu. Wisnu tidak sanggup melihat Sofia kesakitan.



"Sofia, tidak kuat A. Jika Sofia tidak sanggup, maka rawatlah anak kita," ucap Sofia berbisik.


"Tidak, kamu harus kuat. Aku di sini memberimu kekuatan, kamu harus kuat demi anak kita." Wisnu menggenggam erat tangan Sofia sebagai usaha terakhirnya menyemangati Sofia.


"Ayo, Ibu Sofia dorong lagi, ini sebentar lagi bayinya keluar. Tarik nafas dalam-dalam, setelah itu lepaskan. Ngeden, Bu, kuat-kuat." Dokter Sharmila memberi arahan pamungkasnya sebab sang jabang bayi sudah mulai keluar dengan sekali hentakan.


__ADS_1


Tidak lama dari itu suara bayi tiba-tiba terdengar memenuhi seluruh ruangan bersalin.


"Owe, owe, owe."


__ADS_2