
Helllllo🥰
Ada yang kangen Author ga?
Semoga episode kali ini bagus dan memuaskan ✨
Jangan lupa like nya ya👍
_makasih_
...****************...
Davies dan Sana sudah duduk berhadap-hadapan dimana Davies masih terfokus pada ponsel nya. Sudah cukup lama Sana menunggu Davies mengatakan sesuatu.
Aku sudah duduk tapi Tuan Muda masih tidak bergeming, dasar.
Namun tidak lama kemudian Davies menyudahi aktivitas nya.
“Kau apa kau berselingkuh dari ku?” Tanya Davies menyelidik.
Pertanyaan Davies membuat Sana tercengang, ia tidak menyangka Tuan Davies akan mengatakan itu. Bukan karna sakit hati dengan pertanyaan Davies hanya saja itu seperti lelucon garing seorang lansia. Ya karna ga mungkin kan ada wanita yang berselingkuh dari pria paling sempurna ini. Dan juga orang sesempurna ini menanyakan hal itu pada gadis biasa-biasa saja seperti diri nya ini.
“Tidak Tuan, saya tidak berani melakukan itu.” Jawab Sana cepat.
“Baguslah. Jangan pernah berpikir tentang hal itu.” Kata Davies dingin.
“Kau akan bebas setelah aku menceraikan mu, ingat itu!!! Jangan pernah macam-macam selagi kau masih menjadi istri sah ku.” Lanjut nya dengan tatapan mengerikan dan merendahkan.
“I iiya Tuan saya mengerti.” Jawab Sana.
“Siapkan air.” Perintah Davies.
“Air minum Tuan?”
“Maksud ku aku ingin mandi.” Davies sedikit geram dengan wanita di hadapan nya karena pertanyaan bodoh nya itu.
__ADS_1
“Oohh gitu, kalo itu sudah saya siapkan dari tadi Tuan.” Sambil tersenyum kaku.
Davies langsung berdiri dan menuju untuk mandi. Sementara Sana segera menyiapkan pakaian kerja Davies dan kebutuhan yang lainnya. Setelah itu Sana langsung secepat kilat untuk mandi juga di ruangan lain. Karna jika menunggu Davies selesai mandi maka Sana akan sangat terlambat untuk masuk kerja.
Sana bersiap-siap dengan cepat tidak seperti wanita pada umumnya. Hanya butuh 30 menit saja Sana sudah mandi dan berpakaian rapih. Sementara Davies baru keluar selesai mandi. Sana mulai membantu memakaikan pakaian pada Davies lalu memakaikan dasi untuk nya, merapikan rambut, dan juga memakaikan sepatu. Setelah semua itu mereka turun ke bawah untuk sarapan yang sudah di siapkan oleh koki pribadi Davies.
Di meja makan yang sangat luas hanya diisi dua mahluk bernyawa saja yaitu Sana dan Davies. Mereka menyantap makanan tanpa adanya suara. Sementara asisten Sam berada di ruang TV sedang mengecek berkas-berkas yang akan di bawa.
“Dua hari ini aku akan ke luar kota. Jika kau butuh sesuatu bilang saja pada pak Joko.” Ucap Davies.
“Baik Tuan saya mengerti.” Jawab Sana sambil tersenyum.
Setelah Davies selesai makan maka Sana juga telah selesai. Asisten Sam sudah tiba untuk menjemput Tuan nya ke mobil. Sana juga ikut mengantar Davies dengan beberapa body guard di belakangnya. Sam membukakan pintu mobil untuk Davies. Setelah itu mobil yang di lajukan Samuel sudah berada di depan gerbang utama dan sudah cukup tidak terlihat dari sana. Beberapa menit setelah kepergian Davies, tibalah gojek yang sudah di pesan Sana. Sana pun berpamitan pada pak joko untuk berangkat kerja terlebih dahulu. Untung saja jalanan sedang tidak macet sehingga cukup cepat untuk Sana tiba di rumah sakit. Baru saja tiba, sudah ada yang memanggil dirinya.
“San lo kemaren kenapa ga masuk?” Kata teman nya Sana yaitu Nita.
“Astaga Nit kamu ngagetin aku aja tau ga sih. Baru aja dateng elahh, ntar aku naroh ini dulu nih.” Kata Sana sambil menunjukkan tas nya yang di jinjing ke arah muka Nita. Lalu Sana berjalan menuju ruangan nya yang juga diikuti oleh Nita.
“Ya makanya cerita sekarang dong.” Kata Nita sambil merengek.
“Oke nanti gue tagih lagi.” Katanya sambil menyilangkan tangan. Lalu mereka berdua pergi dari sana.
“Dokter, pasien gawat di IGD butuh penanganan segera.” Ucap suster yang sedang mencari dokter yang masih senggang.
“Baik suster.” Sana dan Nita segera melangkah cepat menuju IGD, mereka yang baru setengah jalan segera melangkahkan kaki cepat.
Dengan cekatan Sana menangani pasien di IGD dibantu oleh seorang perawat. Sementara Nita menangani pasien yang lainnya yang ada di IGD juga. Sana termasuk dokter muda yang cekatan dan juga terampil dalam menangani pasien. Sana sangat ramah terhadap pasien maupun keluarga pasien. Setelah selesai menangani pasien yang tadi, Sana beralih ke pasien yang lainnya yang belum di tangani oleh dokter yang lain. Setelah beberapa lama Sana menangani pasien di IGD, Sana menulis laporan di meja kerja nya. Hari ini Sana dan Nita bertugas pagi sampai sore, sedangkan teman nya yang lain kebagian sore sampai malam hari. Jam sudah menunjukkan hampir pukul 12 siang dan sudah waktunya makan siang. Sana dan Nita berjalan di lorong rumah sakit dan menuju kantin.
“San lo udah janji mau cerita sesuatu. Bikin gue penasaran aja tau dari kemaren.” Kata Nita saat mereka masih berada di lorong rumah sakit.
“Iya iya nanti aku ceritain di kantin deh. Udah laper banget nih, yu buruan.” Jawab Sana santai.
Mereka sudah tiba di kantin dan mulai memilih makanan kemudian memesannya pada ibu kantin di sana. Sana dan Nita memilih tempat duduk di pojokan dan suasana kantin tidak cukup ramai seperti biasanya saat ini. Lalu di sana Nita mulai menagih pada Sana untuk menceritakan apa yang sudah di janjikan oleh Sana beberapa hari yang lalu.
“Jadi ceritanya gimana nih.” Ucap nya sambil menahan dagu nya dengan satu tangan. Sana menghela napas dalam, dia kira Nita akan melupakan hal itu.
__ADS_1
“Sebelumnya aku mau ngomong satu rahasia tapi kamu harus janji ga boleh bocorin ini ke siapa pun. Ini juga yang tahu cuma kamu doang selain keluarga ku. Gimana?”
“Iya gue janji.” Jawab Nita sambil menganggukkan kepala nya tanda ia mengerti.
“Sebenernya aku udah nikah Nit.” Ucap Sana santai sambil meminum jus yang sudah tiba sejak tadi. Namun berbeda dengan Nita, ia sangat terkejut saat mendengar hal itu barusan.
“APAAAA!!!” Nita berteriak cukup keras yang membuat orang-orang yang berada di kantin menengok ke arah tempat mereka berada.
“Ssssttt ga usah keras-keras napa. Kecilin suara kamu Nit.”
“Heh lo becanda ya. Kalo ga mau cerita ga usah ngarang cerita San.” Ujar Nita yang tidak percaya dengan ucapan Sana.
“Ya udah kalo ga percaya.” Jawab Sana sambil menyedot minuman nya lagi.
“Lo emang nikah sama siapa? Kapan? Bukannya lo jomblo lama banget ya atau jangan-jangan lo punya simpenan.”
“Kamu kalo ngomong suka ngaco banget Nit. Emangnya kalo jomblo ga bisa nikah gitu?!" Nita ini mulut nya sangat tidak bisa di kontrol.
"Biasanya sih gitu. yodah lanjut dulu cerita nya."
"Nah yang ini pasti kamu bakal syok banget dan pasti ga bakal percaya. Aku sih berharap nya lagi ngarang cerita, tapi ya kenyataan nya gitu.” Sana berhenti sejenak.
“Kamu tau Davies Dawson?” Lanjut Sana.
“Ya kenal lah ga mungkin engga. Jangan bilang lo mau bilang kalo Davies Dawson adalah suami lo?”
“Dia emang suami gue. Suami sah secara hukum dan agama malah.” Jawab Sana santai.
“Lo lagi ga ngerjain gue kan? Atau lo lagi bikin novel tentang percintaan Tuan Muda dan Dokter.”
Sana langsung menunjukkan tangan kanan nya yang memperlihatkan sebuah cincin yang cukup mewah yang melingkar di jari manis nya. Bukan cincin saja, ia menunjukkan sebuah foto pernikahan di mana foto tersebut memperlihatkan diri nya dan Tuan Muda yang ada di galeri ponsel nya. Hal itu membuat Nita tidak percaya namun semua yang dilihat nya adalah sebuah kenyataan. Nita yang awalnya tidak percaya, sekarang dia percaya itu dan tidak bisa berkata-kata lagi.
“Kamu sekarang percaya kan.” Ucap Sana.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1